
Bagaimana ini, batin Andri.
“Jawab anak nakal! Apa ini ayah dari anak yang kau kandung??!” hardik Dimas.
“A-a a ayah, dia...,” arinda ragu untuk menjawab iya atau tidak.
Lalu ibu Arinda dengan langkah tertatih datang dari arah kamar.
“Yah, sudah yah jangan marah-marah, ibu enggak kuat mendengar suara ayah.” pinta Elia ibu Arinda yang tak bisa mendengar suara keras dan melihat kegaduhan.
“Ayah baru mulai bu! Bagaimana bisa anak kita yang masih muda dan polos tiba-tiba mengandung tanpa adanya pernikahan? Apa kata orang nanti bu?” terang Dimas pada istrinya.
“Lihat Nda! Penyakit jantung ibu mu kambuh gara-gara perbuatan mu! Kau tahu keluarga kita lagi kesulitan ekonomi, enggak mampu membawa ibu mu ke rumah sakit, kau masih saja membuat ulah!” Dimas terus menerus memarahi Arinda.
“Sudah pak, tenang, nak ayo kita duduk dulu.” ibu Arinda yang berhati lapang mempersilahkan Andri dan Arinda duduk di atas sofa.
“Bu! Kenapa harus bersikap baik pada dua anak kurang ajar ini!” pekik Dimas.
“Sudah pak, jangan marah-marah, biar ibu yang urus.” ucap Elia dengan nafas terengah-engah.
Dimas yang sangat menghargai istrinya pun mencoba meredam amarah pada kedua anak yang ada di hadapannya, ia pun mengambil duduk di sebelah istrinya.
“Arinda katakan pada ibu, siapa ayah dari anak yang kau kandung?” ucap Elia dengan lembut.
Namun Arinda yang tak ingin melibatkan Andri dalam masalahnya memilih diam seraya meneteskan air matanya.
“Ayo nak, katakan pada ayah dan ibu,” bujuk Elia.
Andri yang ikut terpojok tak tahu harus berkata jujur atau memilih diam untuk menyelamatkan posisinya.
“Ayo bicara!” Dimas memukul kepala Arinda dengan keras, hingga pandangan Arinda mengabur.
“Yah!” Elia mengelus kepala putrinya.
“Ayah kesal bu, dia dari tadi hanya bisa geleng-geleng sambil nangis, Hum! Cepat katakan! Atau kau akan ku kebiri!” ancam Dimas.
“Maafin Arinda pak!” hanya itu yang bisa Arinda ucapkan.
Lalu Dimas yang tak dapat menahan kesabarannya pun mengambil ancang-ancang untuk memukul perut Arinda.
__ADS_1
Andri dengan sigap menangkis tangan Dimas, karena ia tak ingin anaknya celaka, Andri yang tak dapat menyembunyikan diri lagi terpaksa buka suara.
“Aku ayahnya.” ucap Andri dengan perasaan campur aduk.
Terserah deh mau gimana ke depannya, yang penting anak ku baik-baik saja, batin Andri.
”Jadi benar kau orangnya?” tanya Dimas dengan serius.
“I-iya om, tapi ini semua adalah kecelakaan tak ada unsur kesengajaan,” jawab Andri.
“Aku enggak perduli itu sengaja atau tidak! Yang jelas kau harus bertanggung jawab!” pekik Dimas.
Elia memijat pelipisnya yang terasa berat dari tadi.
“Aku akan bertanggung jawab, tenang saja,” terang Andri.
“Berarti kau akan menikahi putri ku?” tanya Dimas.
“Untuk itu aku enggak bisa.” jawab Andri yang membuat Elia dan Dimas mengernyit.
“Jadi tanggung jawab apa yang kau maksudkan?” tanya Dimas kembali.
“Eng-enggak bisa begitu dong! Apa kata orang kalau putri ku mengandung tanpa suami, dan juga tak mungkin aku menyembunyikan Arinda selama ia mengandung, kau lihat sendiri, rumah ku sangat rapat dengan tetangga, sudah jelas apapun yang terjadi, akan cepat tercium oleh mereka,” terang Dimas.
“Benar nak, kami sangat butuh tanggung jawab mu untuk menikahi putri kami, lihatlah kami yang sudah tua ini, kalau harus menghadapi nyinyiran tetangga, rasanya kami takkan sanggup,” terang Elia dengan wajah pilu.
“Maaf, aku enggak bisa,” ucap Andri.
“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Elia memastikan.
“Karena aku sudah menikah, dan istri ku saat ini tengah mengandung.” jawab Andri yang membuat Elia dan Dimas semakin syok. Elia menarik nafas panjang, menenangkan dirinya.
“Bu, ibu enggak apa-apa?” Arinda mencoba menyentuh ibunya. Namun Dimas menepis tangan putrinya.
“Kau lihat? Ini semua karena mu anak durhaka!” Dimas beranjak ke kamar untuk mengambil obat jantung istrinya, setelah itu ia kembali lagi ke ruang tamu dengan obat dan segelas air di tangannya.
“Minum bu ” Dimas membantu istrinya meminum obat.
Setelah Elia merasa baikan, Andri pun kembali berbicara.
__ADS_1
“Maafkan aku, aku juga enggak ada perasaan pada putri kalian, karena kemanusiaan ku lah, makanya aku tak melarikan diri.”
“Tak punya perasaan tapi melakukan itu pada putri kecil ku!” pekik Dimas.
“Dia sendiri yang masuk ke dalam kamar ku dengan keadaan tak berbusana.” Andri pun menceritakan kronologi yang terjadi, yang membuat Elia dan Dimas tak memiliki wajah. Mereka hanya bisa menundukkan kepala.
“Kalian tentu kenal siapa istri ku ” ucap Andri. Elia dan Dimas menggelengkan kepala.
“Beeve, sahabat putri kalian sendiri, maka dari itu ku katakan, aku enggak bisa menikahi Arinda.” mendengar penjelasan Andri, Elia dan Dimas menangis, pasalnya Beeve sudah mereka anggap seperti putri sendiri, Beeve juga sering membantu finansial keluarga mereka. Dan juga mewujudkan impian mereka untuk naik haji.
“Teganya kau Nda menghancurkan rumah tangga Beeve ” Dimas menangis dengan mengemban perasaan malu dan bersalah, pada gadis baik yang selama ini telah menganggap mereka keluarga.
“Iya nak, sampai hati kau lalukan itu pada rumah tangga Beeve, dimana otak mu!” plak! satu tamparan dari Elia mendarat ke pipi kanan Arinda.
Arinda hanya dapat menuai hasil yang ia tanam.
“Setan apa yang telah merasuki mu! Hingga kau kalap dan menikung Beeve! Ibu tahu dia enggak pernah menyakiti mu sekali pun! Tapi kenapa nak? Kau tega melakukan itu padanya? Dia juga sudah memberi mu pekerjaan, ya Allah... kenapa putri ku jadi hina begini? Hiks...” Elia dan Dimas pun menangis sejadi-jadinya.
“Bagaimana kami bisa melihat wajah Beeve dan keluarganya kedepan? Nda, otak mu kau taruh dimana?” ucap Elia.
“Kalau begini, kau mengharapkan apa lagi Nda? Dan siapa juga yang mau menikahi wanita hamil seperti mu? Ya Allah Nda, cara mu memang hebat untuk membunuh kami perlahan-lahan.” ucap Dimas dengan berderai air mata.
“Maafkan Arinda yah, ibu, arinda juga enggak mengira kalau akan seperti ini ujungnya.” ucap Arinda yang ikut menangis juga.
Andri mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, sebab ia tak sanggup melihat kedua orang tua Arinda menangis sesungukan di hadapannya.
“Begini saja, aku akan memindahkan kalian ke kota lain, dan membeli kalian rumah, dan juga modal untuk membuka usaha.” Andri memberi usulan sebagai solusi terbaik menurut pendapatnya.
“Enggak perlu nak, kau enggak harus melakukan sejauh itu, disini Arinda yang salah.” ucap Dimas.
“Sudahlah pak, terima saja usulan dari ku, hanta satu-satunya jalan terbaik ” terang Andri.
“Enggak perlu nak, karena ini kesalahan Arinda, maka dia yang akan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri,” ucap Dimas.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1