Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 190 (Celine)


__ADS_3

Setelah sambungan telepon terputus, Andri merasa lega, karena setidaknya, ia mendapat sebuah harapan baru.


Drrtt...


Handphonennya pun bergetar, saat ia memeriksa, ternyata itu pesan dari detektif Heru, yang mengirim nomor kontak sahabat sekaligus rekan kerjanya yang bernama Gio.


Andri pun menyimpan kontak Gio tersebut ke dalam handphonenya, lalu mulai mendialnya.


Setelah terhubung, Andri menceritakan kronologi yang terjadi, hingga Gio paham untuk melalukan langkah apa selanjutnya.


📲 “Jadi tolong pak, bantu kami mencari alamat adik dari bu Celine tersebut,” Andri.


📲 “Siap pak Andri, tunggu kabar dari saya beberapa jam lagi,” Gio.


📲 “Terimakasih banyak pak,” Andri.


📲 “Sama-sama pak,” Gio.


Setelah selesai menghubungi Gio, Andri pun mulai menelepon pengacara kondang di seluruh negeri, untuk menangani kasus yang sedang mereka alami saat ini, beruntung pengacara tersebut bersedia, dan mulai mempelajari kasus yang Andri ceritakan.


“Alhamdulillah, semua telah beres, semoga segalanya berjalan dengan lancar ya Allah.” sebelum Andri kembali ke kamar mereka, ia pun memesan pizza dan spaghetti untuk makan siang mereka berdua.


Sayang ku, bersabarlah sedikit lagi, batin Andri.


Usai mendapat makanan yang ia beli, Andri kembali ke kamar, ia yang baru masuk samar-samar mendengar suara rintihan.


Andri pun berjalan menuju ranjang, yang ternyata, Beeve sudah mandi keringat, bibirnya bergetar, dan mengigau.


“Bia... Bia... anak mama...” Beeve terus menyebut nama putrinya.


“Astaga.” Beeve membuat Andri menjadi khawatir.


Ia pun segera keluar hotel menuju apotik, untuk membeli obat demam dan plester kompres penurun panas untuk istrinya.


Setelah dapat, Andri kembali, lalu menyeka seluruh keringat Beeve, serta mengganti bajunya, agar istrinya tak masuk angin.


Selanjutnya Andri menempelkan plester yang baru ia beli ke kening Beeve, dan memberi sirup demam dengan perlahan ke mulut istrinya.


Perlahan tubuh Beeve yang bergetar pun berhenti, dan mulai tidur dengan tenang.


Andri juga membeli minyak kayu putih dari apotik, kemudian mengoleskannya di seluruh tubuh Beeve, ia juga memberi pijatan lembut pada kepala, tangan dan kedua kaki istrinya.


“Jangan sakit dong sayang, aku enggak sanggup melihat mu menderita begini.” Andri mengecup punggung tangan istrinya yang masih panas.


Setelah selesai mengurut Beeve, Andri mematikan Ac, dan menyelimuti istrinya, tujuannya agar Beeve berkeringat dan suhu panasnya cepat turun.


Meski dalam kamar itu sangat panas Andri tak mau meninggalkan Beeve yang belum bangun.


Ya Tuhan, panasnya bagaikan di api neraka, batin Andri.


karena tak tahan, Andri membuka jendela kamar hotel mereka, agar udaranya masuk, ia juga membuka bajunya karena telah basah oleh keringat.

__ADS_1


“Alhamdulillah, lumayanlah anginnya,” gumam Andri.


2 jam kemudian, handphone Andri berdering, saat ia periksa, ternyata itu telepon dari Gio.


📲 “Halo pak, bagaiman perkembangannya?” Andri.


📲 “Saya sudah mendapatkan alamatnya, bu Celine memiliki 2 saudara laki-laki, yang 1 Bernama Abraham, yang satunya lagi Steven, saya akan kirimkan alamat mereka melalui pesan saja ya pak, tapi menurut info yang saya dapat, anak yang bapak cari ada di rumah Abraham,” Gio.


📲 “Alhamdulillah, terimakasih banyak pak, saya mengerti harus melakukan apa sekarang,” Andri.


📲 “Syukurlah pak Andri, kalau begitu saya tutup dulu, jika bapak masih butuh bantuan, hubungi saya langsung,” Gio.


📲 “Baik pak,” Andri.


Drrrrtt.... handphone Andri bergetar, dan itu pesan masuk dari Gio. Selain alamat, Gio juga memberi poto kedua saudara Celine.


Hebat juga pak Gio, baru 2 jam, sudah mendapatkan apa yang ku mau, batin Andri.


Tanpa Andri ketahui, Gio terhubung dengan banyak kalangan dan orang berjabatan, terutama kepala Dinas kependudukan dan catatan sipil.


Atas rasa terimakasihnya, Andri pun mengirim uang dengan nominal yang besar untuk Gio.


Ia yang bersemangat pun, tak sabar menunggu istrinya bangun, agar mereka segera meluncur ke alamat yang di berikan sebelum malam tiba.


Pukul 16:00, akhirnya Beeve bangun dari tidurnya, ia pun meregangkan seluruh otot-ototnya yang terasa kaku.


Lalu ia melirik ke sebelahnya, ia pun melihat suaminya tertidur dalam posisi duduk, penuh keringat dan bertelanjang dada.


“Plester? Apa tadi aku demam?” gumam Beeve.


Ia yang telah sehat, merasa kamar hotel mereka bagai neraka.


“Astaga, kasihan kau mas, harus menahan panas karena aku.” gumam Beeve. Ia pun kembali menaikkan suhu Ac. Setelah itu, perlahan turun dari atas ranjang.


“Kau sudah bangun sayang?” ucap Andri.


“Mas, pindah ke ranjang kalau masih ngantuk,” ujar Beeve.


“Enggak usah sayang, ayo kita mandi.”


“Oke mas, kau duluan apa aku?” tanya Beeve.


“Sama-sama saja sayang,” jawab Andri.


“Hah? Enggak mau ah mas!” Beeve menolak ajakan suaminya.


“Biar cepat.”


“Memang kita mau kemana lagi mas?”


“Ke rumah adiknya bu Celine, untuk itu kita harus buru-buru, takutnya Sampai kesana kemalaman, nanti malah sia-sia,” terang Andri.

__ADS_1


“Hah? Mas sudah dapat alamatnya?”


“Tentu saja sayang! untuk itu ayo kita mandi bersama,” pinta Andri kembali.


Karena merasa berhutang budi pada Andri Beeve pun memenuhi keinginan suaminya itu.


“Ya sudah, ayo mas, cepat!” seru Beeve yang tak sabar ingin segera berangkat.


“Oke sayang!” Andri uang bersemangat melucuti semua pakaiannya, hingga tak tersisa.


Saat dalam kamar mandi, Andri heran, karena Beeve mandi dengan mengenakan pakaian lengkap.


“Sayang, buka baju mu, bagaimana kau pakai sabun kalau begitu?” ucap Andri.


“Enggak mau ah!” Beeve yang malu menjauhkannya pandangannya dari Andri.


“Kau curang, masa aku sendiri yang buka baju?”


“Sudah ah mas! Kita mandi saja sekarang.” Beeve pun menyalakan shower, dan mengguyur tubuhnya.


Lalu Andri yang kesal memeluk Beeve dari belakang, dan membenamkan si Joni pada bokong Beeve.


“Akh! Mas, jangan gini ah! Jorok tahu!” Beeve merinding menerima perlakuan Andri.


“Munafik! Sayang, setelah urusan kita selesai, aku minta jatah ku, mau tidak mau, rela enggak rela, aku enggak perduli! Batas kesabaran ku cukup sampai hari ini,” ucap Andri di telinga Beeve.


Beeve tak merespon perkataan suaminya, ia pun melanjutkan mandinya dengan tergesah-gesah.


Selesai mandi, Andri menatap lekat Beeve yang memakai baju. Hingga membuat Beeve grogi dan salah tingkah.


Setelah keduanya telah siap, mereka pun berangkat menuju rumah Abraham dengan menaiki taksi.


Selama perjalanan, Andri terus menggoda Beeve dengan selalu memberi tatapan menggoda serta menggenggam erat tangannya.


Ngapain sih mas Andri, bikin merinding! batin Beeve.


“Sayang.” Andri menaruh kepalanya di bahu Beeve.


“Apa sih mas? Jangan gini ah, malu tahu sama pak supir,” bisik Beeve.


“Kau kan istri ku, memang ada yang salah?”


“Salah dong mas, mengumbar kemesraan di depan umum, bisa menyebabkan penyakit ain bagi orang-orang yang enggak suka,” terang Beeve.


“Bilang saja kau enggak mau aku menyentuh mu.” Andri kembali mengangkat kepalanya dengan bibir cemberut.


Beeve yang tak ingin merusak suasana, meraih kembali kepala Andri lalu meletakkannya di bahunya.


“Sekarang kau senang?” tanya Beeve.


“Kurang.” jawab Andri. Lalu Beeve memberi satu kecupan di kening Andri.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2