Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 187 (Marah)


__ADS_3

“Mas! Mas!” tok tok tok! Beeve terus mengetuk pintu, hingga kesadaran pun Andri kembali.


“Bee?” gumam Andri seraya mengucek-ngucek matanya. Karena Beeve terus berisik, Andri pun bangkit dari bathtub.


Ceklek!! setelah pintu terbuka, Andri melihat wajah istrinya yang panik.


“Ada apa sayang?” tanya Andri.


“Mas, kau baik-baik saja?”


“Iya, aku hanya lemas.” Andri pun keluar dari kamar mandi. Beeve yang ingin masuk di cegah oleh Andri.


“Hei, jangan masuk kesana, pakai saja kamar mandi sebelah.”


“Kenapa mas?”


“Masih kotor, aku belum membersihkannya,” ucap Andri.


“Enggak apa-apa mas, biar aku bersihkan,” ujar Beeve.


“Sayang, jangan masuk!” Andri yang mengantuk terpaksa mengikuti Beeve yang telah menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Beeve yang melihat banyak tisu berserakan dimana-mana merapatkan kedua bibirnya.


“Aduh... kau kok enggak percaya sih disini kotor.” dengan sedikit kesal dan rasa malas, Andri memungut semua sampah-sampahnya.


Beeve menatap lekat Andri yang berjongkok di hadapannya seraya memungut tisu.


Kasihan banget kau mas, maafkan aku, batin Beeve.


Ia yang merasa bersalah keluar dari kamar mandi tanpa sepatah kata pun, Andri yang melihat istrinya berlaku demikian bertambah kacau.


“Pasti dia jijik pada ku, aku sudah mirip dengan maniac sek.s dimatanya.” gumam Andri, Karena sudah terlanjur kotor, ia memutuskan untuk mandi wajib.


Setelah selesai membersihkan diri, Andri keluar, dan ia melihat Beeve telah berpakaian rapi.


“Kau juga sudah selesai sayang?” ucap Andri seraya mengambil baju dalam lemari.


“Iya mas, kita jadikan pindah pagi ini?” tanya Beeve.


“Tentu saja.” Beeve yang duduk di meja riasnya tanpa sengaja melihat Andri yang sedang mengenakan ****** *****.


Astaga! batin Beeve, sebab si Joni masih berdiri kokoh.


Andri sendiri terpaksa memakai jas yang tingginya selutut, untuk menutupi kelebihannya. Setelah selesai, mereka pun turun, menuju ruang makan.


Sesampainya mereka, ternyata Rahma, Yudi dam Emir telah ada disana.


Rahma yang berpikir rencananya berjalan dengan lancar jadi senyum-senyum sendiri, terlebih ia melihat rambut anak dan menantunya masih lepek.


Benarkan dugaan ku, ibu mengerjai kami tadi malam, batin Beeve.


“Aduh, aduh... kalian berdua kok bangunnya terlambat? Pada hal sudah mau jam 08:00.” ucap Rahma seraya menahan senyumannya.


Keduanya pun duduk berhadapan dengan Rahma dan Yudi.


“Kalian jadi pindah hari ini Ndri?” tanya Yudi pada putra sulungnya.


“Jadi yah,” jawab Andri.


“Loh, wajah mu kenapa pucat begitu nak? Apa kau demam?” Yudi jadi cemas melihat kondisi anaknya.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja kok yah.” Andri dan Beeve pun mulai sarapan.


“Kalau kau kurang sehat, lebih baik istirahat di rumah, enggak usah ke kantor, serahkan semua pekerjaan pada Arman,” ujar Yudi.


“Tenang saja yah, Andri baik-baik saja kok, ibu yakin,” ucap Rahma.


“Ya sudah kalau begitu.” mereka semua pun melanjutkan sarapan dengan lahap.


Setelah selesai, Yudi pun memberitahu pada anak dan menantunya mengenai kabar bahagia dari Emir.


“Hari Jum'at siang, kalian harus pulang ya.”


“Memangnya kenapa yah?” tanya Andri.


“Adik mu Emir akan melaksanakan pertunangannya di rumah Helena,” jawab Yudi.


“Apa?” ucap Andri dan Beeve bersamaan.


“Dadakan sekali yah,” ucap Beeve.


“Betul, kenapa harus buru-buru?” timpal Andri.


“Itu sudah waktu yang pas untuknya,” terang Rahma.


Beeve pun melirik wajah Emir yang nampak tak bersemangat.


Apa dia di paksa? batin Beeve.


“Bu, tunangannya di tunda saja ya.” pinta Emir dengan wajah memelas.


“Enggak bisa, enak saja kau! Kalau besok ya besok! Jangan banyak cerita kau ya!” pekik Rahma.


“Hum! Kadang orang tua juga sering salah,” celetuk Emir.


“Salah darimana maksud mu?” Rahma memberi tatapan mata tajam.


“Ingat-ingat saja sendiri,” ucap Emir.


“Dasar anak nakal! Hobinya bikin orang tua marah!” Rahma menjadi gusar karena Emir selalu berhasil memancing Emosinya.


“Emir, restu orang tua adalah ridho Ilahi,” ucap Andri mendukung keputusan ibunya


“Aku kan mengatakan kenyataan, memangnya ibu selalu benar? Beeve menderita juga bagian dari ulah ibu kan? Enggak semua keputusan orang tua di ridhoi yang maha kuasa, kadang orang tua hanya mementingkan egoisnya, tanpa memikirkan anaknya suka atau tidak.” Semua orang jadi bungkam saat Emir berkata demikian.


Beeve juga merasa apa yang di katakan Emir benar, namun ia tak ingin ikut campur.


“Sudah, sudah! Kenapa jadi bersitegang begini di meja makan?” Yudi melerai pertengkaran Emir dan Rahma.


“Ayah juga begitu, makin hari makin aneh, dulu ayah enggak pernah ikut campur dengan urusan rumah, sekarang malah sok sibuk.”


“Emir...” Yudi mencoba menyudahi kemarahan putra keduanya.


“Aku jujur saja, enggak mau pertunangan ini terjadi, tapi karena kalian memaksa, harus ku lakukan juga, kalau pada akhirnya aku dan Helena enggak bahagia, orang pertama yang akan aku salahkan adalah ibu dan ayah!” Emir yang masih di bakar rasa marah pergi meninggalkan meja makan dengan langkah yang kasar.


Rahma menundukkan kepalanya, sebab hatinya masih tersentak, saat Emir membahas mengenai Beeve. Yudi pun mengelus punggung Rahma, karena ia tahu istrinya tak baik-baik saja.


“Ibu enggak usah masukkan dalam hati ucapan Emir barusan, dia kan memang selalu kasar kalau berucap.” Andri pun menyemangati ibunya.


Setelah itu, Beeve dan Andri menuju rumah baru mereka dengan membawa beberapa koper, yang berisi baju-baju mereka. Sementara Rahma dan Yudi berangkat ke kantor.


Hanya Emir yang tak memiliki agenda apapun hari itu.

__ADS_1


__________________________________________


Pukul 14:31, Andri yang berada di kantor, tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Heru.


“Pak Heru?” gumam Andri, ia pun buru-buru mengangkat telpon dari sang detektif.


📲 “Halo, Assalamu'alaikum pak Heru,” Andri.


📲 “Walaikum salam pak Andri, pak Andri lagi dimana sekarang?” Heru.


📲 Di kantor, bagaimana pak, apa ada kabar terbaru mengenai Bia?” Andri.


📲 “Alhamdulillah, itu yang ingin saya beritahukan pada bapak, tapi enaknya kita bertemu langsung, bagaimana pak? Apa bapak punya waktu?” Heru.


📲 “Punya pak! Kalau setelah pulang kerja, bisakan pak?” Andri.


📲 “Bisa pak, di kafe @saya_muchu saja ya pak, kita bertemu jam 19:00 ,” Heru


📲 “Siap pak, terimakasih banyak ya Heru,” Andri.


📲 “Sama-sama pak Andri, Assalamu'alaikum,” Heru.


📲 “Walaikum salam,” Andri.


“Alhamdulillah, akhirnya aku dapat kabar baik juga, semoga anak ku baik-baik saja ya Allah, dan semoga ini menjadi jembatan keutuhan rumah tangga ku dengan Beeve, tolong ya Allah, izinkan aku membahagiakan keduanya,” ucap Andri dengan perasaan haru.


_________________________________________


Arinda yang sedang berada di sel menyambut kembali ke datangan Lilis yang baru saja selesai menjalani hukumannya di penjara pengasingan.


Saat itu, Lilis kembali dengan membawa sebuah botol minum berwarna hitam, pemberian keluarganya yang baru datang berkunjung.


Wah! kebetulan yang sangat luar biasa! batin Arinda.


Setelah pintu sel di buka, Lilis pun masuk, dan duduk di atas tikar, ia yang masih lelah meletakkan botol minumnya di sembarang tempat.


“Hah! lelah sekali.” gumam Lilis seraya menguap karena ngantuk. Ia pun merebahkan tubuhnya ke atas tikar untuk tidur.


5 menit kemudian, setelah Lilis terlelap, dan semua orang sedang lengah, Arinda memasukkan racun yang ia simpan ke minuman Lilis.


Hahaha... semoga kau cepat ke neraka, batin Arinda.


Setelah itu, ia menyimpan kembali sisa racun yang ia miliki dengan hati-hati.


2 jam kemudian, Lilis yang merasa haus bangun dari tidurnya.


Ia pun membuka botol minum miliknya, lalu meneguk air minum yang ada di dalamnya.


“Kok rasanya aneh?” gumam Lilis, namun ia tak terlalu memperdulikannya.


Bagus, akhirnya kau masuk jebakan Batman juga brengsek! batin Arinda.


________________________________________


Malam harinya, Andri yang telah sampai ke kafe menemui Heru di meja 22.


“Selamat malam pak Heru, maaf kalau saya terlambat,” ucap Andri seraya menjabat tangan Heru.


“Bapak tepak waktu kok.” Setelah berjabatan tangan , keduanya pun duduk berhadapan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2