Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 59 (Emir)


__ADS_3

FLASHBACK


3 tahun yang lalu, tepatnya di bulan Mei 2017, Emir yang baru lulus SMP di ajak oleh ibu dan ayahnya berlibur ke Bandung bersama dengan keluarga Beeve, karena mobil keluarga Emir di jadikan tempat koper dan tenda, maka Emir pun berangkat dengan mobil keluarga Beeve.


Beeve dan Emir pada saat itu di tempatkan pada kursi bagian kedua dalam mobil.


Beeve yang ramah mengajak Emir untuk mengobrol.


“Mir, kau mau lanjut ke SMA mana?”


“Aku mau ke London, karena aku berhasil di terima di salah satu sekolah disana,” terang Emir.


“Wah! Hebat banget, aku juga mau sekolah ke luar negeri,” ujar Beeve.


“Pendaftaran masih buka, coba saja, nanti kau akan di kasih soal ujian secara online, kalau berhasil menjawab, maka akan di terima,” terang Emir.


“Aku juga mau ah, bolehkan yah?” tanya Beeve pada Erdogan


“Bee, kalau sejauh itu ayah enggak bisa kasih izin,” jawab Erdogan yang sedang menyetir.


“Kenapa yah? Beeve juga mau seperti Emir, dan juga aku mau belajar hidup mandiri,” ujar Beeve.


“Aduh! Kau tahu sendirikan, kalau yang hanya pergi ke sekolah saja ayah sudah rindu jadi bagaimana bisa ayah melepas mu sejauh itu? Nanti kalau ayah sakit karena kangen, bagaimana Bee?” terang Erdogan yang begitu sayang pada putri tunggalnya.


“Benar Bee, apa kau enggak tahu alasan ayah mu tak pernah kasih izin kau menginap dimana pun?”


“Enggak bu,”


“Ya karena ayah selalu merindukan mu, ayah juga enggak bisa tidur sebelum melihat mu berada dalam rumah,” ujar Jane.


“Terus, nanti kalau Beeve nikah gimana? Kan harus ikut suami, sama seperti ibu, yang ninggalin nenek di Australia demi ayah,” ucap Beeve.


“Nah untuk itu, sebisa mungkin kau jangan menikah dengan orang jauh Bee,” ujar Erdogan.


“Jodoh siapa yang tahu yah? Mungkin saja jodoh Beeve orang luar negeri?”


“Jangan sampailah nak, terlalu jauh kalau harus kesana,” ucap Erdogan.


“Namanya juga jodoh,” balas Beeve.


“Dari pada itu, ayah lebih ridho kalau kau nikahnya sama Emir, enggak apa-apalah, karena jarak rumah kita ke rumah tante mu kan hanya 4 jam,” ungkap Erdogan.


“Emir?” sontak Beeve menoleh kesebelahnya.


“Hehehe, kau mau kan Mir melamar Beeve kalau kalian sudah dewasa nanti?” tanya Jane bercanda.


Lalu Emir melihat wajah Beeve yang tiba-tiba menjadi 10 kali lebih cantik di matanya.

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab Emir singkat.


“Wah, kita sudah bisa lega mas sekarang, Beeve enggak akan jauh-jauh dari kita,” ujar Jane seraya tertawa kecil.


“Benar, kau mau menikahi ku Mir?” tanya Beeve pada Emir.


Dengan hati berdebar-debar Emir kecil pun menjawab. “Iya, aku mau,”


Erdogan dan Jane tak hentinya tertawa, sebab keduanya hanya bercanda semata, tak ada keseriusan sama sekali.


“Bagaimana Bee? Kau mau kan pada Emir?” tanya Erdogan kembali.


“Ya sudah, kalau Emir mau apa salah yah, lagi pula wajah Emir juga tampan, setidaknya Beeve punya suami yang enggak membosankan untuk di lihat setiap harinya.” jawaban Beeve yang membuat Emir terkesima.


Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, akhirnya mereka sampai juga di bumi perkemahan yang ada di kota B.



Suasana hening dan asri kian memanjakan mata mereka, terlebih udaranya juga begitu dingin, membuat jiwa mereka menjadi tenang, dan tak jauh dari area kemah yang mereka pilih ada sebuah danau yang masih di selimuti kabut.


“Wah!!!! Bagus banget yah, Beeve suka.” seru Beeve yang baru pertama kali tempat itu, ia yang suka akan hutan dan ketenangan membuatnya senang bukan main.


“Nah, ada lagi yang lebih bagus Bee,” ucap Erdogan.


“Apa yah?”


“Yang benar yah?!” Beeve bertambah girang.


“Tentu saja, tuh! Lihat di sebelah sana.” Erdogan menunjuk ke arah yang tak jauh dari mereka, yang terlihat seperti sebuah kandang besar yang terbuat dari jaring kawat.


“Rusanya ada disana,” ucap Erdogan.


“Yah, Beeve mau lihat!” Beeve kecil merengek pada sang ayah.


“Nanti, karena kita kan baru sampai, dan juga belum mendirikan tenda,” terang Erdogan.


“Tapi Beeve mau kesana sekarang,”


“Iya sayang, sebentar lagi kita kesana, setelah makan siang ya,” ujar Jane.


“Enggak mau, Beeve mau kesana sekarang.” karena Beeve terus merengek, Emir yang merasa sebagai calon suami di masa depan pun memenuhi keinginan Beeve.


“Biar Emir saja om yang menemani Beeve kesana, lagi pula waktu makan siang masih lama,” ucapnya.


Karena jarak ke penangkaran masih dapat di jangkau oleh mata, Erdogan pun mengizinkan kedua anak-anaknya pergi.


“Baiklah, tapi harus hati-hati ya, jangan mau di ajak bicara oleh orang yang enggak di kenal, dan juga jangan terima apapun pemberian orang lain, kalau ada apa-apa, telepon om.” Erdogan memberi penerangan pada Beeve dan Emir.

__ADS_1


“Baik om, ayo Bee,” ucap Emir.


“Ayah, kami pergi dulu ya.” selain berpamitan pada kedua orang tua Beeve, Emir dan Beeve juga pamit pada orang tua Emir.


“Mir, nanti photo aku dengan rusanya ya.” pinta Beeve seraya menggenggam tangan Emir.


“Oke.” ucap Emir dengan perasaan campur aduk.


Genggaman Beeve membuat suhu tubuh Emir menjadi hangat, sedangkan Beeve yang polos tak merasakan apapun pada Emir.


Ternyata percakapan yang terjadi selama dalam perjalanan tadi mengubah pandangan Emir seutuhnya, ia benar-benar percaya kalau suatu saat dirinya dan Beeve akan benar-benar bersanding.


Berbanding terbalik dengan Beeve, yang telah melupakan percakapan mereka selama dalam perjalan tadi.


Sesampainya mereka di penangkaran, banyak sekali rusa yang lalu lalang dalam kandang, ukurannya juga berbeda-beda.


“Mir, lihat! Banyak banget!” seru Beeve.


Emir yang membawa handphone pun langsung mengabadikan ekspresi wajah cantik Beeve dalam galerinya.


Dan bapak penjaga penangkaran pun melihat kehadiran mereka berdua.


“Mau masuk?” tanya si bapak.


“Memangnya boleh pak?” tanya Beeve.


“Boleh, tapi adek-adek beli wortel atau makanan yang telah di sediakan lainnya ya, agar rusa-rusanya mau mendekat,” terang si bapak.


“Baik pak.” Beeve yang bersemangat langsung masuk ke dalam penangkaran, yang di susul oleh Emir, mereka pun menuju warung, tempat di sediakan nya makanan untuk para rusa.


“Saya mau beli wortel 3 kilo, kacang edamamenya 4 ikat,” ucap Beeve.


Setelah melakukan pembayaran, Beeve yang bersemangat menggenggam kacang edamame di kedua tangannya, sedang Emir ia suruh membawa wortel yang di taruh dalam keranjang rotan.


Setibanya mereka di tengah-tengah penangkaran yang banyak akan rusa, Emir meletakkan keranjangnya di atas tanah, kemudian kembali memotret Beeve yang sedang memberi makan rusa dengan kacang edamame nya.


Awalnya masih berjalan dengan lancar, sampai beberapa saat kemudian kawanan rusa mengerumuni Beeve yang masih menggenggam sisa kacang di tangannya.


“Mir! Photo Mir!” ucap Beeve dengan suara keras.


Cekrek!! Cekrek!!


Bersambung....


Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat.


__ADS_1



__ADS_2