Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 147 (Di Rendahkan)


__ADS_3

Arinda pun buru-buru membersihkan diri, agar ia dapat menyaksikan kepergian para Art yang membuatnya kesal.


Setalah selesai mandi, ia turun ke lantai satu, benar saja, Siska, Sinta dan Resti telah sedia dengan koper mereka masing-masing.


Beeve pun duduk berhadapan dengan mereka bertiga di atas sofa.


“Aku benar-benar minta maaf pada kalian atas insiden yang terjadi,” ucap Beeve dengan perasaan sedih.


“Jangan meminta maaf nyah, nyonya enggak ada salah sama kita kok,” ujar Siska.


“Benar nyah, nyonya itu sangat baik pada kita semua, justru kita yang harus minta maaf karena telah membuat kekacauan di rumah nyonya,” terang Resti.


“Kita harap nyonya panjang umur dan sehat selalu terhindar dari segala bahaya.” Sinta mendo'a kan sang nyonya yang telah baik padanya.


“Terimakasih banyak semuanya, aku harap kalian segera mendapat pekerjaan baru,” ucap Beeve


“Hem.. Ehem..., kalau mau pergi, pergi saja, enggak usah banyak drama.” ucap Arinda yang kini duduk bersama ke empatnya di atas sofa.


“Kita akan pergi kok, dasar perusak suasana,” ucap Sinta.


“Astaga, masih berani melawan lagi.” Arinda memberi tatapan mata sinis pada Sinta.


“Sudahlah Nda, kau ini kenapa sih? Jangan buat kacau lagi.” Beeve menegur Arinda yang tak ada jeranya membuat masalah.


“Iya-iya, tapi sebelum mereka pergi, aku perlu menggeledah koper para babu jahanam ini!" pekik Arinda.


“Arinda! Jangan makin ngelunjak ya!” hardik Beeve.


“Kita perlu periksa Bee, mana tahu mereka bawa sebongkah berlian atau Gucci mahal dari sini, kalau di jual kan lumayan untuk biaya hidup mereka selama pengangguran.” terang Arinda seraya merampas koper Sinta dari genggamannya.


Beeve yang sudah di atas malu, menarik kerah belakang baju madunya yang duduk di sebelahnya.


“Au!! Sakit!!!” teriak Arinda yang tercekik.


“Mereka enggak akan membawa apapun,” ucap Beeve.


“Sudahnya, biarkan saja si jalan* ini memeriksanya, kalau enggak terbukti kita mengambil apapun, izinkan kami secara bergilir memberi tamparan perpisahan padanya,” pinta Siska.


Beeve yang tak ingin ada keributan lagi, memperingati Arinda.


“Arinda, jangan teruskan, nanti kau kena batunya sendiri loh!”


“Berani menyakiti ku lagi, ku masukkan mereka ke dalam penjara, lagi pula aku punya keluarga pengacara dan juga jendral, bahkan om ku bekerja di istana negara, jadi kalian bisa apa? Hah! Dasar orang miskin, berani macam-macam ku buat kalian menjual seluruh harta kalian untuk uang damai.” Beeve benar-benar tak menyangka, sahabat yang ia kenal selama ini ternyata orang yang benar-benar sombong dan angkuh.

__ADS_1


Pada hal dia dulu enggak begini, apa karena tiba-tiba jadi orang kaya batinnya kaget hingga lupa diri? batin Beeve.


“Ya sudah, lalukan semau mu, tapi kalau mereka menyakiti mu, aku enggak akan membela mu,” ucap Yalisa.


“Rekam perbuatannya.” bisik Siska pada Sinta.


“Oke kak.” Sinta pun mengabadikan aktivitas yang Arinda lakukan pada koper-koper mereka dengan ponsel pintarnya.


Setelah selesai menggeledah, Arinda tak mendapatkan apapun. Beeve mengangkat alisnya, karena merasa Arinda benar-benar bodoh.


“Sudah puas?” tanya Beeve.


“Lumayanlah, beruntung mereka masih jujur," ujar Arinda.


“Ya sudah kalau begitu, ah ini untuk kalian.” Beeve memberi amplop berisi uang untuk ketiganya.


“Enggak perlu nyah, kita kan baru saja gajian,” ucap Siska.


“Terima saja mbak, itu pesangon dari saya, maaf kalau enggak banyak.”


“Enggak perlu nyonya, karena kita masih punya uang,” ucap Resti.


“Ya, mereka benar Bee, untuk apa juga mereka menerimanya, harusnya mereka itu, ganti rugi barang-barang yang pecah di dapur,” terang Arinda.


Siska, Resti dan Sinta benar-benar dendam pada Arinda yang sangat memuakkan di mata mereka.


“Uang mu dari mana sih, itukan hasil kerja keras suami ku,” gumam Arinda.


Beeve yang lelah pun tak menggubbris Arinda lagi.


“Pokoknya kalian terima saja, mohon jangan ceritakan masalah rumah ini di luar sana ya mbak, Sinta dan juga Resti,” pinta Beeve.


“Baik nyah.” jawab ketiganya serempak.


“Kalau begitu kami permisi.” sebelum mereka beranjak pergi, Siska Sinta dan Resti benar-benar melakukan perkataan mereka sebelumnya.


Mereka secara bergilir menuju Arinda, plak! Plak! masing-masing memberi Arinda 2 tamparan.


“Bintan* kalian!!! Akan ku tuntut kalian semua!” teriak Arinda, lalu Sinta memperlihatkan video yang sempat ia rekam.


“Kau akan kami laporkan kembali, dengan tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tak menyenangkan, serta penganiayaan, mau!” Sinta membalas ancaman Arinda.


“Kau pikir kami tolol? Hanya karena profesi kami sebagai Art kau semena-mena, ku rasa otak kami lebih cerdas dari mu, hanya nasib saja yang kurang beruntung!” pekik Resti.

__ADS_1


“Tidak semua Art itu bodoh, dan tidak semua orang kaya atau yang berjabatan itu cerdas, kami hanya kalah di ijazah, selebihnya kita satu sama,” terang Siska.


Beeve hanya bisa menunduk, karena kata-kata Art nya begitu menohok, meski bukan padanya, namun ia merasa sangat malu.


“Terserah apa kata kalian!” pekik Arinda.


Setelah perseteruan itu berakhir, ketiganya pun meninggalkan rumah besar Beeve.


“Kau benar-benar konyol ya, tak bisa menjaga martabat mu sebagai istri konlong merat, dan menurut ku kau sangat pantas di perlakukan seperti sampah, orang gila saja masih punya malu, sedangkan kau tidak, Arinda... Arinda, kalau kaya sejak lahir mungkin masih bisa di maklumi, nah kau! Masih pernah makan 2 kali sehari, bahkan harus berpuasa karena tak punya beras di rumah, sombongnya minta ampun, ck, hati-hati Arinda, yang pembantu saja bisa merendahkan mu, apa lagi orang yang kastanya lebih tinggi dari mu, hari ini kau memang punya segalanya, besok siapa tahu semua tiba-tiba raib, apa kau masih bisa waras?” setelah menasehati Arinda, Beeve kembali ke kamarnya.


Arinda sendiri mendengus kesal, karena semua tak bisa ia kendalikan sesuai maunya.


“Sabar... sabar, tinggal beberapa orang lagi yabg perlu ku singkirkan, setelah itu, semua akan ada dalam genggaman ku!” gumam Arinda.


Beeve yang telah berada dalam kamar menelepon suaminya.


📲“Halo mas,” Beeve.


📲 “Halo sayang, apa kau rindu aku?” Andri.


📲 “Tentu saja aku rindu mas,” Beeve.


📲 “Sabar ya sayang, karena suami mu ini sedang mengumpulkan sebongkah berlian untuk mu,” Andri.


📲 “Aku memang suka berlian mas, tapi aku lebih menyukai kau ada di samping ku,” Beeve.


📲 “Sayang, jangan berkata manis begitu,” Andri.


📲 “Kenapa mas?” Beeve.


📲 “Saat ini aku sangat merindukan mu, kalau kau mengatakan hal-hal seperti gula, aku takut tak bisa menuntaskan pekerjaan ini,” Andri.


📲 “Dasar gombal!” Beeve.


📲 “Aku enggak bohong sayang, apa lagi sejak enggak dapat bercinta dengan mu, aku hanya bisa membayangkan peraduan kita di masa depan nanti, dan aku punya gaya baru sayang, dan nanti kita harus praktekkan,” Andri.


📲 “Ih, mas Andri! Jangan ngomong jorok ah!” Beeve.


📲 “Loh, kenapa? Aku kan bicara pada istri ku sendiri,” Andri.


📲 “Nanti kalau mas kepengen gimana? Takutnya mas cari gadis bule lagi disana lagi, ukuran disanakan lumayan besar,” Beeve.


📲 “Enggak mungkinlah sayang, karena hanya kau pemilik diri ini seutuhnya, semua milik ku adalah milik mu, dan semua milik mu adalah milik ku,” Andri.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2