
Setelah aman dan tentram ketiganya pun makan bersama.
Saat Andri akan berangkat kerja, Beeve dan Arinda mengantarkannya sampai ke pintu utama. Dengan posisi Beeve memegang lengan tangan kanan, sedang Arinda di lengan kiri.
“Aku berangkat ya sayang.” ucap Andri, lalu Beeve mencium tangan Andri, saat ia akan mencium Beeve, hatinya tak tenang, sebab Arinda berada di antara mereka.
Beeve yang tak sabaran menyambar bibir seksi Andri terlebih dahulu. Tentunya Arinda syok atas tindakan Beeve yang terang-terangan di hadapannya..
“Ummuuchh, hati-hati di jalan ya sayang,” ucap Beeve seraya memeluk Andri.
“Iya sayang.” lalu Andri melirik Arinda yang menampilkan wajah asam.
“Aku berangkat ya Nda.” ucap Andri dengan perasaan takut, sebab Beeve memelototinya.
“Iya mas.” ketika Arinda ingin mencium tangan Andri, Beeve menggagalkannya.
“Sudah sayang! Cepat berangkat, nanti terlambat!” Beeve melepas tangan Andri dari Arinda.
Arinda yang sangat kesal karena hak ciumnya dikacaukan oleh Beeve menyatukan kedua giginya rapat-rapat.
Andri pun masuk ke dalam mobil, dan melambaikan tangan pada kedua istrinya, selanjutnya Ali melajukan mobil membelah jalan raya menuju kantor.
Setelah mobil Andri hilang dari pandangan mereka berdua, Beeve dengan menyunggingkan bibirnya masuk ke dalam rumah.
“Hum!”
Arinda yang tak dapat bersabar lagi mulai membuat masalah baru.
“Kekanak-kanakan banget sih kau! Cara mu tadi benar-benar menggelikan, kau pikir hanya kau istri mas Andri?”
Beeve menghela nafas panjang lalu menoleh pada Arinda yang ada di belakangnya.
__ADS_1
“Kau keberatan? Sakit hati? Apa yang kau rasakan sekarang, enggak sebanding dengan apa yang ku rasakan, saat kau menjebak suami ku! Menjijikkan sekali cara mu, memanfaatkan kebaikan ku untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga ku, sangat rendahan!” pekik Beeve.
“Itu bukan salah ku, mas Andri yang menginginkan ku! Dan yang terpenting aku mengandung anaknya, sedangkan kau anak haram! Hahaha!” Arinda merendahkan balik Beeve.
“Hohoho! Kata mu mas Andri yang menginginkan mu?” Beeve mendekat ke Arinda, hingga mereka berdua saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
“Kalau dia menginginkan mu! Pasti dia enggak akan mencari ku! Meski aku meminta cerai darinya, dia enggak mau, aku yakin kau juga sudah lihat di media sosial kalau aku di tebus seharga 21 milyar! Itu uang bukan daun!” kemudian Beeve meletakkan telunjuknya ke dahi Arinda.
“Otak taruh dimana sih?” ucap sisins Beeve, Arinda pun menepis telunjuk Beeve tersebut.
“Itu sih menurut mu, tapi inti dari segalanya adalah, anak ku lah pewaris satu-satunya di keluarga ini, bukan kau! Anak haram mu takkan mendapat apapun, baik dari suami ku, atau pun Cristian, kasihan banget mengandung anak tak bernasab.” Beeve yang tak terima anaknya di bawa-bawa langsung memukul kepala Arinda.
Plak!
“Ini masalah antara kita berdua bodoh! Memangnya aku pernah membawa-bawa anak mu ke dalam percakapan kita? Hum?” Arinda yang ingin membalas pukulan Beeve pun mulai melayangkan pukulan, sayangnya Beeve yang jago adu otot menepisnya.
“Sekali lagi kau bawa-bawa anak ku, ku gorok leher mu! Hei bodoh, kau pikir hanya perut mu yang bisa mengandung anak mas Andri? Setelah aku melahirkan, aku akan bersiap untuk mengandung anaknya, dan satu lagi, selain Andri masih ada Emir, kau pikir dia enggak akan kebagian harta orang tuanya? Haduh!!!” Beeve geleng-geleng kepala melihat Arinda.
“Kau enggak akan pernah mengandung anak suami ku Bee!” pekik Arinda.
Beeve yang takut main tangan untuk yang kedua kalinya memilih pergi dari hadapan Arinda.
“Sudahlah, percuma bicara dengan orang gila, sebaiknya aku ke kampus, dan kau! Kembali ke kamar mu, jangan sekali-kali masuk ke dalam kamar kami lagi! Kalau sempat ketahuan oleh ku, ku remas-remas paru-paru kecil mu itu!” ucap Beeve.
“Untuk apa aku masuk ke kamar mu, toh aku sudah pernah merasakan hangatnya ruangan itu, dan di kamar ku yang sekarang juga tak kalah panasnya.” Arinda mengingatkan Beeve tentang permainannya dengan Andri.
“Hum! Syukurilah, karena kenikmatan itu akan kau rindukan seumur hidup mu, selagi aku ada, kau enggak akan merasakan apa itu panas yang sesungguhnya!” Beeve kembali ke kamarnya, meninggalkan Arinda dengan keadaan hampir gila.
“Awas saja, tiba saatnya akan ku balas perbuatan mu! Sakit hati ku yang sekarang takkan ada bandingnya dengan yang akan kau rasakan nanti,” gumam Arinda.
______________________________________________
__ADS_1
Andri yang telah sampai di kantor langsung mengurus cek 11 milyar milik Feni, setelah it ia menghubungi Emir.
📲 “Halo,” Andri.
📲 “Halo Ndri, apa Beeve sudah ketemu?” Emir.
📲 “Sudah, oh ya Mir, jangan kau bayar lagi pada Feni uang yang kau janjikan itu, karena aku telah melunasinya,” Andri.
📲 “Oh ya? Kalau begitu aku akan bayar pada mu,” Emir.
📲 “Enggak usah, karena itu adalah tanggung jawab ku, kami juga sudah baikan, rumah tangga kami aman, dia juga masih sangat mencintai ku, untuk itu, jangan rusak hubungan ku dengan Beeve,” Andri.
Emir mengelus dadanya yang terasa sesak, ia pun tak mampu untuk berkata-kata lagi.
📲 “Ba-baik, asal dia bahagia aku ikhlas, tapi tolong jangan sakiti dia, jika suatu saat dia memberi celah pada ku, jangan salahkan siapapun,” Emir.
📲 “Tenang saja, karena yang kau inginkan takkan pernah terjadi, sudah dulu, aku tutup ya,” Andri.
Setelah menyelesaikan segala urusannya, Andri merasa sedikit lega.
Kemudian Arman dengan tiba-tiba masuk ke ruangannya.
“Ndri, ku dengar Beeve sudah ketemu ya!” suara keras Arman membuat Andri kaget.
“Astaga! Kalau masuk ketuk dulu Man!” pekik Andri.
“Maaf, maaf, eh bagaimana? Amankan semuanya dia baik-baik sajakan?” tanya Arman.
“Iya Man, dia sangat baik, aku enggak menyangka kalau Beeve bisa bertahan hidup sendiri, kau tahu Man, dia bekerja sebagai koki di rumah makan, aku kasihan sekali padanya, warna kulitnya jadi agak gelap, tangannya juga banyak bekas cipratan minyak, belum lagi saat aku menemuinya, bajunya sangat jelek, ku pikir karena dia anak orang kaya, dia enggak bisa survive, ternyata aku salah, dia bisa juga hidup tanpa ku Man.” Andri menceritakan dengan bangga Beeve yang berani di matanya.
“Syukurlah, kalau masalah kulit dan penampilan kan gampang, kau tinggal bawa ke dokter kecantikan, beli vitamin dan lain-lain agar kulitnya kembali seperti semula, tapi.... apa dia akur dengan madunya?” tanya Arman penasaran.
__ADS_1
“Kacau Man, aku benar-benar pusing, keduanya selalu bertengkar, yang membuat aku makin terkejut, ternyata Beeve kalau cemburu judes banget, selama ini ku pikir dia anak yang manja dan cengeng, ternyata jago bertengkar juga Man, astaga! Baru sehari sudah membuat aku stres, tatapan mata keduanya membuat ku serba salah, mengasingkan Arinda kembali ke rumahnya akan membuat keluarga ku marah. Bisa-bisa Beeve jadi sasaran lagi, saat inikan imagenya sangat buruk di mata keluarga ku.” Andri curhat panjang lebar padahal Arman.