
“Itu beneran bang? Bukan bohongkan?” tanya Helena memastikan.
“Tentu saja, makanya luruskan otak mu, jangan negatif terus, berburuk sangka hanya akan membuat hati mu kotor, dan menimbulkan iri dengki, kau paham kan?”
“Iya bang.” Helena menganggukkan kepalanya.
Seperti biasa, dia mudah di bujuk, ayah dan ibu mertua pasti sangat memanjakannya semasa gadis, makanya dia bersikap seenaknya dan plin-plan, batin Emir.
“Abang...” Helena menarik ujung baju suaminya.
“Apa sayang ku?” sahut Emir memeluk istrinya.
“Malam ini kita bercocok tanamkan?”
“Iya dek, abang yang buka bajunya, atau ade sendiri?” tanya Emir dengan tersenyum.
“Abang sajalah!” sahut Helena.
Lalu keduanya pun bercinta seperti tak ada masalah apapun sebelumnya.
Beeve yang duduk santai di atas ranjang tiba-tiba mendengar bunyi dering telepon kerja suaminya.
Semula ia tak menghiraukannya, namun karena terus berdering berkali-kali membuat hatinya penasaran, ia takut jika itu adalah telepon penting.
“Mas Andri lama banget sih mandinya.” gumam Beeve seraya meraih handphone suaminya berada di atas meja tepat di sebelah ranjang mereka.
Ketika ia memeriksa siapa yang begitu sibuk memanggil kontak suaminya, matanya langsung membulat sempurna, karena itu adalah Lea.
“Untuk apa wanita ini menelepon jam 22:30 malam? Apa begini konsep kerja di kantornya? Menggangu klien lain di luar jam kerja?” hati Beeve mulai panas dingin, ia tahu betul kalau Lea bukan hanya sekedar teman satu sekolah suaminya.
“Apa aku harus angkat teleponnya? Atau ku biarkan saja? Tapi kalau aku melakukannya, pasti aku akan terlihat kampungan, masa aku yang seorang istri sah harus bersaingan dengan wanita tua itu,” gumam Beeve.
Setelah penuh pertimbangan, akhirnya Beeve meletakkan handphone suaminya di atas meja kembali.
5 menit kemudian, Andri pun keluar dari kamar mandi, dan ia pun mendengar kalau handphonenya berdering.
“Siapa yang telepon malam-malam begini?” ucap Andri seraya menuju meja. Beeve sendiri pura-pura sibuk membaca buku.
Saat Andri melihat itu panggilan dari Lea, ia pun langsung mengangkatnya.
📲 “Halo Lea, ada perlu apa menelepon malam-malam begini?” Andri.
📲 “Halo Ndri, kok lama banget angkat teleponnya?” Lea.
📲 “Maaf, tadi aku baru selesai mandi,” Andri.
📲 “Oh, pantas wanginya sampai kesini,” Lea.
__ADS_1
📲 “Hahaha... kau ini bisa saja,” Andri.
Mendengar tawa suaminya hati Beeve makin terbakar.
Beraninya mas Andri menelepon dengan wanita lain di dekat ku, pakai tertawa lagi, batin Beeve.
📲 “Serius, eh besok malam apa kau ada acara?” Lea.
📲 “Setiap malam aku ada acara,” Andri.
📲 “Kalau itu dengan istri mu, absen dululah!” Lea.
📲 “Memangnya hal penting apa?” Andri.
📲 “Besok malam alumni sekolah kita mengadakan reuni di kafe @saya_muchu, ini hanya sesekali loh, datang yuk!” Lea.
📲 “Ehm, bagaimana ya? Sepertinya aku enggak bisa, maaf ya,” Andri.
Betah banget ya telponnya, batin Beeve.
📲 “Ayolah Ndri,” Lea.
📲 “Apa boleh bawa istri?” Andri.
📲 “Jangan dong, inikan khusus alumni kita saja, lagi pula kasihan istri mu, masa lagi hamil kau bawa keluar malam-malam,” Lea.
Ya ampun, memangnya harus banget ya, istri bongsornya itu di bawa? Pada hal aku ingin duduk bersebelahan dengannya di kafe, batin Lea.
📲 “Ya baiklah kalau begitu, bawa saja, ah... dasar kau ini, enggak bisa banget lepas dari istri mu,” Lea.
📲 “Harap maklum, ya sudah kalau begitu, aku tutup ya, sudah larut malam, Andri.
📲 “Oke, sampai ketemu besok,” Lea.
📲 “Siap,” Andri.
setelah sambungan telepon terputus, Andri baru melihat, kalau Lea telah memanggil nomornya sampai 30 kali.
Sinting banget nih cewek! Aduh bisa jadi masalah nih, pasti Beeve sudah melihatnya tadi, batin Andri.
Lalu Ia pun meletakkan handphonenya di atas meja, kemudian ia naik ke atas ranjang, mendekat ke istrinya yang sedang sibuk memelototi tulisan di buku.
“Sayang, serius banget bacanya,” ucap Andri.
“Iya mas,” jawab Beeve singkat.
“Istri ku.” Andri menarik buku yang Beeve pegang dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ada apa sih mas?” wajah Beeve mendadak galak menoleh ke suaminya
Kan... benar! Sialan banget kau Lea! batin Andri.
“Malam ini kita jadikan main kuda-kudaan?” Andri pun menyusupkan tangannya ke dalam baju istrinya, namun tangan nakalnya malah dapat pukulan dari Beeve.
Plak!
“Awas, aku mau tidur, cape tahu mas, seharian nungguin kau kerja.” ucap Beeve, lalu ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Sayang, tadi sore kan sudah janji?”
“Enggak! Malas!” Beeve menolak mentah-mentah ajakan suaminya.
“Enggak bisa, sudah terlalu lama aku menunggu, mau enggak mau, kita harus melakukannya malam ini!” pekik Andri.
“Jangan maksa mas! Aku enggak sudi!”
“Kenapa?”
“Pikir saja sendiri!”
“Ya ampun Beeve sayang, kau jangan buat Lea sebagai alasan, dia hanya rekan kerja dan teman sekolah ku, dia menelepon juga untuk ajak reunian, itu juga kalau aku pergi, kau ikut sayang,” terang Andri.
“Itu hanya alasannya mas, intinya sih dia suka padamu, masa dia mendial nomor mu sampai puluhan kali di jam larut begini, apa lagi dia tahu kalau kau sudah punya istri, itu namanya sengaja tahu! Dia meremehkan ku, sekaligus memancing mu, untuk main hati dengannya di belakang ku!” Beeve yang telah alumni dari ikatan hati yang tersakiti takkan keliru lagi.
“Astaghfirullah sayang, khayalan mu jauh sekali, mana mungkin begitu.” meski Andri memiliki firasat yang sama, namun ia tak mendukung pendapat istrinya.
“Itu sudah enggak meleset mas! Kelihatan banget gatalnya, kalau bukan karena urusan perusahaan, sudah ku caci maki wanita itu!” pekik Beeve.
Aduh! Marahnya seram banget, batin Andri.
“Sabar sayang, jangan emosi, kasihan si kembar,” ucap Andri.
“Ini semua kan karena ulah mu mas! Sok kegantengan, suka tebar pesona, kalau aku yang begitu, pasti kau enggak terima!” amarah Beeve makin menajadi-jadi karena efek hamil.
Mak! Bisa perang nih kalau begini terus, Beeve galaknya 10 kali lipat dari biasanya, batin Andri.
“Sayang, maafkan aku kalau aku salah, jangan marah lagi ya, stop sayang, malu kalau sampai semua orang tahu, ini bukan rumah kita sayang, nanti kalau ayah dan ibu menasehati kita enak, masa kita orang tua dari 4 anak masih harus di bimbing orang tua? Apa lagi kalau Emir dan Helena tahu, hum... bisa habis kita jadi bahan ledekan keduanya,” ujar Andri.
Setelah mendengar perkataan suaminya emosi Beeve pun mereda.
“Oke, tapi ingat ya mas! Kebersamaan kita yang sekarang, adalah kesempatan terakhir mu, kalau kau sampai ketahuan macam-macam dengan wanita lain, apa lagi seperti tadi, dengan santai menelepon di sebelah ku, dan juga tertawa seperti jin, aku enggak mau lagi pada mu, kalau kau enggak mau menceraikan ku, aku yang akan menceraikan mu!” pekik Beeve.
“Kau bilang apa barusan?” Andri memelototi istrinya.
“Iya, itu pasti! Kau enggak bisa berulang kali menyakiti ku mas, aku cape,.lebih baik pisah dari pada kejadian hal yang sama!”
__ADS_1
“Beraninya kau minta itu pada ku hanya karena masalah yang enggak jelas?! Dengan mudah kau katakan hal terlarang itu? Sudah banyak yang kita lalui, kesedihan, air mata, perpisahan dan juga penderitaan, itu juga kau enggak mengerti, kalau hatiku selalu untuk mu! Kau ini! Salah sedikit minta pisah! Kau tahu! Hatiku sakit kau buat begitu, kau sama sekali enggak menghormati ku Beeve An Mahveen!!! Jangan jadi istri durhaka! Aku juga punya batas kesabaran!” teriakan Andri membuat Yudi dan Rahma yang melintas di depan kamar keduanya mendengar kegaduhan anak dan menantu mereka.