
Terlebih batinnya tak dapat menerima, jika 3 laki-laki berbeda harus mencampurinya dalam waktu singkat.
Emir yang mabuk berat mulai meluma*t bibir merah muda Beeve yang terasa manis.
Jantungnya pun berdebar-debar, ketika melakukan peraduan dengan indera perasa dengan sang wanita impiannya.
“Hump... ja...” Emir membekap bibir Beeve dengan bibirnya, ia yang terlanjur menikmati indahnya ciuman pertamanya dengan Beeve makin bergairah, berulang kali ia lakukan penyesa*an di bagian bibir bawah dan pengecap gadis cantik itu.
Air mata Beeve berlinang membasahi pipinya, ia yang tak dapat bergerak hanya bisa menerima kebejatan adik iparnya.
Emir yang tanpa sengaja mencicipi asinnya air mata Beeve menghentikan aktivitas yang ia lakukan.
“Kenapa kau menangis? Pada hal kau cukup menikmatinya.” Emir melepaskan genggaman tangannya pada Beeve.
“Apa kau sudah puas? Apa sekarang aku boleh pergi?” Beeve yang ingin bangkit dari atas pangkuan adik iparnya malah di cegat.
“Baru pemanasan.” ucap Emir, ia pun mulai membuka kancing baju Beeve, yang tentu saja Beeve menahan tangan Emir.
“Jangan! Hiks...! Sadarlah Mir! Aku ini kakak ipar mu! Jangan kau berbuat hal-hal di laur akan sehat!” Emir yang teler tak menggubris perkataan Beeve.
“Kenapa aku enggak boleh? Pada hal aku sangat mencintai mu, kalau kau menginginkan menikah muda, kenapa bukan pada ku? Kenapa kau melupakan ku?”
“Apapun yang kau katakan enggak ada gunanya, karena sekarang aku telah jadi istri orang lain, jadi ku mohon, gunakan akal sehat mu, aku enggak suka pada mu, dan aku juga enggak ada niat untuk selingkuh, tolong lepaskan aku.” Beeve terus meminta agar Emir membebabaskannya.
“Baik, kalau kau enggak bersedia menerima ku, biarkan aku lebih dekat dengan mu, agar kau dapat menimbang, siapa yang lebih layak menemani mu sampai tua,” ujar Emir.
Emir kembali mengecup bibir Beeve, seraya tangannya membuka kancing baju wanita itu satu persatu, hingga terlihat kaca mata merah muda yang membalut 2 bukit berjalan di hadapannya, kemudian Emir menurunkan footrest kursi milik Beeve hingga mentok.
“Siap di bawah?” tanya Emir.
“Jangan mas Emir! Kita enggak boleh melakukan ini!”
“Kenapa enggak?” Emir yang gagah dan penuh tenaga bangkit, lalu menidurkan Beeve di atas bangku mobil yang telah lurus.
Ia yang sibuk membuka kancing bajunya di atas Beeve, memberikan celah untuk wanita malang itu, tentu saja Beeve tak menyia-nyiakannya.
Tangan Beeve yang telah leluasa mencoba meraih botol sprite yang tergeletak utuh di bangku belakang mereka.
Emir yang telah berhasil membuka seluruh kancing bajunya bersiap untuk bergerilya, namun sejurus dengan itu Beeve berhasil mendapatkan botol sprite yang ia incar.
Prang!! Sekuat tenaga Beeve membanting botol kaca sprite tersebut ke kepala Emir, hingga Emir merasa sempoyongan.
Kemudian Beeve mendorong tubuh Emir yang kurang bertenaga dari hadapannya, kemudian ia pun bangkit dan buru-buru membuka pintu mobil.
“Bee! Jangan pergi!” Benturan botol yang Emir terima seolah memulihkan kesadaran dan akal sehatnya kembali. Namun Beeve yang terlanjur takut tak mau mendengarkan perkataan Emir yang hampir saja menodainya.
Zzarrr!!! Dalam pelariannya, tiba-tiba hujan turun.
Ya Tuhan, apa salah ku! Sampai-sampai aku selalu mendapat nasib buruk! batin Beeve.
Emir yang takut terjadi sesuatu pada Beeve, mulai menyusul.
Cahaya lampu mobil Emir menjadi satu-satunya penerang langkah Beeve di jalan yang sepi dan dan gelap gulita tersebut.
__ADS_1
Ia yang takut tertangkap oleh Emir semakin mempercepat larinya.
Namun seberapa cepat pun langkahnya, tetap saja akan tersusul oleh Emir yang menggunakan kendaraan.
Ciiit!! Emir berhenti tepat di sebelah Beeve, lalu ia keluar dari dalam mobil.
“Jangan mendekat!” ucap Beeve seraya menuju ke tepi jembatan yang menjadi tempat mereka berpijak.
“Bee! Maafkan aku! Aju khilaf, ayo kita pulang.” ucap Emir seraya mendekat ke arah Beeve yang kini memegang besi pembatas jembatan.
“Ku bilang jangan mendekat! Kalau maju selangkah lagi, aku akan lompat!!!” teriak Beeve.
“Jangan! Jangan lompat, aku mohon, maafkan aku, aku salah Bee!” Emir meminta agar Beeve tak melakukan hal nekat.
“Diam disana! Jangan melangkah sejengkal pun! Hiks...”
“Maafkan aku Bee, ayo pulang dengan ku! Disini bahaya dan banyak begal!” teriak Emir.
Zzzarrr!!! Hujan semakin lebat, namun Beeve yang terlanjur trauma akan Emir tak mau menurut.
“Aku enggak mau pulang dengan mu! aku akan pulang sendiri!”
“Jangan! Bahaya Bee, aku berjanji enggak akan melakukan hal bodoh lagi, untuk itu ayo kita pulang!” Emir yang telah sadar seutuhnya sangat menyesal atas tindakannya.
“Enggak, aku enggak mau pulang dengan mu! Aku akan pulang sendiri! Aku benci pada mu! Dasar jahat! Bejat! Hiks!!”
“Oke, kau boleh pulang sendiri, tapi pulanglah dengan mobil ku!”
“Kau pikir aku bodoh? Nanti kau akan menangkap ku!”
“Pergilah, aku takkan bergerak dari sini.” Beeve yang takut berlari masuk kedalam mobil Emir secepat kilat, lalu menguncinya, tanpa memikirkan keselamatan Emir, Beeve langsung tancap gas.
Di bawah guyuran hujan, Emir menitihkan air mata.
“Bodoh! Bodoh bodoh!” Emir menampar pipi kiri dan kanannya secara bergantian.
“Kenapa aku sampai bertingkah senonoh begitu padanya, astaga Tuhan!! Hancur sudah hubungan ku dengannya!! Emir terduduk lemas, kemudian ia memukul-mukul aspal untuk melampiaskan kekesalannya.
“Beeve!!!!!!” teriaknya sekencang-kencangnya dengan mendongak ke langit.
_______________________________________________
Beeve yang telah sampai di pintu utama rumahnya pun merapikan kancing bajunya terlebih dahulu.
Setelah itu ia turun dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Winda yang menyaksikan majikannya basah kuyup dengan wajah panik pun bertanya.
“Nyah, kenapa basah-basahan begini?”
“Mbak! Apa mas Andri sudah pulang?” tanya Beeve kembali.
“Tuan Andri belum pulang nyonya,” jawab Winda.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu.” Beeve meninggalkan Winda menuju kamarnya.
Brak!
Ia pun menutup pintu kamar dengan keras, serta menguncinya rapat-rapat.
Beeve yang kedinginan segera mengganti baju, setelah itu ia meringkuk dalam selimut.
Dalam tangisnya ia mulai mengkaji diri, mencari-cari apa yang salah pada dirinya, hingga orang lain begitu mudah untuk berbuat senonoh padanya.
“Ya Allah, aku salah apa? Kenapa banyak orang yang memperlakukan aku serendah ini? Hiks... aku memang pernah nakal, tapi sekarang aku sudah berubah, ingin mengabdi pada suami seorang, tolong lindungi aku selalu ya Allah.” Beeve menangis sesungukan dalam do'a nya.
Di malam yang dingin beriring kan hujan yang lebat, Beeve masih menunggu kedatangan suaminya.
Ia yang merasa sepi merindukan pelukan hangat dari sang suami.
“Kau dimana sih mas? Kenapa belum pulang?” Beeve melirik ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul 23:00 malam.
Ia yang tak makan dari siang pun menjadi masuk angin, sekujur tubuhnya juga mendadak panas dingin.
Perlahan kesadarannya mulai hilang, di akibatkan demam tinggi yang ia alami.
Keesokan harinya, Beeve terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Saat ia menoleh ke jam dinding ternyata telah menunjukkan pukul 14:00 siang.
“Ya Allah, aku lama banget tidurnya.” Beeve segera bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
Ceklek, kriett...!!!
Ketika pintu telah terbuka, Andri tiba-tiba memeluk Beeve dengan erat.
“Sayang, kenapa lama sekali buka pintunya?” Andri yang merasakan panasnya suhu tubuh Beeve mengerti, jika istrinya sedang sakit.
“Sayang, kau demam?” tanya Andri.
Beeve yang merasa hidupnya sial dari kemarin mulai menangis.
“Hiks..., kau darimana mas? Kenapa enggak menjemput ku? Dan kenapa enggak pulang tadi malam? Ada apa mas sebenarnya? Kenapa aku merasa kalau kau sudah enggak perduli lagi pada ku?? Katakan yang sejujurnya, apa alasan mu berbuat begini pada ku?” Beeve menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan aku sayang, aku salah.” hanya kata itu yang terucap dari mulut Andri.
“Kau jahat mas.”
“Maafkan aku sayang, aku janji enggak akan meninggalkan mu lagi.” ucap Andri mengusap wajah istrinya yang basah akan keringat dan air mata.
Cukup lama Beeve menangis dalam pelukan Andri hingga akhirnya ia merasa tenang.
Apa aku boleh menceritakan kebejatan yang Emir lakukan pada ku? batin Beeve.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1