Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_7


__ADS_3

3 hari sudah Rafael pergi, Sila merasa sedikit berbeda, meskipun selama bersama Rafael tidak begitu memperhatikannya, tapi jika berjauhan tetap merasa ada yang kurang.


Namun adanya Aldo, bisa sedikit menghibur, walaupun awalnya Sila merasa tidak nyaman, tapi lama-lama ia merasa terbiasa dengan kehadiran Aldo.


Pagi ini Sila tengah sibuk di dapur, meski ada pembantu tapi Sila tetap membantu, karena ia tidak suka jika hanya berdiam diri saja.


Saat Sila tengah memasak tiba-tiba Aldo datang, lantaran mencium bau wangi masakan Sila.


"Duh, wangi banget sih Sil, aku jadi semakin lapar," ucap Aldo, seraya berjalan menuju meja makan.


Sila sama sekali tidak merespon ucapan Aldo, ia terus fokus pada masakannya.


Aldo yang merasa diacuhkan, langsung menghampiri Sila di dapur.


"Heh bocah, diajak ngomong malah diem bae," ujar Aldo sembari menepuk bahu Sila pelan.


Tiba-tiba saja Sila mengangkat sendok yang ia gunakan untuk mengaduk-aduk sop, dan melayangkan ke atas.


"Berani ganggu lagi, aku pastikan sendok panas ini mendarat di mulut kamu biar diam," ancam Sila dengan mata melotot.


"Ops, sorry-sorry, ya udah lanjutin aja ya," ujar Aldo cengengesan, setelah itu Aldo kembali ke meja makan.


Begitu juga dengan Sila, ia kembali pada masakannya.


Cukup 10 menit Sila sudah menyelesaikan masakannya, ia pun segera membawa dan menatanya di atas meja.


"Wow, semakin lapar nih perut," ucap Aldo, setelah melihat hasil masakan Sila.


"Udah makan saja, enggak usah ngomel," tukas Sila, yang masih sibuk menata makanannya.


"Iya, iya, udah kayak ibu tiri aja kamu, galak banget, lagi .... " belum sempat Aldo melanjutkan ucapannya, lagi-lagi Sila mengangkat sendok dan melayangkan ke atas.


Aldo hanya nyengir melihat raut wajah Sila yang tengah memanyunkan bibirnya dengan mata melotot, bukannya terlihat menakutkan, tapi malah lucu.


Setelah selesai Sila pun menarik kursi dan duduk, ia pun mulai mengambil nasi dan lauk.


Acara sarapan pagi untuk hening, Aldo enggan bicara, karena sudah pasti Sila akan memarahinya.


Tapi lama-lama Aldo bosan dengan sarapan pagi yang begitu hening, akhirnya Aldo membuka suara.


"Sila, kak Rafael udah hubungin kamu apa belum, soalnya dari kemarin enggak ada kabarnya," ujar Aldo berbohong, ia hanya ingin memecahkan keheningan saja.


Padahal Aldo tau, jika Kakaknya masih sibuk dengan pekerjaannya.


Seketika Sila berhenti dengan aktivitasnya, ia meletakkan sendok ke piring.


"Kemarin sih ngabarin, kalau pekerjaannya masih banyak," jawab Sila, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya.


"Oh, gitu ya. Sila, aku minta maaf ya, mungkin sikap aku ke kamu terlalu berlebihan, aku sadar kalau sekarang kamu adalah milik Kakak aku, aku akan merasa bahagia jika kamu bahagia," tutur Aldo. Sila yang mendengarnya merasa tersentuh.


Sila terdiam, ia masih mencerna setiap penuturan yang Aldo katakan.


"Sudahlah Do, jangan bahas masalah itu lagi," ujar Sila, yang memang tidak mau membahas masalah dirinya dan Aldo.


"Ok, thanks ya," sahut Aldo dengan tersenyum.


Setelah itu, mereka pun melanjutkan sarapan paginya, setelah selesai Sila segera membereskan meja makan, dengan bantuan bi Inah.


Sila dan bi Inah masih sibuk membereskan piring dan gelas kotor, sementara itu Aldo sudah standby di depan televisi.

__ADS_1


***


30 menit kemudian, Sila telah selesai dengan pekerjaannya, ia pun keluar dari dapur sembari membawa minuman serta beberapa cemilan untuk dibawa ke ruang tengah.


Sila meletakkan dua gelas jus jeruk dan beberapa cemilan di atas meja di mana Aldo tengah menonton televisi.


"Wah tau aja kamu, kalau aku lagi haus," ujar Aldo setelah melihat Sila meletakkan dua gelas jus jeruk.


"Ya tau lah," sahut Sila, lalu ikut duduk di samping Aldo.


Keduanya kini tengah asyik menonton televisi, mereka begitu sangat bahagia, Sila dan Aldo tertawa lepas saat melihat acara di televisi yang menurutnya sangat lucu.


Namun tanpa mereka sadari, sepasang mata telah memperhatikan sedari tadi.


"Baru kali ini aku liat Sila tertawa lepas, kelihatannya bahagia sekali," ucap Rafael yang sedari tadi berdiri di dekat tangga.


Tidak ingin mengganggu, dan merasa sangat lelah, Rafael langsung naik ke atas dan menuju ke kamarnya.


Setibanya di kamar Rafael langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa penat dan lelah telah menjadi satu, Rafael berbaring terlentang seraya menatap langit-langit kamarnya.


Saat Rafael hendak memejamkan matanya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, dunia bagai berputar, Rafael pun bangkit seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Auh, kepalaku, kenapa tiba-tiba rasanya sangat pusing, auh," ringis Rafael menahan rasa pusing di kepalanya.


Rasa pusing dan sakit semakin menjadi, dan saat Rafael melihat segelas air putih di atas meja, ia hendak mengambilnya, tapi karena pandangan matanya yang mulai gelap, Rafael justru tidak sengaja menjatuhkannya, praanngg, gelas itu jatuh ke lantai.


"Auh, sakit," ringis Rafael yang merasa sudah tidak tahan lagi.


Rafael pun menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang, dengan terus memegangi kepalanya.


Sementara itu, Sila dan Aldo belum menyadari bahwa Rafael sudah pulang, mereka pun tidak mendengar saat gelas di kamar jatuh, lantaran terlalu keras saat tertawa.


"Eh Do, aku ke kamar dulu ya," ucap Sila dan beranjak bangkit dari duduknya.


Sila hanya mengangguk lalu berjalan menaiki anak tangga.


Setibanya di depan pintu kamar, Sila langsung membuka pintu tersebut, matanya terbelalak saat melihat sosok suaminya yang tengah terbaring di atas ranjang, dan pandangannya beralih ke lantai yang berserakan pecahan beling.


"Kak Rafael," ucap Sila, lalu berjalan masuk menghampiri suaminya yang masih berbaring di atas ranjang.


Mendengar suara istrinya, Rafael segera bangun dan duduk, meski kepalanya masih sedikit pusing, tapi Rafael mencoba menyembunyikannya, ia tidak mau jika istrinya khawatir.


"Kak Rafael kapan pulang, kok Sila enggak lihat," ucap Sila, lalu berdiri di samping ranjang.


"Pulang tadi, maaf ya, aku langsung ke kamar, soalnya capek banget, tadi aku juga lihat kamu sama Aldo lagi asyik nonton tv," tukas Rafael, sembari memijit pelipisnya.


Sila terdiam, ia merasa bersalah, karena asyik dengan Aldo, sampai suaminya pulang tidak tau.


"Maaf ya Kak, Sila enggak tau kalau kak Rafael udah pulang," ujar Sila, yang merasa bersalah.


"Enggak papa, kamu nggak salah kok," sahut Rafael tersenyum.


"Oya, maaf ya, aku tadi nggak sengaja jatuhin gelas itu," ujar Rafael, seraya menunjuk ke bawah.


Sila pun melirik ke arah di mana suaminya menunjuk.


"Iya nggak papa kok Kak, ya udah kak Rafael istirahat saja, biar aku yang beresin," ucap Sila, lalu berjongkok dan mulai membereskan pecahan gelas tersebut.


Rafael hanya tersenyum, dengan menahan rasa sakit di kepalanya, ia pun kembali merebahkan tubuhnya, berharap rasa sakit itu cepat hilang.

__ADS_1


Selesai membersihkan, Sila bergegas turun ke bawah, ia langsung berjalan menuju ke dapur.


"Kenapa Sil, buru-buru banget kelihatannya," ujar Aldo, saat melihat Sila keluar dari dapur sembari membawa segelas air putih, dengan berjalan tergesa-gesa.


"Enggak apa-apa," sahut Sila tanpa menoleh, ia terus berjalan menaiki anak tangga.


Setibanya di kamar, Sila langsung menyodorkan segelas air putih pada suaminya itu.


"Minum dulu Kak," pinta Sila, seraya menyodorkan gelas tersebut.


Rafael pun bangun, raut wajahnya terlihat sangat lesu dan juga pucat. Sila yang melihatnya merasa sedikit khawatir, ia pun duduk di samping suaminya.


Rafael mengambil gelas tersebut, lalu meneguk air minumannya.


"Makasih ya," ucap Rafael, dan dibalas senyuman oleh sang istri.


Saat Rafael hendak melepas dasi yang masih melilit di lehernya, tiba-tiba Sila mengambil alih.


Rafael tertegun melihat istrinya yang tiba-tiba seperti itu.


Selesai melepaskan dasi, kemudian Sila membuka sepatu yang masih menempel di kaki suaminya.


"Ternyata Sila perhatian juga, tapi sayang, sikapnya kadang masih kekanak-kanakan," gumam Rafael dalam hati.


Setelah itu, Sila menaruh dasi dan sepatu milik suaminya di tempatnya.


Kemudian Sila mendekat kembali ke arah ranjang, ia melihat wajah suaminya yang pucat, rasa khawatir pun muncul.


"Kak Rafael sakit ya?" tanya Sila, sembari menatap lekat wajah sang suami.


Terlihat jelas raut wajah Sila yang tengah khawatir, meski belum tumbuh rasa cinta di antara keduanya, tapi melihat suaminya seperti itu, tentu tetap merasa khawatir.


"Aku nggak papa kok, cuma lelah saja, dan butuh istirahat," jawab Rafael berbohong, padahal sejak dari Batam, Rafael memang sudah merasa tidak enak badan.


Rafael pun sengaja pulang lebih awal, meski masalah di sana belum terselesaikan.


Sesekali Rafael memijit pelipisnya, rasa pusing masing saja bersarang, meski tidak separah tadi.


"Ya udah, kak Rafael istirahat saja ya, biar badan Kakak fit lagi," uajr Sila, dan dibalas dengan anggukan oleh sang suami.


Rafael pun kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sementara itu, Sila nampak membuka koper kecil yang suaminya bawa, ia tengah membereskan baju-baju milik Rafael, dan memilih baju yang kotor.


10 menit kemudian, Sila telah selesai dengan pekerjaannya, ia berniat mau membawa pakaian kotor itu ke bawah, tapi saat Sila hendak meminta Rafael untuk berganti pakaian terlebih dahulu, suaminya nampak sudah terlelap.


"Kak Rafael udah tidur lagi," ucap Sila, saat melihat suaminya sudah tertidur.


"Kak, kak Rafael," ucap Sila sembari menggoyangkan tubuh Rafael pelan.


Rafael pun membuka matanya, dan melihat istrinya tengah duduk di sampingnya.


"Iya ada apa?" tanya Rafael.


"Em, kak Rafael ganti baju dulu ya, baju yang Kakak pake mau Sila cuci dulu," ucap Sila malu-malu.


Rafael mengernyitkan keningnya, baru kali ini istrinya bersikap seperti itu, apa gara-gara Sila melihat suaminya yang sedang sakit, jadi tiba-tiba berubah perhatian.


Kemudian Rafael bangun dan turun dari ranjang, tapi baru saja dua langkah, tiba-tiba pandangannya berputar, dan detik itu juga, tubuh Rafael terhuyung jatuh ke lantai.

__ADS_1


Sila yang melihatnya sontak terkejut dan segera berlari menghampiri suaminya.


"Kak Rafael," teriak Sila, seraya berlari menghampiri suaminya.


__ADS_2