Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 49 (Kegelapan)


__ADS_3

“Mas, kalau memang kau mau mengantar ku pulang tiap hari dengan motor, lebih baik pakai yang metik saja,” ujar Beeve.


“Kenapa?” tanya Emir seraya memberikan Beeve helm, Beeve pun memasukkan helm ke kepalanya dan naik ke atas motor.


“Ini sih motor buat pacaran, dan kita kan...” belum sempat Beeve menyelesaikan perkataannya, Emir tiba-tiba melajukan motornya.


“Akh!!” Beeve yang terkejut sontak berteriak.


“Pelan-pelan mas! Nanti kita jatuh!” ucap Beeve dengan suara keras.


Namun Emir yang seakan mempermainkan Beeve malah menambah kecepatan.


“Mas Emir pelan-pelan! Nanti kita jatuh!” teriak Beeve.


“Kalau takut jatuh! Pegangan!” teriak Emir.


Beeve yang ingin selamat sampai tujuan pun melingkarkan kedua tangannya di leher Emir.


“Heh! Kau mau mencekik ku?!” Pekik Emir.


“Hah? Apa? Aku enggak dengar!”


“Pegangan itu di pinggang! Bukan leher!” pekik Emir.


Karena tak ingin berdebat, Beeve langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Emir.


Ngonggg!!!! Dan dengan sengaja Emir menambah kecepatan motornya kembali.


“Akkhhh!!!!! Pelan-pelan mas!!!!” Beeve semakin mengencangkan pelukannya, karena tak ingin jatuh, yang membuat Emir tersenyum dari balik helm hitamnya.


“Dia sengaja ngebut begini ya?” batin Beeve, perlahan-lahan Beeve merasa perutnya tak nyaman.


“Perut ku kok sakit sih? Apa karena getaran motor ini terlalu kuat,” batin Beeve.


“Mas... pelan-pelan! Hoek!!” tiba-tiba Beeve merasa mual.


Beeve pun menarik-narik jaket Emir, “Berhenti! Berhenti! Hoek!!”


Emir yang mendengar samar-samar suara mual dari Beeve pun menepikan motornya di sebuah halte bis.


Ciiiit!!!


Beeve yang sudah tak tahan, turun dari motor Emir, dan buru-buru membuka helmnya.


“Hoek!!, Hoek...,” Beeve berulang kali muntah, semua makanan yang ada dalam perutnya pun keluar.


“Bee, kau enggak apa-apa?” tanya Emir seraya turun dari atas motornya.


“Hoek!!!” lagi-lagi Beeve muntah, yang membuat Emir khawatir.


“Bee....,”


“Ini semua gara-gara mu yang bawa motor ugal-ugalan mas! hiks....,” Beeve menangis karena perutnya sangat mual.


Lalu Emir yang merasa bersalah pun menepuk-nepuk punggung Beeve.


Namun Beeve yang merasa perutnya benar-benar sakit terus menerus muntah, sampai tak ada lagi yang ia keluarkan, tapi perutnya masih terus mendorongnya untuk muntah.


Emir yang melihat ada starling (Starbuck Keliling) pun langsung memangilnya.


“Pak! Beli!” teriak Emir pada si bapak yang mengendarai sepeda.


“Mau beli apa mas?” tanya si penjual.

__ADS_1


“Ada tolak angin dan air hangat?” tanya Emir.


“Ada mas," jawab si bapak tua.


Beeve yang takut salah minum pun langsung menolak.


“Enggak usah pak, teh manis panas saja.” pinta Beeve dengan tubuh yang lemah dan berurai air mata, karena menahan sakit.


Lalu Emir memapah Bee untuk duduk di bangku halte.


“Apa perut mu masih sakit?” tanya Emir.


“Sudah lumayan baik mas," jawab Beeve.


Lalu pak tua penjual starling pun datang membawa teh manis panas pesanan Beeve.


“Terimakasih pak.” saat Beeve akan menyeruput teh hangatnya, Emir pun menghentikan Beeve.


“Jangan dulu,”


“Kenapa mas?”


“Pak, air mineralnya satu.” ucap Emir pada si penjual.


“Baik mas sebentar ya,” ucap si penjual.


“Kau kumur-kumur dulu, biar bau muntahan mu hilang dari mulut mu, itu bagus untuk mencegah muntah lagu,” ucap Emir.


“Ini neng.” sahut si penjual seraya menyodorkan air mineral kemasan botol pada Beeve.


“Terimaksih pak.” Beeve pun meletakkan teh manisnya di sebelahnya, kemudian ia pun kumur-kumur, setelah itu, ia meminum teh manisnya.


Sedang Emir membayar teh manis dan air mineral yang baru saja mereka beli.


“Bagaimana? Apa perut mu masih sakit?” tanya Emir seraya mengelus puncak kepala Beeve yang duduk di sebelahnya.


Lalu Beeve mengelus-elus perutnya seraya berkata dalam hati, “Semoga kau sehat-sehat ya nak, jadi anak yang kuat.”


Emir yang merasa Beeve masih sakit pun ikut mengelus perut wanita cantik itu.


“Ayo ke rumah sakit,” ajak Emir untuk memastikan kesehatan Beeve.


“Enggak usah mas.” Beeve menyingkirkan tangan bidang Emir dari perutnya.


“Emir kenapa sih?” batin Beeve.


“Tapi kau masih terlihat sakit, wajah mu juga pucat Bee,” ucap Emir.


“Aku sudah baikan mas,l.” sahut Beeve, lalu Emir menyeka sisa air mata yang ada di wajah Beeve.


“Dasar cengeng, sebenarnya kau itu belum cocok menikah, tapi entah kenapa kau malah menikah dengan Andri buru-buru,” ujar Emir.


“Namanya juga jodoh mas.” ucap Beeve dengan perasaan semakin tak karuan.


“Tapi enggak seharusnya kau menikahi Andri kan.” gumam Emir, yang kebetulan Beeve mendengarnya.


“Ada masalah apa sih dia?” hati Beeve menjadi bertanya-tanya.


Emir yang bosan menunggu Beeve baikan pun mulai mengambil rokok dari dalam tas ransel mininya.


Cetek! Ia pun membakar rokoknya dengan sebuah pemantik, dan mengisapnya.


“Uhuk uhuk uhuk!” Beeve yang tak terbiasa mencium bau rokok pun menjadi batuk-batuk.

__ADS_1


“Penyakit mu kok banyak benget,” ucap Emir seraya membuang rokoknya.


“Maaf, aku enggak biasa mencium bau rokok.” Emir yang banyak bergaul dengan gadis-gadis berani pun tersenyum.


“Ternyata dia anak rumahan,” batin Emir.


“Mas, aku sudah bisa jalan, ayo kita pulang,” ujar Beeve.


“Ya sudah, ayo,” sahut Emir.


Emir dan Beeve pun naik kembali ke atas motor, tak lupa keduanya memakai helm.


“Mas, bawanya pelan-pelan ya,” pinta Beeve pada Emir.


“Iya, tapi kau harus memeluk ku dengan benar, nanti takutnya kau jatuh, dan kalau itu terjadi semua orang akan menuntut ku,” terang Emir.


“Iya mas,” jawab Beeve.


Lalu Emir menyalakan mesin motornya, dan Beeve pun memeluk Emir dengan erat.


Ngunggg!!!!!


________________________________________________


Setelah selesai rapat, Andri buru-buru kembali ke ruangannya, dan di saat ia telah sampai.


Ia melihat Arinda telah bekerja seperti biasa dengan Ayu dan Yeni.


Lalu Andri mendekat ke meja Arinda, “Kaki mu sudah sembuh?” tanya Andri.


“Sudah pak.” jawab Arinda dengan tersenyum manis.


Sedangkan kedua rekannya melihat satu sama lain.


“Bukannya kaki Arinda dari tadi baik-baik saja?” batin Ayu.


Karena sibuk, Ayu tak menanyakan perihal kaki Arinda.


“Bagus kalau begitu, sekali lagi saya mohon maaf ya.” ucap Andri, setelah itu ia kembali ke ruangannya.


Lalu Yeni yang ingin tahu pun bertanya, “Memangnya kaki mu kenapa?”


“Cuma terkilir ringan, pak Andri enggak sengaja menabrak ku tadi pagi,” jawab Arinda.


“Ohh..., begitu rupanya,” Yeni menganggukkan kepala.


“Iya, pak Andri menyuruh ku istirahat dalam ruangannya, tapi karena aku enggak ingin merepotkan, jadinya aku memaksakan diri untuk bekerja, walau pun masih sedikit nyeri,” terang Arinda.


“Hem!!! Mengobrolnya nanti saja, kalau sudah istirahat,” Ayu menegur kedua rekan barunya.


“Maaf kak,” ucap Yeni.


“Maaf,” ucap Arinda dengan wajah sinis.


“Mentang-mentang senior, orang lain ngobrol sedikit saja enggak boleh, dia belum tahu kalau pemilik perusahaan ini adalah mertua sahabat ku,” batin Arinda.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


...Instagram :@Kissky_muchu...


...Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya....

__ADS_1




__ADS_2