
Sila segera mengambil tisu, lalu ia berikan tisu itu pada suaminya.
Dengan segera Rafael mengelap bibir dan tangannya dengan tisu.
"Kenapa Kak dengan tehya, apa terlalu manis, atau kurang manis Kak, atau mungkin kurang enak Kak," Sila nyerocos panjang kali lebar, tapi Rafael sama sekali tidak meresponnya.
Setelah Rafael selesai mengelap bibirnya dan juga tangannya yang basah, Rafael melirik Sila sesaat.
"Kamu kasih apa tehnya?" tanya Rafael. Matanya menatap tajam ke arah gadis yang telah sah menjadi istrinya.
"Kenapa rasanya asin," sambungnya. Tatapan matanya masih sama.
"Kalau asin berarti itu rasa garam Kak, kalau manis itu baru gula," ucap Sila secara spontan, seketika ia menutup mulutnya itu yang selalu ceplas-ceplos saat bicara.
"Ops, sorry Kak, berarti tadi aku salah kasih garam," Sila langsung memelankan suaranya, sungguh malu, ingin rasanya Sila menghilang dari hadapannya, agar wajahnya tidak terlihat.
Dia nampak membuang nafas secara kasar, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
Udah kayak Kamen Rider aja berubah.
"Kita berangkat sekarang," ucapnya. Sangat irit sekali dalam berbicara.
"Terus tugas kuliahku Kak?" tanya Sila yang mampu mengalihkan suasana.
"Sudah selesai," jawabnya yang begitu singkat, tapi jelas.
"Hah, yang bener Kak," Sila langsung mengeceknya, dan ternyata benar, tugas yang menurutnya sangat sulit, bisa dia kerjakan dalam waktu yang singkat.
"Kok bis ...." belum selesai Sila berucap, Rafael sudah menyambarnya, seperti kereta api.
"Cepat bereskan, nanti terlambat," katanya dengan wajah yang amat datar.
Kaysila hanya mendengus kesal, lalu dengan segera ia membereskan buku-buku yang akan Sila bawa, setelah selesai ia segera turun ke bawah, dan mengikuti langkah kaki Rafael yang jaraknya satu meter tiap melangkah.
***
Kini mereka sudah dalam perjalanan, Rafael memilih diam dan tetap fokus untuk menyetir, Sila pun demikian. Ia lebih fokus melihat ke luar jendela.
Melihat gedung-gedung yang tinggi menjulang, serta bangunan yang lainnya.
"Kak." Panggil Sila.
Diam, Rafael sama sekali tidak menyahut panggilan gadis yang duduk di sampingnya, dia terus fokus menyetir, pandangannya lurus ke depan.
"Kak." panggil Sila lagi.
"Jangan mengganggu saat aku sedang menyetir," ucapnya tanpa menoleh sekilas pun ke arah Sila.
Sila pun menghembuskan nafas dengan kasar, sangat sulit beradaptasi dengan orang yang mempunyai sikap dingin seperti dia.
Kutub Utara saja kalah, hanya kesabaran yang harus Sila perkuat.
Satu jam telah berlalu, kini mobil yang Sila dan Rafael naiki, telah berhenti di depan gerbang kampus.
Sebelum Sila turun, ia menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan suaminya itu.
"Nanti siang jemput ya Kak," pinta Sila. Tentunya dengan memasang wajah melas.
"Jam berapa?" tanyanya.
"Jam 2 Kak," jawab Sila dengan senyum termanis ku, madu saja kalah manisnya.
Namun Rafael hanya mengangguk dengan tersenyum tipis, setelah Sila turun, Rafael langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Dan Sila bergegas masuk ke dalam.
***
Rafael telah tiba di kantor, dia bergegas masuk ke dalam, setibanya di ruangan, dia langsung disibukkan dengan pekerjaannya.
Belum ada 30 menit Rafael duduk, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Masuk." Pinta Rafael.
Perlahan pintu ruangan Rafael terbuka, seorang wanita masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Maaf Pak, ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani," ucap wanita itu, yang tak lain adalah sekretaris Rafael. Lalu meletakkan berkas tersebut di meja Rafael.
Dengan segera Rafael menanda tangani berkas tersebut, setelah selesai Rafael langsung menyerahkan berkas itu.
"Ini." Ucap Rafael.
Wanita itu segera mengambil berkas-berkas tersebut.
"Iya Pak, oya Pak, nanti siang Bapak ada meeting," kata wanita itu.
"Jam berapa?" tanya Rafael.
"Jam 1 Pak," jawabnya.
"Ya sudah, kamu boleh pergi," tukas Rafael.
"Baik Pak, permisi," pamitnya, lalu beranjak pergi.
Setelah sekretarisnya pergi, Rafael segera melanjutkan pekerjaannya.
Berkas-berkas masih menumpuk di depan mata, dan itu harus segera Rafael selesaikan.
***
Waktu terasa begitu cepat, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Sila sudah menunggu di depan gerbang kampus, tapi yang ia tunggu-tunggu belum juga datang.
"Kak Rafael mana sih, masa iya lupa jemput aku," gerutu Sila yang merasa kesal, dan lelah menunggu.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya, Sila merasa lega, ternyata Rafael tidak lupa, tapi saat pintu terbuka, ia merasa kecewa.
"Kok malah mang Hadi sih yang jemput," keluh Sila saat tau jika bukan Rafael yang menjemputnya, melainkan mang Hadi, supir pribadinya sendiri.
"Iya Non, hari ini Tuan Rafael ada meeting," jelasnya, Sila hanya manggut-manggut malas.
Di dalam mobil, Sila mencoba mengirim pesan untuk Rafael, tapi hanya kesal yang ia dapatkan.
"Nyebelin banget sih nih orang, sesibuk apa sih dia, sampai nggak mau balas pesan dari aku," gerutu Sila, ia benar-benar merasa sangat kesal.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Sila tiba di rumah, ia pun segera keluar dan langsung masuk ke kamar, rasa capek membuatnya malas dan memilih untuk merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Hah, capek banget, mana ada tugas kuliah lagi," keluhnya, dengan menatap langit-langit kamar.
***
Mentari telah kembali ke peraduannya, hanya sinar rembulan yang menerangi malam, terpaan angin malam menambah rasa dingin yang menusuk tulang.
Malam yang semakin larut, suasana pun mulai sepi.
Pukul 11 malam Rafael baru sampai di rumah, dengan segera ia melangkah kaki masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar.
Pintu kamar terbuka, di sana terlihat Sila yang tengah tertidur di meja belajarnya.
Rafael berjalan mendekati gadis itu sembari mengendurkan dasi yang masih melilit di lehernya, setelah itu tanpa ragu-ragu Rafael mengangkat tubuh mungil istrinya itu, lalu ia rebahkan di atas ranjang.
Ada perasaan aneh saat Rafael mengangkatnya, tapi ia sendiri tidak tau perasaan apa itu.
Tak lupa Rafael menyelimuti tubuh istrinya itu, lalu ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
30 menit kemudian, Rafael telah selesai, karena penasaran dengan tugas yang Sila kerjakan, ia pun mengambil buku tersebut, seperti biasa Sila selalu kesusahan dalam mengerjakan tugas kuliahnya.
"Tugas seperti ini saja tidak bisa, dasar bocah," ucap Rafael, tanpa sadar seulas senyum terbit di bibirku.
Setelah itu, Rafael putuskan untuk mengerjakan tugas kuliah istrinya itu. Ia pun duduk dan dengan segera tangannya mulai sibuk dengan tugas kuliah Sila.
***
Waktu cepat berlalu, kegelapan malam sudah sirna, sinar mentari menyeruak masuk ke dalam melalui celah-celah jendela kamar.
__ADS_1
Pagi ini Rafael bangun lebih awal, tapi gadis mungil itu masih terlelap dalam alam mimpinya.
Pukul 7 pagi, Rafael telah selesai membersihkan diri, dan juga telah selesai mengemasi barang-barang.
Iya, hari ini Rafael akan mengajak Sila pindah ke rumahnya, tapi sudah siang begini Sila belum bangun juga, dengan terpaksa ia pun membangunkan istrinya itu.
"Sila bangun," ucap Rafael, sembari mengguncangkan tubuh istrinya.
Sila hanya menggeliatkan tubuhnya, matanya masih setia terpejam, justru dia menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya itu.
"Sila bangun," ucapnya lagi.
"Nanti aku masih ngantuk," ucap Sila dengan suara khas bangun tidur.
Rafael hanya menghela nafas, ia tidak habis pikir, ternyata susah juga bangunin seorang gadis cilik seperti Sila.
"Sila bangun, hari ini kita akan pindah rumah," ucap Rafael lagi, dengan suara sedikit tinggi.
Dan itu berhasil membuat Sila terlonjak kaget, seketika dia bangun dan langsung terduduk, rambut yang berantakan, matanya pun belum terbuka sempurna, dengan sesekali menguap.
"Pindah, pindah kemana Kak?" tanyanya dengan raut wajah yang tegang.
"Pindah ke rumahku," jawab Rafael datar.
"What! Pindah ke rumah Kakak," Sila sangat terkejut dengan apa yang barusan Rafael ucapkan.
"Buruan mandi, jangan banyak alasan dan pertanyaan," pinta Rafael, tentunya dengan suara sedatar mungkin.
Sila masih terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, merasa kesal, Rafael menatap Sila dengan tatapan yang tajam, seketika dia loncat dari ranjang, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
30 menit kemudian, Rafael dan Sila sudah siap untuk pergi, kini keduanya sudah berada di bawah, sebelum pergi, mereka berpamitan terlebih dahulu dengan kedua orang tua Sila, mertua Rafael.
"Ma, pa, kita pergi dulu ya," pamit Rafael pada kedua mertuanya itu.
"Iya, hati-hati ya di jalan, jaga anak mama baik-baik ya ... kalau nakal, tinggal di jewer saja," pesan mama mertua Rafael, yang membuatnya tersenyum tipis.
"Ih, mama kok gitu sih, emang Sila anak kecil apa," gerutu Sila, dengan memanyunkan bibirnya.
"Enggak kok Sayang, mama cuma bercanda," ucap mama mertua, lalu memeluk erat Sila, sebelum mereka pergi.
"Ya sudah ma, kami pergi dulu, assalamualaikum," setelah berpamitan, Rafael dan Sila segera keluar dan menuju ke mobil.
Setelah keduanya masuk ke mobil, dengan segera mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan, Sila hanya diam sembari melihat pemandangan ke luar jendela.
Sementara itu, Rafael memilih sibuk dengan handphonenya.
Banyak email yang harus Rafael balas, bisa di bilang ia orang yang sibuk, seperti tidak ada waktu luang untuk bersantai, untuk memejamkan mata saja, tidak bisa sembarang waktu.
"Kak." Panggilnya Sila.
Rafael masih sibuk dengan handphonenku, sampai ia tidak merespon panggilan istrinya itu.
Jari tangannya masih berkutat pada benda pipih itu.
"Kak." Panggilnya lagi, kali ini Sila mengeluarkan suaranya dengan sedikit keras.
"Kenapa." Sahut Rafael tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Sibuk terus, sampai-sampai yang di sampingnya diabaikan," ketusnya, bibirnya langsung maju 5 senti meter.
Sebenarnya Rafael malas meladeni sikapnya yang seperti anak kecil, tapi mau gimana lagi, dia istrinya, tanggung jawabnya, dengan terpaksa Rafael pun menoleh.
"Maaf." Hanya itu yang Rafael ucapkan.
Bibirnya masih saja manyun, kalau Rafael bisa tertawa, mungkin ia sudah menertawainya.
Setelah hampir 2 jam perjalanan, kini mobil yang mereka naiki sudah terparkir di halaman rumah mewah Rafael.
"Sudah sampai, ayo turun," ajak Rafael pada istrinya.
__ADS_1
Sila masih diam, sepertinya dia marah pada Rafael, ia pun menolehnya, dan ternyata.