Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 99 (Kebenaran)


__ADS_3

Sinta yang ingin mengambil minum karena tenggorokannya serak pun berteriak histeris.


“Akhhh! Ya Tuhan!!,” sebab ia melihat Beeve telah terduduk lemas dan berurai air mata di hadapannya.


“Kau kenapa Sinta?!” tanya Resti, ketika Reski melihat Beeve juga, ia pun ikut syok.


“Nyonya! Apa nyonya baik-baik saja?” keduanya berlutut di lantai seraya memegangi tubuh Beeve.


“Nyah, Apa yang terjadi?” tanya Resti panik.


Namun Beeve yang masih syok tak bisa membuka mulutnya.


“Nyonya, apa ada yang sakit? Kenapa nyonya tiba-tiba duduk di lantai? Hiks...!” Sinta menangis melihat keadaan Beeve.


“Ce-ceritakan semuanya pada ku,” ucap Beeve.


“Apa maksudnya nyonya!” Sinta pura-pura tak mengerti, karena Andri telah mengancam mereka dahulu.


“Jangan bodoh!! Katakan pada ku Sinta! Apa yang kalian tahu!!” hardik Beeve.


“Tapi nyah, kita...,” Resti tak tahu harus bagaimana lagi, penyesalan pun timbul di dalam hatinya.


Harusnya aku enggak bergosip dengan Sinta tadi, batin Resti.


“Kalian belum mau bicara juga?” Beeve bangkit dari duduknya dengan tubuh gemetaran.


“Sinta! Kumpulkan semua Art di rumah ini dalam 2 menit! Suruh ke ruang tamu!” titah Beeve, yang kemudian ia melangkah menuju ruang tamu terlebih dahulu.


“Aduh, bagaimana ini Rest!!” Sinta panik tak karuan.


“Aku enggak tahu, disini kita kan sama-sama salah, cepat Sin! Panggil semuanya,” ujar Resti.


Sinta pun mengambil handphone dalam sakunya, selanjutnya ia mengirim pesan ke group Whats*pp mereka semua.


Teman-teman!! Kumpul di ruang tamu kurang dari 2 menit lagi! Cepat!! ✉️ Sinta.


Setiap Art yang menerima pesan itu di buat kebingungan, namun mereka tetap menuju ke tempat yang di instruksikan.


Satu persatu Art pun telah tiba di ruang tamu, setiap dari mereka merasa janggal dengan ekspresi wajah majikan mereka yang tiba-tiba sinis.


“Apa semua sudah disini? Hum?!” tanya Beeve dengan suara yang lantang.


“Sudah nyonya.” jawab semua Art serentak.


“Silahkan duduk kalian semua,” titah Beeve.


Setelah semua Art telah duduk di atas sofa, Beeve mulai mengajukan pertanyaan pada mereka.


“Saya mau langsung ke intinya saja, sudah berapa lama, mas Andri dan Arinda berselingkuh?” pertanyaan Beeve mengejutkan para Art nya.

__ADS_1


Mereka pun melihat satu sama lain dengan perasaan was-was.


“Jawab!!” hardik Beeve.


Semuanya menjadi takut akan Beeve yang gusar, namun mereka tak berani bersuara, sebab Andri telah mengancam mereka semua paska tragedi itu terjadi.


“Apa-apaan kalian semua! Enggak ada satu pun yang mau cerita pada ku?!” Beeve bangkit dari duduknya dan meremas mulut Sinta yang duduk di sofa yang ada di sebelahnya.


“A-ampun nyah, saya salah!” ucap Sinta.


“Tadi, mulut ini begitu lancar bercerita di dapur, sekarang malah menutup rapat, ada apa ini?? Hum?? Apa sebenarnya kalian adalah musuh ku?” dengan kepala menunduk para Art nya menggeleng.


“Lalu? Kalau bukan, kenapa kalian masih diam!!! Hah!!” Beeve melepas mulut Sinta, lalu beralih ke guci yang ada di sebelah sofanya.


Prang!!! Ia melempar guci tersebut ke sembarang arah, yang membuat Art nya ketakutan.


“Kau juga mau bungkam mbak Siska?! Bukannya tadi malam, kau mendengar suami ku bercinta dengan wanita lain di rumah ku sendiri! Hah!!” Beeve yang di kuasai api cemburu dan amarah tak dapat mengendalikan diri.


“I-itu, bu-bu-bukan begitu nyonya.” Siska tak tahu harus berkata apa, lidahnya menjadi kaku tak dapat bergerak.


“Terus apa?! Bisakah kalian jujur padaku? Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?!” Beeve menggertak kan giginya dengan kuat, air matanya pun berlinang membasahi pipi mulusnya.


Winda yang iba pada majikannya pun mulai berkata jujur.


Setelah ini, aku akan mengundurkan diri, tak apa kehilangan pekerjaan, dari pada aku melihat nyonya yang baik hati bersedih, batin Winda.


“Semua itu terjadi di hari ulang tahun tuan yang ke 26 tahun, nyonya Arinda....”


“Nyonya?” Beeve memotong pembicaraan Winda.


“Iya, nyonya Arinda,” ucap Winda.


“Pa alasannya kau panggil dia nyonya?”


“Karena nyonya Arinda yang meminta, menurut pengakuannya, nyonya Arinda telah menikah siri dengan tuan, kapan pastinya, kita tidak ada yang tahu,” terang Winda.


Beeve terperanjat, jantungnya seakan berhenti berdetak, ia pun menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.


“Astaga Tuhan....,” tubuh Beeve lemas tak berdaya.


“Apa nyonya masih kuat untuk mendengarkan?” tanya Winda.


“Lanjut mbak.” jawab Beeve dengan pikiran melayang-layang.


“Ya, nyonya Arinda memang mampir, tapi...., dia enggak mengambil baju dari kamar tamu.” Winda pun menceritakan semua yang ia tahu mengenai kejadian malam itu, Art yang lain juga ikut membenarkan cerita Winda.


Beeve yang mendengar hanya bisa menangis, ia benar-benar tak menyangka, kalau Arinda menusuknya dari belakang, ia juga menyesal tak mendengarkan nasehat ibunya dan Emir.


“Tapi, walau pun begitu, tuan tak salah sepenuhnya, karena nyonya Arinda lah yang menjebak tuan, dan tuan juga ingin membunuh nyonya Arinda pada saat itu, tapi bodohnya kami mencegahnya, maafkan kami semua nyah, kami benar-benar tak bermaksud berpihak pada nyonya Arinda, ini di luar kuasa kami, kalau harus buka suara tentang urusan majikan kami,” terang Winda.

__ADS_1


Beeve yang mengerti pun tak bisa menyalahkan siapapun, kecuali dirinya dan Arinda.


“Jadi, janin yang Arinda kandung adalah anak mas Andri? Sialan!” gumam Beeve.


Beeve yang tak terima berniat balas dendam, ia pun bangkit dari duduknya, baru selangkah ia bergerak, tiba-tiba ia merasa pusing, tubuhnya seketika tak dapat berdiri dengan stabil, Sinta dengan sigap menangkap tubuh Beeve yang ingin roboh ke lantai.


“Nyonya! Nyonya!!!” semua Art di buat panik, mereka pun menggotong tubuh Beeve menuju kamar.


Winda dengan cepat menghubungi dokter Wildan.


“Nyonya harus sadar sebelum tuan pulang, bisa mati kita semua!!” ucap Winda panik.


Pukul 17:00, setelah tak sadarkan diri selama satu setengah jam, akhirnya Beeve bangun.


Ia melihat di sebelahnya ada Winda yang menangis tanpa henti.


“Mbak Winda.” ucap Beeve dengan suara yang lemah.


“Nyonya!!! Nyonya sudah sadar? Maafkan kami nyonya, karena kami semua nyonya jadi begini,” ucap Winda.


“Kalian enggak salah apapun mbak, aku yang salah.” Beeve yang sudah merasa lebih berenergi pun bangkit dari tidurnya.


“Nyonya jangan duduk dulu, tidurlah kembali," ujar Winda.


“Jam berapa sekarang?” tanya Beeve.


“Jam 17:00 nyonya,” jawab Winda.


“Tolong, carikan handphone ku mbak Winda,” titah Beeve.


Lalu Winda yang meletakkan handphone Beeve di atas meja pun mengambilnya.


“Ini nyah.” Winda menyerahkan handphone Beeve.


“Terimakasih mbak.” ucap Beeve. Lalu ia mengirim pesan singkat pada Arinda.


Kirim alamat rumah mu, aku mau berkunjung sekarang ✉️ Beeve.


5 Menit kemudian, Arinda pun membalas pesan Beeve.


Jl. Persatuan nomor 3, gang Merdeka ✉️ Arinda.


Awas kau ya! Salah besar kau anggap remeh aku selama ini! batin Beeve.


...Bersambung.......


...Tinggalkan dukungan pada novel ini, agar author makin semangat update untuk kalian....


__ADS_1


__ADS_2