
🥀 Cinta ku,
Di malam yang sedingin salju
Ku kembali teringat akan masa lalu
Dari pertama kali ku mengenal mu hingga ku jadi pendamping mu
Suami ku, Masih lekat dalam ingatan
Pernikahan kita beberapa tahun silam
Meski tak ada rasa,
namun kau mampu masuk ke dalam ruang hati ku yang terdalam
Perlahan rasa sayang ku tumbuh
Berkat tulus mu yang selalu membuat ku luluh
Meski banyak rintangan namun aku dan kau
Selalu bertemu, dalam ikatan kebersamaan
Jangan tinggalkan aku
Jujur ku tak sanggup bila kehilangan mu
Ku masih ingin hidup dengan mu
Jika memang harus, bawa aku bersama mu.
🥀
Beeve membaca tiap barisan puisi yang ia tulis untuk suaminya.
“Mas... bangun..., aku ingin melihat bola mata mu yang indah saat menatap ku.” air mata Beeve terus mengalir tiada henti.
Beeve yang tak berkomunikasi dengan suaminya beberapa jam merasa rindu berat, meski orang tersebut ada di hadapannya.
Perlahan, ia pun naik ke atas ranjang rawat Andri, kemudian ia merebahkan tubuhnya, dan menggenggam tangan suaminya.
“Bawa aku, kalau kau pergi, aku enggak mau hidup tanpa mu.” Beeve berulang kali mengecup tangan bidang suaminya.
Emir yang melihat dari pintu yang masih terbuka separuh tak sanggup bila lebih lama disana.
Sedangkan Helena yang duduk di kursi tunggu merasa bosan, ia juga lelah, ingin segera tidur.
“Helena, pulanglah jika kau ngantuk," ucap Emir.
“Aku mau disini bersama mu bang.” Helena memilih bersabar, dari pada salah lagi di mata suaminya.
__ADS_1
“Kau sudah ngantuk, pulanglah bersama ibu, aku akan menjaga Andri dan Beeve disini.” wajah Helena berubah pasif saat suaminya menyebut nama Beeve.
“Baiklah, kalau itu mau mu bang.” Helena bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Rahma.
“Mir, kabari ibu kalau ada perkembangan ya,” pinta Rahma pada putranya.
“Pasti bu.”
Dengan berat hati Helena meninggalkan suaminya di rumah sakit, meski banyak ketakutan dalam benaknya kalau suaminya akan main gila dengan Beeve, namun ia tak punya pilihan selain menurut pada perkataan sang suami.
Beeve sendiri terus berdo'a pada yang kuasa, agar suaminya baik-baik saja. Hingga pada suatu titik, ia yang terlalu lelah tanpa sadar telah terlelap.
Emir yang lagi mendengar suara isak tangis, mendorongnya untuk masuk ke dalam ruangan. Ia pun melihat Beeve yang telah tertidur.
“Bee...” Emir menyentuh pundak kakak iparnya, namun tak ada respon.
“Nyenyak banget, ya sudahlah.” gumam Emir, ia pun duduk di kursi yang ada di pinggir ranjang.
“Cepat sembuh mas Andri.” netranya menatap lurus ke arah Andri yang terbaring lemah. Emir pun terjaga sampai pagi.
Emir yang lapar, memutuskan untuk bangkit, sebelum ia pergi untuk membeli sarapan ia mengelus puncak kepala Beeve karena terlihat berkeringat.
“Panas?” ia pun segera membangunkan Beeve.
“Bee... bangun! Hei...” ia menggoyang dengan pelan tubuh wanita cantik itu, hingga ibu hamil itu membuka matanya.
“Ya mas?” ucap Beeve.
“Ayo turun, jangan di dekat Andri lagi, Karena kau demam! Ayo ke ruangan lain, kau perlu di rawat juga,” ujar Emir.
“Jangan egois Bee, nanti kalau Andri tertular bagaimana? Lagi pula kalau kau sakit, bayi mu juga ikut sakit, selain dirimu kau juga membawa tiga anak dalam perut mu, harusnya kau pikirkan itu,” terang Emir.
“Aku enggak mau di ruangan lain, aku maunya disini!” Beeve yang bersikeras membuat Emir tak dapat menolak permintaannya.
Ia pun menghubungi pihak rumah sakit untuk menyediakan 1 ranjang pasien baru.
Rahma dan Helena yang baru datang melihat Emir sibuk mengurus Beeve yang sedang demam.
“Ada apa Mir, Beeve sakit?” tanya Rahma yang masuk ke dalam ruangan.
“Iya bu, dia demam,” jawab Emir seraya memijat kepala Beeve.
Helena yang menyaksikan itu, cemburu bukan main.
Benarkan dugaan ku, pada hal suaminya tengah sekarat, tapi dia malah melakukan kontak fisik dengan bang Emir, dasar gatal! batin Helena.
Ia terus menatap tajam ke wajah Beeve yang sedang memejamkan mata.
Emir yang tak sengaja melihat hal tersebut menelan salivanya.
Sama sekali enggak ada perubahan, apa dia enggak kasihan pada Beeve, yang ada pikiran dan hatinya hanya dengki, batin Emir.
__ADS_1
“Sudah Mir, ibu saja yang memijat Beeve, kau pergi makan dulu, nanti kalau kau sakit juga bisa repot,” ucap Rahma.
“Baik bu.” Emir pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah Helena yang masih berdiri di dekat pintu.
“Ayo, temani aku makan.” Emir mengajak Helena keluar bersama.
“Iya bang.” keduanya pun menuju restoran yang ada di dekat gedung rumah sakit.
Sesampainya keduanya, Emir memesan bubur ayam untuk mereka.
“Helena, kenapa wajah mu masam terus, apa yang salah?” Emir bertanya meski ia sudah tahu alasannya.
“Gimana enggak masam bang, perhatian Abang hanya untuk bang Andri dan kak Beeve, sedang aku kau abaikan.”
“Ck!” Emir berdecak.
“Aku benarkan bang?” ucap Helena.
“Iya, kau betul, tapi... apa kau enggak lihat situasinya? Aku pikir kau mengerti.” ujar Emir, lalu Helena memancungkan bibirnya, seolah tak mau tahu.
“Ke bang Andri sih wajar, tapi kalau kak Beeve, bukankah itu berlebihan?”
Wajah Emir berubah jadi merah padam, “Kau lihat sendiri, dia sedang sakit lahir dan batin, kenapa kau malah jadi egois begitu? Apa kau enggak kasihan padanya? Dia sedang berduka, tak selayaknya kau merasa cemburu, dan memusuhinya,” terang Emir.
“Bela terus...” ucap Helena dengan memutar mata malas.
Lalu Emir menatap serius Helena, “Baiklah, mulai sekarang, kau tak perlu datang ke ruang sakit lagi, ku bebaskan kau melakukan apapun yang kau mau!” ucap Emir.
“Maksud abang apa?” Helena memperjelas perkataan Emir.
“Aku melepaskan mu, Helena, di dunia ini yang ku miliki hanya keluarga ku, pada hal mereka sangat menyayangi dan menghargai mu, tapi kau hanya mau aku, siapa pun orangnya, pasti menginginkan seorang pendamping yang mencintainya dan seluruh keluarganya, aku bisa mengganti mu 100 kali, tapi tidak dengan keluarga ku, pada hal setulus hati ku telah menerima kekurangan dan kelebihan mu, tapi kau tak bisa memberikan balasan yang Sama untuk ku, maafkan aku, jika aku tak bisa menjadi seperti apa yang kau mau,” terang Emir.
“Bang, apa kau akan menceraikan ku?” Helena kembali berlinang air mata.
“Ya, akan ku urus perceraian kita, tenang saja, waktu mu selama bersama ku akan ku bayar 10 kali lipat dari gaji mu di rumah sakit.” ucap Emir yang tak memiliki keraguan lagi untuk berpisah dari Helena.
“Aku enggak mau bang,” Helena menolak rencana keputusan suaminya.
“Enggak usah nangis, karena aku takkan iba, ini pilihan mu sendiri, yang seperti mu, banyak mengantri Helena, kau salah, jika berpikir , hanya Beeve saingan mu satu-satunya.” Helena bak tersambar petir, setelah menyadari kenyataan yang suaminya katakan.
“Bang... berikan aku kesempatan, sekali lagi!” Helena terus memohon kebaikan hati Emir.
“Maaf, sekarang saja kau begitu, apa lagi nanti setelah kita punya keturunan, pasti anak itu akan kau jadikan alat untuk mengendalikan ku, belum tentu juga kau mau mengurus orang tua ku setelah mereka tua, lebih baik berpisah sekarang, dari pada menyesal di akhir,” ucap Emir.
Setelah bubur ayam mereka berdua telah tersaji di atas meja, Emir pun mengajak Helena untuk menyantapnya.
“Makanlah, habis ini kau pulang, terserah mau ke rumah orang tua ku, atau orang tua mu, maaf kalau enggak bisa mengantar, karena aku masih sibuk disini.” tiada kata lagi yang bisa terucap, yang tinggal hanya penyesalan dalam dada, bila emosi dan egois jadi panutan, sudah pasti penyesalan yang akan di dapat, dengan keputusan yang matang, akhirnya Emir memilih untuk bercerai dengan Helena.
Dari pihak keluarga Han pun tak bisa banyak komentar, karena mereka juga telah melihat perjuangan Emir untuk Helena, begitu pula dengan keluarga Helena, hanya bisa menerima, sebab tak ada pembelaan untuk putri mereka, yang sendirinya membuat perkara dalam rumah tangganya.
...Bersambung......
__ADS_1