Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 170 (Perdamaian)


__ADS_3

Ketika keduanya masih berpelukan, Emir dan Rahma pun kembali. Melihat Andri telah siuman, membuat mereka senang bukan main.


“Andri!!” seru Rahma, Beeve yang ingin bangkit, malah di tahan oleh Andri.


Rahma paham akan rasa Rindu putranya pada Beeve. Begitu pula dengan Emir, alhasil Rahma hanya mengelus puncak kepala Andri.


“Beeve sudah kembali bu,” ucap Andri.


Emir dan Rahma terperangah, mendengar Andri telah berbicara dengan lancar.


“Andri, syukurlah kau sudah sehat.” Emir melempar senyum pada Andri.


Ternyata obat yang selama ini ia perlukan adalah Beeve, batin Emir.


Tak lama dokter pun masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa Andri.


“Andri, lepaskan Beeve sebentar ya,” pinta Rahma.


“Enggak bu, nanti Beeve pergi lagi, Andri enggak mau!” ucap Andri.


“Enggak nak, dia tetap disini kok, akan menemani mu sampai kau sembuh, untuk itu kau harus di periksa dokter dulu, kalau kau sudah sembuh, nanti bisa bersama Beeve lagi.” Rahma membujuk Andri yang kini seperti anak kecil.


“Iya mas, sekarang kau harus di periksa oleh dokter dulu?” ujar Beeve.


Karena Beeve yang meminta, akhirnya Andri mau melepaskan istri yang ia rindukan itu. Kemudian, Andri pun di periksa oleh sang dokter.


Setelah selesai, sang dokter pun tersenyum tipis, “Alhamdulilah, ada kemajuan bu, kalau dia memiliki semangat hidup begini, kesempatannya untuk pulih sangat besar,” terang sang dokter.


“Benarkah dok?” Rahma tersenyum lebar, mendengar kabar baik itu.


“Iya bu, pak Andri sangat butuh support keluarga, terutama dari bu Beeve, yang sering ia sebut namanya selama ini, tolong jangan buat ia resah, ini demi kesembuhan pak Andri sendiri.” terang sang dokter.


“Baik dok, kami akan mengikuti saran dokter.” setelah selesai menangani Andri, sang dokter pun pamit.


Lalu Beeve membantu Andri untuk makan dan minum obat, perlahan kesadaran Andri pun menghilang, akibat efek obat yang ia minum.


“Bee, mari ikut ibu sebentar, ibu ingin bicara dengan mu,” ucap Rahma.


“Oh, iya tan.” Beeve pun mengikuti Rahma ke kursi tunggu di depan ruang rawat Andri. Keduanya pun duduk bersebelahan.


“Ehm, ibu tau kalau ibu enggak pantas meminta hal ini pada mu, tapi... bisakah kau kembali lagi pada Andri nak? Tolonglah ini demi kesembuhannya, sejak kau menghilang, ia sangat prustasi, enggak mau mengurus dirinya sendiri, dia juga telah menjual rumah kalian, karena tak sanggup menyaksikan bayang-bayang kenangan buruk yang kau alami disana, nak... ibu sangat memohon, untuk kau kembali lagi pada Andri.” Rahma mengecup tangan Beeve seraya menangis.


“Tan, aku sudah enggak bisa kembali dengan mas Andri, karena semua yang terjadi selama ini sungguh sangat membuat hati ku sakit,” ucap Beeve.


“Tapi nak, dia sembuh berkat hadir mu, ibu tahu banyak salah yang kami lakukan pada mu, tapi tolonglah nak, kasihani kami, kasihani Andri, dia masih muda, lagi pula kau masih jadi istri sahnya.”

__ADS_1


Walau Beeve masih mencintai Andri, namun batinnya menolak melakukan penyatuan kembali dengan suaminya itu, sebab rasa sakit yang ia alami selama ini benar-benar membuat ia trauma.


Ketika mereka berdua masih dalam di lema masing-masing tiba-tiba Julian berdiri di hadapan mereka.


“Beeve!” sontak Beeve dan Rahma mendongak.


Julian benar-benar tak menyangka, adik kecilnya kini telah tumbuh jadi wanita dewasa.


“Bang?” gumam Beeve.


Kemudian Julian duduk di sebelah Beeve seraya memberi pelukan hangat.


“Kemana saja kau selama ini Bee? Maafkan abang yang telah menelantarkan mu.” Julian menagis sesungukan mengingat kebodohan yang ia lakukan.


“Maafkan abang dek, tolong beri abang kesempatan untuk menebus kesalahan yang ku buat selama ini,” pinta Julian.


“Bang, abang jangan nangis begini, abang enggak salah, aku yang salah bang,” terang Beeve.


“Kita berdua sama-sama salah pada tempat kita masing-masing, tapi aku sebagai satu-satunya saudara mu malah membuang mu, maafkan abang dek, tolong kembalilah ke rumah.” Julian terus memeluk Beeve karena rasa bersalahnya yang teramat besar.


Beeve membalas kembali pelukan Julian, karena jujur, ia juga sangat merindukan abangnya tersebut.


“Kau mau kembali ke rumahkan?” tanya Julian memastikan.


“Iya bang.” jawab Beeve. Emir yang menyaksikan pemandangan indah itu merasa sangat bahagia.


Sesampainya di rumah, Beeve membuka kembali kamarnya sewaktu gadis yang telah lama ia tinggalkan. Tak ada perubahan pada dekorasi kamarnya, hanya saja kamar itu di bersihkan setiap hari oleh sang Art.


Beeve membuka lemari bajunya, “Ternyata baju-baju ku masih disini semua,” gumam Beeve.


Saat Beeve ingin mengganti pakaiannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok...


“Siapa?” ucap Beeve seraya membuka pintu.


Ceklek...


Ternyata yang datang adalah Julian, “Apa kau masih sibuk? Bisa kita bicara?”


“Enggak sibuk bang, kita mau bicara dimana?” tanya Beeve.


“Di ruang tamu saja,” jawab Julian.


“Oke.” keduanya pun menuju ruang tamu.

__ADS_1


Setelah kakak beradik itu duduk berhadapan, Julian mulai mencerca sang adik dengan berbagai pertanyaan.


“Dimana kau selama ini?”


“Aku merantau ke Malaysia dan Hongkong bang.”


“Anak mu, kau titipkan dimana?” Pertanyaan Julian membuat hati Beeve sakit.


“Aku titipkan pada Cristian bang.”


“Kok bisa?” Beeve pun menceritakan kronologi yang terjadi, kecuali saat ia menjual dirinya pada mantan pacarnya itu.


Julian tak dapat menyalahkan siapapun, posisinya ia juga bersalah, karena pada saat itu, sang adik juga meminta tolong padanya, tapi ia enggak untuk membantu secara penuh.


“Jadi kau enggak tahu dimana Crist sekarang?”


“Enggak tahu bang, makanya aku jadi resah,” ucap Beeve.


“Lalu, apa saja yang kau kerjakan setelah kembali ke Indonesia?” tanya Julian kembali.


“Aku membuka restoran di jalan RMK bang, masih kecil-kecilan sih, hehehe.” Beeve tertawa malu, karena ia tak ada bandingannya dengan sang abang.


“Apa pemasukannya cukup?”


“Lumayanlah bang, untung-untung sedikit dan bisa menggaji karyawan,” terang Beeve.


“Oh, kalau begitu, abang akan membantu mu,” ucap Julian yang ingin memberi modal.


“Enggak usah bang, uang ku cukup kok.” Beeve yang tak enak, menolak niat baik Julian.


“Tenang saja, enggak usah sungkan, lagi pula itu uang mu kok, kan kau juga punya saham di perusahaan dek, malahan saham mu lebih besar dari pada aku,” ucap Julian.


“Hah? Masa sih bang? Pada hal kan aku enggak melakukan apapun, untuk perusahaan kita?”


“Itulah bukti rasa cinta ayah dan ibu pada mu, mereka membangun perusahaan itu dari 0, untuk kita berdua, di banding aku mereka lebih menyayangi mu, maafkan ayah dan ibu jika dulu keras pada mu, karena mereka ingin kau menjadi orang yang sukses, maafkan juga atas kemarahan ku pada mu, selain karena kehilangan ayah dan ibu yang kau sebabkan dan Andri, hatiku makin murka, karena menurut ku kau enggak bersyukur, atas kasih sayang yang mereka beri, meski kau telah membuat hati mereka hancur, tapi mereka masih menyisakan warisan pada mu, apa kau tahu berapa saham yang ayah dan ibu beri untuk mu?” Beeve menggelengkan kepalanya.


“Kau 65%, sedangkan aku hanya 35%.” mata Beeve melotot mengetahui saham yang ia miliki.


“Tapi aku enggak marah soal itu Bee, karena kau adalah adik ku, aku yakin pasti ayah dan ibu punya alasan kenapa memberi mu lebih,” terang Julian.


“Kalau kau mau, ambil saja bang bagian ku, bagian mu menjadi milik ku.” Beeve memberi penawaran pada abangnya yang telah bekerja keras selama ini.


...Bersambung......


Kisah cinta tergokil! Yang berhasil memancing amarah dan kebucinan tingkat Kecamatan, alurnya tiada tanding! Pastinya berbeda dari yang pernah kau baca!

__ADS_1




__ADS_2