
“Ada apa kesini?” tanya Andri pada Arman.
“Ada apa? Tadi kau kirim pesan pada ku untuk segera ke ruangan mu setelah sampai kantor,” terang Arman.
“Apa iya?” Andri tak sadar kalau ia mengirim pesan seperti itu pada Arman.
“Hmm..., Apa kau sedang ada masalah?” tanya Arman, yang tahu betul akan sifat Andri.
“Enggak, enggak ada kok Man." jawab Andri dengan wajah gelisah.
“Orang lain mungkin bisa kau bohongi, tapi aku tidak, sudah katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi.” Arman mendesak sahabatnya untuk bercerita.
Andri yang tak punya tempat berbagi yang ia percaya selain Arman pun mulai buka mulut.
“Aku..., aku khilaf Man,” ucapnya ragu.
“Khilaf?? Khilaf bagaimana maksudnya Ndri?”
“Itu...” Hati Andri teramat berat untuk mengatakan yang telah ia lakukan.
“Apa sih? Kau bicaralah yang benar, biar aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Arman.
“Aku..., akhh!!! Bangsat!” Andri menggebrak meja kerjanya, yang membuat Arman tersentak, sebab kalau Andri sudah seperti itu, berarti level marahnya mencapai maksimal.
“Kau, ada apa sebenarnya? Siapa yang cari masalah dengan mu?” tanya Arman hati-hati, sebab ia takut jika kena getahnya juga.
“Dia menjebak ku,”
“Siapa? Istri mu?”
“Bukan istri ku,”
“Klien?”
“Arinda.” ucap Andri dengan mata memerah.
“Arinda?” Arman mengingat-ingat nama yang tak asing baginya.
“Oh..., si karyawan training?”
“Betul, wanita ular itu menjebak ku!”
“Menjebak bagaimana maksudnya?”
“Dia berpura-pura menjadi istri ku,” terang Andri.
__ADS_1
“Pura-pura bagaimana sih? Aku enggak mengerti, coba kau cerita pelan-pelan, mari kita duduk dulu.” Arman menggiring sahabatnya ke sofa.
“Coba kau ceritakan dengan tenang, agar aku paham, mana tahu aku bisa kasih solusi," ucap Arman.
“Sebenarnya perempuan itu adalah sahabat istri ku, dan istri ku yang meminta ku untuk menerima dia kerja, aku sedari awal kurang suka padanya, tapi karena aku menghargai istri ku, ku beri dia kesempatan, tapi siapa yang tahu isi hatinya? Kemarin malam, entah bagaimana caranya, ia masuk ke dalam kamar kami.”
“Lalu?!” Arman semakin di buat penasaran.
“Ya-ya begitu, di gelapnya malam karena listrik padam, aku masuk ke kamar, ku pikir yang ku sentuh adalah Beeve, siapa sangka itu dia, dia malah diam tak bersuara, akhh!!!” Andri pun menceritakan seluruh kronologi lengkap yang ia alami.
“Akh! Gila! Memangnya saat itu Beeve dimana? Kenapa sampai kejadian?!” Arman yang sebagai pendengar pun di buat panik.
“Istri ku posisi lagi di luar, asli aku stres Man mikirin ini semua.” ucap Andri memijat pelipisnya.
“Memangnya kau enggak bisa membedakan membedakan tubuh istri mu?”
“Ya aku bisa sih sebenarnya, kalau itu bukan Arinda, karena meski sekilas, tubuh mereka itu sama persis, tingginya juga hampir sama, model rambut juga begitu, jangan tanya lagi bau parfumnya, Arinda itu benar-benar memphoto copy gaya istri ku,” Andri benar-benar prustasi karena Arinda.
“Ya Tuhan, apa mungkin dia sudah mengincar mu sedari awal?”
“Ya, ku rasa juga begitu, dasar perempuan lakna.t, bodohnya aku, saat itu aku lupa kalau Beeve sudah potong rambut,” Andri menepuk jidatnya.
“Gawat juga ya kalau dia sampai buka suara,”
“Justru itu yang ku takutkan, apa lagi sekarang istri ku tengah hamil,” ucap Andri.
“Ku pecat saat itu juga, dan telah ku beri dia uang tutup mulut sebanyak 4 milyar,” terang Andri.
“Oh..., bagus sih kalau begitu, tapi kau kemarin buangnya di luar kan?”
“Nah! Itu dia yang membuat aku tambah setres,” Andri.
“Astaga, kalau enggak isi sih sebenarnya enggak masalah, tapi kalau sampai kejadian, uang 4 milyar itu enggak akan cukup buat membungkam mulutnya,” terang Arman.
“Jangan sampailah Man,”
“Tapi bukannya bagus ya kalau kau punya istri dua?” Arman mencoba mencairkan ketegangan yang Andri alami.
“Kau gila ya? Masih bisa kau bercanda saat kau pusing begini?”
“Ya, mau bagaimana lagi, sudah kejadian kan? Yang penting kita berdo'a, semoga dia enggak sampai hamil, ya kalau hamil, kau juga harus tanggung jawab, karena anak yang ia kandung juga darah daging mu, jadi siap-siaplah kemungkinan yang akan terjadi ke depannya,” terang Arman.
“Kau ini, sudah enggak kasih solusi malah buat aku tambah pusing.” Andri benar-benar di buat kesal oleh Arman.
“Hahaha, aku juga pusing Ndri, karena masalah mu adalah masalah ku juga, untuk itu kita hanya bisa berdo'a, semoga tidak ada masalah lagi ke depannya, lagian wanita macam apa yang masuk ke kamar orang yang sudah menikah, benar-benar berani wanita dia?” pekik Arman.
__ADS_1
“Unikkan dia, untuk itu, kalau dia masih macam-macam, aku akan benar-benar membunuhnya, meski pun dia mengandung anak ku, aku enggak perduli, karena yang aku cintai dan yang akan menjadi istri ku satu-satunya adalah Beeve seorang, titik!” Arman merinding mendengar penuturan Andri, sebab wajah Andri menunjukkan keseriusan, ketika mengatakan bunuh.
“Jangan sampai kau kotori tangan mu hanya karena hal itu, kita lihat saja ke depannya seperti apa.” Arman pun mengusap punggung sahabatnya.
________________________________________________
Arinda yang berada dalam kamarnya, menyimpan semua baik-baik dalam plastik pakaian yang ia kenakan saat Andri menodainya.
Termasuk celana dala* yang telah bernoda merah, serta ia juga menyimpan bukti visum seluruh tubuhnya, termasuk area terlarangnya yang baru saja robek, dan yang tidak kalah penting, Arinda telah memiliki sidik jari dan DNA Andri di tangannya.
“Aku enggak sebodoh istri mu mas, yang mau mengalah dan pergi setelah di sakiti, kalau aku enggak bisa mendapatkan mu, maka aku akan merusak rumah tangga mu, dan itu sangat mudah bagi ku, sebelum kau membunuh ku, aku akan lebih dulu menyeret mu ke penjara, ahahahaha,” Arinda tertawa getir.
“Kau pikir aku mau uang 4 milyar mu? Ahahahaha..., yang ku mau adalah ISF, dan itu harus jadi milik ku, kalau aku hamil, otomatis anak ini akan jadi jembatan ku untuk menuju impian ku, karena yang ku kandung adalah satu-satunya anak biologis mu.” Arinda sangat optimis jika ia akan mengandung anak Andri, ia tak perduli dengan perasaan wanita yang telah bersahabat lama dengannya.
________________________________________________
Malam harinya, Beeve yang telah tertidur lelap tiba-tiba terbangun, karena Andri mengecup pipinya.
“Mas.” ucapnya dengan mata yang berat karena masih mengantuk.
“Maaf sayang sudah membangunkan mu,” ucap lembut Andri.
Ketika mata sipit Beeve melirik ke jam dinding, ternyata telah menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
Ia pun bangkit dari tidurnya, dan duduk menghadap suaminya.
“Tumben mas pulang jam segini?”
“Maaf sayang, tadi ada urusan yang sangat rumit di kantor,” ucap Andri
“Urusan apa mas? Sampai-sampai pulang dini hari?” pertanyaan istrinya membuat hati Andri was-was, ia berpikir kalau Beeve tahu sesuatu.
“Ya urusan pekerjaan lah saya.” ujar Andri dengan tersenyum kaku.
“Benarkan mas karena urusan kantor?”
“Benar sayang, urusan ku di dunia ini hanya 2, yaitu kau dan pekerjaan ku,” terang Andri.
Meski di dalam hatinya Beeve tak percaya, namun ia tetap tersenyum seperti biasanya.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1