
“Mungkin saja ini yang terbaik, bantu aku ya Tuhan.” setelah cukup yakin, Andri menyalakan mesin mobil, dan mulai meluncur membelah jalan raya menuju rumah orang tuanya.
Setelah menempuh perjalan selama 1 jam 30 menit, akhirnya Andri sampai ke tujuan, ia pun buru-buru keluar dari dalam mobil yang terparkir di depan pintu utama.
Krieeett!!!
Andri membuka pintu dengan tergesah-gesah, Rahma yang tak bekerja hari itu melihat ke arah anaknya dengan tatapan aneh.
“Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikum salam, kau kenapa Ndri?” tanya Rahma.
“Bu, tolong Andri bu, ini penting!” ucap Andri seraya memegang kedua tangan ibunya.
“Iya, ibu akan tolong, tapi ada apa nak? Ceritakan pelan-pelan.” Rahma membawa putranya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu mereka.
“Astaga bu, Andri enggak tahu harus mulai dari mana menceritakannya.” ucap Andri dengan perasaan tak karuan.
“Hei, kau kenapa nak? Ceritakan dari apa yang kau bisa katakan,” ujar Rahma.
“Bu, maafin Andri sebelumnya, ini semua terjadi di luar kehendak Andri bu.” Emir yang baru turun dari lantai 2 melihat kehadiran Andri yang begitu kacau.
Ia yang ingin berangkat ke kampus pun mendekat, untuk mendengar sedikit percakapan antara ibu dan abangnya.
“Iya sayang ibu pasti memaafkan mu nak, tapi ada apa?”
“Andri..., Andri enggak sengaja menghamili anak orang bu.” ucapnya dengan tubuh gemetaran.
Rahma yang mendengar penuturan sang anak bingung sekaligus tak percaya.
Sedangkan Emir yang telah tahu segalanya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Kenapa harus bilang ke ibu sih? batin Emir.
“Anak siapa maksud mu Ndri? Bicara yang jelas!” pekik Rahma.
“Anak pak Dimas dan bu Elia,” ucap Andri.
“Dimas? Elia? Siapa mereka? Kau lagi ngerjain ibu ya Ndri?!” Rahma memukul kepala putranya.
“Enggak lucu, jangan buat ibu khawatir dengan keisengan mu yang garing ini, istri mu lagi hamil, kau malah berkata hal-hal enggak baik.” Rahma memarahi Andri yang menurutnya bercanda padanya.
“Andri serius bu, namanya Arinda, mantan karyawan training Andri di kantor, dan perempuan itu juga sahabat dekatnya Beeve bu,” terang Andri.
“Ck.” Emir berdecak, dan mengambil nafas panjang.
Hancur sudah sekarang pernikahan mu Ndri, batin Emir.
__ADS_1
“Jadi kau serius?” tanya Rahma dengan mimik wajah tegang.
“Iya bu, maafkan Andri bu, Andri salah.” tanpa Rahma sadari, air matanya menetes, ia pun segera bangkit dari duduknya, dan mengambil gelas kaca panjang yang ada di atas meja yang ada di hadapannya.
“Anak lakna*t!” Ketika Rahma ingin membanting gelas itu ke kepala Andri yang sedang menundukkan kepalanya, Emir berteriak seraya menahan tangan Rahma.
“Bu!”
“Menjauh Mir! Lepaskan tangan ibu! Ibu mau menghajar anak kurang ajar ini! Bisa-bisanya dia menduakan Beeve! Gadis baik hati dan polos itu! Apa Beeve masih kurang untuk mu! Hah!” Rahma membentak anak kesayangannya.
“Enggak bu, serius! Sungguh Andri enggak sengaja bu, Andri juga enggak cinta wanita itu!” terang Andri menangis seraya memeluk kaki ibunya.
Emir yang telah berhasil melepaskan gelas kaca itu dari tangan ibunya, buru-buru memasukkannya ke dalam tasnya.
“Enggak sengaja kau bilang! Enggak cinta juga?! Hah! Kau serius! Heh! Kau pikir ibu mu yang sudah tua ini bodoh? Sudah mengisi perut anak orang, masih bisa kau katakan tak cinta dan tak sengaja?! Kau waras enggak Ndri! Nak ini benar-benar ya!” Rahma kembali memukul-mukul kepala putranya dengan kencang. Andri tak menghindari pukulan ibunya, sebab ia merasa jika dirinya pantas mendapatkan itu semu.
“Bu! Sudah bu, jangan pukul kepala Andri lagi.” Emir menahan kedua tangan ibunya.
“Kau lagi! Lepaskan! Kau enggak tahu ini masalah besar? Rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan Beeve, dan bagaimana kalau keluarga besarnya tahu? Mau di taruh dimana wajah ibu?! Mas Erdogan pasti kecewa berat, kau tahukan Ndri! Mas Erdogan itu saudara kandung ku! Kau berbuat begini sama dengan memutus tali persaudaraan ku dengannya! Bangsa*t kau! Beraninya kau mencoreng nama baik keluarga ini! Kau hancurkan hubungan ku dengan mas Erdogan! Sssttt!!!” Rahma benar-benar ingin menghabisi nyawa anak sulungnya itu, beruntung Emir tak melepaskan tangan Rahma.
“Maafkan Andri bu, Andri salah!” Andri terus menangis dalam duduknya seraya memeluk Rahma, ia yang selalu di sayang Rahma Kini mendapat amukan.
“Emir! Telepon ayah mu Sekarang juga! Suruh dia pulang!”titah Rahma.
“Tapi ibu jangan pukul Andri lagi ya.” ucap Emir yang masih memegang kedua tangan ibunya.
“Diam kau! Lakukan apa yang ibu suruh!”
“Iya, ibu janji.” ucap Rahma sambil meredakan emosinya.
Emir pun melepaskan tangan ibunya dan mulai mendial sang ayah.
“Lepas! Jangan peluk-peluk! Ibu jijik pada mu!” pekik Rahma seraya mendorong tubuh Andri darinya.
Namun Andri tak mau mendengar perkataan ibunya, ia terus memeluk kaki Rahma.
“Bu, tenang sedikit, jangan berisik!” pinta Emir.
📲 “Halo ayah,” Emir.
📲 “Halo, ada apa Mir?” Yudi.
📲 “Ayah pulang sekarang, ibu rindu,” Emir.
Rahma yang merasa Emir tak serius kembali naik pitam.
“Pulang sekarang mas! Anak mu menghamili anak orang lain! Apapun pekerjaan mu, tinggalkan!” titah Rahma.
__ADS_1
“Bu! Sudah di bilang tenang,” ucap Emir.
📲 “Halo Mir, kau menghamili anak siapa?” Yudi.
📲 “Ayah pulang saja dulu, di rumah kita bicarakan,” Emir.
📲 “Baiklah, ayah pulang sekarang,” Yudi.
Setelah sambungan telepon telah terputus Emir mulai menceramahi ibunya.
“Bu, jangan gitu dong, kalau penyakit jantung ayah kambuh gimana? Kasihan kan, ibu gimana sih? Enggak bisa banget lihat situasi!”
“Diam kau! Kau sama saja dengan Andri!” pekik Rahma, lalu Emir memutar mata malas dan mulai duduk di sofa.
“Sudah Ndri, jangan seperti bayi lengket ke ibu terus, toh semua telah terjadi, kau tinggal kasih mereka kompensasi, ganti rugi, keluarin 10 Milyar juga pasti diam, ya kan bu?” ujar Emir.
“Hmm!” Rahma menghembuskan nafas panjang.
“Betul, begitu saja Ndri, ibu enggak mau ya, karena kesalahan mu ini, merusak hubungan 2 keluarga, hempas kan wanita itu sejauh mungkin,” ucap Rahma.
Lalu Andri melepas pelukannya dari sang ibu.
“Tapi bu, masalahnya mereka enggak mau uang.”
“Terus maunya apa? Aset? Rumah? Atau apa?” tanya Rahma.
“Mereka maunya Andri menikahi putri mereka,” terang Andri.
“Apa!” ucap Emir dan Rahma serempak, lalu Emir dan Rahma melihat satu sama lain.
“Kau bercanda!” Emir bangkit dari duduknya.
“Aku serius Mir!” jawab Andri yang serba salah.
“Enggak bisa! Enggak boleh ada pernikahan kedua!” Emir menentang keras keinginan keluarga Arinda.
“Iya, ibu setuju! Enggak ada acara pernikahan, kau mengerti!” Bentak Rahma.
“Aku juga enggak mau.” ucap Andri.
“Bagus.” Rahma menganggukkan kepalanya.
“Tapi kalau aku enggak menikahi dia, maka anak yang Arinda kandung harus jadi korban bu!”
“Apa!” sekali lagi, Emir dan Rahma di buat tak percaya.
...Bersambung.......
__ADS_1
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....