
Malam hari Sila telah tiba di depan rumah sahabatnya, yaitu Sonya, teman SMA sampai kuliah.
Dengan segera Sila mengetuk pintu rumah Sonya, tak perlu menunggu lama, pintu pun terbuka.
Sontak Sonya terkejut melihat sahabatnya berdiri di depan pintu rumahnya dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Tanpa banyak bicara, Sonya segera mengajak Sila untuk masuk ke dalam.
"Ayo masuk Sil ... duduk ya, aku ambilin minum dulu," ujar Sonya. Setelah itu ia bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Tak lama kemudian, Sonya datang dengan membawa segelas air putih, ia pun menyodorkan gelas tersebut pada Sila.
Sila pun meminum air tersebut, setelah itu ia meletakkan gelas itu di atas meja.
Perasaannya mulai tenang, tapi pikiranya tetap pada suaminya.
Setelah cukup lama, akhirnya Sonya memberanikan diri untuk membuka suara, dan mempertanyakan apa yang tengah terjadi pada sahabatnya itu.
Sejujurnya Sila enggan untuk bercerita tentang masalah rumah tangganya, tapi Sonya terus memaksa, akhirnya Sila pun menceritakan semuanya.
Sila mulai menceritakan awal masalah yang menimpanya, tak lupa ia juga bercerita tentang pernikahannya dengan Rafael.
Sonya hanya mendengarkan semua cerita sahabatnya itu. Syok dan iba mendengar semua cerita dari Sila, Sonya tidak menyangka jika sahabatnya mempunyai masalah serumit itu.
Air mata Sila kembali luruh, saat mengingat semua tentang dirinya dan suaminya.
Masa-masa indah yang pernah Sila rasakan, ternyata hanya sekejap mata, kini yang ia rasakan hanya sakit. Sonya yang melihat sahabatnya menangis ikut merasakan sedih.
Kemudian Sonya bangkit dan duduk di samping Sila, ia mengusap punggung Sila dengan pelan, lalu menariknya dan menyenderkan kepala Sila di bahunya.
"Sabar ya Sil, aku yakin, kalau kalian berjodoh, pasti kalian akan dipertemukan kembali, dan kalian akan hidup bersama lagi seperti dulu," tutur Sonya. Ia mencoba menenangkan hati dan pikiran Sila.
"Makasih ya Sony, kamu memang sahabat terbaik aku," ujar Sila, ia pun bangkit dan menyeka air matanya.
"Sama-sama, oya mending kamu tinggal di sini aja ya, kebetulan mama sama papa lagi di luar negeri, jadi bisa buat temen aku, kamu mau kan," usul Sonya. Ia sangat berharap semoga Sila mau tinggal di rumahnya.
"Apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Sila memastikan. Ia tidak mau jika kedatangan dirinya membuat Sonya merasa terbebani.
"Ya enggak lah, kayak sama siapa aja, justru aku senang kalau kamu mau tinggal di sini," sahut Sonya dengan tersenyum.
"Makasih ya Sony," balas Sila. Lalu memeluk tubuh Sonya dengan sangat erat.
Senyum terukir di bibir Sila, meski hati dan pikirannya hancur, tapi Sila tidak mau terlihat sedih di hadapan sahabatnya.
Setelah cukup lama, Sila pun melepas pelukannya.
"Tapi aku minta, kamu jangan ngomong ke siapa-siapa kalau aku di sini, terutama sama Aldo," pinta Sila. Saat ini Sila butuh ketenangan, walaupun dalam benaknya hanya ada nama Rafael, tapi Sila mencoba untuk bisa menerima kenyataan.
Sonya yang paham dengan masalah yang Sila hadapi, dengan cepat Sonya menganggukkan kepalanya.
***
Sementara itu, meski Sukma sudah tau jika Maya telah mengusir Sila, Sukma tidak mau membahasnya, yang terpenting, Aldo terus berusaha untuk mencari keberadaan cucu menantunya itu.
Walaupun sampai saat ini belum membuahkan hasil.
Aldo sudah mendatangi semua teman kampus Sila, tapi dari semua temannya tidak ada yang tau.
Begitu juga dengan Sonya, Aldo pun sudah menanyakan padanya, tapi karena sudah terlanjur berjanji, dengan terpaksa Sonya berbohong.
Kini Aldo tengah berada di RS, setiap hari Aldo selalu menyempatkan diri datang ke RS.
__ADS_1
Meski di sana Nenek dan ibunya selalu berada di samping Kakaknya, tapi bagi Aldo, jika tidak menengoknya sehari saja, Aldo merasa perasaan bersalah semakin menghantuinya.
Seminggu sudah Rafael dirawat di RS, tapi kondisinya masih sama, belum ada perubahan.
Meski terkadang ekor matanya mengalirkan cairan bening, tapi sampai saat ini belum ada yang menyadarinya. Seperti saat ini, ekor matanya kembali mengeluarkan cairan bening itu.
"Aldo minta maaf ya Kak, sampai saat ini Aldo belum bisa nemuin Sila, tapi Aldo janji, Aldo akan segera menemukan Sila," tutur Aldo. Kini dirinya tengah duduk di samping Kakaknya.
Tiba-tiba saja jari tangan Rafael bergerak, Aldo yang tidak sengaja melihatnya terlonjak kaget.
Senyum pun terukir di bibir lelaki itu, Aldo berharap jika kakaknya akan segera bangun dari komanya.
Seketika Aldo bangkit dari duduknya, ia lebih memperhatikan jari Kakaknya, tapi hanya sesaat ia melihatnya bergerak.
Karena penasaran, Aldo pun memanggil Dokter, untuk memeriksa keadaan Rafael.
Selang 10 menit, Dokter pun datang dengan dua perawat, Dokter itu segera memeriksa keadaan Rafael.
Aldo dan Sukma menunggu dengan bimbang.
Harapan mereka adalah Rafael segera bangun dari komanya, Sukma tidak sanggup melihat cucunya menderita dengan cara seperti itu.
Selesai pemeriksaan, Dokter tersebut segera menghampiri Aldo dan Sukma.
Dengan hati berdebar, Sukma pun bertanya tentang keadaan cucunya.
"Bagaimana keadaan cucu saya Dok?" tanya Sukma. Hati dan pikirannya sama-sama tidak tenang.
"Untuk saat ini kondisi Rafael sudah stabil, tapi saya lihat belum ada tanda-tanda Rafael akan sadar, kita berdo'a saja ya Bu, semoga ada mukjizat," jelas sang Dokter. Ada rasa kecewa yang Sukma dan Aldo rasakan.
"Baik Dok, terima kasih," sahut Sukma.
Setelah itu, Dokter dan kedua perawatnya keluar dari ruang rawat Rafael.
Apa lagi di tambah Sila yang belum ketemu sampai saat ini. Sukma merasa jika keluarganya tengah diuji, dengan masalah yang belum terselesaikan.
Sampai sekarang mereka juga belum tau, siapa dalang di balik semua peristiwa yang menimpa Rafael.
"Rafael, cepat sembuh ya, Nenek tidak tega melihat kamu seperti ini, kalau saja Nenek bisa menggantikan posisi kamu, pasti akan Nenek gantikan," Sukma tak henti-hentinya meratapi keadaan cucunya.
***
Keesokan harinya, Sila terbangun dari tidurnya, ia merasakan mual dengan segera Sila berlari ke kamar mandi.
Di dalam Sila mengeluarkan isi perutnya, tapi hanya cairan bening yang keluar. Sila segera membasuh mukanya setelah itu ia keluar.
Kini Sila dan Sonya sudah berada di meja makan, mereka hendak menyantap sarapan pagi.
Belum sempat Sila mengambil makanan, lagi-lagi rasa mual itu datang kembali, dengan cepat Sila berlari ke belakang.
Sonya nampak bingung dengan sahabatnya itu.
"Sil, kamu kenapa?" tanya Sonya. Ia pun berjalan menghampiri Sila.
Sonya melihat Sila yang tengah berdiri di depan wastefel dengan membukukan badannya.
Karena khawatir Sonya pun menghampiri sahabatnya itu. Sonya berdiri di samping Sila dan memijit-mijit tengkuk sahabatnya itu.
"Sila kamu enggak apa-apa, kan?" Sonya kembali bertanya, takut terjadi apa-apa dengan Sila.
Setelah itu, Sila membasuh mulutnya dan mengelapnya dengan tisu. "Aku enggak apa-apa kok Sony, ini wajar terjadi." Ia tersenyum meski hatinya terasa getir.
__ADS_1
Sonya terdiam sejenak, ia mencoba mencerna ucapan sahabatnya itu.
Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Sonya tau apa yang dimaksud oleh Sila.
"Kamu hamil Sil?" tanya Sonya antusias. Sila hanya menganggukkan kepalanya.
"Wah selamat ya Sil," sambung Sonya dengan senyum yang mengembang.
"Iya, makasih ya," sahut Sila. Bibirnya tersenyum, tapi tidak dengan hatinya.
Tiba-tiba saja bulir bening menetes tanpa meminta izin. Sila teringat akan suaminya, sekali ia tidak tau bagaimana keadaannya.
Sila mengelus perutnya yang masih datar.
Sonya yang menyadari itu, dengan segera menarik tubuh Sila dan memeluknya.
"Yang sabar ya Sil, aku yakin, kamu pasti bisa melewati ini semua, aku akan selalu ada untuk kamu," Sonya berucap, berharap bisa menenangkan sahabatnya itu.
Sila semakin terisak dalam tangisnya. Meski telah mencoba untuk tegar, tapi hatinya sama sekali tidak dapat dibohongi.
Setelah cukup merasa tenang, Sila melepas pelukan Sonya, tak lupa ia menyeka air matanya.
"Sony, aku boleh minta tolong enggak," ucap Sila. Ia berharap sahabatnya mau menolongnya.
"Apa Sil," sahut Sonya.
"Aku pengen tau keadaan kak Rafael, tapi enggak mungkin aku untuk datang ke sana, kalau mamanya tau, pasti akan marah-marah," terang Sila. Sonya tersenyum, ia tau apa yang dimaksud oleh Sila.
"Ya udah, nanti aku akan ke sana, kamu di rumah saja, kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal panggil bi Minah saja," tutur Sonya.
Sila mengangguk paham. "Makasih ya Sony." Ia pun tersenyum.
"Oya, kak Rafael dirawat di ruangan apa?" tanya Sonya.
"Ruangan Anggrek nomor 057," jawab Sila, dan dibalas anggukan oleh Sonya.
***
Waktu telah berputar, kini Sonya sudah tiba di RS, ia segera mencari ruangan Anggrek, yang ternyata berada di lantai atas.
Tak butuh waktu lama, Sonya sudah menemukan apa yang ia tuju.
Sonya tengah berjalan mencari kamar nomor 057.
Cukup sulit juga, terlebih RS tempat Rafael dirawat adalah RS terbesar di Jakarta.
Sonya mengedarkan pandangannya untuk mencari kamar tersebut, matanya harus jeli dalam melihat, agar yang ia cari cepat ketemu.
Setelah hampir 30 menit mencari, Sonya kini sudah menemukannya.
Dengan segera ia mendekat ke kamar tersebut.
Ingin rasanya Sonya masuk ke dalam, tapi itu mustahil baginya.
"Aku enggak mungkin masuk ke dalam, aku lihat saja dari sini," gumamnya, ia pun berdiri di depan pintu.
Sonya melihat ke dalam melalui pintu yang terbuat dari kaca, dari situ Sonya dapat melihatnya.
Meski tidak bisa mendengar jelas, lantaran terlihat seorang Dokter dan perawat tengah memeriksa keadaan Rafael.
Cukup lama Sonya berada di tempat itu, tapi ia sama sekali tidak dapat mendengar suara dari dalam.
__ADS_1
Saat tengah membuka pintu ruangan tersebut, tiba-tiba Sonya merasa ada yang memegang bahunya. Sontak hal itu membuat Sonya terlonjak kaget, seketika matanya terbelalak, ia merasa sudah seperti maling yang ketahuan mau mencuri.