
Rasa ingin memiliki Beeve makin hari kian besar, namun apa daya, niat hati tak pernah sampai. Ia hanya dapat berangan dan bermimpi, jika ia dan Beeve berbagi kasih suatu hari nanti.
Pukul 08:00 pagi, Beeve dan Andri sama-sama keluar dari dalam rumah.
“Enggak apa-apa ya sayang, kalau nanti kau sendirian di rumah baru kita.” Andri merasa tak enak karena tak menemani istrinya.
“Enggak apa-apa mas, tenang saja, kau fokus saja pada pekerjaan mu.” Beeve menyakinkan suaminya, kalau ia bisa mengatasi masalah rumah.
“Baiklah, ayo kita berangkat.” Andri merangkul bahu istrinya menuju mobil.
Emir yang tahu kalau Beeve sendirian di rumah baru pun berencana untuk menyusul.
5 menit setelah keduanya beranjak, Emir pun masuk ke dalam mobilnya, lalu meluncur membelah jalan raya menuju kediaman baru saudara dan iparnya. Rahma yang melihat Emir pergi pun menganggukkan kepala.
Beeve yang telah sampai ke tujuan, mulai menerima paket dari kurir yang berdatangan satu persatu. Saat ia masih sibuk, tiba-tiba Emir muncul.
Ting tong! Bunyi suara bel rumah membuat fokus Beeve terganggu, ia pun segera menuju pintu.
Ceklek! Krieett...
Ketika Beeve tahu yang datang adalah Emir, ia mengernyitkan dahinya.
“Assalamu'alaikum.” ucap Emir dengan senyum sumringah.
“Walaikum salam mas, ada apa kesini?” tanya Beeve.
“Tentu saja ingin membantu mu beres-beres, tahu kalau kau sendiri, panggilan kemanusiaan ku jadi bangkit.” terang Emir seraya masuk ke dalam rumah sebelum di persilahkan.
“Harusnya kau jangan datang mas.”
“Kenapa begitu?”
“Aku kan sudah sewa jasa orang, kau juga kan harus mengurus skripsi mu.” ucap Beeve yang takut kalau mereka berdua tertangkap basah oleh Andri.
“Tenang saja, jangan pikirkan masalah skripsi ku, itu tinggal sedikit lagi.” Emir yang tak mengerti akan kegelisahan Beeve, membuat wanita itu geleng-geleng kepala.
Saat keduanya masih berbincang, tiba-tiba dekorator interior yang Andri minta jasanya telah datang.
Beeve pun mempersilahkan para dekorator yang berjumlah 3 orang untuk masuk ke dalam rumah mereka.
”Lihat sendirikan, tenaga mu enggak di perlukan mas.” dengan berkata demikian, Beeve berharap kalau Emir akan pulang.
“Kalau begitu, aku akan mengepel rumah, mana pelannya?” tanya Emir yang sok sibuk.
Beeve mengusap wajahnya, ternyata Emir tak mengerti kata kiasan.
“Barangnya belum sampai mas.” ucap Beeve dengan wajah sedikit kecut.
“Kalau begitu, aku pesan makan ya.”
“Enggak perlu mas, ini masih pagi, gimana kalau kau pulang saja?”
“Bee, kau mengusir ku?” ucap Emir dengan mimik wajah sedih.
“Mengertilah mas, aku enggak mau, kalau nanti tiba-tiba mas Andri datang kau ada disini, waktu kita pulang dini hari saja dia marah pada ku, apa dia enggak berkata langsung pada mu?” akhirnya Beeve mengatakan kecemasannya.
__ADS_1
“Dia sudah memperingati ku.”
“Lalu? Kenapa kau masih nekat juga?”
“Karena aku enggak bisa jauh darimu Bee, aku... aku ingin selalu di dekat mu.” lagi-lagi Emir mengutarakan isi hatinya.
“Mas, kita sama-sama sadar akan status kita berdua, tolong jangan buat makin rumit.”
“Bee, aku sudah berusaha, tapi aku enggak bisa, maafkan aku.” Emir berjalan mendekati Beeve.
“Ini salah banget,” gumam Beeve.
“Apa enggak ada sedikit pun perasaan mu untuk ku?” tanya Emir seraya menggenggam tangan Beeve.
“Enggak mas.” Beeve menggelengkan kepalanya.
“Jangan bohong Bee, apa kau enggak merasakan apapun saat aku menyentuh mu?” Emir yang tak terima kenyataan terus memaksa Beeve mengatakan hal yang ingin ia dengar.
“Maaf mas, tapi aku enggak ada perasaan sedikit pun pada mu.” Beeve mencoba melepaskan tangannya yang masih Emir genggam.
“Segitu berharganya Andri untuk mu?”
“Itu urusan ku mas, tolong jangan begini.” Emir yang makin terluka cintanya tak pernah terbalas hampir saja menitihkan air mata.
Beeve yang tak ingin berbincang lebih lama dengan Emir pun berkata, “Lepaskan tangan ku, tolong mas, lupakan yang pernah terjadi di antara kita, andai kata aku tak bersama mas Andri, aku juga enggak akan dengan mu, karena apa? Selain aku tak mencintai mu, tak mungkin aku masuk ke dalam lubang yang sama,” terang Beeve.
Mata Emir memerah, tak ada alasan baginya untuk menahan Beeve lagi, ia pun melepaskan tangan wanita impiannya itu.
“A-aku mengerti.” ucap Emir.
Emir menelan salivanya, belum siap ia berkabung, Rahma sang ibu mendatangi mereka berdua yang berada di dapur saat itu.
“Wah! Kau disini Mir?” suara Rahma mengagetkan Emir dan Beeve.
Ibu?! batin Emir.
“Ibu kok ada disini? Bukannya hari ini kerja?” ucap Beeve dengan perasaan canggung.
“Harusnya sih begitu, tapi... ibu kasihan pada mu Bee, meski pun ada dekorator, tapi ibu ingin menemani mu disini.” terang Rahma, Beeve merapatkan kedua bibirnya, ia paham kedatangan Rahma karena tahu Emir ada di rumahnya.
“Mir, kau enggak ke kampus?” ucap Rahma dengan memberi tatapan mata tajam pada putranya.
“Besok bu.” sahut Emir singkat.
“Oh ya? Kalau begitu pulanglah ke rumah, biar ibu saja yang menemani Beeve.” Emir sebenarnya masih ingin tinggal, namun karena ada Rahma, ia terpaksa kembali.
Setelah Emir pergi, Rahma pun bertanya pada menantunya.
“Apa dia sudah lama disini?”
“Mas Emir baru sampai kok bu.” jawab Beeve dengan senyum kaku.
“Lain kali, jangan buka pintu padanya kalau dia datang.” pinta Rahma seraya duduk di atas sofa .
“Baik bu,” sahut Beeve.
__ADS_1
_______________________________________
Malam harinya, saat Rahma dan Yudi duduk berdua di atas ranjang, Rahma pun mengadukan perbuatan Emir hari itu.
“Ayah.”
“Hum?”
“Apa ayah tahu, Emir tadi siang ada di rumah Beeve, pada hal posisinya Andri enggak ada disana.”
“Apa? Dia masih berani melanggar?” ucap Yudi dengan menurunkan alis kirinya.
“Ayah pikir dia siapa? Mana mempan di peringatkan ratusan kali,” ujar Rahma.
“Dasar anak setan, kenapa dia harus bebal sih!” Yudi ikut kesal akan kelakuan Emir.
“Justru itu yah, ibu jadi ingin memakannya, mau ku marahi, tapi Beeve ada disana tadi, takutnya aku emosi sedikit, Beeve tersinggung,” terang Rahma.
“Akh! Dasar anak itu, bikin repot saja.”
“Memang otaknya sudah enggak waras yah, sudah tahu masnya lagi sakit-sakitan karena Beeve, masih saja dia berjuang merebut istri Andri.”
“Terus apa rencana mu?” tanya Yudi.
“Kita paksa dia menikah!” jawab Rahma.
“Dengan Helena?”
“Dengan siapa saja, yang jelas, dia harus menikah, aku enggak mau dia jadi perusak rumah tangga Andri.” ucap Rahma dengan emosi yang menggebu-gebu.
“Ya sudah, aku ikut apa rencana mu saja.” Yudi yang lelah pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Baguslah kalau ayah telah memberi izin pada ku, kalau dia enggak mau, kita usir saja dari rumah ini!” pekik Rahma.
“Bu, jangan begitu, anak mu cuma dua, pergi satu, sisa satu, Emir memang wataknya sudah keras dari dulukan? Dia juga bisa cari uang sendiri, dia enggak akan takut dengan ancaman begitu, kuncinya sekarang ada di Andri dan Beeve, nasehati saja Beeve untuk menjauhi Emir.” terang Yudi yang tak ingin anak-anaknya jauh darinya.
“Ayah selalu saja begitu, enggak bisa bertindak tegas, makanya anak-anak mu bandel.” Rahma menjadi kesal pada suaminya yang terlalu memanjakan anak-anak mereka.
“Aku hanya punya 2 harta berharga di dunia ini bu, sudahlah, kita urus besok saja.” Rahma mendengus mendengar perkataan suaminya.
Apa aku harus memberi Beeve obat perangsang ya? Agar dia mau berhubungan dengan Andri? batin Rahma.
Ia yang ingin Beeve segera hamil, memutuskan untuk ikut andil.
Mau enggak mau nih! Perempuan kalau di pepet terus, lama-lama bisa jadi luluh, bisa gawat kalau Andri drop lagi, batin Rahma.
________________________________________
Keesokan harinya, saat seluruh anggota keluarga sedang sarapan di ruang makan, Rahma sang tetua di rumah itu pun mulai membuka obrolan.
“Andri, Beeve, kapan kalian akan pindah nak?”
“Rencananya sih hari ini bu,” ucap Andri.
“Iya bu, lagi pula rumahnya sudah siap di tempati,” timpal Beeve.
__ADS_1
...Bersambung......