
Dengan terpaksa Andri mengikuti kemauan Arinda.
Ting!
Sesampainya mereka ke lantai 2, Arinda dan Andri keluar dari dalam lift, kemudian mereka menuju kamar Arinda. Ceklek!! Arinda membuka pintu kamarnya.
“Sudahkan? Aku akan turun,” ucap Andri.
Dengan sigap Arinda menggenggam tangan Andri.
“Temani aku tidur malam ini mas,” pinta Arinda.
“Kau sinting ya?! Ini rumah ku dan Beeve, beraninya kau minta hal itu!” pekik Andri.
“Habis, mas sendiri yang memaksa ku untuk melakukannya,” ujar Arinda.
“Enggak bisa, kau jangan minta yang aneh-aneh ya!” Andri menolak mentah-mentah permintaan Arinda.
“Oke! Aku akan bongkar mengenai pernikahan kita! Lagi pula aku malas sembunyi-sembunyi begini, dan aku juga enggak masalah tinggal satu atap dengan Beeve, kalau memang dia berkenan,” terang Arinda.
Andri benar-benar di buat mati kutu, “Kau benar-benar licik ya! Salah besar aku menikahi mu,” ucap Andri.
“Ya ampun mas, dari pada mengeluh, mending kau masuk, ini mau tengah malam nih, lagi pula Beeve enggak mungkin bangun,” terang Arinda.
“Bangsa*... bangsa*...!” umpat Andri.
Dengan terpaksa Andri masuk ke dalam kamar Arinda.
Arinda dengan senyum liciknya mengunci pintu rapat-rapat.
Saat Andri berjalan menuju ranjang, Arinda melucuti piyamanya, lalu memeluk Andri dari belakang.
Hug!
Deg!
Jantung Andri berdetak kencang, ia pun melepas pelukan dari Arinda.
Ketika Andri menghadap Arinda, ia tak habis pikir, istri keduanya yang super berani tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
“Astaga! Kau benar-benar menguji kesabaran ku!”
“Ayolah mas, sejak menikah kita belum melaksanakan kewajiban kita masing-masing sebagai pasangan suami istri.” Arinda kembali ingin memeluk Andri. Namun Andri menepis tangannya.
“Maaf saja ya! Kesalahan ku yang kemarin adalah pertama dan terakhir untuk mu!”
__ADS_1
“Huh!! Kau sungguh enggak adil ya mas, pada hal aku juga istri mu, tapi sikap dan otak mu benar-benar enggak beres,” ucap Arinda.
“Stop, pakai kembali baju mu, lagi pula aku enggak tertarik melakukannya dengan mu.” ujar Andri yang membuat Arinda tersinggung.
“Memang apa bedanya aku dengan istri pertama mu mas? Ku rasa aku jauh lebih baik darinya, aku ini masih suci untuk mu, sedangkan dia adalah bekas orang lain, bukankah dari situ saja sudah ketahuan, mana perempuan berbobot dan yang enggak?” Andri tertawa getir mendengar penuturan Arinda.
“Ck, kau tahu banyak ternyata, salah besar Beeve berteman dengan mu,” ucap Andri.
“Justru dia harus bersyukur berteman dengan ku, dan kau juga harus berterimakasih karena aku sudah mengandung anak biologis mu, pahami baik-baik mas, aku jauh lebih baik darinya, lebih suci dan jujur, sikap ku yang sekarang karena aku enggak mendapatkan hak Yang seharusnya ku terima darimu,” terang Arinda.
“Cukup Nda, sebaiknya pasang baju mu, dan tidur, jangan kau banding-bandingkan dirimu dengannya, seburuk apapun dia, setidaknya istri ku tidak merusak dan menusuk orang lain dari belakang, jangan kau keluhkan nasib mu yang sekarang, hubungan yang tak baik dari awal, akhirnya juga enggak akan baik.” Andri yang lelah pun merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada dalam kamar itu.
Arinda memutar mata malas, rasanya ia ingin sekali membongkar aib terbesar Beeve, namun ia masih menahannya, karena Arinda masih ada sedikit rasa berhutang budi pada Beeve.
“Kau benar-benar enggak mau bercinta dengan ku mas malam ini?” tanya Arinda seraya mendekat ke pintu.
“Sudah pasti, makanya kau tidurlah,” ujar Andri.
Arinda yang sudah setengah gila membuka pintu kamar, ceklek!
Andri pun menoleh ke arah pintu, dengan senyuman nakal Arinda berkata.
“Baiklah, aku akan turun ke kamar mu, dan mengatakan pada Beeve kalau mas Andri ingin memperkeos ku!” Andri langsung bangkit dari tidurnya.
Arinda yang tak pernah main-main dengan ucapannya, keluar dari dalam kamar dengan keadaan polos, sontak Andri mengejarnya.
“Ya Tuhan! Bisa gila aku!” gumam Andri.
Arinda yang telah sampai di lift menekan tombol turun berulang kali.
Andri yang berhasil menyusul menggenggam erat tangan Arinda.
Plak!! Plak!! Dua tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Arinda.
“Kau lebih dari enggak waras ya ternyata! Cepat kembali!” hardik Andri.
“Kau yang enggak waras mas! Aku ini manusia normal, sama seperti mu dan Beeve! Punya hasrat dan gairah, kau pikir yang ku butuhkan itu hanya nafkah lahir? Enggak! Aku juga butuh yang bagian batin! Kalau kau bisa bermain dengan Beeve, kenapa dengan ku enggak?! Kalau aku mau, aku bisa membongkar segala hal, semuanya! Tapi aku masih punya perasaan! Aku memikirkan mu dan dia, tapi apa balasan mu pada ku mas? Kau abaikan aku! Kau telantarkan anak mu! Anak biologis mu! Keparat!”
“Jangan pancing aku untuk marah juga.” ucap Andri dengan wajah serius.
“Jangan tantang aku mas, yang enggak tahu soal pernikahan kita hanya istri mu dan keluarnya, kau mau runtuh? Biar aku lakukan, aku enggak akan mau rugi sendiri, intinya simpel mas, lalukan kewajiban mu, maka kita akan sama-sama bahagia di tempat kita masing-masing,” terang Arinda.
Andri tak bisa berkata apapun lagi, dengan terpaksa ia menuruti kemauan Arinda.
“Oke, kau mau nafkah batin?” tanya Andri dengan menekan gigi atas bawahnya rapat-rapat.
__ADS_1
“Of course! I need it baby!” jawab Arinda.
Lalu, Andri menarik kasar tangan Arinda, menuntunnya kembali ke dalam kamar.
Bam!! Andri membanting pintu dengan keras, kemudian ia mendorong tubuh Arinda ke atas ranjang.
Andri pun melucuti pakaiannya, selanjutnya ia membuka kedua kaki Arinda.
“Bukannya kita harus pemanasan dulu, seperti waktu itu mas?” ucap Arinda.
“Enggak perlu! Kau sudah enggak tahan kan?!” ujar Andri.
“Tapi punya mu masih loyo! Apa yakin bisa masuk?” Arinda menggoda Andri.
“Sini biar aku bangunkan mas!” Arinda bangun dari tidurnya, dan menuntun Andri untuk rebahan di atas ranjang.
“Ayolah mas berdamai dengan keadaan.” ucap Arinda seraya melayani Andri.
Arinda yang ahli dalam bidang terapis plus-plus pun berhasil membuat suaminya menggeliat.
Dasar! Awalnya saja yang menolak, enak sedikit langsung tumbang pertahanannya, batin Arinda.
Arinda yang memimpin permainan mulai melakukan penyatuan pada Andri.
“Bagaimana mas? Enakkan? Apa kau dan Beeve juga melakukan pose ini?” tanya Arinda.
Seketika Andri teringat akan perkataan yang ia katakan pada Beeve dulu.
“Diamlah!” Andri bangkit dan menukar posisi bercinta mereka. Kini Arinda yang berada di bawah.
Aku harus cepat menyelesaikannya, batin Andri.
Di malam itu, pertempuran Antara Andri dan Arinda berlangsung untuk yang kedua kalinya.
Setelah selesai Arinda memeluk tubuh Andri yang penuh keringat.
“Kau hebat mas, aku sangat puas!” Arinda memuji permainan Andri.
“Tutup mulut mu,” ucap Andri.
“Sayangnya, bibir seksi mu tak mau bergerilya di tubuh ku, pada hal kau adalah yang pertama menjamah tubuh ku.” ucap Arinda memancing naluri Andri.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1