Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 91 (Alam Terbuka)


__ADS_3

Andri yang melihat istrinya menahan tangis pura-pura tidur kembali dengan menahan bau busuk yang masih tercium.


Pasti dia malu banget, batin Andri.


Tanpa kata, Beeve perlahan turun dari atas batu, berjalan dengan sedikit membungkuk, memegang bebatuan disekitarnya agar tak jatuh, ia mengikuti hiliran sungai agak jauh dari suaminya, karena ia takut kalau kotoran yang ia keluarkan lebih bau dari gas yang sebelumnya membuatnya malu.


Akhirnya Beeve melihat sebuah batu besar, yang mampu menutupi tubuhnya, ia pun menyembunyikan diri di belakangnya.


Perlahan ia menurunkan celana dala* nya hingga ke lutut, lalu berjongkok.


“Pasti tadi mas Andri hanya pura-pura tidur,” gumam Beeve.


Ia yang teramat malu BAB seraya menangis, ia merasa serasa stok harga dirinya sudah habis di hadapan suaminya.


“Tapi kenapa malah dia tidur kembali? Mas, kau pasti enggak tidurkan?” Beeve membasuh wajahnya dengan air sungai yang mengalir di kakinya.


Sedangkan Andri tak hentinya tertawa, perutnya sampai kram, apa lagi ia tertawa seraya menahan suaranya.


“Gila sih! Baru kali ini aku mendengar kentut Beeve, pasti dia malu banget, apa jangan-jangan sekarang dia lagi menangis?” gumam Andri.


Andri pun kembali pura-pura tidur kembali, namun lama di tunggu, Beeve tak kunjung kembali, hingga membuat Andri khawatir.


Ia pun duduk, dan melihat kesekitarnya, namun ia tak melihat tanda-tanda kehadiran Beeve.


“Dimana dia?” gumam Andri.


“Bee!” Andri memanggil nama istrinya, kepanikannya pun bertambah, terlebih ia melihat Beeve tak membawa handphone.


Ia pun turun dari atas batu, dan mulai menyusuri aliran sungai.


“Beeve! Kau dimana sayang!!!” panggil Andri.


Tak lama ia melihat Beeve duduk di sebuah batu kecil membelakanginya, dekat dengan batu besar tempat Beeve buang hajat.


Andri yang berpikir Beeve kesurupan membaca ayat kursi, lalu ia perlahan mendekat dan menyentuh pundak istrinya.


“Bee! Istighfar, nyebut Bee!” lalu Beeve menoleh pada Andri dengan berderai air mata.


“Kau Beeve kan? Siapa kau sebenarnya! Keluar dari tubuh istri ku!” bibir Andri kembali komat kamit.


“Ini aku mas!” ucap Beeve dengan bibir cemberut.


“Serius ini kau?” tanya Andri memastikan.


“Iya, ini aku! Hiks....”


“Kenapa kau menangis disini sayang? Apa kau di gigit nyamuk?”


“Mas jangan bercanda deh.”


“Aku serius sayang,” ucap Andri memeluk istrinya.


“Kau pasti lihat saat aku kentut kan mas?”


“Enggak sayang, kapan kau kentut?”

__ADS_1


“Jangan bohong mas.” Beeve merengek dalam pelukan suaminya.


“Aku serius sayang,” ucap Andri.


“Tapi tadi mas bangun,” Beeve mengingatkan Andri.


“Hah? Kapan?”


“Jujurlah mas.”


“Oke, aku memang mendengar kentut mu, terus kenapa dengan itu?” tanya Andri.


“Tuh kan benar,” tangisan Beeve semakin pecah.


“Sudahlah, lagian aku enggak keberatan dengan itu, kenapa kau harus menangis, hum? Bukannya kentut di hadapan pasangan adalah bukti cinta?” terang Andri.


“Itu filosofi dari mana mas?” tanya Beeve.


“Mbah google,” jawab Andri.


“Mas, serius sedikit.”


“Sayang, sudahlah, jangan bersedih karena itu, bagaimana kalau kita menangkap ikan sekarang?” ajak Andri pada istrinya.


“Pakai apa mas? Kita kan enggak punya serokan ikan?”


“Pakai singlet ku,” ucap Andri.


“Susah dong mas,” ujar Beeve pesimis.


“Enggak apa, yang penting istiqomah, ini demi istri ku, nanti masak yang enak ya,” ucap Andri.


“Cium dulu sayang,” Andri menunjuk bibirnya.


“Oke mas!” dengan sigap Beeve mengecup bibir suaminya.


Setelah itu, Andri menyibak singlet nya agar lebih lebar, selanjutnya ia mulai menangkap ikan yang ada di perairan jernih itu.


Andri mulai mengobok-obok air kesana kemari, ia yang beruntung pun mendapatkan beberapa ikan patin dan wader, ikan yang mereka dapatkan di letakkan dalam rantang.


Setelah merasa cukup, keduanya pun memutuskan untuk mandi bersama di sungai itu.


Tubuh Beeve yang basah menambah kesan seksi di mata Andri, hingga ia menelan saliva.


Kau benar-benar sesuatu sayang, pesona mu membuat ku selalu menginginkan mu, batin Andri.


Selanjutnya mereka duduk di tengah aliran sungai yang dalamnya hanya sepinggang. Andri yang duduk di belakang Beeve terus memeluk tubuh istrinya di seraya memberi kecupan-kecupan kecil di pipi istrinya, mereka juga mengambil banyak photo dengan berbagai pose.


Pulang dari sini, pasti akan banyak gangguan, rasanya ingin tinggal berdua disini dengannya, biar hidup sederhana, yang penting tetap bersama, batin Andri.


“Mas, udah yuk, kita naik ke atas, sepertinya akan turun hujan.” ujar Beeve seraya mendongak ke langit.


“Sebentar lagi sayang.” Andri mengecup kembali pipi istrinya.


“Sebentar lagi siang, kita kan masih belum masak mas,” ucap Beeve.

__ADS_1


Ia yang ingin bangkit dari pelukan Andri, malah tak di beri izin bergerak seinci pun.


“Mas, sikap mu aneh banget sih, seolah-olah ini pelukan terakhir mu pada ku, lihatlah tangan ku yang sudah berkerut ini.” Beeve menunjukkan telapak tangannya pada Andri


“Aku sudah kedinginan banget mas.” lanjut Beeve.


“Bee.”


“Hum?”


“Buat pengalaman baru yuk,” bisik Andri di telinga istrinya.


“Pengalaman apaan mas?” tanya Beeve.


Lalu Andri melepas pelukannya, dan mengarahkan tubuh istrinya menjadi menghadap dirinya.


“Kita main disini.” usul Andri yang mulai menyentuh bukit kembar istrinya.


“Enggak mau ah mas.” Beeve menolak ide gila suaminya.


“Kenapa? Toh kita hanya sesekali bisa berbuat begini.” ucap Andri seraya tangannya merema* nakal kedua bukit kembar sang istri.


“Malu tahu mas, nanti ada yang lihat, walau pun bukan manusia, kan banyak makhluk lainnya disini, burung, kera, lelembut, kalau mau kita ke villa saja mas,” ujar Beeve.


“Aku maunya disini.” Andri yang telah bergejolak sedari tadi tak dapat menahan debaran di hatinya.


Dengan sedikit gemetaran menahan dingin Andri ingin melucuti piyama Beeve.


“Mas, jangan! Nanti beneran ada yang lihat, mau di taruh dimana muka kita?”


“Kau benar-benar takut ya?”


“Tentu saja, melakukannya di dalam villa saja,” ujar Beeve.


“Aku maunya disini!” Andri berdiri, kemudian ia menarik tangan Beeve.


Menuntunnya ke bebatuan besar, yang airnya hanya semata kaki. Selanjutnya Andri menyuruh istrinya duduk di atas air.


“Kau benar-benar mau melakukannya disini mas?”


“Iya sayang, tahan sebentar ya, nanti juga kita sama-sama hangat.” terang Andri, yang menurunkan celana pendeknya.


“Tapi kita jangan buka baju ya mas, aku takut,” pinta Beeve.


“Baiklah sayang.” Andri mengabulkan permintaan istrinya.


Ia pun mulai mencium tiap inci wajah cantik wanita yang membuat hasratnya selalu memuncak.


Bibir manis sang istri juga tak luput dari serangan penyesapa* dirinya.


Tangan Andri yang nakal sibuk bergerilya ke setiap lekuk tubuh Beeve, hingga tak lama penyatuan itu pun terjadi di tengah alam terbuka, di antara pepohonan berdaun hijau pekat yang menjulang tinggi, suhu tubuh dingin mereka pun kian hangat, saat penyatuan itu semakin ganas.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1




__ADS_2