Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 208 (Jujur)


__ADS_3

Arinda geleng-geleng kepala mendengar nasehat ibunya yang menurutnya tak bermanfaat.


“Jangan mengatakan sesuatu yang enggak berarti bu.” ucap Arinda dengan mata tajam.


“Kalau kau masih ingin berbuat jahat, ibu enggak akan pernah mau membantu mu.” Elia memberi ancaman pada putrinya.


“Jahat dari mana sih bu? Tolong mengerti...”


“Enggak, kau yang harus mengerti nak, kalau kau masih memaksa ibu untuk berbuat aneh, ibu enggak akan mengunjungi mu lagi, sampai kau berubah.” terang Elia yang membuat Arinda lemas.


Ia pun menggaruk-garuk kepalanya, karena Arinda merasa ibunya telah berubah.


“Benar-benar tega kau ibu.” ucap Arinda seraya menggenggam kuat meja yang ada di hadapan mereka berdua.


“Apa masih ada yang ingin kau katakan pada ibu? Kalau enggak, ibu mau pulang, kasihan ayah mu di rumah sendirian, apa lagi dia sedang kurang sehat,” ujar Elia.


“Sudahlah, ibu pulang saja, kalau ibu enggak bersedia membantu ku, berarti ibu enggak ada perlunya lagi disini.” Arinda yang emosi atas Elia pun memilih memusuhi ibunya.


“Baiklah, ibu pergi nak, jaga dirimu baik-baik, jangan tinggalkan sholat.” selanjutnya Elia bangkit dari duduknya, dan bergegas meninggalkan sang putri tercinta dalam penjara.


Semoga kau berubah nak, ibu sangat sedih dengan keadaan mu sekarang, maafkan ibu tang tak bisa memberi kemauan mu,” batin Elia.


“Dasar, pada hal hanya mereka yang ku punya, tapi tetap saja enggak bisa di andalkan, menyebalkan! Akh!!” Arinda bangkit dari duduknya menuju selnya kembali.


“Bagaimana pun caranya, aku harus keluar dari sini, akan ku halalkan segala cara, setelah itu, aku balas kan dendam ku pada orang-orang yang telah menyakiti dan menjebloskan ku ke penjara!” gumam Arinda.


_______________________________________


Malam harinya, Helena yang masih setia menemani Emir di kampus pun merasa ngantuk.


“Ya ampun, abang Emir kok lama banget sih sama dosennya, malah sudah malam begini lagi.” gumam Helena yang juga merasa lelah.


Ia yang menunggu di sebuah kursi tepat di hadapan ruang dosen pembimbing Emir mulai menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Ia yang tak dapat menahan kantuk perlahan memejamkan matanya.


Emir yang baru selesai dengan urusannya keluar dari ruangan sang dosen.


Untung saja pak dosen baik pada ku, meski terlambat, tapi tetap di bimbing, batin Emir.


Lalu, saat ia melihat Helena dengan mata terpejam, ia berpikir kalau wanita itu sedang mengerjainya lagi.


“Pasti cuma prank,” gumam Emir.


Lalu ia pun mendekat ke Helena yang sedang tidur.


“Hei, bangun Helena, sudah selesai.” Emir menggoyang-goyang bahu Helena.


“Hemm... jangan ganggu, aku ngantuk,” gumam Helena.

__ADS_1


“Hei, ayo pulang, atau kau mau menginap disini?” karena tak berhasil dengan menggoyang bahu Helena, ia pun menjewer telinganya, hingga mata Helena terbuka lebar.


“Akh.. sakit bang, kau ini enggak bisa lebih lembut apa?!” pekik Helena.


“Salah sendiri, kenapa susah di bangunin! Ayo kita pulang.” Emir meninggalkan Helena, tanpa menunggu nyawanya wanita itu terkumpul secara penuh.


“Tunggu aku bang...” Helena bangkit dari duduknya, lalu mengejar sang calon suami.


“Abang, jalannya pelan-pelan,” Helena menggandeng lengan Emir.


“Aduh, kau manja banget sih!” pekik Emir.


“Ya memangnya kenapa kalau aku manja? Toh aku begini hanya untuk mu saja!”


“Tapi aku enggak suka Helena!” wajah kesal Emir membuat Helena makin jatuh cinta.


Ia pun mencubit pipi calon suaminya, “Ya ampun calon suami ku... jangan kecut begitu dong wajahnya.”


“Terserah aku mau bagaimana, ini wajah ku kok!” pekik Emir dengan bibir cemberut.


“Masalahnya, bang Emir kalau begitu makin imut, bukan seram, ternyata begitu ya kelebihan orang terlanjur tampan, mau bagaimana suasana hatinya tetap terlihat tampan, bang Emir kau memang top!” Helena memberi jempol pada sang calon suami.


Emir yang dapat gombalan bukannya senang malah geleng-geleng kepala.


“Luar biasa, bisa enggak sih, kalau kau bicara, enggak usah terlalu puitis atau memberi pujian yang berlebihan?”


“Astaga, kau benar-benar gatal! Lepas! Kita harus pulang!” kemudian Helena melepaskan pelukannya. Lalu keduanya pun beranjak menuju mobil yang berada di parkiran kampus. Sesampainya mereka, keduanya pun masuk ke dalam mobil.


“Ayo pak, kita ke rumah Helena dulu,” titah Emir.


“Ehm, kita ke rumah abang saja,” ucap Helena.


“Ini sudah malam Helen, kau harus pulang, nanti ayah dan ibu mu mencari mu,” terang Emir.


“Enggak apa-apa bang, aku akan izin ke ibu untuk menginap di rumah abang malam ini.” Emir melirik wajah Helena dengan tajam.


“Kau belum resmi jadi istri ku, jadi... kau harus tidur di rumah mu!” rasanya Emir ingin meninggalkan Helene di mobil itu bersama Roni, sebab Helena begitu menyusahkan baginya.


“Tapi aku mau nginap bang...” ucap manja Helena.


Emir yang sudah tak tahan pun berkata pada Reno, “Pak, maaf nih sebelumnya, tapi tolong bapak pulang ke rumah naik taksi saja ya, biar aku sendiri saja yang mengantar Helene.” ucap Emir seraya memberi Reno ongkos pulang.


“Baik tuan.” Reno pun langsung keluar dari dalam mobil.


Setelah itu, Emir yang tak segan lagi mencerca Helena dengan kata-kata kasar.


“Hei Helena, kau itu perempuan, harusnya punya malu, dan bisa jaga harga diri, ulah mu sekarang malah buat aku jijik, kau pikir itu suatu kebanggaan? Belum jadi istri sudah datang pagi-pagi buta, gombal berlebihan, nempel-nempel, dan sekarang mau menginap di rumah ku? Kau waras enggak sih?!”


“Apa salahnya? Aku kan enggak tidur satu kamar dengan mu bang?!”

__ADS_1


“Bukan masalah satu kamarnya, tapi kau itu tidak menghargai dirimu sendiri, kau tahu murahan? Itulah kau di mata ku! Dan aku enggak suka kau begitu! Sabar sedikit kenapa?! Toh kita akan menikah sebentar lagi kalau memang jodoh!” Emir mendengus kesal pada Helena.


“Kau jahat bang! Pada hal aku hanya ingin berlama-lama dengan mu!” pekik Helena.


“Nanti juga bisa, setelah kau jadi istri ku.” Helena menatap lekat wajah Emir yang baru saja berkata romantis padanya.


“Bang...”


“Apa lagi? Kau masih bandel?” tanya Emir.


“Bukan, maafkan aku ya bang, sudah buat abang kesal.” ucap Helena dengan pandangan yang teduh.


“Hem! Ku antar sekarang ya.” Emir pun mulai menyalakan mesin mobil dan membelah jalan raya menuju rumah Helena.


Selama dalam perjalanan, Helena resah tak menentu, Emir yang memperhatikan tingkahnya pun menjadi penasaran.


“Kau kenapa?” tanya Emir.


“Bang, aku...”


“Kau kenapa? Mau buang air besar atau apa? Biar ku antar ke pom bensin?”


“Enggak bang, aku... mau mengatakan sesuatu pada mu.” ucap Helena dengan gugup.


“Mau bilang apa? Jangan sok tegang begitu, gaya mu lucu sekali!”


“Aku serius bang.”


“Iya aku tahu, makanya bicara Helena, jangan berbelit-belit!”


Dengan mengumpulkan segala keberanian Helena pun berkata, “Aku mau jujur pada mu, tapi jangan marah ya bang.”


“Iya! Cepat katakan.”


“Bang, maafkan aku... karena kita akan menikah sebulan lagi, aku ingin enggak ada kebohongan di antara kita.”


“Bagus kalau kau sadar, lalu apa lagi?”


“Jadi aku mau jujur pada mu, kalau aku sebenarnya sudah enggak perawan lagi.”


“Oh.” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Emir.


“Maaf bang, tapi aku melakukannya hanya dengan satu pria kok, dan mantan ku hanya 1, maafkan aku bang, kalau aku enggak utuh pada mu.” ucap Helena dengan perasaan lega, karena tak ada lagi rahasia yang ia pendam.


“Kalau jodoh enggak akan kemana Helena.” sikap dewasa Emir membuat Helena makin cinta.


“Aku tahu bang, dan aku sangat beruntung bila jadi istri mu, meski kau cerewet, bagai dept collector pinjaman online, tapi... hatimu sangat mulia.” Helena kembali memberi memuji untuk calon suaminya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2