Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 142 (Kartu Kredit)


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Arman, perasaan Andri jauh lebih baik.


Sebelum ia pulang ke rumah, Andri menyempatkan diri untuk berbelanja ke sebuah butik ternama, yang sudah menjadi langganan keluarganya.


Ia pun membeli banyak baju ibu hamil untuk Beeve, tak lupa ia juga membeli beberapa baju untuk Arinda.


Setelah dari butik, Andri beranjak ke toko perhiasan yang pernah ia datangi sewaktu bersama Beeve dulu, Andri pun membeli satu set perhiasan untuk Beeve, yang terdiri dari kalung anting dan cincin. Sedangkan untuk Arinda, ia hanya membeli gelang berlian saja.


Selesai melakukan pembayaran, Andri mampir ke sebuah restoran membeli makanan cepat saji untuk semua orang yang ada di rumahnya, karena ia bukan hanya ingin berpisah dengan kedua istrinya, tapi juga para pekerjanya.


Dirasa sudah cukup, Andri pun meluncur ke rumahdengan mengendarai mobil mewahnya.


Sesampainya di rumah, Andri memerintahkan Sinta dan Resti untuk membawa barang belanjaannya.


Kecuali baju dan perhiasan satu set untuk Beeve, ia membawanya sendiri ke dalam kamar.


Retek! Krieeet!!!


Andri membuka pintu kamar, ia pun melihat Beeve tengah tertidur lelap dengan posisi miring ke kanan.


Andri mendekat dan duduk di pinggir ranjang, ia pun membelai lembut rambut istrinya.


“Aku harap kau baik-baik saja selama aku pergi.” ucap Andri seraya mengecup pipi Beeve.


Beeve pun membuka matanya, “Kau sudah pulang mas?”


“Iya sayang, maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu.” ucap Andri dengan mimik wajah sedih.


Beeve pun bangun dari tidurnya, “Kenapa mas? Apa ada masalah?” tanya Beeve.


“Enggak sayang, semua berjalan lancar kok," jawab Andri.


“Terus, kenapa wajah mu sedih begitu mas?”


“Sayang, sebenarnya besok aku harus berangkat, itulah alasan ku merasa sedih, karena aku meninggalkan mu begitu cepat, pada hal aku baru saja menemukan mu, rasa rindu ku belum hilang, kini harus berpisah lagi dengan mu,” terang Andri.


Beeve turut bersedih, ia memeluk Andri yang matanya memerah menahan tangis.


“Mas, semangat ya, lakukan yang terbaik, berusaha semaksimal mungkin, agar kau menyelesaikannya dengan cepat, aku akan menunggu mu, ku harap saat kau kembali nanti, kau menepati janji mu, kalau tidak, kita akan berpisah,” ucap Beeve.


“Iya sayang, jangan kgawatir.” lalu Andri memberikan baju dan berlian yang baru ia beli pada Beeve.


“Apa ini?” tanya Beeve.


“Untuk mu, bukalah,” ujar Andri.


Beeve pun menerima pemberian Andri. saat ia membuka kotak perhiasan tersebut matanya membulat sempurna.


“Bagus banget mas!” seru Beeve.


“Iya, dan ini sangat cocok kalau kau pakai.” lalu Andri membantu Beeve untuk mengenakan berian-berlian tersebut.

__ADS_1


“Kalung ini ku beli agar aku selalu ada di hati mu.” terang Andri seraya menyematkannya di leher Beeve, yang aksesoris berbentuk liontinnya sampai ke dada Beeve.


“Anting ini ku beli, agar kau selalu mendengarkan ku, dan cincin ini ku beli, untuk mengikat mu, agar selamanya bersama ku.”


“Gelangnya mana mas?” tanya Beeve.


“Ada di Arinda,” jawab Andri.


“Memangnya itu artinya apa?” tanya Beeve penasaran.


“Just friend, kapan pun bisa ku lepas, karena saat bergandegan tangan itu di jemari, bukan di pergelangan.” terang Andri. Beeve tersenyum hatinya juga sangat senang atas pemberian suaminya itu.


“Ini baju-baju baru untuk mu, ku harap kau suka.”


“Aku pasti suka mas,” ucap Beeve.


“Coba-cobanya nanti saja ayo kita keluar ke ruang tamu dulu, karena kita mau makan besar bersama para Art,” terang Andri.


“Tunggu mas.” Beeve pun berusaha melepas anting yang ia pakai.


“Kenapa di lepas?” tanya Andri.


“Kau mau ada masalah baru? Nanti Arinda malah ribut-ribut enggak jelas lagi mas,” ucap Beeve.


Andri yang mengerti pun membantu istrinya untuk melepas perhiasan tersebut.


Setelah itu mereka menuju ruang tamu, yang para Art telah menggelar ambal besar disana.


Lalu Andri pun duduk di antara Beeve dan Arinda. Sebelum acara makan akbar itu dilakukan, Andri memberi kata-kata pembuka.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh,” jawab semua orang.


“Tujuan saya mengumpulkan kalian semua disini, karena ingin memberitahukan, kalau besok saya akan berangkat ke Mexico,” sontak Arinda menoleh ke Andri.


“Besok mas?”


“Iya Nda, besok jam 08:00 pagi, dan saya disana kurang lebih selama 6 bulan, saya minta tolong pada kalian semua untuk menjaga, nyonya Beeve dan juga Arinda, apa lagi saat ini nyonya sedang hamil tua, dan sebentar lagi akan melahirkan, ku harap kalian sigap, dan memantau nyonya selama 24 jam,” terang Andri.


“Baik tuan.” jawab semua para pekerja di rumah mereka.


Bagus sih kau pergi mas, jadi aku akan mengerjai Beeve sepuasnya, enggak ku sangka waktu pembalasan ku begitu cepat, batin Arinda.


Setalah mengatakan apa yang ingin Andri sampaikan mereka semua pun makan bersama.


Selepas makan malam, Andri mengajak Arinda untuk ke kamarnya di lantai 2.


Sesampainya di kamar Arinda, Andri memberi baju dan gelang berlian yang ia beli untuk istri keduanya itu.


Arinda yang senang pun membuka kotak perhiasan dan baju yang Andri beli.

__ADS_1


“Wah! Bagus banget mas,” Arinda yang kegirangan langsung memakai gelang pemberian Andri.


“Baguslah kalau kau suka,” ucap Andri.


“Wanita mana pun suka mas di kasih barang-barang mewah, sering-sering dong mas, hehehe.” Andri melirik Arinda dengan penuh arti.


“Kau suka belanja-belanja ya ternyata,” ujar Andri.


“Suka dong mas, itu adalah hobi ku, dan baju-baju yang mas beli ini juga aku suka mas, tipe ku banget.” Arinda memeluk baju bermerek pemberian Andri.


Selanjutnya Andri memberi kartu kredit berjenis master cart pada Arinda.


“Ini untuk mu,” ucap Andri.


“Kartu kredit? Mas Andri baik banget sih, ku do'a kan semoga rezeki mas Andri berlimpah ruah.” tanpa pikir panjang Arinda meraih kartu kredit tersebut dari tangan Andri.


“Aamiin,” ucap Andri.


“Besok aku mau belanja baju Zara, cenel dan apa lagi ya?” tanpa sadar Arinda kalap sendiri yang membuat Andri tertawa.


“Ya sudah kau pikirkan saja, aku mau istirahat,” ucap Andri.


“Terimaksih banyak mas.” raut wajah Arinda begitu berseri-seri menerima semua pemberian suaminya.


Setelah itu, Andri keluar dari kamar Arinda dengan tertawa getir, “Ternyata sudah sembuh baguslah,” gumam Andri.


Andri yang baru sampai ke kamar istri pertamanya melihat Beeve sedang melipat baju-bajunya kedalam koper.


“Sayang, aku saja yang menyusun barang ku,” ucap Andri.


“Enggak apa-apa mas, ini tugas ku.” setelah selesai, Beeve mengancing koper suaminya tersebut.


“Sayang, ini ku kembalikan pada mu.” Andri memberikan Black Cart milik Beeve.


“Mas, aku enggak perlu ini, kau cukup beri aku biaya bulanan ke atm debit ku saja.” ujar Beeve, yang kasihan pada Andri karena telah bekerja keras.


“Sudah, kau terima saja, dan sejak aku memberinya pada mu, kau belum pernah menggunakannya sayang,” terang Andri.


“Karena aku punya uang mas,” ucap Beeve.


“Terus, siapa yang harus menghabiskan pencarian ku? Bukankah itu salah satu tugas mu?” terang Andri yang membuat Beeve tertawa mendengar perkataan suaminya.


“Nanti kalau aku boros gimana mas? Kelepasan sampai tagihan bengkak, dan kau tak mampu untuk bayar, hum?” tanya Beeve.


“Berarti kau harus membantu ku untuk menjaga lilin,” jawab Andri.


“Hahaha, kau mau ngepet mas?”


“Demi kau akan ku lakukan, apapun itu,” ucap Andri.


...Bersambung......

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2