Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 266 (Lewat)


__ADS_3

“Baiklah.” Andri pun harus bersabar menunggu keputusan dari dokter.


Siang harinya, setelah Andri selesai di periksa oleh dokter, Emir pun bertanya tentang kepulangan saudaranya di luar ruangan.


“Kira-kira kapan Andri bisa pulang dok?” tanya Emir.


“Saya belum bisa memastikan pak Emir, karena kondisinya semakin buruk.” terang sang dokter.


“Begitu ya dok,” Emir mengangguk paham.


“Kita harus satu do'a, semoga pak Andri cepat sembuh,” ucap sang dokter.


“Baik dok, terimakasih banyak.” Emir pun kembali ke dalam ruangan.


“Bagaimana Mir?” Andri sangat berharap jika ia mendengar kabar baik.


“Kau belum bisa pulang sekarang,” ucap Emir.


“Hem.. sayang sekali,” Andri tertunduk lesu.


“Sabar mas, sekarang kita fokus untuk perawatan mu dulu,” ujar Beeve.


Andri pun mengerti, ia tak lagi meminta untuk pulang, karena takut merepotkan orang lain.


Semakin hari kesehatan Andri makin menurun, tubuhnya juga makin kurus dan keriput.


Hingga 3 bulan kemudian, Andri yang tak pernah keluar dari ruangan rumah sakit di temani oleh Beeve mengobrol.


“Lihat mas, ini photo bayi kita.” Beeve menunjukkan hasil USG 4D yang ia cetak pada suaminya.


“Mereka bertiga sama-sama tampan,” ucap Andri.


“Sama seperti mu mas,” ujar Beeve.


“Aku tampan?” ucap Andri tak percaya diri, sebab fisiknya sekarang terlihat sepu.


“Iya mas, bahkan sangat tampan.” ujar Beeve, seraya mencium pipi Andri.


“Sudah ku bilang, jangan cium aku, nanti kau ketularan sesak nafas ku.” sejak Andri sadar 3 bulan yang lalu, ia selalu menolak melakukan kontak fisik dengan istrinya.


“Enggak apa-apa mas, enggak akan menular.” Beeve yang tak perduli akan kesehatannya pun mencium Andri berulang kali.


“Susah banget sih di kasih tahu!” meski Andri berlagak kesal, sesungguhnya ia merasa bahagia, dari musibah yang ia alami, ia dapat melihat, kalau Beeve tulus mencintainya dari hati, bukan karena harta atau fisiknya yang prima.


“Aku bosan di kamar terus,” Andri berniat ingin keluar untuk jalan-jalan.


“Nanti ada saatnya untuk keluar mas,” ujar Beeve.


“Tapi aku ingin jalan-jalan sekarang, aku rindu menghirup udara segar.” Andri yang sudah lama terbaring di ranjang begitu ingin melihat dunia luar secara langsung.


“Nanti aku tanya dokter, boleh apa enggak ya mas, sekarang tidurlah lagi.” Beeve menembangkan sebuah lagu cinta dari Bunga Citra Lestari yang berjudul cinta abadi pada suaminya.

__ADS_1


Belum usai Beeve bernyanyi, Andri telah mendengkur.


“Cepat banget tidurnya.” gumam Beeve, ia pun mengelus puncak kepala suaminya.


“Aku sangat mencintai mu mas, melebihi siapapun.” Andri yang ternyata belum tidur mendengar perkataan istrinya.


Aku juga begitu Bee, kalau di tanya, lebih suyang anak atau istri, maka akan ku jawab istri, sebab kau adalah tulang rusuk yang di titipkan Allah untuk ku, kau jugalah yang menemani ku dalam keadaan suka dan duka, Tuhan, beri selalu kekuatan dan kesehatan pada istri ku, apapun yang terjadi kedepannya, semoga ia dapat menerima takdir yang kau berikan, aamiin, batin Andri.


Sore harinya, Yudi yang datang ke rumah sakit membawa berkas surat warisan yang di minta oleh putranya.


Yudi yang duduk di sebelah ranjang Andri pun menunjukkan surat-surat tersebut pada pria malang tersebut.


“Maaf, agak lama nak, karena ayah begitu sibuk di kantor, jadi baru bisa mengurusnya baru-baru ini,” terang Yudi. Beeve yang tak tahu apapun merasa bingung.


“Itu apa yah?” tanya Beeve penasaran.


“Surat warisan, pembagian harta untuk Bia dan juga ketiga adiknya.” terang Yudi. Seketika Beeve tersentak, ia tak menduga, jika suaminya masih sempat memikirkan masa depan anak-anaknya dalam kondisi sekarat.


“Mas, kau tak harus melakukan itu, yang paling penting adalah kau fokus pada kesehatan mu,” ucap Beeve.


“Ini bukan masalah besar sayang, dan aku melakukannya untuk kesejahteraan anak-anak ku dan kau nanti.”


Ya Allah, kenapa hamba sebaik mas Andri begitu sering kau uji, ringankanlah ya Robbi penyakitnya, batin Beeve.


“Terumakasih mas, sudah memikirkan kami,” ucap Beeve.


Lalu Andri menyerahkan berkas harta warisan yang telah di notarikan itu pada istrinya.


“Kau pikir ayah akan melakukannya?!” ucap Yudi.


“Siapa tahu ayah berubah pikiran.” ujar Andri yang mewanti-wanti situasi.


“Dasar anak nakal!” pekik Yudi.


Keesokan harinya, di sore hari yang teduh, atas izin dokter, Andri pun di perbolehkan untuk jalan-jalan menggunakan kursi roda disekitar area rumah sakit.


Emir yang sedang libur hari itu membantu Beeve untuk mendorong kursi roda Andri menuju taman.


Sesampainya di tujuan, Emir meninggalkan keduanya disana, agar suami istri itu lebih leluasa mengobrol.


“Mas!” Beeve menyematkan bunga mawar merah di telinga Andri.


“Memangnya aku banci?”


“Hahaha... dulu juga kau melakukannya pada ku!” Beeve mengecup gemas kening Andri. Perlahan Andri pun tersenyum malu.


“Rasanya, semua kenangan yang kita alami baru saja terjadi, jujur aku rindu masa-masa dulu.” Andri mengingat kembali kenangan indahnya bersama Beeve.


“Sama mas, aku juga rindu,” sahut Beeve.


“Aku sangat bersyukur bisa menikahi mu, kau wanita terhebat dan sabar yang pernah ku temui, maafkan semua kesalahan yang telah ku perbuat selama ini pada mu, mulai awal menikah sampai sekarang.”

__ADS_1


“Aku sudah memaafkan dengan ikhlas mas, jadi jangan ungkit lagi masa lalu yang itu,” ucap Beeve.


“Aku mengerti, tapi... apa kau masih ingat?”


“Soal apa mas?”


“Aku pernah tidur di pangkuan mu, saat aku baru kembali dari rumah sakit.”


“Iya, kenapa dengan itu?” tanya Beeve.


“Apa boleh, aku melakukannya lagi?” entah mengapa, Andri ingin meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.


“Tentu saja.” lalu Beeve memanggil Emir, untuk membantu memindahkan tubuh Andi ke bangku panjang yang ia duduki, setelah itu, Emir merebahkan tubuh Andri dan meletakkan kepalanya di pangkuan Beeve.


“Sebentar saja ya mas, kalau dokter atau perawat lihat, kita bisa kena marah.” terang Beeve yang takut kena tegur, pasalnya Andri adalah pasien dengan penyakit kronis.


“Iya, tapi nyanyian aku sebuah lagu,” pinta Andri.


“Lagu apa mas?” tanya Beeve.


“Religi,” jawab Andri.


Lalu Beeve menembangkan lagu terpopuler dari Opic, Andri pun memejamkan mata dengan penuh senyum, menghayati setiap makna baritsan kata yang istrinya nyanyikan.


Takama seorang suster yang melihat Andri tidur di taman pun datang menghampiri.


“Permisi bapak, ibu... tidurnya jangan disini ya, kasihan bapaknya, di bawa ke dalam kalau mau istirahat ya bu,” ucap sang suster.


“Baik sus.” Beeve merasa malu karena mendapat teguran dari sang suster.


Lalu ia pun memanggil Emir kembali, yang posisinya 100 meter dari mereka.


“Sudah ya?!” ucap Emir.


“Iya mas.” sahut Beeve. Lalu ia pun membangunkan Andri.


“Mas, ayo bangun, kita harus kembali ke ruangan mu, mas... hei! Perawat sudah menegur kita.” Beeve yang berulang kali membangunkan suaminya tak kunjung berhasil.


Emir yang memiliki firasat buruk pun mengecek nadi Andri.


Deg! Jantungnya berdebar kencang, saat ia tak merasakan pergerakan urat nadi Andri lagi.


Ia pun mencoba mengecek pernafasannya, dan hasilnya tetap sama, tak ada hawa panas yang keluar.


Sontak ia merasa panas dingin, ingin mengatakan pada Beeve, tapi takut kakak iparnya tersebut syok.


“Gimana mas?” tanya Beeve, wajah Emir seketika memucat.


“Hem, itu... Andri...” Emir tak tahu harus mengatakan apa. Beeve yang mengerti pun jadi histeris.


“Mas!! Bangun!!”

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2