
“Kita makan dulu baru mengobrol bagaimana pak?” ujar Andri.
“Maaf nih pak Andri, saya sudah makan, dan saat ini juga sedang buru-buru, karena ada kasus lain yang harus saya tangani,” terang Heru.
“Oh, begitu ya pak.”
“Betul pak.”
“Jadi bagaimana pak? Sudah sampai mana kabar pencarian putri saya?” tanya Andri.
“Saya sudah menemukannya pak ” jawab Heru.
“Alhamdulillah ya Allah.” Andri mengusap wajahnya dengan rasa bersyukur.
“Bia sekarang tinggal bersama neneknya Celine di Manado.”
“Manado?” Andri mengernyit dahinya.
“Iya, dan mereka baru pindah kesana, karena bu Celine ternyata asli dari sana, sebelumnya mereka tinggal di Paris, karena kakek Cristian meninggal dunia, neneknya jadi tak ada yang mengurus, makanya mereka kembali ke Indonesia, 3 hari yang lalu,” terang Heru.
“Kalau begitu saya minta alamatnya pak,” pinta Andri.
“Ada, akan saya berikan, sebagai informasi tambahan, Cristian telah meninggal dunia, akibat gagal jantung 3 tahun yang lalu.” Heru memberitahukan kabar duka itu pada Andri.
Meski Andri tak kenal betul dengan Cristian, namun ia merasa sedih mendengarnya, sebab putrinya telah menjadi anak yatim.
“Pantas saja, Beeve dan Cristian lost contact,” gumam Andri.
“Kalian harus siapkan pengacara handal untuk mengambil hak asuh Bia kembali, karena setahu saya, hak asuh Bia telah jatuh ke tangan Cristian 4 tahun yang lalu.” Heru pun mengajari Andri kiat-kiat yang harus di lakukan, agar mereka memenangkan hak asuh Bia di pengadilan, apabila Celine tak mau menyerahkan Bia secara baik-baik.
“Baik pak, saya mengerti, terimakasih atas masukannya, mohon bimbing kami terus, kalau kami butuh bantuan bapak nantinya,” ucap Andri.
“Baik pak, saya akan bersedia membantu jika memang di perlukan.”
Sebelum berpisah, Heru memberi alamat rumah Celine di Manado pada Andri melalui pesan elektronik. Dan Andri pun menuliskan cek dengan jumlah fantastis untuk Heru, yang membuat detektif itu membulatkan matanya.
“I-ini banyak sekali pak.” ucap Heru gelagapan.
“Itu enggak seberapa, terimakasih banyak pak Heru.” Keduanya pun berjabatan tangan kembali, selanjutnya itu Andri keluar dari dalam kafe dengan perasaan riang gembira.
Setelah Andri masuk ke dalam mobilnya, ia pun langsung membelah jalan raya menuju rumah barunya bersama Beeve. Sesampainya ia ke rumah, Andri pun menekan bel rumah.
Ting tong ting tong!
Beeve yang berada di dalam membuka pintu dengan segera.
Ceklek! Andri yang bersemangat langsung mencium pipi Beeve.
“Ummuah! Assalamu'alaikum sayang!”
“Walaikumsalam mas.” sahut Beeve. Lalu Andri merangkul bahu istrinya masuk ke dalam rumah.
“Ada apa mas? Kenapa kau bersemangat sekali?” tanya Beeve.
Andri yang ingin memberitahu Beeve malah mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Kasih kejutan saja deh! batin Andri.
“Aku jadi semangat karena kita sudah pindah!” terang Andri.
“Oh, kirain ada apa.”
“Hari ini kau masak apa sayang? Aku sudah lapar banget nih.” Andri mengelus-elus perutnya.
“Aku masak sayur bening dan ayam goreng mas, aku juga sudah lapar, ayo kita makan.” Beeve dan Andri pun menuju dapur yang sekaligus dengan ruang makan.
Saat Andri membuka tudung nasi, aroma harum masakan istrinya pun tercium.
“Wah!! Lezat sekali, ku yakin ini 100% enak!”
“Di coba dulu mas, jangan asal puji.” ucap Beeve seraya menyajikan nasi untuk suaminya.
Kemudian Andri pun duduk di kursi, begitu pula dengan Beeve, lalu keluarga kecil itu pun makan bersama.
Andri makan begitu lahap, hingga minta tambah 3 kali. Beeve cukup senang melihat suaminya yang kuat makan, terlebih tubuh Andri sekarang sudah mulai berisi.
Setelah selesai makan, Andri mengusap setiap sudut bibirnya dengan tisu.
“Sayang.”
“Iya mas?” sahut Beeve.
“Sabtu kita liburan yuk!” ajak Andri pada Beeve.
“Liburan kemana mas?”
“Kenapa harus Manado mas?” tanya Beeve penasaran.
“Karena ada tempat istimewa yang ingin ku kunjungi disana, ku yakin 1000% kau pasti suka sayang!” semangat Andri begitu menggebu-gebu saat bicara pada Beeve.
“Wah! Pasti tempatnya bagus banget, makanya mas percaya kalau aku suka, walau pun aku belum lihat,” ujar Beeve.
“Iya dong sayang,” ucap Andri.
Keesokan harinya, Beeve yang belum bekerja memutuskan untuk datang terlebih dahulu ke rumah mertuanya.
Sesampainya Beeve, ia langsung mencari Rahma, namun ia tak menemukan dimana pun.
“Loh, ibu mana sih?” gumam Beeve.
Saat ia akan beranjak ke dapur, tiba-tiba ia berpapasan dengan Emir.
“Ibu mana mas?” tanya Beeve.
“Masih di jalan,” jawab Emir.
“Oh, aku harus bantu apa nih mas?”
“Semua sudah di siapkan oleh ibu dan ayah,” ungkap Emir.
“Oh, begitu ya.” Beeve yang bingung harus melakukan apa di rumah mertuanya memutuskan untuk ke teras, sebab ia tak enak lama-lama bersama Emir dalam tempat yang sama.
__ADS_1
“Aku duduk di teras ya mas.” ucap Beeve.
“Tunggu,” Emir menggenggam tangan Beeve.
“Ada apa mas?” tanya Beeve.
“Bee, haruskah aku melakukan pertunangan ini?”
“Ya harus dong mas, lagi pula Helena itu gadis baik, cantik dan juga pintar,” terang Beeve.
“Tapi hatiku merasa berat, batin ku tak terima Bee.” Emir memegang kedua bahu Beeve dengan tangannya.
“Mas, itu karena kau belum mencoba, menurut ku, apa kata ibu dan ayah benar, enggak mungkin kau sendiri seumur hidup mu, jangan harapkan aku mas, karena aku enggak akan mungkin bersama mu,” terang Beeve.
“Apa enggak ada sedikit pun perasaan mu pada ku?” Emir sangat berharap Beeve mengatakan sesuatu yang membuat ia senang.
“Enggak ada mas, maafkan aku, tolong berhenti mengejar ku.” Beeve pun melepaskan kedua tangan Emir dari bahunya, namun Emir malah memeluknya.
“Kenapa Tuhan tak menjodohkan kita? Aku sangat mencintai mu.” Emir memeluk erat tubuh Beeve.
“Mas, lepaskan aku! Nanti ada yang lihat bisa jadi salah paham, aku enggak mau ibu dan ayah marah pada ku karena hal ini!” Beeve terus meronta. Namun Emir tak mau melepaskannya.
“Mas Emir! Lepaskan aku!!!” hardik Beeve.
Saat keduanya masih berpelukan, tiba-tiba Yudi dan Rahma masuk ke dalam rumah.
“Assalamu'alaikum!” ucap Rahma. Sontak Emir melepas pelukannya dari Beeve, beruntung kedua orang tuanya tak melihatnya.
Astaga! Hampir saja! batin Beeve.
“Loh Bee, kau sudah datang?” Rahma pun mendekat pada Beeve yang berada di ruang tamu.
“Iya bu, aku ingin bantu-bantu, mana tahu tenaga ku di perlukan,” ucap Beeve.
“Semua sudah beres, tadi ayah dan ibu belanja baju untuk keluarga kita, agar memakai pakaian seragam, Andri pulang jam berapa?”
“Paling 1 jam lagi bu.”
“Oh, ya sudah kalau begitu, ayo ke kamar, kita coba baju yang baru ibu beli, semoga ukurannya pas untuk mu.” keduanya pun beranjak menuju kamar Rahma.
Yudi sendiri menyerahkan baju batik berwarna abu-abu dan celana hitam pada Emir.
“Nanti pakai baju ini.” setelah itu Yudi meninggalkan putranya menuju kolam berenang untuk merokok.
“Ck.” Emir berdecak.
Beeve dan Rahma yang telah selesai mencoba baju kebaya berwarna merah muda di padukan dengan rok batik warna senada menjadikan menantu dan ibu mertua itu tampak elegan dan cantik.
“Cocok banget Bee, untung ibu enggak salah pilih, apa kau suka?” ucap Rahma yang sedang berkaca.
“Aku suka bu, ibu pintar banget memilih baju,” Beeve memuji sang ibu mertua.
“Iya dong, nanti kalau ibu punya cucu dari kalian, pasti ibu akan sibuk memborong baju yang ada di toko, hahaha.” Beeve tertawa kecil mendengar perkataan mertuanya, yang begitu berharap ia dan Andri memiliki keturunan.
...Bersambung......
__ADS_1