Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 200 (Terpaksa)


__ADS_3

“Bee, belanjanya banyak sekali,” ucap Rahma.


“Iya bu, ini semua Helena yang bayar.” Beeve tersenyum lebar pada mertuanya.


“Wah! Kau baik sekali nak pada kakak mu, ya Allah, selain cantik kau murah hati lagi, beruntungnya Emir mendapatkan mu nak.” Rahma memuji kebaikan hati Helena.


“Ini sih enggak seberapa tante, sebentar lagi kami akan resmi menjadi kakak adik, jadi itu adalah hadiah pertama ku untuk kak Beeve, agar dia makin cantik di hadapan bang Andri," terang Helena.


“Kau benar juga nak, Helena memang the best! Tante makin sayang pada mu!” Rahma memeluk Helena yang sangat sempurna di matanya.


“Iya bu, Helena memang yang terbaik, apa kau enggak sekalian membeli ibu baju Helena?” Beeve pun memancing Helene, agar pengeluarannya makin bengkak hari itu.


“Oh iya benar juga, baju yang tante beli hari ini biar aku yang bayar,” ucap Helena dengan percaya diri.


“Enggak usah nak, biar tante saja, kau cukup bayar punya Beeve saja.” Rahma yang tahu nominal baju untuk keluarganya, tak mau memberatkan Helena yang belum resmi jadi menantunya.


Namun Helena yang berpikir baju di sana hanya ratusan ribu perpotong nya, malah memaksa untuk membayar semuanya.


“Enggak apa-apa tante, lagian aku senang kalau bisa membeli sesuatu untuk tante,” ujar Helena.


Hahaha... masuk perangkap juga, batin Beeve.


Karena Helena terus memaksa, akhirnya Rahma mengizinkan calon menantunya untuk membayar belanjaan miliknya.


Pada saat sang kasir telah telah selesai melakukan scan pada setiap baju yang mereka beli, sang kasir pun berkata.


“Totalnya 365 juta ya kak.” mendengar total keseluruhan, membuat mata Helena membulat sempurna, ia juga menelan salivanya.


“Be-berapa?” tanya Helena gelagapan untuk memastikan ia tak salah dengar.


“Totalnya 365 juta rupiah kak.” Rasanya Helena ingin pingsan karena jumlah tak biasa itu.


“Kakak mau bayar pakai uang cash, debit, atau kartu kredit?” tanya sang kasir.


Beeve yang berdiri tak jauh dari Helena sekuat tenaga menahan tawanya, kemudian Helena melihat Harga di balik merek baju yang Beeve ambil.


Ha? 10 juta untuk baju begini saja? Dasar gila! batin Helena.


Selanjutnya ia melihat kebaya yang di beli calon mertuanya.


Ya Tuhan, 12 juta perpotong nya? batin Helena.


Rasanya ia ingin menangis, sebab limit kartu kreditnya tak mencapai 200 juta.


Karena antrian semakin panjang, Helena terpaksa membayar dengan kartu kredit dan juga debitnya.


Habis deh aku, saldo ku pasti tinggal 1 juta lagi, tahu begitu, aku enggak mau menawarkan diri untuk membayar semua belanjaan mereka, batin Helena.

__ADS_1


Selesai transaksi, Helena kembali pada Beeve Rahma dan juga Bia, dengan mendorong troli belanjaan yang telah di bayar.


“Ya ampun Helena, tante jadi enggak enak pada mu,” ucap Rahma.


“Enggak apa-apa tante, Helena senang bisa melakukan ini semua pada tante dan kak Beeve.” ujar Helena dengan menahan air matanya.


“Terimaksih banyak ya adik cantik ku Helena, aku sangat merestui mu dengan Emir, kau memang luar biasa royal!” Beeve menepuk-nepuk punggung Helena.


Baru segitu saja kau sudah kelabakan, mau lagi? batin Beeve.


“Iya kak Bee, terimakasih atas dukungannya.” ucap Helena dengan kurang bersemangat.


Setelah acara belanja baju selesai, Rahma membawa mereka ke toko perhiasan, lalu Rahma yang ingin berterima kasih pada dua orang perempuan yang sangat baik di matanya pun membelikan cincin berlian pada Beeve dan Helena.


Hati Helena sedikit terobati dengan pemberian calon mertuanya.


Setidaknya enggak rugi-rugi banget deh, batin Helena.


Selesai membeli perhiasan mereka beranjak pulang ke rumah masing-masing.


Beeve yang telah berada di kediamannya tertawa cekikikan tak henti-henti, hingga membuat Bia ketakutan.


“Mama kenapa sih? Dari tadi tertawa terus? Apa mama sakit?”


“Hahaha... enggak kok sayang, mama baik-baik saja, ini namanya tertawa bahagia, banyak tertawa membuat kita panjang umur, awet muda dan mendatangkan rezeki dari segala arah, hahaha.” Bia yang merasa ibunya aneh memutuskan untuk tidur di kamarnya.


Bia yang resah kalau Beeve masih tertawa terus hingga larut pun menolak dengan halus.


“Maaf ma, tapi Bia ingin tidur sendiri, Bia kan sudah besar, jadi harus bisa tidur tanpa ada yang menemani.” terang Bia.


“Baiklah kalau begitu, jangan lupa baca do'a, semoga mimpi indah ya sayang.” Beeve pun mengecup kening putrinya seraya memberi pelukan hangat.


“Selamat malam mama, mama juga mimpi indah ya,” ucap Bia seraya mencium pipi Beeve.


“Iya sayang.” Bia pun bergegas ke kamarnya untuk tidur, begitu pula dengan Beeve yang menuju kamarnya untuk mencoba baju pembelian calon Emir.


Keesokan harinya, Beeve yang telah sampai di rumah orang tuanya di sambut hangat oleh Julian.


“Hei, ini ponakan om?” Julian menggendong Bia seraya mengecup pipinya.


“Om?” Bia bingung karena tak mengenali Julian.


“Iya sayang, ini adalah om Julian, abangnya mama,” terang Beeve.


“Halo om, apa kabar?” sapa Bia.


“Baik Bia cantik, Bia sendiri apa kabar nak?”

__ADS_1


“Baik juga om, berarti Bia punya 2 om ya ma?”


“Iya sayang,” jawab Beeve.


“Tapi kalau nenek dan kakek Bia punya banyak, kakek dan nenek di rumah ini mana ma, om?” pertanyaan Bia membuat Beeve dan Julian merasa sedih.


“Kakek dan nenek sudah pergi, sama seperti papa Cristian.” ucap Beeve.


“Ya ampun, berati Bia enggak bisa ketemu lagi ya ma, pada hal Bia ingin kenal, pasti orangnya baik.”


“Kalau mau kenal ada photonya.” Julian membawa Bia untuk melihat photo kedua orang tua mereka yang terpampang di ruang tamu.


“Nah ini nenek, namanya Jane, dan yang ini kakek, namanya Erdogan.” Julian menceritakan pada keponakannya mengenai Erdogan dan Jane semasa hidup.


“Andaikan nenek dan kakek masih disini, pasti seru main dengan mereka berdua,” ucap Bia.


“Tentu saja, tapi main dengan om, enggak kalah seru Bia, ayo ikut om!” Julian membawa Bia ke kamar Beeve.


Beeve senyum-senyum melihat abangnya yang begitu antusias pada putrinya.


Krieett...


Ketika pintu telah terbuka, Beeve dan Bia melihat telah banyak mainan ala perempuan di kamar Beeve.


“Bang enggak salah nih? Belinya kok enggak kira-kira?!” Beeve dan Bia kesulitan masuk ke kamar Beeve, karena mainan yang Julian beli hampir memenuhi kamar adiknya.


“Apa sih kau? Ini masih sedikit, coba kalau dia disini dari 4 tahun yang lalu, mungkin akan lebih banyak lagi,” terang Julian.


“Om! Ini semua untuk Bia?”


“Iya sayang, untuk mu! Nanti bawa pulang semuanya ya.” ucap Julian.


“Enggak, ambil beberapa saja Bia, sisanya tinggalkan disini.” ujar Beeve, karena jika itu di bawa ke rumah mereka, maka akan banyak makan tempat, dan kesannya ia seperti menimbun sampah.


“Bawa semuanya saja, lagi pula hanya butuh 1 kamarkan?”


“Bang, di rumah ku hanya ada 4 kamar, satu kamar ku dan mas Andri, satu lagi Bia, satunya lagi Art, satu tempat mainan Bia, dari keluarga mas Andri saja sudah segudang, di tambah ini sih udah bisa buka toko mainan anak kayaknya!” Beeve yang tak mau repot pun menolak saran Julian.


“Terus, masa tinggal disini? Sayang dong Bee?”


“Enggak akan sayang bang, nantikan Bia dan aku sering kesini, jadi biarkan dia punya gudang mainan disini juga.” karena Beeve tak mau membawa mainan tersebut, akhirnya Julian pun mengalah.


“Ya sudahlah, terserah kau!” pekik Julian dengan perasaan kesal.


“Maaf ya bang, Bia... kau hanya boleh ambil 5 ya nak.”


“Iya mama.” Bia yang patuh pun menuruti perkataan ibunya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2