Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 62 (5 Cm)


__ADS_3

“Cabangnya Kan banyak, kalau potongnya setengah-setengah nanti cabang lainnya bertumbuh,”ujar Emir.


“Oh, gitu ya mas,” ucap Beeve.


Winda yang melihat rambut majikannya di potong begitu banyak menjadi deg degan.


Aku enggak ikutan pokoknya, batin Winda.


Seusai acara potong rambut selesai, Emir mulai mencat rambut Beeve dengan warna medium blonde, setelah semua rambut telah terlumuri, Emir pun mendiamkannya beberapa saat.


“Mas, kalau jelek awas ya,” Beeve mengancam Emir.


“Sudah pasti bagus,” ucap Emir.


1 jam kemudian, Emir menarik selang air ke tempat Beeve duduk, setelah itu ia menyandarkan leher Beeve ke punggung bangku.


Dengan lembut Emir membilas rambut orang yang ia kasihi itu, hingga Beeve pun merasakan kantuk yang tak tertahankan.


Zzzz..., lagu-lagi Beeve mendengkur kecil, yang membuat Emir tertawa.


Selesai membilas rambut Beeve, ia pun mengeringkannya dengan hair dryer.


Setelah semua selesai, Emir membangunkan Beeve.


“Bee..., Bee, ayo bangun, sudah selesai, kalau masih ngantuk ke kamar saja,” ujar Emir.


“Mmm...,” perlahan Beeve membuka matanya.


“Pindah ke kamar sana,”


“Iya mas, sudah selesaikan?”


“Sudah, sini kameranya,” ucap Emir. Lalu Winda pun mengembalikan kamera milik Emir.


Beeve yang merasa kepalanya terasa ringan mulai menaruh curiga, ia pun bergegas ke kamar, namun dari kaca pintu kolam ia sudah dapat melihat rambut indah panjangnya kini menjadi pendek, dan itu di luar permintaannya.


“Mas!!!!” Beeve berteriak keras pada Emir.


Winda yang tahu akan ada peperangan pun memilih menyelamatkan diri, masuk ke dalam rumah.


“Bagaimana? Cantik kan?” ucap Emir dengan santai.


“Cantik darimana? Ini sih jelek dan terlalu pendek, kan sudah ku bilang, 5 centi mas!” Beeve yang begitu menyayangi rambutnya mulai menangis, ia pun kembali ke tempat duduknya tadi, dan membuka bungkusan plastik yang penuh dengan rambutnya.


“Hiks..., kau jahat mas! Pada hal aku sudah bilang 5 centi, kenapa kau malah potong sependek ini? Huahhh....,” Beeve menangis karena kecewa.


Emir yang merasa sudah kelewatan pun menjadi tak enak.


“Bee, maafkan aku, ku pikir kau akan suka, lagi pula kau cantik kok kalau begini,” ucap Emir menenangkan Beeve.


“Cantik dari mana? Kan aku suka rambut panjang ku mas! Kau kenapa selalu jahat pada ku sih!” Beeve makin sesungukan, Emir yang merasa bersalah berniat mengelus rambut Beeve.


“Bee, maafkan aku,”


“Jangan sentuh rambut ku lagi, Tega kau! Enggak berperasaan, pembohong! Mulut mu juga kasar, pada hal aku enggak ada salah pun pada mu mas! Hiks..., aku benci kau mas!!!” Beeve yang marah membawa rambutnya kembali menuju kamarnya.

__ADS_1


Deg deg deg deg!!!


Hati Emir menjadi resah dan juga perih, saat orang yang ia cintai menangis karena ulahnya.


Dia benar-benar marah? batin Emir.


Lalu Emir yang tak ingin masalah di antara mereka berbuntut panjang menyusul Beeve.


“Bee, tunggu! Maafkan aku,” Emir memegang pundak Beeve.


“Jangan ganggu aku! Lepaskan tangan mu dari pundak ku,” Beeve menepis tangan Emir.


“Jangan marah Bee, sebagai permintaan maaf, aku akan belikan kau sampo kuda, agar rambut mu cepat panjang,” Emir membujuk Beeve semampunya.


“Memang bisa panjang dalam sekejap? Enggak kan? Harus nunggu berbulan-bulan juga kan mas! Iiih, mas Emir bikin kesal!” pekik Beeve meninggalkan adik iparnya di kolam sendirian.


Hati Emir teramat hancur, lebih hancur dari saat pertama ia tahu Beeve dan Andri akan menikah, ia pun dengan sigap mencari sampoo terbaik secara online, agar rambut orang yang ia cintai panjang lebih cepat.


Di kamar Beeve terus menangis, meratapi nasib rambutnya yang kini terpisah dari dirinya.


Saat ia masih berkabung, Andri memvideo call dirinya.


Sebelum mengangkatnya, Beeve terlebih dahulu menyeka air matanya.


📲 “Halo mas?” Beeve.


📲 “Sayang, kau menangis?” Andri.


📲 “Enggak kok mas,” Beeve.


📲 “Jangan bohong, ada apa sayang? Cerita pada ku,” Andri.


📲 “Hiks..., mas Emir,” Beeve.


📲 “Kenapa dengan dia?” Andri.


📲 “Apa mas enggak bisa lihat? Dia memotong rambut ku jadi sependek ini, hiks...” Beeve.


Beeve pun menunjukkan rambutnya yang kini hanya sebahu.


📲 “Mana dia! Biar aku marahi! Berani-beraninya dia memotong rambut indah istri ku!” Andri.


📲 “Dia di kolam! Pokoknya mas harus marahi dia! Aku enggak mau tahu, hiks...” Beeve.


📲 “Ya sudah sayang, hari ini aku akan cepat pulang, dan akan memarahi dia secara langsung, sudah kau jangan menangis, kasihan bayi kita, aku tutup dulu ya, karena mau kembali ke kantor,” Andri.


📲 “Iya mas,” Beeve.


Setelah mengadu pada suaminya, perasaan Beeve jauh lebih lega, ia yang lapar pun menuju dapur untuk makan.


Dan sesampainya ia di dapur, ternyata ada Emir yang sedang duduk di meja makan, dan itu membuat ia merasa jengkel.


“Bee.” Beeve mengabaikan sapaan Emir padanya.


“Kau masih marah?” Emir terus mengajaknya bicara, namun Beeve tak menganggap kalau ada Emir disana.

__ADS_1


Selesai mengambil nasi dan lauk, Beeve memilih makan di ruang tamu.


Bikin sebal saja, kapan sih dia pulang! batin Beeve.


Pukul 18:00 malam, Andri yang baru pulang kerja pun mendapati istrinya tengah bermain handphone di ruang tamu.


Beeve yang mengetahui suaminya datang bergegas menghampiri.


“Maaas,” Beeve memeluk tubuh Andri.


Andri yang melihat penampilan baru istrinya di buat terpanah, pasalnya Beeve lebih terlihat cantik dan fresh dengan rambut pendek.


Cantiknya, batin Andri.


“Mas, rambut ku jadi jelek kan, itu semua karena mas Emir, hiks...” Beeve yang masih tak ikhlas akan rambutnya kembali menangis.


“Hmmm, bagus kok sayang ” ucap Andri seraya membelai rambut istrinya.


“Bagus dari mana sih mas ” saat keduanya masih mengobrol tiba-tiba Emir muncul yang membuat Beeve mengingatkan akan janji suaminya.


“Mas Emir, datang tuh mas, marahi dia, cepat.” ucap Beeve dengan suara yang pelan.


Untuk menyenangkan hati istrinya Andri pun mulai berakting.


“Kau! Beraninya memotong rambut istri ku!” hardik Andri yang masih memeluk Beeve.


“Pada hal dia suka dengan rambut panjangnya, kau buat dia menangis sampai matanya bengkak, tega sekali kau pada kakak ipar mu!” hardik Andri


Bagus mas, marahi terus, batin Beeve.


“Apa kau mau ku botak sebagai balasan perbuatan mu pada istri cantik ku!” meski Andri telah mengoceh panjang kali lebar, namun Emir yang biasanya tak mau kalah, kini memilih diam.


Hatinya teramat sakit, karena Beeve tak mau bicara dan melihat wajahnya lagi.


Terlebih pelukan yang ia saksikan seakan merobek pembuluh darahnya.


Sedang Andri yang tak menerima respon apapun dari adiknya menjadi merasa bersalah.


Apa dia sakit hati atas perkataan ku? batin Andri.


Ia pun mulai mengedipkan mata dan menggerakkan mulutnya, yang berkata, “Cuma akting.” namun Emir tak meresponnya, sebab hatinya tak sejalan lagi dengan pikirannya.


“Awas ya kalau kau ulangi lagi!” ucap Andri menyudahi dramanya.


Nama : Beeve An Mahveen


Usia : 17 Tahun


Tinggi : 165 cm



...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1




__ADS_2