Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 199 (Sombong)


__ADS_3

“Sebenarnya aku malas.” gumam Beeve, ia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Beeve mendaftar Bia untuk masuk PAUD, kebetulan saat itu sudah di mulai pembelajaran, namun atas permintaan Beeve, Bia pun bisa masuk pada ajaran baru tersebut.


Setelah selesai dengan pendaftaran putrinya, Beeve dan Bia menuju restoran yang sedang di renovasi. Sesampainya ibu dan anak itu di tujuan, Bia bertanya pada ibunya.


“Ma, ini mau buat apa?” Bia menunjuk ke arah restoran yang baru setengah jadi.


“Restoran nak,” jawab Beeve.


“Restoran siapa ma?”


“Restoran milik Bia.”


“Ha? Maksud aku ma?” Bia menunjuk dirinya sendiri.


“Iya nak, ini punya Bia, nama Restoran ini Bia Food!” terang Beeve.


“Wah, berarti Bia orang kaya dong ma?” ucapan putrinya yang membuat Beeve tertawa.


“Iya dong sayang, untuk sekarang mama dulu yang mengelola, tapi... kalau Bia sudah besar, baru Bia yang melanjutkan, maka dari itu Bia harus sekolah dan belajar yang rajin ya sayang.” Beeve menyemangati putri semata wayangnya.


Saat keduanya masih memantau, handphone Beeve tiba-tibq bergetar.


Drrrt...


Ketika ia periksa, ternyata itu pesan dari Julian sang abang.


Bee, kau ada dimana? ✉️ Julian.


Di restoran bang. ✉️ Beeve.


Aku yang datang ke rumah mu, atau kau yang datang ke rumah? ✉️ Julian.


Memangnya ada apa bang? ✉️ Beeve.


Dasar bodoh, aku kan belum bertemu ponakan ku, ✉️ Julian.


“Oh iya, bang Julian kan kemarin di luar kota, makanya enggak bisa bertemu Bia,” gumam Beeve.


Ketika Beeve ingin mengatakan Julian saja yang datang ke rumah mereka, ia pun berpikir ulang.


Bia kan belum mengenal rumah kakek neneknya, lebih baik kami saja yang kesana, batin Beeve.


Kami saja bang yang ke rumah, tapi besok ya. ✉️ Beeve.


Oke, ku tunggu. ✉️ Julian.


Selesai berkirim pesan dengan Julian, Beeve mengambil photo restorannya, kemudian ia pun mengirimnya pada Andri.


Selanjutnya, Beeve membawa Bia ke kafe yang ada di seberang restorannya untuk makan siang.

__ADS_1


Setelah selesai mengisi perut, Beeve menuju mall yang alamatnya telah di kirim oleh Rahma.


Beeve dan Bia berangkat dengan menaiki mobil pribadi. Setelah 2 jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tujuan.


Aku sudah sampai mall bu. ✉️ Beeve.


Oke, tapi ibu masih di jalan ya. ✉️ Rahma.


Beeve dan Bia pun berbelanja mainan sembari menunggu mertuanya datang.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Rahma datang dengan membawa Helena.


“Hai kak Bee, kita ketemu lagi.” Helena yang ramah merangkul bahu Beeve.


“Hai juga Helena,” sahut Beeve.


“Nenek!!” dari bilik ganti baju Bia berlari memeluk Rahma.


“Eh, cucu nenek, lagi coba baju baru ya?” ucap Rahma seraya menggendong Bia.


“Iya nek, di beli mama.” Helena yang tak mengenal Bia pun bertanya pada calon mertuanya.


“Ini siapa tan?”


“Ini anak Beeve dan Andri,” jawab Rahma.


“Loh, aku pikir belum punya anak.”


“Oh... halo adik kecil namanya siapa?”


“Bia tante,” jawab Bia.


“Tante? Aduh jangan panggil tante dong, kakak saja, karena kakak hanya beda usia sedikit dengan mu.” Helena yang anti di panggil tante pun membuat Beeve dan Rahma tertawa geli.


“Ya kalau kau menikah dengan Emir, mau enggak mau, Bia harus memanggil mu tante," ujar Rahma.


“Benar, lagi pula kalau di panggil kakak juga ketuaan,” timpal Beeve.


“Ya ampun tante... kak Beeve, aku kan masih usia 20 tahunan, bukan 30.”


“Sudahlah, terima saja di panggil tante oleh Bia,” ucap Rahma.


Selesai dengan percakapan itu, mereka lanjut menuju toko butik langganan Rahma.


Helena dan Rahma begitu lengket, layaknya sudah kenal sejak lama, sementara Beeve hanya berjalan di belakang mereka berdua.


“Ayo Bee, coba kebayanya.” Rahma menyuruh Beeve untuk mencoba kebaya yang telah ia pesan sebelumya. Untuk Bia pun mereka membuat ukuran kecilnya.


Beeve merasa cocok dengan pilihan mertuanya, alhasil mereka membeli baju kebaya tersebut.


Saat Rahma masih mengobrol dengan pemilik toko, Helena datang dengan membawa setelan dress indah untuk Beeve.

__ADS_1


“Kak Bee, ayo coba dress yang ini, ku rasa pasti cocok untuk mu,” ucap Helena.


“Oh ya?”


“Iya kak, ku lihat kakak kurang bisa memilih baju, pada hal kakak cantik loh.” Beeve yang kurang suka pada Helena sedari pertama bertemu bertambah tak ilfeel.


“Pada hal uang bang Andri banyak kak, kenapa kakak enggak gunakan sedikit untuk belanja baju bermerek? Tahu sendirikan kak, laki-laki zaman sekarang, mata dan hatinya enggak bisa di jaga, maka dari itu kita sebagai perempuan wajib merawat diri kita sendiri luar dan dalam, agar enggak jajan di luar.” Helena menerangkan panjang lebar masalah pria pada Beeve yang sudah berumah tangga.


“Apa aku kurang keren di mata mu?” tanya Beeve dengan perasaan kesal.


“Maaf ya kak, kalau menyinggung perasaan kakak, tapi ini untuk kebaikan kakak juga, sejujurnya ku katakan memang kurang keren, kakak seperti ku bilang cantik banget, tapi... kurang bisa bergaya, baju kakak terlalu sederhana, tapi tenang, kalau aku sudah menikah dengan bang Emir, aku akan temani kakak belanja, tak perlu cemas, aku yang bayar hehehe!” Helena yang berpikir Beeve bukan anak orang kaya tanpa sadar malah meremehkannya.


Sialan! Awas saja kau biar ku kerjai, batin Beeve.


“Wah! Yang benar Helena, kau mau membayar belanjaan ku?” tanya Beeve.


“Tentu saja kak, tapi... dengan syarat bajunya harus cocok di mata ku, bagaimana?”


“Ya, enggak masalah kalau soal itu.” ujar Beeve yang telah menyiapkannya rencana licik untuk Helena.


“Oke kak, kakak pilih saja, nanti aku akan tentukan mana yang cocok untuk mu, maaf ya kak, 1 lagi yang ingin ku katakan pada mu, hampir saja terlupa.”


“Apa itu?” tanya Beeve.


“Bang Andri kan calon CEO di masa yang akan datang, pasti banyak perempuan yang akan menggodanya, tentunya dari berbagai kalangan yang pendidikannya tinggi, kakak yang hanya tamatan SMA, kalau enggak kuliah, minimal perbaiki penampilan, karena sejujurnya penampilan itu lebih utama di bandingkan otak bagi sebagain besar pria di muka bumi ini.” kata-kata menohok Helena sangat membuat Beeve tersinggung.


Walau pun hampir semua yang di katakan Helena itu benar, namun Beeve merasa sangat tidak di hargai sebagai keluarga besar Han.


Anak ini bodoh atau bagaimana sih? Bicaranya enggak di saring sama sekali, batin Beeve.


Beeve yang ingin membalas kesombongan Helena pun mengeluarkan skill belanja dan borosnya pada Helena.


“Kau punya kartu kredit jenis apa sih? Sehingga kau sombong begitu pada ku?” gumam Beeve.


Beeve pun mulai memilih-milih baju yang menurutnya bagus tentunya dengan harga selangit.


Ia pun memperlihatkan satu persatu baju baju yang ia pilih pada Helena, hingga Helena terkejut.


Loh, kak Beeve ternyata bisa memilih pakaian? batin Helena.


Helena yang tak pernah berbelanja ke butik itu tak tahu menahu soal harga disana.


Ia pun asal mengangguk dengan pakaian apa saja yang bagus di matanya dari yang Beeve ambil.


Hingga Rahma yang telah menyelesaikan urusannya dengan pemilik toko, melihat Beeve membawa 2 troli dengan tumpukan baju menggunung.


Anak ini enggak punya baju di rumahnya ya? batin Rahma.


Rahma pun bersikap biasa saja saat menantunya memborong baju dengan jumlah yang banyak.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2