Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 237 (Mengubah Identitas)


__ADS_3

📲 “Halo bu,” Arinda.


📲 “Halo, i-ini kau Nda?” Elia.


📲 “Iya bu, tolong katakan pada ayah, untuk menjemput ku, ke lokasi yang akan ku bagikan gps nya,” Arinda.


📲 “Kau kabur nak?” Elia.


📲 “Ibu! Nanti saja kita bahas di rumah! Cepat suruh ayah kesini! Bawakan aku baju ganti, tidak lupa, suruh ayah bawa bensin dan tidur basah 3 bungkus!” Arinda.


📲 “Ba-baik nak, ayah mu akan segera kesana.” Elia.


📲 “Terimakasih banyak bu,” Arinda.


📲 “Sama-sama nak,” Elia.


Setelah sambungan telepon terputus, Arinda membagikan lokasinya saat itu ke handphone ibunya melalui pesan elektronik.


Selamjutnya, Arinda memakai kembali baju yang di berikan Leo.


“Sebaiknya, aku saja yang masukkan tubuh keparat ini ke mobil, takutnya kalau ayah ikutan juga, yang ada ayah terseret lagi ke dalam masalah ku,” gumam Arinda.


Kemudian, dengan bersusah payah, Arinda memasukkan tubuh besar Leo ke dalam mobil, tepatnya di kursi kemudi tanpa memakai busana.


“Gila! Berat badannya bukan main!” setelah selesai, Arinda mengambil dompet Leo, dan mengambil semua uang tunai tang ada dalam dompet pria tersebut.


“Lumayanlah! Ada juga untungnya si hidung belang ini membawa ku kesini, sudah sunyi, tak ada orang, jauh dari keramaian, dan yang paling penting, peluang ku untuk lari lebih besar, hahaha!!!” Arinda tertawa riang, keberuntungan begitu berpihak padanya saat itu.


Setelah lama menunggu, akhirnya Dimas tiba di lokasi. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah mobil sedang terbengkalai dekat dengan tebing yang curam.


“Apa benar Arinda disini?” gumam Dimas. Ia pun turun dari atas motornya, dan mendekat ke mobil sedan hitam tersebut.


Arinda yang tak sengaja melihat ayahnya pun langsung berdiri dari duduknya yang ada di sebelah Leo.


“Yah! Enggak usah mengendap-endap gitu,” ucap Arinda.


“Oh, ternyata benar kau ada disini, astagfirullah!” Dimas terjatuh ke tanah seraya memegang jantungnya yang hampir meledak.


“A-apa itu?” Dimas menunjuk ke arah Leo yang sudah tak bernyawa, Arinda yang melihat ayahnya syok dan ketakutan malah tertawa terbahak-bahak.


Dimas menatap lekat wajah putrinya yang tak takut sama sekali.


“Arinda! Siapa yang melakukan semua ini?!” tanya Dimas dengan ekspresi ngeri.


“Aku!” Arinda menunjuk dirinya sendiri.


“Apa?! Bagaimana kau bisa berbuat sekeji itu Nda?” seketika Dimas takut pada putrinya sendiri.


“Dia pantas mendapatkannya ayah, karena dia telah memperlakukan ku lebih rendah dari kotoran!” terang Arinda, selanjutnya Arinda mendekat ke ayahnya.

__ADS_1


“Mana bensinnya?” tanya Arinda dengan tatapan mata datar pada Dimas.


“Di motor,” jawab Dimas.


Lalu Arinda pun menuju motor ayahnya untuk mengambil bensin dan barang-barang pesanannya.


Setalah itu ia pun kembali, dan mulai mengguyur mobil Leo dengan 2 liter bensin pembawaan ayahnya.


“Kau mau apakan mobil itu Nda?” Dimas betul-betul ketakutan dengan aksi putrinya.


“Sudah jelaskan, mau di bakar, untuk menghilangkan barang bukti, meski pun sudah jelas aku tersangkanya, setidaknya aku ingin membuat para polisi itu kerepotan sedikit!” setelah selesai menyebarkan bensin ke dalam dan luar mobil, Arinda pun meminta tolong pada ayahnya.


“Nyalakan mobilnya yah!” titah Arinda, namun Dimas menggelengkan kepalanya.


“Enggak, ayah takut,” ucap Dimas.


“Ayah, tenang saja kau enggak akan terlibat.” lalu Arinda mengeluarkan kantong plastik tempat tisu basahnya.


“Kau mau apa lagi?” tanya Dimas gemetaran.


“Pakai ini! Agar sidik jari ayah tidak menempel,” ujar Arinda.


“Enggak, ayah enggak mau terlibat dalam hal apapun!” Dimas yang tak ingin menanggung beban dosa 2 kali lipat menolak keras permintaan putrinya, lalu Arinda menghela nafas panjang.


“Dasar! Ibu dan ayah sama-sama enggak berguna!” pekik Arinda. Mau tak mau Arinda pun berusaha sendiri, ia dengan sekuat tenaganya mendorong mobil Leo ke pinggir tebing, lalu setelah itu, ia menyalakan korek api milik Leo.


“Alhamdulillah selesai juga!” Arinda menyeka keringat di dahinya. Kemudian ia mendekat ke ayahnya yang masih duduk lemas di tanah.


“Biasa saja dong yah, jangan berlebihan begitu, aku juga enggak akan brutal, kalau bukan keadaan yang memaksa ku.” ucap Arinda seraya menyeka wajahnya yang berdarah dengan tisu basah.


“Kau benar-benar gila Arinda, siapa yang mengajari mu hal itu? Ini pembunuhan kedua mu loh!”


“Sudah ku bilang, keadaan, ayah dan ibu enggak tahu apa saja yang telah ku lalui kan? Aku juga enggak mau jadi pembunuh, tapi apa boleh buat, kalau aku diam saja, aku yang di injak-injak oleh manusia-manusia jahanam itu! Aku juga kalau tak berumur panjang sudah kelar! Tindakan fisik, perundungan dan juga perbudakan se*s! Semua sudah ku alami selama di penjara! Jadi... apa salah kalau aku membela diri?” Arinda mengingat kembali masa-masa kelamnya.


“Ayah mengerti...”


“Ayah mau pun ibu, tak ada yang mengerti! Makanya mengabaikan ku selama berbulan-bulan! Aku enggak akan pernah kembali kesana lagi!”


“Lalu kau mau kemana?” tanya Dimas penasaran.


Untuk sementara, aku akan kabur ke luar negeri, menggunakan uang yang 4 milyar itu,” terang Arinda.


“Bukannya nanti akan terdeteksi kalau kau menarik uang Nda?” ujar Dimas.


“Lalu aku harus kemana? Kalau di negara ini, sudah jelas aku buron!” ucap Arinda kesal.


Dimas yang iba pada putrinya pun mau tak mau harus ikut campur dalam pelariannya.


“Ayah punya sahabat dokter bedah plastik, bagaimana kalau hidung mu dimancungkan sedikit dan bibir dan mata mu kita ubah juga?” ujar Dimas memberi saran.

__ADS_1


“Terserah deh yah, yang paling penting sekarang, ayo kita pulang dulu!”


“Kau enggak boleh ke rumah!”


“Kenapa?” tanya Arinda.


“Bahaya kalau tetangga melihat mu!”


“Lalu aku harus kemana?” tanya Arinda pada Dimas.


“Ke hotel, ayah juga akan memanggil ibu mu, membawa gunting, rambut mu perlu di potong dan di kasih pewarna,” ujar Dimas.


Selesai membersihkan diri, Arinda pun mengganti pakaiannya, lalu ia pun membakar baju bekas pemberian Leo.


Setelah itu, ayah dan anak itu pun bergegas menuju hotel terdekat, dengan Arinda memakai kaca mata dan juga masker.


Mereka juga telah menghubungi Elia untuk datang dengan membawa peralatan yang di butuhkan.


Pukul 13:00, Keluarga kecil itu pun berkumpul kembali, setelah 4 tahun tak dapat bersama.


“Ayo bu! Kerjakan segera, mumpung masih siang, dan Arinda masih punya cukup waktu untuk kabur,” ujar Dimas.


“Baik yah!” Elia yang punya keahlian di bidang salon pun, memotong pendek rambut putrinya hingga di atas bahu, setelah itu, ia mencat rambut Arinda dengan warna coklat kemerah-merahan, seraya menunggu proses di rambut Arinda, Elia yang cerdik pun melakukan sulam bulu mata untuk putrinya tercinta.


Ku tahu ini tak benar, tapi apa boleh buat, semua telah terjadi, aku enggak mungkin membiarkannya berjalan sendirian, semoga kau bisa lolos dari kejaran aparat nak, ini adalah usaha terakhir yang bisa ku lakukan, batin Elia.


2 jam 30 menit kemudian, Arinda telah sedia dengan penampilan barunya, meski masih dapat di kenali, setidaknya kalau hanya sekilas melihat dirinya, orang lain bisa terkecoh.


“Apa masih ada yang kurang bu?” tanya Arinda.


“Ku rasa sudah cukup nak,” ucap Elia dengan mata berkaca-kaca.


“Baiklah, aku akan segera berangkat.” ujar Arinda.


“Kau akan pergi kemana nak?” tanya Elia dengan air mata berlinang.


“Ku rasa, aku akan pergi ke tempat terpencil, seraya menunggu identitas baru ku selesai,” terang Arinda.


“Identitas baru?” Elia melirik ke suami dan putrinya secara bergantian.


“Iya bu, ayah sudah meminta tolong pada teman ayah yang bekerja di dukcapil, untuk membuat identitas baru untuk Arinda, menggunakan photonya yang sekarang, sebelum berangkat ke tempat yang Arinda tuju, ia akan bertemu teman ku dulu,” terang Dimas.


“Tapi... bagaimana kalau dia membongkar keberadaan putri kita yah?”


“Tenang saja bu, dia enggak akan melakukannya, selain dia telah ku bayar mahal, dia juga pasti berpikir 1000 untuk melakukannya, sebab ia memalsukan ktp seorang buronan.”


“Baiklah yah, kalian pergilah duluan, ibu mau membereskan sisa sampah kita yang ada disini,” ujar Elia.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2