
“Besok? Kok mendadak yah?”
“Ini sebenarnya sudah lama,” ucap Yudi.
“Lama darimana sih ya? Kenapa aku baru tahu?” tanya Andri.
“Ayah sudah mendiskusikannya dengan asisten ayah dari beberapa bulan yang lalu, karena kau banyak masalah, makanya ayah enggak memberitahu mu,” terang Yudi.
“'Ck,” Andri jadi ragu untuk pergi.
“Keputusan ada di tangan mu Ndri, lagi pula ayah kan sudah bilang, akan membereskan segalanya, ibu mu juga enggak akan mencampuri urusan mu, jadi kau enggak usah khawatir kalau harus meninggalkan kedua istri mu,” ujar Yudi.
“Iya yah, aku mengerti,” ucap Andri.
“Ayah rasa kalau soal Beeve kau enggak perlu khawatir, toh dia jago berkelahi.” ungkap Yudi.
Andri mengingat kembali tindakan Beeve pada Arinda yang begitu agresif.
Biar pun aku tahu Beeve dapat mengatasinya, tapi entah kenapa, perasaan ku enggak enak kalau harus meninggalkannya, tapi kalau aku enggak pergi, hubungan kami enggak ada ketenangan, batin Andri.
“Baiklah yah, aku bersedia berangkat besok,” ucap Andri.
“Bagus, kau akan pergi bersama beberapa orang kantor, besok sebelum pukul 08:00 pagi, sudah harus di bandara,” terang Yudi.
“Oke yah, kalau begitu aku pulang sekarang,” Andri berpamit pada Yudi.
“Silahkan, hati-hati di jalanan nak,” ucap Yudi.
Setelah keluar dari ruangan Yudi, Andri turun ke lantai dasar.
Ting!
Ketika pintu terbuka, Andri keluar dari dalam lift, kemudian berpapasan dengan Arman.
“Hei! Kau masih hidup bro!” seru Arman pada Andri, yang tak bertemu beberapa hari.
“Kau berharap banget ya!” pekik Andri.
“Sudah jelas dong, saat kau tak ada, aku yang berada dalam ruangan mu hahaha, beberapa hari lagi kau enggak datang, mungkin aku bisa lupa diri, siapa aku sebenarnya wahaha!!” Arman menggoda sang sahabat yang telah lama absen.
“Jangan mimpi kau!”
“Eh, aku punya waktu setengah jam nih, mau ngopi di kafe dengan ku?” Arman yang tahu Andri sedang banyak pikiran pun berniat menghibur sang sahabat.
“Hum, bolehlah,” ucap Andri. Keduanya pun berangkat ke kafe yang letaknya ada di sebelah gedung kantor.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga, keduanya pun duduk di salah satu kursi yang letaknya paling sudut.
Sang pramusaji pun datang menghampiri Andri dan Arman.
“Mau pesan apa pak?”
“Kau mau minum apa Ndri?”
“Bukannya kita mau minum kopi?”
“Iya, maksud ku, kau mau pesan kue apa sebagai teman kopi mu?” tanya Arman.
__ADS_1
“Apa-apaan sih kau! Seharusnya aku kan yang mengatakan itu pada mu?” ucap Andri.
“Sesekali aku dulu Ndri, karenakan yang kerja saat ini aku, bukan kau!” lagi-lagi Arman meledek Andri.
“Jadi mau pesan apa pak?” tanya sang pramusaji.
“Dua cangkir kopi hitam dan 2 red velvet cake,” ucap Arman.
“Baik pak, akan segera saya bawakan,” ucap sang pramusaji.
“Terimaksih mbak,” ucap Arman.
“Songong banget, tapi kau belum tahukan, kalau gaji ku akan di naikkan?”
“Hah? Gaji mu saja, atau semua karyawan?” tanya Arman yang berharap dapat kenaikan gaji juga.
“Tentu saja hanya aku seorang,” jawab Andri.
“Ck, enak banget ya, mentang-mentang anak pemilik perusahaan!” pekik Arman.
Saat mereka masih meledek satu sama lain, pramusaji pun datang membawa pesanan mereka.
“Silahkan di minum Ndri,” ujar Arman.
“Terimaksih.” ucap Andri seraya menyeruput kopinya, begitu juga dengan Arman.
“Bagaimana, semua aman kan?” tanya Arman.
“Ya, begitulah,” jawab Andri.
“Oh iya, aku turut berduka atas anak mu Ndri.”
“Sudah Ndri, sabar, semua pasti ada hikmahnya, yang penting ke depan, kau harus hati-hati dalam segala tindakan mu, jangan sampai menyesal lagi, sudah berapa kali kau mengulang kesalahan yang sama?”
“Sering man.” ucap Andri tertunduk lesu.
“Nah, sekarangkan Beeve juga sedang mengandung, ya walau pun itu bukan anak mu, tapi cintailah anak itu, seperti kau mencintai ibunya, ikhlas Ndri, tegas jugalah pada keputusan yang kau ambil.” Arman menasehati Andri yang di matanya masih labil.
“Iya Man,” Andri mengangguk.
“Apa kau masih akan mempertahankan Arinda?
Karenakan kau dan dia sudah enggak ada ikatan?” tanya Arman.
“Rencanya akan ku cerai resmi setelah kejiwaannya sehat, kemarin saja dia mencoba bunuh diri,” terang Andri.
“Akh! Paling akting!” ucap Arman.
“Ck, enggak Man, dia sudah menyayat pergelangan tangannya, untung enggak dalam, dan dia juga mau melompat dari lantai dua, kau lihat sendirikan, bangunan rumah ku itu tinggi, kalau dia mati, yang repot siapa? Yang malu siapa? Bukan hanya aku, tapi seluruh keluarga Han, dan aku juga takut perusahaan kena imbasnya.” terang Andri.
“Kau benar juga si Ndri,” ucap Arman.
“Nah, justru itu, aku harus hati-hati, dan Beeve, dia malah merajuk, minta cerai, talak, astaga! Rasanya aku mau gila Man, hatiku sangat hancur, tapi enggak mungkin ku katakan semuanya pada Beeve, apa lagi dia lagi hamil,” terang Andri.
“Sabar Ndri, namanya juga pihak yang tersakiti, lagian manusia mana yang mau cintanya di bagi? Kau juga pasti akan marah, kalau Beeve melakukan poliandri,” ujar Arman.
Perkataan Arman mengingatkan Andri pada Emir.
__ADS_1
Dia enggak akan ambil kesempatan saat aku pergi kan? batin Andri.
“Kau benar, rasanya sakit.”
“Makanya kau harus tegas, siap ambil resiko, kalau enggak mau rumah tangga mu dengan Beeve ada benalunya.” ucap Arman seraya menyeruput kopinya kembali.
“Iya, akan ku lakukan setelah pulang dari Mexico,” ucap Andri.
“Mexico? Jadi yang berangkat ke Mexico kau?” tanya Arman tak percaya.
“Memang harusnya siapa?” tanya Andri kembali.
“Bukannya pak Yudi, atau Asistennya? Si pak Bryan?” terang Arman.
“Aku kurang tahu.”
“Jangan-jangan ada udang di balik bakwan nih,” ucap Arman menerka-nerka.
“Jangan berburuk sangka Man, aku pergi juga bukan tanpa alasan,” ujar Andri.
“Iya yah, aku yakin karena itu gaji mu naikkan?”
“Bukan hanya kenaikan gaji, tapi anak Beeve juga akan di akui, serta mendapat hak waris,” terang Andri.
“Wah! Kalau begitu, Silahkan pergi dengan tenang Ndri,” seru Arman bersemangat.
“Aku memang akan pergi besok,” ucap Andri.
“Hah? Dadakan banget, enggak salah itu?”
“Kata ayah sih begitu, ya sudahlah, aku juga pergi hanya 6 bulan,” ungkap Andri.
“Berarti kau enggak ada saat Beeve melahirkan dong?”
“Iya.” Andri menganggukkan kepalanya.
“Yang kuat Ndri, niat mu sudah bagus, pergi demi orang yang kau cintai, semoga cinta kalian utuh, dan kesabaran Beeve berbuah manis,” ujar Arman.
“Aamiin Man.”
“Tapi ngomong-ngomong pak Yudi menaikkan gaji mu berapa persen?” tanya Arman penasaran.
“100%.” jawab Andri dengan tertawa kecil.
“Gila, enggak adil banget!” Arman menyunggingkan bibirnya.
“Kau iri kan?” Kini Andri yang meledek Arman.
“Semut juga pasti iri, eh ngomong-ngomong aku punya saran untuk mu, berhubung kau akan melakukan perpisahan dengan kedua istri mu Ndri.”
“Saran apa?” tanya Andri.
“Hum, bagaimana kalau malam ini, kalian tidur seranjang bersama?” ucap Arman.
“Sialan, kau mau ku pecat? Hah! Kau tahu kalau aku lakukan itu, besoknya mungkin aku sudah enggak bernafas!” pekik Andri.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...