
Keceriaan nampak dari wajah Beeve yang manis, namun sayangnya tak semua orang merasakan hal yang sama.
Terutama Andri yang was-was kalau Arinda sewaktu-waktu datang mengusik kehidupan rumah tangganya kembali.
Setelah selesai dengan acara makan bersama bersama para Art , Andri meminta izin pada Beeve untuk ke kamar terlebih dahulu.
“Sayang, aku ke kamar duluan ya,”
“Cepat banget mas,”
“Aku mau buang hajat sebentar sayang,” ucap Andri.
“Oh, iya mas, cepatlah nanti malah keluar di celana.” Beeve mencoba menggoda suaminya.
Andri hanya tersenyum tipis, lalu melenggang pergi, yang membuat Beeve merasa aneh.
Apa mas Andri lagi ada masalah? batin Beeve.
Sementara Andri yang telah tiba di kamar memijit pelipis kepalanya yang terasa berat dan sakit.
Ia kembali terbayang akan dosa yang ia lakukan bersama Arinda.
“Mudah-mudahan saja dia enggak hamil,” gumam Andri.
Saat ia masih bergulat dalam ke khawatirannya, Beeve masuk ke dalam kamar seraya menelpon.
📲 “Halo Nda, kau sudah sampai rumah?” Beeve.
Andri yang melihat istrinya menelpon Arinda menjadi panik.
📲 “Su-sudah Bee, ada apa kau menelpon?” Arinda.
📲 “Aku hanya merasa aneh, kau mampir karena hujan, tapi kembali saat masih hujan deras, apa ada hal yang mendesak?” Beeve.
📲 “I-iya, aku ada urusan mendadak,” Arinda.
Suara Arinda yang sangat serak membuat Beeve khawatir.
📲 “Apa kau sakit Nda? Kenapa suara mu serak seperti habis nangis?” Beeve.
📲 “Bukan apa-apa, sudah dulu ya, aku sedang sibuk,” Arinda.
📲 “Oh, oke maaf kalau aku mengganggu waktu mu,” Beeve.
Arinda yang masih merasa takut buru-buru mematikan teleponnya.
Andri yang duduk di pinggir ranjang mulai mencari tahu apa yang di katakan Arinda pada istrinya.
“Hmmm, sayang kau teleponan dengan Arinda ya?”
“Iya mas,”
“Apa sudah lama kalian teleponan?”
“Lumayan mas, tapi dia seperti habis menangis, apa mungkin dia ada masalah ya?” ucap Beeve.
“Sudah sayang, jangan urusi yang bukan urusan mu, fokus saja pada ku, mengerti?” ujar Andri dengan tersenyum manis.
__ADS_1
“Aku kan selalu fokus pada mas.” Beeve mengusap-usap puncak kepala suaminya.
Jangan sampai Beeve tahu segalanya, kalau tidak, semua kehangatan ini akan berakhir, batin Andri.
________________________________________________
Sedangkan Arinda yang berada di rumah sakit merasa prustasi dan gusar pada Andri.
Sialan! batinnya.
Dokter wanita yang menangani Arinda pun mulai menasehatinya.
“Apa pun yang terjadi dalam hidup mu, jangan lakukan bunuh diri dek, melanggar suratan takdir yang kuasa hanya akan menimbulkan masalah baru di alam kubur mu nantinya, di dunia sih memang sudah selesai, tapi kau akan akan berakhir di neraka selamanya,”
“Apa aku terlihat seperti orang yang akan menyiksa diri dok?” ucap Arinda.
“Lalu, apa ada yang mencoba menghabisi nyawa mu dengan menyayat urat nadi mu?”
“Ya kau benar dok?”
“Tanggung sekali, bukannya hanya akan menimbulkan masalah untuknya kalau kau masih berkeliaran?” sang dokter tersenyum geli, karena ia berpikir Arinda berbohong.
Arinda yang emosi pun berkat pada sang dokter.
“Aku mau visum,”
“Apa?”
Aku enggak bisa terima begitu saja perbuatannya pada ku, awas saja kau Andri! Kau harus membayar segalanya, batin Arinda.
Kalau kau nekat, aku pun bisa melakukan lebih dari yang kau pikirkan, aku enggak mau rugi sendirian. batin Arinda.
Ia pun tersenyum sendiri yang membuat dokter geleng-geleng kepala.
_____________________________________________
Keesokan harinya, ketika Andri ingin berangkat ke kantor, Beeve melihat wajah suaminya begitu pucat.
“Kau kenapa mas? Wajah mu pucat sekali, apa kau sakit?” Beeve meletakkan punggung tangannya ke kening suaminya.
“Enggak sayang, aku baik-baik saja.” wajah pucat Andri di sebabkan tak tidur semalaman, dan juga merasa bersalah pada istrinya.
“Kalau sakit jangan ke kantor, istirahat saja, serahkan semua urusan pada asisten mu,” ujar Beeve.
“Tak apa sayang, aku sehat kok, aku berangkat sekarang ya.” Beeve yang menunggu ritual dari suaminya di buat heran, sebab Andri kali itu pergi tanpa menjabat dan menciumnya seperti biasa.
Andri sendiri tak sadar akan apa yang ia lakukan, karena kepalanya penuh dengan keresahan dan ketakutan akan keretakan yang akan terjadi pada rumah tangganya suatu hari apabila Arinda buka suara.
Tanpa menoleh ke Beeve, ia masuk ke dalam mobil, Ali sang supir pun segera melaju menuju kantor.
Apa yang membuat mu resah mas? Apa aku melakukan kesalahan padanya? Atau mas Andri curiga akan kehamilan ku? batin Beeve.
Perubahan mendadak Andri membuat Beeve tak tenang.
Ia yang kembali ke dalam rumah pun tanpa sengaja menabrak tubuh Emir.
Bruk!!
__ADS_1
“Aduh,” Beeve mendongak. “Eh mas Emir, maaf aku enggak sengaja,” ucap Beeve.
“Ada apa Bee? Ku lihat kau sedang memikirkan sesuatu,” ucap Emir.
“Aku...” Beeve segera mengurungkan niatnya yang ingin curhat pada Emir.
“Bukan apa-apa mas,”
“Ceritakan saja, siapa tahu aku bisa bantu.” ucap Emir sudah sadar ada yang tak beres pada Andri.
Cerita ke dia belum tentu dapat solusi, lebih baik aku cerita pada mbak Winda saja, batin Beeve.
“Semua aman kok mas, aku hanya kepikiran keranjang sopi ku yang belum di cek out.” jawab Beeve yang membuat Emir tertawa.
“Hahaha, mau aku bayarin?”
“Enggak usah mas, aku juga punya banyak uang kok, sudah ya mas, aku mau cari mbak Winda,”
“Untuk apa?” tanya Emir.
“Kepo banget kau mas, sudah ah! Aku mau pergi, pengen tahu saja urusan wanita,” ucap Beeve.
“Ya sudah kalau begitu, tapi aku sebentar lagi ada syuting, mau ikut enggak?” Emir mengajak Beeve untuk syuting iklan produk sandal terbaru.
“Terimakasih mas, semoga sukses syutingnya.” ucap Beeve seraya meninggalkan Emir di ruang tamu.
________________________________________________
Andri yang baru keluar dari bank merasa sedikit lega, karena ia telah membayar hutang janjinya pada Arinda.
“Semoga setelah ini ia pergi jauh, yang terpenting semoga dia enggak hamil, aamiin,” gumam Andri.
Setelah itu ia berangkat menuju kantor yang jaraknya hanya 3 menit dari bank.
Sesampainya ia di kantor , Ayu sebagai senior dari Arinda pun menyampaikan pada Andri terkait Arinda yang tak masuk kerja.
“Pak, hari ini Arinda enggak masuk, dan juga enggak ada kabar, apa dia izin pada bapak?”
“Dia sudah mengundurkan diri.” ucap Andri singkat, seraya masuk ke ruangannya.
Dan kabar itu tentu saja membuat Yeni kegirangan, karena kini ia menjadi satu-satunya kandidat yang tersisa, yang otomatis akan menjadi sekretaris tetap.
“Apa dia dapat kerjaan baru ya kak?” ucap Yeni.
“Siapa yang perduli, yang jelas dia sudah enggak disini,” ujar Ayu.
“Betul, beruntung sekali nasib ku.” Yeni sangat berterima kasih pada yang kuasa, atas rezeki yang ia peroleh saat itu.
Sementara Andri yang telah berada di ruangannya melihat kehadiran sahabatnya disana.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1