
Sesampainya Emir ke tujuan, ia begitu senang melihat banyaknya orang lalu lalang, terlebih berbagai jenis makanan ada di samping kiri dan kanannya. Ia yang tadinya tak lapar tiba-tiba merasa kalau perutnya keroncongan.
Emir pun mendatangi salah satu pedagang kaki 5 yang menyediakan banyak jajanan. Karena cuaca saat itu sedang turun salju, Emir memesan Tteokbokki dan juga Eomuk kkochi, makanan yang paling cocok di konsumsi pada saat dingin.
Emir yang sedikit bisa berbahasa Korea pun memesan makanan yang ia inginkan.
“Annyeonghaseyo imonim-i tteogbokk-i 1 inbungwa eomugtteogbokk-ileul jumunhaess-eoyo.”
(Halo, bibi saya memesan satu porsi Tteokbokki dan juga Eomuk kkochi)
“Joh-a, imoga junbihae julge,” ucap si Bibi.
(Baiklah nak, bibi akan menyiapkannya untuk mu)
Ketika Emir sedang menunggu makanannya selesai di bungkus, tiba-tiba ada seorang wanita yang mengenakan mantel tebal berwarna pastel lengkap dengan kupluk nya berdiri di sebelah Emir.
“Ajumma imojji 2 inbun jumunhaess-eoyo.”
(Bibi, aku pesan 2 porsi Emouk Kkochi )
Awalnya Emir tak terlalu memperdulikan siapa wanita itu, namun saat pesanan wanita tersebut terlebih dahulu di berikan, Emir merasa kurang adil, sebab ia yang pertama datang dan mengantri.
“Excuse me, can you wait in line? In that case I was the first to come here,” ucap Emir.
(Permisi, bisakah kau mengantri? Pada hal aku yang pertama datang kemari.)
“Why don't you just blame the seller, sir?” sahut si wanita.
(Kenapa kau tidak menyalahkan si penjualnya saja tuan?)
Saat Emir menoleh ke si wanita, ia begitu terkejut, karena wanita tersebut adalah yang ia cari selama 4 tahun terakhir.
“Bee,” gumam Emir.
Mas Emir, batin Beeve.
Beeve yang tak menyangka bertemu dengan Emir di tempat itu pun terperanjat.
Namun ia yang tak ingin berkomunikasi lagi dengan Emir buru-buru meninggalkan tempat itu.
“Beeve! Tunggu!!” Emir meninggalkan pesanannya untuk mengejar Beeve.
Beeve yang langkahnya bagai kuda membuat Emir kehilangan jejak.
“Aduh, kenapa harus bertemu dia disini sih!" gumam Beeve.
Beeve pun berjalan semakin jauh, menjauh dari keramaian. Saat ia akan menaiki bis terakhir di sebuah halte, ia hampir saja terjatuh karena di senggol oleh seorang pria, beruntung ada yang menumpu tubuhnya dari belakang
“Gamsahabnida.” ucap Beeve seraya membungkukkan tubuhnya.
“Sama-sama,” sahut Emir. Sontak Beeve menoleh ke Emir.
Huh, aku harus bagaimana sekarang? batin Beeve.
“Kenapa kau harus lari dariku? Pada hal aku hanya ingin mengobrol, bukan menagih hutang,” ucap Emir.
Huruf hitam tebal artinya bahasa Korea ya readers.
__ADS_1
“Anda siapa ya? Kenapa mengikuti ku terus?”
“Sudahlah Bee, kau terlihat bodoh di mata ku sekarang kalau mau menyamar, kenapa enggak operasi plastik sekalian?? Agar identitas mu benar-benar tidak di kenali?”
“Saya yakin anda salah orang, nama ku Kim Bia,” ucap Beeve
Emir tertawa dengan Beeve yang tak mau mengaku, “Ck, apa perlu aku ingatkan kau, betapa bejatnya aku 4 tahun silam pada mu?”
Sontak wajah Beeve jadi tegang, saat Emir mengatakan hal tersebut.
“Ayo, ikut aku sebentar, aku ingin bicara dengan mu,” ujar Emir.
Beeve yang merasa penyamarannya takkan berhasil pun menghentikannya.
“Aku enggak mau,” Beeve menolak ajakan Emir.
“Aku enggak butuh persetujuan mu.” lalu Emir melambaikan tangannya pada sebuah taksi.
“Emir, aku enggak mau ikut!” pekik Beeve.
Emir yang tak ingin melepaskan Beeve lagi, memaksanya masuk ke dalam taksi.
“Kita mau kemana sih?” tanya Beeve.
“Ke Sungai Han, aku ingin sekali kesana.” ucap Emir. Beeve dengan wajah masam memutar mata malas.
Tak seberapa lama, mereka berdua pun sampai, Emir menggenggam tangan Beeve turun menyusuri anak tangga, untuk mendekat ke sungai yang memiliki pemandangan yang begitu Indah.
“Emir, lepaskan tangan ku!” pekik Beeve.
“Nanti kalau ku lepas, kau pergi lagi.”
“Oh ya?”
“Iya! Untuk itu, lepaskan tangan ku.” Beeve menghempaskan genggaman tangan Emir.
“Kalau ku lepas, janji enggak akan kabur lagi?” tanya Emir.
“Aku enggak ada keharusan membuat janji dengan mu.” ucap Beeve.
“Oke, kalau begitu kita berpegangan tangan sampai tahun depan saja.” ujar Emir. Beeve yang kesal pun akhirnya mengalah.
“Baiklah, aku enggak akan kabur,” ucap Beeve.
Emir yang ragu pun, akhirnya melepaskan genggaman tangannya pada Beeve.
“Apa kabar?” tanya Emir.
“Baik bodoh!” pekik Beeve seraya berlari menjauhi Emir.
“Ck! Kau mau main kejar-kejaran ternyata!” Emir yang tak ingin kehilangan Beeve lagi, menggunakan skill larinya yang secapat cheetah.
Beeve menolah ke belakang, dan ia terkejut karena Emir sudah dekat dengannya.
“Akh!!” Beeve berteriak histeris saat Emir hampir mendapatkannya.
Karena hari sudah larut, sungai Han hanya menyisakan segelintir orang-orang yang berpacaran saja, dan yang melihat mereka berdua kejar-kejaran berpikir, kalau Emir dan Beeve adalah pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta.
__ADS_1
Beeve yang sudah tak kuat berlari akhirnya tertangkap juga oleh Emir.
Hug!!
Emir memeluk erat tubuh Beeve dari arah belakang.
“Kau senang lari-lari rupanya mama muda.” ucap Emir dengan nafas tak beraturan di telinga Beeve.
“Ih, lepas! Apa-apaan sih kau!” Beeve merasa risih atas dekapan Emir.
Namun Emir yang di ambang batas rindu tak mau mendengarkan, ia justru semakin mengencangkan pelukannya.
“Mama muda, panggil aku mas.”
“Ck, enggak mau! Lepas! Malu tahu di lihat banyak orang!” pekik Beeve yang mencoba melepaskan diri namun tak bisa.
“Siapa suruh kabur.” pipi Emir yang menempel ke pipi Beeve pun merasakan ada air yang mengalir.
Sontak Beeve melirik wajah Emir, “Kenapa kau menangis?” tanya Beeve.
“Ini tangisan bahagia, karena setelah bertahun-tahun, aku menemukan mu juga,” jawab Emir.
“Setelah menemukan ku, apa yang akan kau lakukan?” tanya Beeve kembali.
“Membawa mu pulang.” jawab Emir seraya melepas pelukannya.
“Mir.”
“Panggilnya pakai mas,” pinta Emir.
“Hem, oke mas Emir, tapi maaf aku enggak bisa kembali, kalau pun aku pulang ke Indonesia, pastinya bukan menuju kalian, atau pun bang Julian,” terang Beeve.
“Sebelum lanjut bicara, ku rasa ada baiknya kita duduk,” ujar Emir.
Beeve mengambil nafas panjang, lalu ia dan Emir pun menuju bibir sungai Han. Kemudian keduanya pun duduk saling berhadapan.
“Kau harus pulang dengan ku Bee,” ucap Emir.
“Seperti yang sudah ku bilang mas, aku enggak bisa, aku enggak ingin kembali kepada orang-orang yang telah membuat hidup ku hancur,” terang Beeve.
“Bee, kami semua minta maaf, kami salah atas mu, dan juga, kau masih istri resmi Andri,” ujar Emir.
“Itu hanya di mata negara mas.”
“Bee, kau tahu, semua orang gencar mencari mu, keluarga ku dan juga Julian, semua menyesal, kami salah! Dan sangat bersalah, tolong jangan pergi lagi, kembalilah.” Emir benar-benar berharap Beeve setuju dengan permohonannya.
“Mas, aku enggak bisa, alasan ku untuk pulang pun sudah enggak ada,” ucap Beeve.
“Apa maksud mu?”
“Sebenarnya sebelum aku pergi merantau ke Malaysia, hak asuh anak ku telah jatuh pada Cristian, selama satu tahun berpisah, Cristian masih melakukan komunikasi dengan ku dan juga Bia anak ku, tapi di tahun kedua, kami lose kontak, aku sudah berusaha mencari nomor baru atau akun media sosialnya, tapi enggak ada yang aktif lagi, setelah aku cukup uang, aku kembali, tapi ternyata Cristian sudah pindah rumah, dan entah dimana mereka sekarang, untuk mengusir kesedihan ku, aku membuka restoran di Jakarta, dan juga aku melakukan travelling, guna mencoba resep setiap masakan yang ada di setiap negara,” terang Beeve
“Pasti berat untuk mu.”
“Tentu saja, tapi aku sudah ikhlas, yang bisa aku lakukan adalah berusaha dan berdo'a, agar suatu saat Cristian mengembalikan Bia pada ku.”
...Bersambung......
__ADS_1