
Helena yang baru sampai ke rumah sakit jadi tak fokus akan pekerjaannya. Ia terus kepikiran akan sidang yang ia peroleh dari keluarga suaminya.
“Sial banget, akh! Apa yang di katakan Yezi itu hanya bohong??” Helena pun menyesal karena tak berpikir dua kali akan sikap yang ia lakukan pada Beeve.
“Harusnya aku menahan diri untuk tak marah-marah di depan mereka semua.” gumam Helena, ia menggigit kukunya yang panjang karena merasa resah.
Saat ia masih dalam keadaan gelisah, tiba-tiba handphonenya bergetar.
Drrrttt...!!
Ketika ia perikss, deg! Jantungnya berdetak dengan kencang, sebab ia mendapat pemberitahuan pesan baru dari Beeve.
Tangan Helena tiba-tiba jadi dingin, sulit baginya untuk membuka isi pesan dari sang kakak ipar.
“Kenapa tiba-tiba dia mengirim pesan pada ku?” Helena teramat takut, namun hatinya penasaran dengan isi pesan yang Beeve kirim.
“Apa dia menghina ku balik? Tapi lewat pesan?” karena hatinya penuh keraguan, akhirnya Helena mengabaikan pesan tersebut.
__________________________________________
“Pada hal terakhir online 2 menit yang lalu, apa dia sedang menangani pasien?” Beeve terus menunggu balasan dari Helena yang tak kunjung datang, ketika ia akan merebahkan tubuhnya ke ranjang, ia pun mendapat sebuah pesan baru.
“Akhirnya, di balas juga.” ia pun segera membuka sandi handphonenya.
“Ha?” dahinya mengernyit, saat sebuah nomor tak di kenal datang padanya.
Apa benar ini dengan istrinya mas Andri? ✉️
Beeve mengabaikan pesan tersebut karena ia berpikir itu hanya kerjaan orang iseng.
Namun beberapa saat kemudian, ia kembali mendapat pesan baru kembali.
Aku Ivanna, pacar mas Andri dari 3 tahun silam, apa kita bisa bertemu? ✉️
Tubuh Beeve tiba-tiba bergetar saat membaca pesan tersebut.
Tenang Bee, belum tentu itu benar, kalau enggak ada bukti, jangan sepenuhnya percaya, batin Beeve.
Untuk menghindari pikiran negatif, Beeve memutuskan untuk memblokir nomor nomor tersebut.
________________________________________
“Sialan! Dia malah memblokir ku! Wah wah... boleh juga kau Bee!” Yezi tersenyum licik, seraya melihat photo Andri dan Beeve di laman media sosial.
Aku harus berhasil memisahkan mu dan mas Andri, kalian enggak boleh merasakan bahagia, derita yang ku alami, mesti kalian rasakan juga, kita bertiga harus tetap terhubung sampai kapan pun.” dendam Yezi tak berujung pada Andri dan Beeve.
___________________________________________
Sore harinya, ketika Helena telah keluar dari dalam rumah sakit, ia merasa resah untuk pulang ke rumah orang mertuanya.
Rasa segan dan sungkan menyelimuti hatinya, terlebih ia perdana mendapat nasehat karena ulahnya yang sangat keterlaluan
“Ya Allah, aku rindu bang Emir, tapi takut untuk pulang,” gumam Helena.
Ia yang di lema berjalan menuju mobilnya, “Aku cari makan dulu deh, setelah itu baru pikirkan lagi, langkah apa yang harus ku lakukan.” Helena menyalakan mesin mobil sedan hitamnya, lalu meluncur membelah jalan raya yang ramai akan kendaraan.
__ADS_1
Cukup lama ia mengemudi mobilnya, hingga ia berhenti di sebuah restoran yang sangat mewah dan juga cocok untuk berpoto Ria.
“Bia Food? Kok namanya sama dengan Bia di rumah sih? Apa ini restoran kak Beeve?” Helena berpikir sejenak menimbang-nimbang kebenaran yang paling masuk akal di pikirannya.
“Ck, mana mungkin!” ucap Helena.
Ceklek!
Bam!
Ia pun keluar dan menutup pintu mobilnya, selanjutnya Helena melenggang masuk ke dalam restoran.
Wah... indah sekali restoran ini, kok aku baru tahu ya, batin Helena.
Ia yang ingin makan di lantai satu dengan interior lokal harus gagal, sebab tak ada satu pun meja yang kosong.
Alhasil, ia pun naik ke lantai 2, restoran bergaya Eropa. Ia yang berjalan di antara meja para pengunjung di kejutkan oleh seseorang yang menarik ujung bajunya.
“Siapa?” ucap Helena.
“Aku!” sahut Lea.
“Eh! Kak Lea, apa kabar?!” Helena begitu antusias bertemu dengan Lea, yang pernah menjadi tetangga apartemennya semasa kuliah di luar negeri, saat itu Lea sedang menempuh pendidikan S2 nya.
“Aku baik!” Lea bangkit dari duduknya, lalu berpelukan dengan Helena.
“Kakak kok bisa ada disini? Gimana ceritanya?”
tanya Helena.
“Dapat rekomendasi dari teman, katanya ini restoran yang memperoleh rate 5 di internet , ternyata memang bagus, pelayannya juga sangat ramah.” Lea memuji Restoran tersebut, tanpa mengetahui siapa pemiliknya.
“Nah, justru itu aku makin terpikat kesini, karena masakannya terkenal enak, ayo kita duduk!” Lea dan Helena pun duduk berhadapan dengan meja berbentuk bulat di hadapan keduanya.
Tak lama para pramusaji pun melayani keduanya dengan sepenuh hati.
15 menit kemudian, makanan yang mereka pesan telah tersaji di atas meja makan.
“Ayo kak, kita isi perut dulu.” ucap Helena pada Lea.
“Ayo!” keduanya pun mencicipi masakan buatan para koki di restoran Beeve.
Saat mereka sedang asyik bersantap Ria, seluruh anggota keluarga Han datang ke restoran Beeve juga.
“Ma, itu tante Helena!” Bia menunjuk ke arah meja Helena duduk.
“Kau benar sayang.” jawab Beeve.
Kebetulan saat itu, pelanggan yang di sebelah meja Lea dan Helena telah selesai, sehingga keluarga Han memutuskan untuk beranjak ke sebelah meja Helena.
Drkkkk!!
Suara gesekan kursi menarik perhatian Helena dan Lea untuk menoleh.
Uhuk uhuk uhuk!! sontak Helena batuk, matanya juga memerah.
__ADS_1
Kenapa malah bertemu disini? batin Helena.
Astaga, ada keluarga Han? Beruntung sekali aku, lumayan bisa cari muka, batin Lea.
“Kau baik-baik saja?” ucap Beeve dengan membantu memberi air mineral yang ada di atas meja Helena.
“I-iya.” jawab Helena seraya menerima air pemberian Beeve.
“Kau disini Helena?” Rahma menyapa menantunya terlebih dahulu.
“Iya bu, aku lapar, makanya mampir kemari,” ujar Helena.
“Oh... lanjutkan makan mu,” ucap Rahma.
“Baik bu.” Helena dengan perasaan tak tenang melanjutkan makananya, sesekali ia melirik Emir yang tak mengeluarkan sepatah kata pun padanya.
Apa bang Emir masih marah pada ku? hati Helena terus bertanya-tanya akan dinginnya sikap suaminya.
Lalu Lea yang ingin dekat dengan keluarga Han pun mulai membuka obrolan.
“Kebetulan sekali ya pak Yudi kita bertemu disini,” ucap Lea.
“Oh, betul juga, kau Lea dari JST Inc kan?” ujar Yudi.
“Betul pak, beruntung sekali kita dapat bertemu disini,” ucap Lea dengan senyum ramah
“Tentu, mari bergabung bersama kami, kalau Lea berkenan, ayo Helena kau juga pindah.” Yudi mengajak Helena dan Lea untuk bergabung, sebab meja yang di hadapan keluarga Han masih cukup untuk 2 orang lagi.
“Kalau tidak keberatan, saya bersedia pak!” Lea tanpa pikir 2 kali mengangkat kursi dan makanannya.
“Bagaimana, apa kau suka dengan kerja sama yang baru saja perusahan kita lakukan?” tanya Yudi.
“Suka sekali pak, semoga ini berlangsung lama, apa lagi Andri begitu cekatan dalam menangani hal-hal yang di perlukan,” ucap Lea.
Andri melirik Lea, “Namanya juga soal kerjaan, ya harus gesit, untuk menghindari kerugian yang mungkin saja terjadi,” ujar Andri.
“Kau benar, itu yang ku suka dari mu, pekerja keras dan cerdas!” Lea memuji cara kerja Andri.
“Semoga perusahaan kita selalu kompak ke depannya, demi kemajuan bersama.” ujar Yudi.
“Saya setuju pak.” Lea menganggukkan kepala.
Di tengah percakapan yang sedang berlangsung, makanan yang di pesan keluraga Han pun datang.
“Apa bapak sekeluarga suka datang kemari?” tanya Lea.
“Kami baru pertama kali makan disini," jawab Yudi.
“Benarkah? Sering-sering makan disini pak, karena masakan disini enak semua, apa lagi teh Sencha dari Jepang buatan restoran ini begitu nikmat, aku hanya coba-coba kemarin, eh... tak di sangka malah ketagihan.” curhatan hati Lea membuat Beeve tersenyum.
Apa dia enggak tahu kalau aku pemiliknya? batin Beeve.
“Baiklah, saya akan pesan langsung, saya yakin, kalau bu Lea yang mengatakannya, itu pasti benar,” ucap Yudi.
...Bersambung......
__ADS_1