
Beeve yang memang butuh teman akhirnya duduk di hadapan Emir.
“Apa Andri belum pulang?” tanya Emir.
“Belum mas.” jawab Beeve dengan raut wajah resah.
Emir yang merasa kasihan pada Beeve pun mencoba untuk menghiburnya.
“Sudahlah, kau enggak usah khawatir begitu, paling sebentar lagi dia pulang.”
“Tapi lama banget mas, masa ketemu teman sampai berjam-jam gini?”
“Dia bertemu Arman ya?”
“Iya mas, katanya mas Arman,” ucap Beeve.
“Bisa jadi, mungkin urusannya memang penting, maklumlah, suami mu kan bukan orang penting,” terang Emir.
Namun Beeve yang memiliki insting kuat berkata lain.
Tapi mas Andri belum pernah setelah pulang kerja terus pergi lagi, batin Beeve.
Beeve duduk termenung di sofa hingga pukul 01:00 malam, Emir yang cemas pergi ke dapur untuk membuatkan teh madu hangat untuk kakak iparnya.
“Minumlah.” ucap Emir, namun Beeve yang pikirannya melayang-layang tak mendengar ucapan Emir.
“Bee!” Emir mengelus puncak kepala Beeve.
Beeve mendongak, dan tanpa sadar meneteskan air mata.
“Maaf mas.” ucap Beeve seraya menyeka air matanya.
“Hei, kenapa kau menangis? Apa kau barusan di gigit nyamuk?” Emir mencoba mengajak Beeve bercanda.
“Hiks..., enggak mas, tapi... firasat ku enggak enak mas, mas Andri enggak pernah seperti ini, telepon ku juga enggak di angkat-angkat, hiks...” terang Beeve.
“Mungkin handphonenya enggak pakai nada, kau ini, sudah mau jadi ibu, tapi cengengnya enggak berubah,” ujar Emir.
“Ih, mas Emir, masih saja bercanda, maksudnya, dia belum pernah begini dan lagi kenapa belum pulang juga? Aku takut juga kalau terjadi apa-apa padanya.”
“Hei, jangan menangis, dia itu laki-laki, dia enggak akan di culik orang, kalau pun kecelakaan pasti pasti kita akan di hubungi polisi.” terang Emir dengan suara yang lembut.
“Kalau itu sih aku yakin, tapi bagaimana kalau mas Andri di sekap wanita lain? Hiks...” Beeve tak dapat menahan rasa sedihnya.
“Ahahahaha, darimana kau tahu dia akan bersama wanita lain?”
__ADS_1
“Karena beberapa minggu yang lalu, aku menemukan anting Arinda di kamar kami, dan juga sprei ranjang yang di buang karena alasan di muntahi, dari situ sebenarnya aku sudah curiga mas, kalau suami ku ada main dengan Arinda, dan nomor Arinda juga tiba-tiba enggak aktif, dan mas Andri parahnya makin jarang menyentuh ku, hiks... apa aku salah kalau menaruh curiga mas? Meski pun aku belum punya bukti?” terang Beeve, yang membuat hati Emir gerah.
“Mungkin kau salah, kalau belum ada bukti, jangan berpikir lebih, ingat Bee kau sedang mengandung,” ucap Emir.
“Aku enggak bisa tenang mas memikirkan semuanya.” Beeve terus menyeka setiap air derai air matanya.
Kepara* kau Ndri! Bisa-bisanya kau meninggalkan jejak, pada hal istri mu sedang mengandung, tapi kau malah menyelingkuhi nya, aku enggak bisa memaafkan mu! pekik Emir dalam hatinya.
“Sudah tenanglah, nanti kalau dia pulang, kita tanya dia dari mana bersama Arman, pikiran mu jangan keburu negatif. Aku yakin dia itu bersikap lurus, mana mungkin dia neko-neko. Sekarang minum dulu air madunya, setelah itu istirahatlah ke kamar, sudah larut banget ini.” Beeve pun meminum teh madu buatan Emir, selanjutnya ia menuju kamar untuk istirahat.
Sedang Emir yang masih berada di ruang tamu mengepal kuat tangannya, menahan segala emosi di hatinya.
FLASHBACK
Pukul 17:30, ketika Emir akan menginjakkan kaki di ruang tamu, ia melihat Andri mencekik Arinda.
Awalnya Emir ingin melerai, namun ia mengurungkan niatnya, saat tahu bahwa Arinda mengandung anak Andri.
Emir amat patah hati, ketika orang yang ia cintai kena khianati, ia tak sanggup bila Beeve tahu, kalau Andri dan Arinda bermain di belakangnya.
Emir mendengar semua percakapan antara Arinda dan Andri, termasuk ancaman Andri yang akan membunuh Arinda.
FLASHBACK OFF
Aku enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Arinda, tapi kenapa kau melakukan itu di kamar mu dan Beeve? Otak mu dimana sih Ndri? batin Emir.
_______________________________________________
Andri yang berada di rumah sakit masih menemani Arinda yang belum sadarkan diri.
Sang dokter wanita yang telah selesai memeriksa keadaan Arinda pun berkata pada Andri.
“Bu Arida hanya kelelahan, dan juga kurang energi pak, tensinya juga sangat rendah, ya wajarlah, namanya juga sedang hamil,” terang sang dokter.
Jadi, dia benar-benar hamil? batin Andri.
“Tapi anak saya baik-baik saja kan dok?”
“Alhamdulillah baik pak.”
“Dok, apa bisa dia di USG?” tanya Andri.
“Bisa pak, tapi tunggu bu Arinda siuman dulu ya, karena sangat kasihan kalau istirahatnya terganggu,” jawab sang dokter.
“Saya mau sekarang dok,” desak Andri.
__ADS_1
“Tapi alatnya ada di ruangan lain pak,” ucap sang dokter.
“Bawa alatnya kesini dok, saya akan bayar berapapun yang dokter minta.” pinta Andri karena hatinya tak tenang jika tak melihat langsung keadaan bayinya
“Baiklah pak, tunggu sebentar.” sang dokter pun meninggalkan Andri dan Arinda di ruangan itu.
Kemudian Andri mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa yang harus ku lakukan Tuhan,” gumam Andri, lalu ia menatap lekat wajah Arinda.
“Yang benar saja kalau aku beristri dua, aku enggak sanggup melihat wajah Beeve ya Allah, aku juga enggak sanggup membunuh anak ku sendiri.” Andri benar-benar dilema dengan situasi yang ia hadapi, sampai-sampai ia lupa untuk pulang.
Tak lama, sang dokter pun kembali bersama seorang suster yang membawa peralatan untuk USG.
Setelah semua perangkat telah terhubung satu sama lain, dokter mulai meletakkan transducer ke perut Arinda.
“Nah, itu dia pak, anak bapak sedang membuat rumah di dinding rahim ibunya, sehat kok pak, lihat saja pergerakannya, sangat gesit.” dokter menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi kandungan Arinda yang membuat hati Andri lebih tenang, walau ia membenci Arinda namun hati kecilnya tak dapat membuang anaknya begitu saja.
Setelah merasa puas dengan penjelasan sang dokter, Andri pun meminta resep terbaik, agar Arinda dan bayinya sehat.
Pukul 05:00 subuh, Andri baru tiba di rumahnya, ia yang membawa kunci cadangan rumah pun membuka pintu.
Ceklek!
Buk!! Satu pukulan mendarat ke wajah tampan Andri, ia yang mengantuk pun terjatuh ke lantai teras.
“Apa-apaan kau Mir!” hardik Andri.
“Pelankan suara mu!” lalu Emir menarik kerah baju Andri dengan kedua tangannya.
“Berdiri!” pekik Emir lalu melayangkan satu tinju lagi ke wajah Andri.
Buk!!
“Ada apa ini!” Andri tak mengerti kenapa Emir menyerangnya.
“Kau belum sadar ada apa?” ucap Emir dengan suara pelan.
“Dua pukulan itu untuk air mata Beeve! Dengan mudahnya kau menduakan dia! Bercinta di kamar yang kalian tempati, otak mu dimana Ndri! Pada hal Beeve sedang mengandung! Malah kau menghamili anak orang sekarang! Katanya kau cinta dia, enggak bisa hidup tanpa dia! Tapi kenapa! Baru juga jalan dua bulan menikah kau sudah menduakan nya!!” buk! Emir melayangkan pukulan di perut Andri.
“A-aku bisa jelaskan Mir!” ucap Andri menahan rasa sakit.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1