
“Apa kalian yakin om tante?” tanya Andri.
“Yakin nak, kami tak sanggup kalau harus menyakiti hati Beeve,” ucap Dimas.
“Ayah, gimana aku bisa mengatasi ini semua? Hiks..” tanya Arinda.
Dimas menarik nafas panjang, lalu berkata pada putrinya.
“Kita gugurkan kandungan mu nak.” Arinda yang mendengar keputusan sang ayah tentu saja tak terima, begitu juga dengan Andri
“Ayah, ini manusia, bukan anak ikan yang main bunuh-bunuh saja, ini anak ku, cucu ayah dan ibu, aku enggak mau menggugurkan anak ku!” pekik Arinda.
“Benar om, bagaimana om bisa berkata begitu mudah? Ini anak ku juga om!” timpal Andri yang takut kehilangan anaknya.
“Terus kami harus bagaimana? Kami enggak bisa menanggung malu ini nak, Lihatlah kami yang sudah tua ini, Arinda juga masih muda, masa depannya masih panjang, toh janinnya masih muda, ini demi kebaikan bersama,” terang Dimas.
“Aku enggak mau yah.” Arinda menangis seraya menoleh ke arah Andri, seolah meminta pembelaan.
“Jangan om, ikuti saja seperti kata ku tadi,” pinta Andri.
“Walau pun orang lain berhasil di kecoh, tapi akuu juga malu pada diriku sendiri nak, aku telah gagal mendidik putri ku.” Dimas merasa rapuh akan kegagalannya sebagai seorang ayah.
“Tapi om, ini anak ku! Aku enggak bisa terima kalau dia harus jadi korban.” tanpa Andri sadari ikatan batin antara ia dan anaknya makin kuat.
“Tak usah teriak-teriak mengatakan itu anak mu, toh kau sendiri enggak bersedia menikahi Arinda,” ucap Elia.
“Tante kan tahu sendiri, aku sudah menikah,” sahut Andri membela diri.
“Kami juga tahu kau sudah menikah, untuk itu kami memutuskan demikian, tujuannya demi kebaikan bersama.” terang Elia, meski sebenarnya hatinya juga berat melakukan hal berdosa itu.
“Aku enggak mau bu, ini anak Arinda bu, jangan di gugurin bu, yah, hiks..., mas Andri tolong Arinda, Arinda enggak mau ngelakuin hal itu.” Arinda terus memohon dalam tangisnya pada Andri.
Andri terdiam mencoba memikirkan jalan keluar.
__ADS_1
“Sudahlah Nda, kau pikir punya anak tanpa suami itu mudah? Pokoknya kau enggak boleh jadi ibu sedini ini,” ucap Elia.
“Benar kata ibu mu, ayo sekarang juga kita ke klinik untuk aborsi!” Dimas bangkit dari duduknya dan menarik tangan Arinda.
“Eng-enggak! Enggak mau yah! Biarkan Arinda memiliki anak ini yah, tolong!” Arinda menangis histeris ia takut akan kehilangan anaknya.
Namun Dimas tak perduli, ia terus menarik tangan Arinda dari sofa ia duduk, da. Elia juga ikut membantu.
“Ayo, jangan melawan!” pekik Elia.
“Stop!!!” teriak Andri, ia pun bangkit dari duduknya.
“Aku akan menikahi Arinda,m.” Arinda dan kedua orang tuanya melihat satu sama lain.
“Nak Andri bagaimana dengan Beeve kalau kau menikahi Arinda?” tanya Dimas.
“Maka dari itu, kalau Arinda bersedia nikah siri, aku akan menikahinya,” terang Andri.
“Tapi...”
Dimas melepaskan tangannya dari Arinda, kemudian berkacak pinggang, “Kau pikir aku sebodoh itu? Kau menikahi putri ku tanpa sepengetahuan keluarga mu?”
“Mau bagaimana lagi? Sudah jelas akan di tentang om,” ujar Andri.
“Apa nilai kami serendah itu di mata mu? Kau nikahi putri ku di bawah tangan, selanjutnya keluarga mu tak ada yang tahu, agar sewaktu-waktu kau bisa melarikan diri begitu? Eh! Walau pun aku miskin, tapi aku berpendidikan ya! Meski pun putri ku telah kotor, aku enggak mau kalau dia menikah tanpa sepengetahuan keluarga suaminya!”
“Om, mengertilah posisi ku,” ucap Andri.
“Kau juga harus mengerti posisi kami,” sahut Dimas.
“Aku mengerti, sebagai ganti kesalahan ku, aku akan memberikan kompensasi pada keluarga om,” ujar Andri.
“Hei nak, kau ini sekaya apa sih? Bangga sekali dengan uang yang kau punya, kau pikir uang mu bisa membeli harga diri kami? Enggak bisa nak, kau salah! Kalau kau mau anak mu dan juga Arinda, bawa kedua orang tua mu kemari! Lamar baik-baik putri ku, okelah aku terima dia jadi istri siri mu, tentunya harus dengan restu orang tua mu!” Dimas yang tak ingin putrinya merugi total pun bersikap tegas pada Andri.
__ADS_1
“Om... aku enggak bisa,” ucap Andri tertunduk lemas.
“Itu terserah kau, ku tunggu selama 5 jam, kalau kau enggak datang membawa kedua orang tua mu, maka jangan harap bertemu anak mu! Aku enggak perduli soal apapun, kecuali harga diri keluarga kecil ku ini, sudah kau pulanglah, kalau kau benar menyayangi anak mu, tentu tiada keraguan di hatimu untuk menikahi putri ku,” terang Dimas.
“Betul nak, pulanglah, kalau memang berjodoh pasti bertemu,” ucap Elia.
“Mas, tolong aku mas, demi anak kita mas, aku enggak mau kehilangan buah hati kita mas.” Andri menatap lekat wajah dan perut Arinda.
Tanpa menjawab perkataan wanita menyedihkan yang ada di sebelahnya, Andri balik kanan, keluar dari kediaman Arinda.
Di dalam mobil Andri terus berpikir, keputusan apa yang harus dia ambil.
“Ya Allah, tunjukkan aku jalan yang benar,” ucap Andri.
Ia yang merasa prustasi kembali mengingat wajah cantik istrinya.
“Maafkan aku Bee, apa kau masih bisa menerima ku, yang sekarang memiliki anak bersama orang lain? Bee, apa kau akan mengerti segalanya?” Andri menangis dalam renungannya.
“Mungkin ini balasan untuk ku, yang sempat tak terima kekurangan mu yang dulu, Allah menghukum ku, dengan memberi kekurangan yang lebih parah darimu, maafkan aku sayang, maafkan aku yang tak bisa menjaga kesucian cinta kita.” Andri menangis, terlebih saat ia mengingat masa-masa indah dan persatuannya dengan Beeve.
Ia merasa jika akan menikahi Arinda, Beeve akan meninggalkan dirinya.
“Aku takut kalau kau pergi Bee, lagi pula siapa yang mau cintanya di bagi, apa aku bisa mencegah kepergian mu nanti? Dan aku juga enggak sanggup kalau kau dapat pengganti ku, Bee maafkan aku.” Andri larut dalam di lema, selain karena tak ingin kehilangan Beeve, ia juga tak siap bila harus terpisah dengan buah hatinya bersama Beeve.
“Akhh!!!” Andri memukul-mukul setir mobil karena emosi pada dirinya sendiri, Andri juga merasa bersalah, kalau harus menelantarkan anak yang di kandung Arinda.
Ia benar-benar tak mengerti, kenapa ia merasa lebih sayang dengan janin Arinda di bandingkan Beeve.
“Pada hal sama-sama anak ku, tapi entah kenapa, aku enggak bisa jauh dan membiarkan bayi Arinda kenapa-napa, pada hal kalau Beeve, aku bisa percayakan pada Emir, Arinda... akh... aku enggak ingin dia sendirian merawat anak itu.” Andri terus mengoceh pada dirinya sendiri, lalu ia berpikir dengan benar, karena waktunya tak banyak, 5 menit kemudian, ia pun menemukan jalan yang harus ia ambil.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1