
🌱Benci bukan berarti tak perduli
Marah bukan berarti dendam
Perhatian bukan berarti cinta
Menangis bukan selalu tentang duka🌱
Tanpa Julian sadari, handphone yang ada di genggamannya terjatuh ke lantai.
“Ada apa Jul?” tanya Rahma, karena ia melihat reaksi Julian yang sangat syok setelah menerima telepon.
“Jul, katakan ada apa?!” Yudi melepas pelukan istrinya, lalu mendatangi Julian di tempat duduknya.
Kemudian Julian secara tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
“Ayah!! Ibu!!!” ucapnya dengan suara melengking.
Andri pun bangkit juga dari duduknya, “Ada apa Jul?” tanya Andri penasaran.
Lalu Julian menoleh ke Andri yang ada di sebelahnya.
“Ini semua gara-gara kau bajingan!” ketika Julian ingin memukul Andri, Yudi menahan tangannya.
“Tenang Jul, ada apa? Ceritakan pada om!”
“Ayah dan ibu kecelakaan.” ucap Julian seraya menahan air matanya.
“Apa!!” Yudi dan Rahma lagi-lagi di buat jantungan.
“Sekarang mas Erdogan dan mbak Jane ada di rumah sakit mana?” tanya Rahma panik.
“Di rumah sakit SM tan.” jawab Julian.
“Ayo kita kesana.” ketiganya pun bergegas menuju rumah sakit, sedangkan Andri di tinggal sendiri dalam rumah.
Andri terduduk lesu mendengar kabar duka dadakan tersebut.
“Ya Allah, semua ini karena ku, bagaimana ini?” gumam Andri.
Ia tak menyangka, emosinya menimbulkan musibah bagi orang lain.
“Beeve,” ia pun teringat pada istrinya.
Lalu Andri mendial nomor Beeve, status berdering tapi tak kunjung di angkat.
“Kau ada dimana sih Bee? Kenapa enggak angkat telepon ku?!” Andri bergegas menuju mobilnya dengan tergesah-gesah.
Ketika ia masuk ke dalam mobil, ia tak sengaja melihat tas Beeve berada di tempat duduk Beeve.
“Tasnya ada disini?” batin Andri. Ia pun membongkar isi tas Beeve.
“Ya Tuhan, dompet dan handphonenya juga ada disini?” Andri pun buru-buru kembali ke rumah Cristian.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Andri tiba di rumah mantan istrinya.
Tanpa permisi Andri membuka pagar rumah Cristian.
Tok tok tok tok!!!
“Cristian! Keluar!”
Celine yang berada dalam rumah pun membuka pintu.
__ADS_1
“Heh! Dasar gila, untuk apa lagi kau kembali? Enggak cukup kau membuat anak ku babak belur? Tak sampai disitu, kau juga sudah membuat kami malu!” pekik Celine.
“Itu derita mu bu! Aku kembali hanya untuk menjemput Beeve!” ucap Andri.
“Dia enggak ada disini! Setelah kau pergi, dia juga ikut pergi, kalau mau jemput, cari dia di jalan bodoh, dasar preman sialan!” rasanya Celine ingin sekali mencekik Andri.
“Kau dan anak mu yang bodoh!” pekik Andri.
Karena tak mendapatkan hasil, Andri pun kembali ke mobilnya, selanjutnya ia menyusuri jalan raya dengan perlahan untuk mencari Beeve.
“Kau dimana Bee!” meski ia membenci Beeve, namun hati kecilnya masih khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya.
___________________________________________
Beeve yang tak memiliki uang sepeserpun melangkahkan kakinya di gelapnya jalan raya.
Ia melirik ke kiri dan kanan karena takut ada yang mengikutinya.
Ketika ia akan melintas di pertigaan jalan, ia melihat di bawah lampu jalan, ada 3 orang pria dewasa sedang berbincang-bincang.
“Ya Allah, gimana ini? Apa aku harus lewat di hadapan mereka?” hatinya meragu, melihat tak ada seorang pun disana, selain ketiga pria dewasa itu.
Tapi kalau Beevee tak melanjutkan langkahnya, maka ia takkan sampai ke rumah.
Beeve yang takut mengumpulkan keberaniannya untuk melewati ketiga pria itu.
“Pokoknya menunduk, jangan lihat, ayo Bee, kau pasti bisa.” Beeve menyemangati dirinya sendiri.
“Eh, neng cantik mau kemana? Kok jalan kaki tengah malam begini?” tanya salah satu pria berambut kribo.
Beeve yang tak ingin ada urusan dengan orang-orang tersebut, tak menggubris sapaan si kribo, ia terus melanjutkan langkahnya.
“Mau kemana neng? Sini abang antar ke tujuan dengan selamat,” ucap si pria gondrong.
Beeve yang takut mempercepat langkahnya, namun sialnya ketiga pria itu malah menyusulnya.
Sontak Beeve menepis tangan si botak, “Jangan ganggu saya bang, saya hanya ingin lewat saja.” ucap Beeve dengan tubuh gemetaran.
“Justru itu, abang-abang yang baik ini akan mengantar neng cantik sampai ke surga, hahahaha.” si kribo tertawa nakal pada Beeve.
Beeve pun mencoba lari dari para pria menakutkan itu, namun ia semakin di ledek oleh ketiganya.
“Mau lari kemana cantik? Hah? Ayo sayang ikut abang ke semak-semak.” si botak memegang tangan mulus nan putih Beeve.
“Jangan bang, biarkan saya pergi! Saya mohon!!” pinta Beeve.
“Iya, neng cantik boleh pergi, asal main kuda-kudaan dudu sama abang-abang ganteng ini,” ujar si Kribo.
“Jangan bang!” ketiga pria itu pun mengelilingi Beeve.
Beeve yang takut setengah mati pun hanya bisa menangis dan memohon, agar dirinya di lepaskan.
“Ayo sayang! Walau kau bunting, tapi wajah mu sangat cantik,” ucap si botak.
“Enggak mau, tolong jangan ganggu aku!”
“Ayolah, kami tahu kalau kau ini adalah wanita panggilan pinggir jalan, nanti setelah selesai kita bayar 50.000, sekaligus di antar pulang ke rumah,” terang si gondrong.
“Hiks..., jangan bang, akhh!!! Tolong!!!!! Tolongh!!!” Beeve berteriak sekencang-kencangnya, saat para preman itu mengangkat tubuhnya secara bersamaan menuju rimbunnya semak-semak.
“Hiks... Tolong!!” teriak Beeve, para preman itu tertawa gatal melihat Beeve bak orang bodoh, selanjutnya mereka merebahkan tubuh Beeve di atas rerumputan tajam.
“Jangan!!!” Beeve menutup matanya karena tak sanggup menerima kemalangan atas dirinya.
__ADS_1
Ciitt!!!
Brak!
Buuk!! Buk!!! Buk!!
Tanpa di duga, ada seseorang yang menyelamatkan dirinya.
Pria itu memukul habis para preman dengan kunci Inggris berukuran 612 mm, hingga kepala si botak mengalami bocor.
Kedua kawannanya yang belum terima kekalahan mereka mengeluarkan senjata tajam dari kantong baju mereka masing-masing.
“Jangan macam-macam lagi, atau kami habisi nyawa mu!” ancam si kribo.
“Oh, kalian masih belum kapok ya?”
Beeve yang mendengar suara familiar tersebut langsung membuka matanya.
“Mas!” gumam Beeve.
Kemudian Andri, mengeluarkan pistol jenis HS2000 dari dalam saku jasnya.
“Yakin masih mau maju?” suara tenang namun mencekam dari Andri membuat para preman gentar.
“Jangan takut, paling itu hanya mainan,” ucap si kribo pada si gondrong.
Keduanya pun maju dengan percaya diri, Andri yang tak main-main melepaskan satu peluru tepat di ujung sepatu kedua preman tersebut.
Duar!!!
“Astaga Tuhan!!” teriak si botak.
Karena senjata Andri bukan barang mainan yang di jual di pinggir jalan, para preman itu pun lari segila-gilanya meninggalkan Andri dan Beeve.
Lalu Andri memasukkan kembali pistolnya ke dalam saku jasnya.
Kemudian ia berjongkok di sebelah Beeve yang masuh terbaring.
“Mana yang sakit?” tanya Andri seraya membantu Beeve duduk.
“Disini.” Beeve menyentuh bagian hatinya. Andri pun memutar mata malas.
Beeve yang terharu Andri datang menyelamatkannya langsung memeluk tubuh bidang suaminya.
“Lepas,” ucap Andri.
“Enggak mau mas.”
“Lepas atau ku tinggal?” ucap Andri.
Beeve yang mendapat penolakan langsung melepas pelukannya. selanjutnya Andri menggendong Beeve ala bridal style menuju mobil.
Sesampainya di depan mobil Andri menurunkan Beeve.
“Masuklah,” ujar Andri.
“Terimakasih banyak mas.”
“Jangan bicara lagi, masuklah ke dalam, kita ke rumah sakit,” terang Andri.
“Sekarang mas?”
Andri mengangguk, Beeve berpikir kalau mereka ke rumah sakit untuk mengobati goresan yang ada di tangan dan kakinya.
__ADS_1
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...