
Entah bencana apa yang akan datang, melihat ibunya membawa perempuan yang pernah menghancurkan hatinya, Rafael merasa jika sesuatu akan terjadi.
Perempuan yang sangat Rafael benci, tetapi ibunya begitu berambisi untuk menjadikannya menantu.
Namun takdir telah berkata lain, mungkin jodoh juga tidak berpihak pada perempuan itu, sehingga Rafael dipertemukan dengan seorang gadis yang bisa membuatnya bahagia, meski mereka tidak saling mengenal apa lagi cinta, tapi seiring berjalannya waktu cinta mereka telah tumbuh.
Rafael menatap malas ke arah perempuan yang bersama ibunya itu, yang tak lain adalah Aurel, perempuan yang begitu Rafael benci.
Sementara Sila, merasa sangat khawatir jika nanti Aurel akan menyakitinya.
"Sayang, ayo duduk," ajak Maya, pada Aurel.
"Iya Tante," jawab Aurel, tentunya dengan senyum manjanya.
Maya menyuruh Aurel duduk di samping kiri Rafael, padahal sampai kanan sudah ada istrinya.
Aura tidak enak mulai terasa, zona bahaya telah menanti di ambang pintu.
"Halo Aurel, kamu makin cantik aja, seksi lagi," goda Aldo, dengan mengedipkan sebelah matanya.
Maya langsung melambaikan tangan di depan wajah Aldo.
"Hus, kamu apa-apaan sih, Aurel kan sudah mama jodohkan dengan Rafael, iya kan Sayang," kata Maya. Lalu menatap Aurel dan tersenyum.
Jantung Sila terasa berhenti berdetak, matanya pun mulai berkaca-kaca.
Rafael dapat merasakan akan perasaan istrinya sekarang, dan benar saja, saat ia menoleh ke arah Sila, cairan bening yang berusaha istrinya tahan, akhirnya lolos juga.
Merasa tidak tahan, akhirnya Sila memutuskan untuk pergi ke kamar, ia takut kalau nanti akan lebih menyakitkan lagi.
"Maaf, aku tidak lapar, permisi," ujar Sila, dan beranjak pergi menuju ke kamar.
Rafael terdiam, ia bisa merasakan apa yang Sila rasakan sekarang, lalu Rafael mengalihkan pandangannya kepada dua wanita yang tengah duduk di hadapannya.
"Ayo Sayang, kita mulai makan saja," ajak Maya pada Aurel.
"Iya Tante," sahut Aurel, dengan tersenyum.
"Sayang, kamu makan juga ya," ujar Aurel, lalu mengambil piring yang berada dihadapan Rafael.
"Maaf, nafsu makanku sudah hilang," tolak Rafael, dan bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan meja makan.
Raut wajah Aurel seketika berubah, rasa kesal dan marah akan sikap Rafael, ia tidak menyangka kalau Rafael yang sekarang sangat sulit untuk dia taklukkan.
Sementara itu, Aldo hanya bisa menahan tawa.
"Makanya neng, kalau udah beristri jangan berani-beraninya ngganggu, kecewa kan akhirnya," celetuk Aldo, dan itu membuat Aurel dan Maya menatap kesal.
"Aldo, jaga bicara kamu," tegur Maya, dengan tatapan tajamnya.
"Hah, jadi nggak laper nih, mending tidur aja lah," cetus Aldo, dan beranjak pergi menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Tangan Aurel sudah mengepal, wajahnya sudah memerah menahan amarahnya, andai saja tidak ada Tante Maya, pasti Aurel sudah mencakar-cakar wajah Aldo, lelaki yang selalu membuatnya kesal.
"Sayang, kamu yang sabar ya, Tante akan pastikan, Rafael akan menjadi milik kamu," sanggah Maya, mencoba menenangkan hati wanita pilihannya.
"Iya Tante, makasih ya," balas Aurel, dengan wajah sok sedihnya.
***
Sementara itu, saat Rafael masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap, wajahnya ia benamkan ke dalam bantal.
Perlahan Rafael berjalan menghampiri istrinya, lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayang, maafin atas sikap mama ya, mama memang seperti itu," ujar Rafael, lalu mengelus lembut rambut panjang sang istri.
Perlahan Sila pun bangkit, dan dengan segera ia menghapus air matanya.
Sila pun duduk menghadap ke arah suaminya, lalu menatap wajah lelakinya itu.
"Apa benar kalau kak Rafael sudah dijodohkan dengan Aurel?" tanya Sila, dan itu membuat Rafael terdiam sejenak.
"Apa kamu percaya dengan apa yang mama katakan?" Rafael balik bertanya, dan kali ini, Sila terdiam cukup lama.
Netra mereka saling beradu, Sila menatap lekat mata elang suaminya itu, dari sorot matanya Sila bisa melihat jika suaminya sangat tulus mencintainya.
"Aku takut Kak," lirih Sila, dengan menundukkan kepalanya, Sila takut jika suaminya melihat dirinya menangis.
Mendengar itu, Rafael mengangkat dagu sang istri, meski awalnya Sila menolak, tapi akhirnya Sila mau mendongakkan kepalanya, tapi dia takut untuk menatap wajah lelakinya itu.
Cairan bening itu semakin deras mengalir, membasahi kedua pipi mulusnya.
"Aku takut kalau nanti kak Rafael meninggalkanku," jawab Sila, dan seketika air matanya jatuh dengan sangat deras.
Melihat istrinya menangis, Rafael langsung menarik tubuh Sila dalam dekapannya.
"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu tenang, tapi perlu kamu ketahui, sampai maut menjemput kita, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu adalah wanita yang telah membuatku bisa merasakan apa itu cinta, kamu juga telah berhasil mengisi hatiku yang telah lama kosong, aku bisa tersenyum karenamu, aku bisa tertawa juga karena kamu.
Aku merasa nyaman berada didekatmu, jangan pernah tinggalkan aku, apa pun yang terjadi," tutur Rafael yang membuat hati Sila merasa tenang.
"Aku janji Kak, aku enggak akan ninggalin Kakak, sampai maut memisahkan kita," balas Sila.
Rafael semakin mempererat pelukannya, sementara itu, perlahan mata Sila terpejam, ia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan suaminya, dada bidang terasa begitu nyaman melebihi bantal.
Sampai akhirnya, Sila terbawa ke dalam alam bawah sadar.
Setelah cukup lama, Rafael bisa merasakan jika istrinya telah tertidur, ia pun memutuskan untuk membaringkan tubuh mungil sang istri.
Dengan perlahan Rafael merebahkan tubuh istrinya, setelah itu, ia menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya.
"Aku janji, aku enggak akan ninggalin kamu, meski ada satu rahasia yang belum bisa aku ceritakan, tapi setelah ada waktu yang tepat, aku akan menceritakan padamu," lirih Rafael, lalu mencium kening dan turun ke bibir.
"Selamat malam cintaku, semoga mimpi indah, i love you," bisiknya, dan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
__ADS_1
***
Pagi harinya, saat Sila masih sibuk di kamar mandi, Rafael bergegas turun untuk menemui ibunya.
"Ma, Rafael minta sama mama, jangan pernah mengatakan kalau Rafael dijodohkan dengan Aurel, karena Rafael sudah menikah, dan antara aku dan Aurel sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, jadi Rafael mohon, tolong jaga perasaan istri aku," tegas Rafael, yang membuat Maya terdiam sejenak.
"Rafael, sampai kapanpun mama tidak pernah, dan tidak akan pernah setuju, kamu menikah dengan wanita itu," seru Maya, yang membuat Rafael sedikit emosi.
"Aku tidak peduli ma, karena bagiku, Sila adalah wanita terbaik, yang pernah aku temui," ungkap Rafael, dan berlalu pergi dari hadapan ibunya.
Maya semakin kesal dibuatnya, Rafael yang sekarang bukan Rafael yang dulu.
"Selama aku masih hidup, aku akan pastikan, wanita itu akan keluar sendiri dari rumah ini, bahkan dari kehidupan Rafael," desis Maya, dengan senyum liciknya.
Di kamar Rafael langsung menemui istrinya, yang baru saja selesai bersiap-siap untuk ke kampus.
"Sayang, sudah siap?" tanya Rafael, seraya memakan jasnya.
"Sudah Kak," jawab Sila, lalu membantu Rafael memasang arloji di pergelangan tangan Rafael.
"Terima kasih," ucap Rafael, lalu mencium pipi istrinya.
Seketika wajahnya merah merona, ada getaran aneh dalam hatinya, meski Rafael sudah sering melakukannya, tapi sepertinya hati Sila belum terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Kita sarapan di luar saja ya," pinta Rafael, dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.
Karena Sila sendiri juga malas untuk sarapan di rumah.
Setelah itu, Rafael langsung menggandeng tangan Sila, dan bergegas keluar dari kamar.
***
Kini Sila dan Rafael sudah berada di resto yang sering Rafael datangi, keduanya tengah menikmati sarapan pagi mereka.
Setelah selesai, tiba-tiba handphone Rafael berdering, dengan segera Rafael pun mengangkatnya.
[ Halo, ada apa ]
[ Baik, saya akan segera ke kantor ]
Panggilan pun segera Rafael akhiri.
"Ada apa Kak?" tanya Sila.
"Di kantor ada masalah, aku harus segera ke sana, kamu enggak apa-apa kalau ke kampus sendiri," jelas Rafael.
"Iya enggak apa-apa kok Kak," jawab Sila.
"Ya sudah, aku sudah pesan taksi, kamu tinggal menunggunya di depan, dan ini uang untuk membayarnya," pungkas Rafael.
Sila pun menerima uang tersebut, dan setelah Rafael membayar makanan yang mereka pesan, kini keduanya bergegas keluar dari resto tersebut.
__ADS_1
Rafael segera masuk ke mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sementara itu, Sila masih berdiri di depan resto menunggu taksi yang telah Rafael pesan, tapi tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Sila, dan langsung membekap mulut Sila, hingga tak sadarkan diri.