Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Ban 69 (Curiga)


__ADS_3

Pagi harinya, setelah Andri berangkat kerja, Beeve bersih-bersih kamar, karena sesuai peringatan sang ibu dan adik ipar, tak boleh ada orang lain yang masuk ke dalam area privasinya dan Andri.


Alhasil khusus kamar, Beeve yang harus membersihkannya sendiri. Ketika ia tengah menyapu satu persatu sudut ruangan, tanpa sengaja ia menemukan sebuah anting terseret oleh sapunya dari kolong ranjang.


Dan anting itu tak asing baginya, Kenapa bisa ada disini? batin Beeve.


Karena bersih-bersihnya belum selesai, Beeve pun kembali melanjutkannya.


Setelah semua beres, ia pun mencari Winda yang tengah berada di lantai 2.


Dari lift Beeve melihat Winda yang tengah mengobrol bersama Siska dengan suara pelan, hingga Beeve yang tak jauh dari mereka tak dapat mendengarnya.


Saat keduanya sadar ada kehadiran Beeve di antara mereka, Siska dan Winda pun menjadi sunyi.


“Kalian sedang bicara apa mbak?” tanya Beeve penasaran.


“Bu-bukan apa-apa kok nyah,” jawab Winda kikuk.


“Iya nyah, kita hanya membahas acara pertandingan bola Indonesia melawan Thailand.” timpal Siska menyakinkan Beeve.


“Oh, begitu ya.” ucap Beeve dengan perasaan ragu.


“Mbak, kemarin aku mencari mu, dan katanya kau sakit, makanya aku enggak jadi menemui mu karena tak ingin mengganggu istirahat mu.”


“Ada perlu nyah mencari saya?” tanya Winda was-was.


“Sewaktu Arinda mampir, apa dia sempat masuk ke dalam rumah?” mendengar nama Arinda keduanya menjadi takut, karena mereka masih terbayang akan tragedi yang membuat mereka trauma.


“Mm.. itu.” Winda ragu untuk berkata jujur atau tidak.


“Ada apa mbak? Kenapa kau jadi gugup begitu?”


“Bukan begitu nyah,” Winda bingung harus mengatakan apa.


“Terus bagaimana? Karena aku merasa aneh, enggak biasanya dia datang terus pergi lagi tanpa menemui ku dulu, selama apapun pasti dia tunggu, terlebih dia singgah karena hujan, bagaimana bisa dia pergi di saat hujan petir masih datang?”


“Non Arinda memang sempat masuk ke dalam rumah nyah, tapi hanya sebentar saja, setelah itu langsung pergi,” terang Winda.


Semoga nyonya enggak tanya-tanya yang lain lagi, batin Winda.

__ADS_1


“Apa benar?”


“Iya nyonya.”


“Apa dia jadi meminjam baju ku?” tanya Beeve.


“Enggak nyonya, dia hanya mampir sebentar lalu pergi, untuk alasannya apa, saya kurang tahu.” jawab Winda dengan cepat.


“Begitu ya.” Beeve mencoba meredam rasa penasarannya.


“Baiklah mbak, aku akan kembali ke bawah, kalian teruskan kerjanya.” ujar Beeve meninggalkan kedua Art nya di dekat ruang kerja suaminya.


Tapi kenapa ada antingnya di kamar? Dia memang pernah masuk ke kamar sih, tapi kenapa aku baru menemukan anting ini sekarang? Pada hal tiap hari aku membersihkan dengan benar tiap sudut tanpa celah, hati Beeve terus bertanya-tanya tanpa henti.


Ting!


Ia yang baru tiba ke lantai 1 melangkah kembali menuju kamarnya, dan saat ia masuk kembali ke dalam kamar, ia baru sadar kalau sprei ranjangnya pagi itu bukan yang terakhir kali ia lihat.


“Sebelum pergi membeli kue kan sprei nya bukan yang ini?” gumam Beeve, sebab kemarin sore ia masih ingat dengan jelas, sprei ranjang mereka motif bunga berwarna biru.


“Sebenarnya apa yang terjadi selama aku pergi?” hatinya menjadi tak tenang, terlebih sikap Andri juga aneh padanya.


Beeve yang di penuhi rasa curiga pun duduk di pinggir ranjang.


“Akibat dapat wejangan ektrim nih dari ibu dan Emir,” ucap Beeve pada dirinya.


Karena tak ingin terbawa rasa khawatir berlebih, Beeve beranjak dari ranjang menuju ember baju kotor, ia berniat untuk mengeluarkan semua baju, agar di cuci oleh Art nya.


Ketika ia membuka tutup ember baju kotor tersebut, ia di buat kaget dengan baju dress berwarna pastelnya yang berada disana.


Loh, aku kan belum pakai ini? Bagaimana bisa ada dalam ember? batin Beeve.


Saat ia meraih dress itu, jantungnya berdegup kencang, sebab bagian bahu dress tersebut basah.


“Apa kemarin Arinda benar-benar ada disini?” Beeve yang semakin tak tenang pun mengeluarkan semua isi ember, namun ia tak menemukan sprei yang di ganti sebelumnya.


“Enggak mungkin kan mas Andri melepas dan memasang sprei sendiri, lalu mengantarkannya ke mesin cuci yang ada di area kamar Art?” Beeve yang penasaran setengah mati pun bergegas menuju area kamar para Art nya, Sinta yang sedang mencuci pakaian pun terkejut akan kedatangan majikannya.


“Apa kau mencuci sprei dari kamar ku?” tanya Beeve dengan wajah tegang.

__ADS_1


“Enggak nyah,” jawab Sinta ketakutan.


“Benarkah?” Beeve yang tak percaya mematikan mesin cuci yang sedang beroperasi, kemudian ia mengeluarkan semua isi mesin cuci satu persatu ke dalam ember, namun sayang seribu sayang, di antara kain yang sedang di cuci, ia tak menemukan sprei yang ia cari.


Beeve menelan saliva nya, dan tanpa meminta maaf ia beranjak menuju tong sampah yang ada di depan gerbang rumah.


Meski melelahkan fisik dan batinnya, Beeve tak perduli, yang penting rasa penasarannya tuntas.


Sesampainya ia ke tong sampah, ia kembali tak menemukan apapun, karena semua sampah di rumahnya telah di angkut oleh petugas sampah.


“Apa sebaiknya aku tanya mas Andri? Tapi... aku harus bilang apa? Atau aku telepon Arinda? Iya benar, aku telepon dia saja.” Beeve sudah seperti orang gila pagi itu, mondar mandir kesana kemari.


Sesampainya Beeve di kamar, ia pun mendial nomor Arinda berkali-kali, namun Arinda tak pernah menjawab panggilannya.


“Akh!” ia jadi kesal sendiri, hatinya juga terasa sakit apabila yang ia bayangkan kenyataan.


“Bee tenang, kau tak boleh terlalu curiga, karena semua masih belum jelas, bisa saja memang anting Arinda jatuh saat bersama ku, dan sprei di buang mas Andri karena...” untuk masalah sprei Beeve tak menemukan alasan yang cocok.


Hari itu Beeve habiskan dengan perasaan gelisah tak menentu, sampai-sampai ia lupa untuk makan.


Malam harinya, tepat pada pukul 21:00 malam, Andri tiba di rumah, namun ada yang berbeda, ia tak melihat kehadiran istrinya di ruang tamu.


“Dimana dia?” karena setiap kali ia pulang Beeve selalu menunggunya di sofa ruang tamu.


Ketika Andri masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya memakai piyama gemas berwarna hitam.


“Eh, mas sudah pulang?” ujar Beeve dengan penuh senyum, lalu ia pun mencium telapak tangan suaminya.


“Iya sayang.” balas Andri tanpa mencium Beeve, dan itu membuat kecurigaan Beeve semakin kuat.


“Mau mandi sekarang mas?”


“Iya sayang.” Andri pun masuk ke dalam kamar mandi, tanpa melucuti pakaiannya di hadapan Beeve.


Deg deg deg deg!!! Jantung Beeve berdetak kencang, rasanya ia ingin menangis, perubahan suaminya begitu deratis yang membuat ia meriang seketika.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1




__ADS_2