Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 164 (Ingin Kau!)


__ADS_3

“Ya apa masalahnya aku tidur dimana, yang penting ke Korea pakai uang sendiri, bukan hasil minjam.” Beeve merasa kesal karena Emir meremehkannya.


“Ayo kemas barang mu, kau tinggal di hotel saja dengan ku.” ujar Emir yang tak tega Beeve tinggal di tempat yang menurutnya sempit.


“Mas! Tolong jangan campuri urusan ku! Kenapa sih, sudah 4 tahun tak bertemu pun, aku masih harus terikat dengan keluarga Han? Biarkan aku dimana pun aku suka.”


“Bee, ada atau tidak ikatan mu dengan keluarga ku, asal itu kau, harus mendapatkan tempat nyaman dan layak,” terang Emir.


“Menyebalkan! Selalu tak menghargai apa yang ku lakukan!” pekik Beeve.


Lalu Emir menggenggam kedua bahu Beeve, “Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu.”


“Yang terbaik di mata mu, belum tentu di hati ku, sudahlah, aku mau masuk,” ucap Beeve.


“Aku ikut.”


“Untuk apa kau ikut mas?”


“Untuk memastikan, disana benar-benar nyaman atau tidak, aku sebagai adik ipar mu, harus memeriksanya, kalau benar-benar kondusif, maka aku akan mengizinkan mu untuk menetap,” terang Emir.


“Ma-mas!” Beeve menyusul Emir yang telah beranjak terlebih dahulu menuju kamarnya.


“Aduh, dia kok ahli banget bikin kesel!” gumam Beeve.


Mereka pun ke lantai 4 dengan menaiki anak tangga, dan tak terasa keduanya pun telah sampai.


Seketika Emir takjub dengan kamar Beeve yang memiliki area yang luas, dan di atap itu pun banyak berbagai jenis bunga yang tertanam di dalam pot.


Beeve pun berdiri di sebelah Emir, “Bagaimana? Bagus kan?”


“Iya, kau benar.”


“Ya sudah kalau begitu, kau bisa pulang sekarangkan mas?!”


“Tapi... saljunya makin lebat, apa boleh aku minum secangkir kopi sebelum pulang?” pinta Emir dengan nafas yang penuh asap.


“Mas Emir, kau bisa minum kopi di mini market terdekat,” ujar Beeve.


“Kau tega sekali, pada hal aku sudah mengantar mu, satu gelas besar saja, rasanya aku mau pingsan karena kedinginan.” ucap Emir yang ingin mengulur waktu agar lebih lama bersama Beeve.


Beeve memutar mata malas, karena ia tahu kalau Emir hanya mengelabuinya.


“Modus banget sih mas, bukannya kau sudah bersahabat dengan salju selama ini?”


Hattciiim!! Emir bersin karena kedinginan, mau tak mau Beeve yang baik hati pun mempersilahkan Emir masuk.


“Ya sudah, ayo masuk! Haah! Sekian lama enggak ketemu, sekali ketemu nyusahin!” Beeve terus mengoceh karena Emir, namun Emir yang berhasil pada tujuannya pun tak perduli.

__ADS_1


Keduanya pun masuk ke dalam kamar Beeve, yang ternyata fasilitasnya lengkap, ada dapur, satu kamar tidur lengkap dengan kasur, kamar mandi dan juga ruang tamu mini.


“Wah! Ku pikir tadi hanya kamar 2x2,” ucap Emir.


“Makanya jangan berburuk sangka!” pekik Beeve.


“Duduk disini, jangan kemana-mana!” Beeve menyuruh Emir duduk di ruang tamu yang miliki sofa minimalis.


“Iya bu,” sahut Emir.


Kemudian Beeve beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi untuk Emir, setelah itu ia kembali ke ruang tamu lagi.


“Loh, aku kan sudah bilang, kopi di gelas besar!” Emir membulatkan matanya.


“Adanya gelas kecil mas.”


“Dasar pelit.” Emir memutar mata malas.


Beeve yang ingin duduk di sebelah Emir pun tanpa sengaja tersandung karena buah apel merah yang terletak di lantai.


Brukk!!! Beeve terjatuh dengan kopi yang ia bawa di pelukan Emir, mata Emir membulat sempurna, saat wajah mereka berdua begitu dekat, hingga ia merasakan, hembusan nafas Beeve di bibirnya.


“Haah!! Maaf mas!” Beeve yang sadar pun merasa bersalah. Ia segera bangkit dari tubuh Emir.


“Maaf ya mas, pasti panas.” Beeve mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu menyeka kopi yang ada di mantel hitam Emir.


Ia pun menghela nafas panjang, karena merasa konyol dengan apa yang ia inginkan.


Tahan Mir, nanti yang ada makin runyam, batin Emir.


Namun jantungnya semakin bergetar kencang, hingga Beeve yang masih sibuk membersihkan mantel Emir dapat merasakannya.


Astaga, apa lagi ini, batin Beeve.


Ia pun pura-pura tak tahu dengan yang Emir rasakan.


“Kau mendengarnya kan?” ucap Emir dengan suara yang berat.


“Dengar apa mas?” sahut Beeve tanpa melihat wajah Emir.


“Jantung ku.” lalu Emir menggenggam kedua tangan Beeve yang masih bekerja di mantelnya.


“Aku enggak tahu apa maksud mu mas.” Beeve yang merasa canggung mencoba melepaskan genggaman tangan Emir.


“Sebentar saja, izinkan aku menggenggam tangan mu,” pinta Emir.


“Mas, aku rasa kita jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti di masa lalu, dan juga seperti kata mu, aku masih menjadi istri mas Andri di mata negara, jadi yang kita lakukan sekarang sangat tidak pantas,” terang Beeve.

__ADS_1


Emir yang hampir khilaf, melepaskan tangan Beeve.


“Maaf atas ketidak sopanan ku, aku benar-benar minta maaf.” karena takut tak dapat menahan hasratnya, akhirnya Emir memutuskan untuk pulang.


“Aku akan pergi, kunci pintunya baik-baik,” ucap Emir.


“Iya mas,” sahut Beeve.


“Oh iya, apa boleh aku minta nomor telepon mu?”


“Maaf mas, enggak bisa.”


“Jangan begitu, kalau kau enggak bisa memberikan hati mu, setidaknya kau berikan nomor kontak mu,” ujar Emir.


“Jangan paksa aku, pulanglah mas.” Beeve mengusir Emir yang telah mengusik ketenangannya.


Karena tak berhasil, akhirnya Emir mengeluarkan pena dari saku dalam mantelnya, lalu ia menggenggam tangan Beeve, dan menuliskan nomor ponselnya di telapak tangan wanita yang ia cintai itu.


“Simpan nomor ku, mana tahu sewaktu-waktu butuh sesuatu, biar kau enggak kesusahan lagi, kalau kau mengirim pesan lewat media sosial, itu akan tenggelam dengan pesan para penggemar lainnya, aku enggak mau, kau merasa sendirian untuk yang kesekian kalinya, pada hal kalau kau datang dari pintu hati ku, kau takkan pernah merasa terbuang,” terang Emir.


Sebelum Emir pulang, ia mengusap puncak kepala Beeve dan mengecup keningnya.


“Di negara Barat ciuman itu biasa, jaga diri baik-baik.” ucap Emir.


Beeve diam mematung karena Emir memperlakukannya layaknya sebagai pacar.


Setelah 2 menit, Beeve pun mengambil nafas panjang.


“Astaga, apa-apaan sih dia! Dari dulu enggak ada sopannya.” lalu Beeve melihat nomor telepon Emir yang ada di tangannya.


“Memang benar sih, diakan seleb, andaikan dia lihat pesan yang aku kirim kemarin pun, pasti enggak akan percaya seutuhnya, karena aku pakai akun si bapak ojek online.” akhirnya Beeve menyimpan nomor Emir di handphonennya. Kemudian ia kepikiran mengenai Andri.


“Semoga kau cepat sembuh mas Andri,” gumam Beeve.


Keesokan harinya, setelah Emir selesai meeting dengan klien, ia pun buru-buru menuju kosan Beeve.


“Mau kemana pak?” tanya Eza.


“Enggak tahu nih, buru-buru banget, tadi malam juga enggak jadi makan, pada hal sudah kita tunggu,” terang Andre.


“Mungkin pak Emir sudah punya kenalan disini!” celetuk Dito.


“Nah! Pak Dito benar, kalau begitu aku duluan ya!” ucap Emir dengan hati yang bersemangat.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2