
“Apa salahnya? Habisnya akhir-akhir ini kau sering tak mendengarkan perkataan ku, makanya ku pikir telinga mu sedang penuh kotoran,” ucap Andri.
“Mas, kalau ngomong saring dikit dong, kita di rumah ini enggak hidup berdua.” terang Beeve yang malu, terlebih kalau benar suaminya mendapatkan banyak kotoran dari telinganya.
“Sudah kau diam saja, biar aku mengurus mu, toh kalau milik sendiri harus di rawat dengan baik.” Andri yang kembali memasukkan korek kuping ke telinga istrinya.
“Kau baik sekali sih mas, pada hal tiap hari harus bekerja keras, tapi kau masih menyempat kan diri untuk mengurus ku,” batin Beeve.
Para Art yang lalu lalang pun melihat kegiatan mereka yang membuat Beeve bertambah malu, terlebih ia takut menjadi buah bibir di kalangan Art nya.
“Semoga saja, aku enggak di cap sebagai nyonya yang jorok,” batin Beeve.
Emir yang baru datang pun memperhatikan mereka dengan seksama di pintu masuk menuju kolam berenang.
“Ternyata beneran sayang ya,” gumam Emir.
Ia pun melangkahkan kakinya, menuju Andri dan Beeve.
“Dapat banyak enggak?” suara Emir mengejutkan Beeve, ia yang ingin bangkit lagi-lagi di tahan oleh kedua tangan Andri.
“Lumayan,” ucap Andri.
Lalu Emir pub duduk di kursi santai yang ada di sebelah mereka.
“Wah! sudah tahu suami mu bekerja keras di kantor, masa rumah pun kau masih menyuruhnya bekerja?” Emir meledek kakak iparnya.
“Kan... kan...., aku jadi sasaran ke judesan Emir lagi,” batin Beeve.
“Itu, aku....,” Belum sempat Beeve menjawab, Andri sudah membantunya bicara.
“Biasalah, namanya juga nyonya pemilik rumah, jadi harus di layani dengan baik,” ucap Andri.
“Ayo sayang, berbalik lah, telinga kiri mu sudah selesai, sekarang yang kanan,” pinta Andri.
“Sudahlah mas, yang kanan bersih kok,” ucap Beeve.
“Ayolah, cepat.” atas desakan suaminya, akhirnya Beeve mengganti posisi tidurnya menjadi miring ke kanan, yang otomatis wajahnya menghadap ke Emir.
“Ini sih namanya bendera negara ada di dapur,” ujar Emir menyindir Beeve.
Beeve yang merasa tak enak pada Emir hanya memejamkan matanya.
“Pasti dia berpikir kalau aku telah menguasai dan mengekang mas Andri,” batin Beeve.
“Kalau untuk Beeve sih, enggak masalah aku di pekerjakan secara romusa Mir.” balas Andri yang membuat wajah Emir berubah menjadi datar.
Setelah selesai, Andri pun berniat ingin mencari kutu Beeve.
“Mas jangan!” Beeve memohon pada suaminya, karena kalau Emir sampai tahu ia memiliki kutu, pasti itu akan mendapat ejekan baru bagi Emir.
__ADS_1
“Sayang, aku harus memeriksa kepala mu, takutnya kutunya masih ada, kalau aku punya kutu juga bagaimana?”
“Habislah aku,” batin Beeve.
“Astaga Bee, sudah jelek, jorok lagi, sudah Ndri, potong saja rambutnya,” ujar Emir. Andri tertawa mendengar perkataan pedas Emir.
Sedang Beeve hanya bisa pasrah, ketika Andri masih sibuk membersihkan kepala Beeve, tiba-tiba handphonenya berdering.
“Sebentar sayang.” ucap Andri, ia pun mengambil handphonenya yang ada di atas meja di sebelah kursi santai mereka.
Ketika ia memeriksa panggilan masuk tersebut, ternyata itu telepon penting dari kliennya.
“Maaf sayang, aku masuk sebentar ya, kau tunggulah disini, jangan bergerak sesenti pun, karena aku hanya sebentar ke ruang kerja,” terang Andri.
“Apa aku boleh mencari kutunya juga Ndri?” tanya Emir.
“Cari saja, 1 kutu 100.000,” ucap Andri.
“Enggak usah bayar, karena aku mau jadikan dia konten, aku lagi ada endorse sampo kutu nih,” ucap Emir
“Sinting kau menjadikan istri ku modelnya, sudah aku mau ke atas dulu, awas saja kalau sampai kau lakukan itu!” pekik Andri.
Setelah Andri meninggalkan kolam berenang, Beeve yang berbaring pun memutuskan untuk duduk, karena ia merasa tak sopan bila berbaring di sebelah iparnya.
“Andri memang sesuatu ya, bisa-busanya dia mengorek kuping mu?” ucap Emir
“Sudah, jangan pikirkan apa yang ku katakan barusan, yang terpenting dia kan sudah bilang jangan bergerak sesenti pun,” terang Emir.
“Tapi aku mau masuk ke dalam,” ketika Beeve ingin berdiri, Emir menahan bahunya.
“Ayo berbaring lagi, biar kita coba produk ini.” Emir mengeluarkan sampoo dari tas yang ia jinjing.
“Aku enggak bersedia mas jadi model mu,” Beeve menolak rencana Emir.
“Mana mungkin kau ku jadikan model sampo kutu, ada-ada saja.” Emir pun duduk di sebelah Beeve.
“Ayo, kau duduk di lantai,” titah Emir.
“Tapi mas...., kepala ku sudah bersih,” ucap Beeve.
“Jangan bebal, cepat turun.” Emir menepuk punggung Beeve.
“Aduh, apa-apaan sih dia, pada hal dia tahu kalau aku ini iparnya,” batin Beeve.
Dengan berat hati Beeve duduk di lantai kolam, alih-alih Beeve di tuangkan sampoo, Emir justru menyibak rambutnya dengan lembut.
“Mas, bukannya kita mau keramas?” tanya Beeve.
“Siapa bilang?” tanya Emir kembali, dan saat Beeve meraih sampo yang ada di sebelah Emir, Beeve baru tahu kalau itu hanya sampo biasa.
__ADS_1
“Sialan.” batin Beeve, ia pun tak bisa beranjak sebab Emir tak mengizinkannya.
Sentuhan lembut yang Emir berikan di kepalanya membuat Beeve mengantuk, matanya makin lama kian berat, Emir yang tahu kalau Beeve mengantuk meletakkan kepala Beeve di lututnya.
“Zzzzzz....,” Beeve yang terlelap malah mendengkur kecil yang membuat Emir tersenyum.
Ia pun membelai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
“Dari dulu cantik mu tak berkurang,” gumam Emir.
Lalu perlahan ia mengangkat tubuh Beeve ke kursi santai, agar tidurnya lebih nyaman.
Emir yang ternyata menaruh hati pada Beeve sejak SMP pun tak kuasa membendung perasaanya lagi, ia yang melihat ada peluang, berniat mencium Beeve.
Namun saat ia akan mengecup bibir Beeve, hati kecilnya menyuruhnya untuk berhenti.
“Astaga, apa yang mau ku lakukan? Dia sekarang ini sudah jadi ipar ku.” Emir yang gamang kalau akan meneruskan niatnya memutuskan untuk beranjak dari sana.
Tapi sebelum itu, ia menyentuh bibir manis Beeve dengan telunjuknya.
“Lembut, sama seperti hati mu.” setelah itu Emir bangkit dari duduknya, menuju ruang kerja Andri.
Saat masih di lift Emir tak sengaja bertemu dengan Andri.
“Loh, sudah selesai?” tanya Andri.
“Sudah, sekarang ia sedang tertidur,” jawab Emir.
“Apa kau mau ke kamar?”
“Iya, aku ingin istirahat.” ujar Emir seraya menutup pintu lift.
Ting! Sesampainya di lantai dua, Emir masuk ke dalam kamarnya, ia yang merasa kacau merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Bee, sampai sekarang aku masih belum bisa terima kalau kau adalah ipar ku,” gumam Emir.
Kemudian ia mengambil handphone yang ada dalam sakunya, selanjutnya ia membuka aplikasi Instagr*mnya, dan mencari akun Beeve yang tidak ia ikuti namun ia pantau dari waktu ke waktu.
“Aku memang pecundang, andaikan aku sedikit berani, mungkin saat ini yang di samping mu adalah aku bukan si tua bangka itu.” Emir terus saja mengeluh pada dirinya sendiri dan keadaan.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
...Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya....
__ADS_1