
“Mas!” Beeve berjalan menuju suaminya yang ada di meja makan bersama keluarga yang lain.
“Ada apa sayang?” sahut Andri, lalu Beeve memperlihatkan photo tangkap layar wajah Arinda.
“Dia?? Kok bisa, Helena mengenalnya?” jantung Andri tiba-tiba sakit karena panik, namun sekuat yang ia bisa, ia mencoba tetap tegar di hadapan Beeve.
Rahma, Emir mau pun Yudi ikut bergabung ke kursi Andri untuk memastikan itu benar-benar Arinda atau bukan.
“Iya itu Arinda yah!” netra Emir membulat sempurna, ia menjadi khawatir terhadap istrinya yang bergaul dengan Arinda.
“Bee, kenapa mereka saling kenal?” tanya Rahma bergidik ngeri.
“Aku juga enggak tahu bu, semoga saja Helena baik-baik saja, aku sudah melarangnya untuk bertemu Arinda lagi,” terang Beeve.
“Baguslah, sebaiknya jemput istri mu Mir, ibu sendiri akan lapor polisi, agar mereka mencari keberadaan Arinda,” titah Rahma.
“Baik bu.” Emir pun mengikuti perintah ibunya, ia segera bergegas menuju ke rumah mertuanya.
Sedang Rahma menelepon polisi, melaporkan Arinda yang masih berada di Jakarta.
Setelah itu, mereka menuju ruang tamu untuk berunding, Rahma yang melihat gelagat aneh Andri merasa resah.
“Ndri, bagaimana dengan persiapan mu ke Amerika?” Andri dan Beeve menoleh bersamaan ke arah Rahma.
“Amerika?” Beeve mengernyitkan dahinya.
“Iya, apa kau tak bilang pada Beeve, kalau kau ada perjalanan bisnis selama sebulan?” ucap Rahma. Andri pun menggelengkan kepalanya.
“Enggak bu,” sahut Andri.
“Pokoknya kau harus berangkat, soal Beeve, kami akan jamin keselamatannya.” terang Rahma.
“Tapi, aku enggak ingin berangkat bu.” Andri menolak untuk pergi, karena ingin menghabiskan sisa usianya dengan sang istri.
”Wajib!” Rahma yang ingin putranya sembuh meski harapannya hanya 0,1%, ia tetap percaya diri, jika Andri akan pulih.
“Ibu mu benar Ndri,” ujar Yudi.
Andri menelan salivanya, lalu ia pun menatap ke arah istrinya.
“Apa boleh aku pergi?” tanyanya dengan sorot mata penuh harap, jika kepergiannya akan di cegah oleh Beeve.
“Jangan kemana-mana, utus mas Arman saja yang kesana.” pinta Beeve, yang tak ingin di tinggal Andri lagi.
”Maaf ayah, ibu, tanpa seizin Beeve, aku enggak akan kemana pun.” ucap Andri, yang membuat Yudi dan Rahma menghela nafas panjang.
___________________________________________
Emir yang telah sampai di rumah mertuanya, menekan bel dengan perasaan ragu. Tapi atas perintah ibunya, ia tetap melaksanakannya, meski harus menelan malu.
Ting tong! Emir menekan bel rumah mertuanya, kemudian, dari dalam rumah seseorang datang membukakan pintu.
Ceklek!
Kriettt...
“Nak Emir,” ucap Fatimah sang ibu mertua.
“Assalamu'alaikum ma,” Emir menjabat tangan Fatimah.
__ADS_1
“Wa'alaikumsalam nak,” sahut Fatimah.
“Maaf kalau aku datang di waktu yang tak tepat, tujuan ku kemari untuk menjemput Helena kembali.” ujar Emir. Hati Fatimah sungguh lega, saat menantunya datang dengan kabar baik.
”Baiklah nak, ayo masuk ke dalam.” Fatimah pun menuntun Emir untuk masuk ke dalam rumah.
Sesampainya mereka di ruang tamu, Gurun yang ternyata belum tidur melihat kehadiran Emir.
“Kau datang Mir?” ucap Gurun dengan perasaan senang dalam hatinya.
“Iya pa.”
“Ayo, silahkan duduk nak!” seru Gurun mempersilahkan menantunya untuk duduk di hadapannya.
“Terimakasih pa.”
“Ma, panggil Helena ke kamarnya.” titah Gurun, dengan segera Fatimah pun menuju kamar putrinya.
“Helena... buka pintunya nak.” tok tok tok! Fatimah mengetuk pintu kamar Helena.
Ceklek!
Helena membuka pintu, dengan wajah basah dan mata bengkak.
“Ada apa ma?”
“Cepat cuci wajah mu, Emir ada di ruang tamu, jangan sampai kau terlihat jelek di matanya.” terang Fatimah.
“Bang Emir ada disini?” tanpa melakukan titah ibunya, Helena berlari menuju ruang tamu.
Ia yang melihat Emir tengah mengobrol dengan ayahnya langsung menghampiri.
“Abang!!! Hiks!!” Helena yang kekanak-kanakan duduk di atas pangkuan Emir, pada hal ayah dan ibunya ada di tempat yang sama.
Bagaimana penilaian Emir pada kami, batin Gurun.
Anak ini! Selalu berhasil membuat ku malu! batin Fatimah.
“Kenapa abang baru datang? Pada hal aku rindu, telepon ku juga enggak angkat oleh mu bang! Hiks...”
“Maaf Helena, aku sibuk seharian,” ucap Emir.
Gurun yang ingin menegur putrinya merasa janggal, sebab sekarang Helena sudah berstatus istri orang.
“Ayo, duduk disini.” Emir menurunkan tubuh Helena ke sofa.
“Kita pulang sekarangkan bang?” ucap Helena.
“Iya, tapi sebelum itu aku mau tanya pada mu, dari mana kau mengenal Arinda, dan sejak kapan?”
“Aku mengenalnya, karena dia datang ke klinik untuk membersihkan karang gigi, setelah itu dia meminta nomor ku, lalu kami bertemu, sebanyak 2 kali, dan dia mengaku bernama Yezi padaku, dan di KTP juga namanya itu bang, makanya aku percaya,” terang Helena.
“Yezi siapa?” tanya Gurun yang tak tahu apapun.
“Yezi itu nama aslinya adalah Arinda, dan dia mantan istri Andri yang sekarang lagi buron karena lari dalam penjara sekaligus membunuh seorang penyidik,” terang Emir singkat.
“Allahu Akbar! untung kau tak apa-apa nak!” ucap Fatimah.
“Helena, bisakah kau meneleponnya, ajak dia bertemu.” keluarga Han yang telah bekerja sama dengan polisi, berniat untuk menjebak Yezi, agar lebih muda untuk di tangkap.
__ADS_1
“Baik bang.” dengan cepat Helena mendial kontak Yezi.
📲 “Halo, kau lagi apa?” Helena.
📲 “Lagi santai, ada apa menelepon?” Yezi.
📲 “Aku ingin mengajak mu bertemu, besok kira-kira bisa enggak?” Helena.
📲 “Oke, aku bisa,” Yezi.
📲 “Di kafe yang sama ya,” Helena.
📲 “Oke, siap!” Yezi.
Setelah itu, Helena memutus panggilannya,“Dia mau bang!” ucap Helena.
“Bagus!” Emir amat bersemangat untuk menangkap Arinda.
“Jadi, kapan kita pulang?” tanya Helena yang ingin segera kembali ke rumah mertuanya.
“Tentu saja sekarang.”
Seketika suasana hati Helena berubah 180 derajat, tawanya yang hilang kini kembali lagi, ia berulang kali mencium pipi Emir di hadapan kedua orang tuanya.
Ia pun bangkit dari duduknya menuju kamar, untuk mengambil koper yang belum ia keluarkan bajunya.
Setelah ia kembali ke ruang tamu, Emir dan Helena berpamitan pada Gurun dan juga Fatimah.
Selama dalam perjalanan, Helena terus melempar senyum pada suaminya.
“Helena, ini kesempatan terakhir mu, kalau kau buat ulah lagi, maka tiada maaf bagi mu!” ucap Emir dengan sungguh-sungguh.
“Iya bang, aku janji!” jawab Helena dengan mudahnya.
Hum, paling cuma bohong, aku sudah tahu hati mu bang, mudah luluh dan memaafkan, batin Helena.
Ia yang berpikir suaminya hanya memberi gertakan semata malah menyepelekan peringatan terakhir dari Emir.
Sesampainya di rumah, Helena dan Emir turun dari mobil, keluarga Han yang belum tidur pun melihat kehadiran Helena.
“Ibu, ayah,” Helena menjabat tangan kedua mertuanya.
“Selamat datang kembali Helena, ayah dan ibu berharap, kau benar-benar berubah, jangan terulang lagi hal yang sama,” ucap Rahma.
“Betul, kalau sampai ada masalah lagi, ayah dan ibu enggak akan ikut campur,” ujar Yudi.
“Terimakasih atas pengertiannya ayah, ibu,” ucap Helena
Kemudian ia pun meminta maaf pada Beeve, dan Andri, dan dengan lapang dada keduanya pun mau memaafkannya.
Pukul 00:00 malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing.
Helena yang kembali berbaikan dengan Emir, terus memeluk pria tampan itu tanpa mau melepasnya.
“Kau milik ku bang,” ucapnya.
“Ya.” Emir yang terlanjur kecewa pada istrinya entah mengapa merasa banyak kebimbangan untuk melanjutkan rumah tangga mereka.
...Bersambung......
__ADS_1