Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 159 (Kembali)


__ADS_3

Dua hari kemudian, setelah persidangan yang di menangkan keluarga Cristian, Beeve yang tak punya kekuatan dan pembela pun tak bisa berbuat banyak, meski ia telah menceritakan kronologi yang terjadi, ia tetap kalah telak di mata hakim.


Di depan gedung pengadilan Cristian meminta maaf pada Beeve atas apa yang terjadi.


“Maafkan aku Bee, tapi aku berjanji akan sering mempertemukan mu dengan anak kita,” ucap Cristian yang tak enak hati pada Beeve.


Beeve yang sudah tak percaya pada siapa pun tertawa tak jelas.


“Hahaha... Kau sadar enggak sih! Kau itu sama saja dengan yang lain, kalian semua hanya bisa menyakiti perasaan ku, aku akan mengumpulkan uang, dan saat itu akan ku bayar pengacara terhebat untuk mengambil hak asuh anak ku kembali,” ucap Beeve.


“Bee, maafkan aku.”


“Sudahlah, kau enggak berguna sama sekali, hanya satu pinta ku, jika memang kau bersedia melakukannya.”


“Apa itu?” tanya Cristian.


“Sayangi dia, katakan padanya kalau aku adalah ibunya, ibu yang sangat mencintainya, ceritakan tentang aku padanya, hingga ia merasa kalau aku tak pernah meninggalkannya, perlihatkan photo ku padanya.” Beeve menangis karena tak dapat menahan dukanya.


“Memangnya kau mau kemana?” tanya Cristian penasaran.


“Kemana pun, asalkan bisa menghasilkan uang yang banyak, aku enggak ingin lagi berharap pada siapapun untuk mengurus diriku.” ucap Beeve.


Setelah itu, Beeve menghampiri anaknya yang berada dalam gendongan Celine.


“Izinkan aku memeluknya tante.” karena itu adalah hari terakhir Beeve bertemu Bia, Celine pun memenuhinya.


Beeve pun mendekap anaknya dengan berurai air mata.


“Maafkan mama nak, mungkin kalau kau ikut mama, hidup mu akan terus di terpah kemalangan, nak mama menyayangi mu, hiduplah dengan bahagia.” Beeve mencium wajah Bia tanpa celah, ia juga mengambil photo selfienya bersama Bia.


Setelah itu, Beeve menyerahkan amplop putih pada Celine.


“Hanya ini harta yang ku punya, tolong belikan Bia kado di ulang tahunnya nanti tan.”


“Oke, akan ku lakukan.” setelah itu Celine kembali menggendong Bia, kemudian Cristian dan ibunya pun pulang, meninggalkan Beeve di depan gedung pengadilan sendirian.


Ketika dalam mobil Celine memberikan amplop yang di titipkan Beeve pada Cristian.


“Nih! Kau saja yang pegang.”


Cristian yang penasaran pun membukanya amplop putih pemberian Beeve, yang ternyata isinya adalah kalung emas dengan aksesoris bertuliskan nama Beeve, serta uang senilai 150.000, Itu adalah sisa uang tebusan Bia yang Cristian berikan.


Hati Cristian benar-benar ikut terluka, ia dapat merasakan apa yang Beeve rasakan saat ini.

__ADS_1


Aku akan mengembalikan Bia pada mu, semoga nanti hati ibu luluh, batin Cristian.


___________________________________________


Dua bulan kemudian, Emir yang telah kembali dari London menuju rumah Beeve dengan membawa segudang oleh-oleh.


Pada saat di gerbang, sang satpam yang tak mengenal dirinya siapapun mencegatnya.


“Selamat siang, mau kemana pak?” tanya sang satpam. Emir menurunkan kedua alisnya, sebab ia tak mengenal satpam tersebut.


Orang yang biasa jaga ganti ya? Batin Emir.


“Saya mau masuk ke dalam pak,” ucap Emir.


“Ada perlu apa? Sebab nyonya sedang tidak bisa di ganggu,” terang sang satpam.


“Saya adik pemilik rumah ini, kau orang baru kan? Buka saja gerbangnya, aku sangat lelah,” ucap Emir.


“Baik, saya akan lapor ke nyonya terlebih dahulu.”


“Baru 6 bulan ku tinggal, kenapa rumah ini jadi serba ketat?” gumam Emir.


Setelah sang satpam menerima balasan, Emir pun di izinkan masuk.


Ketika ia telah masuk ke dalam rumah, ia heran karena yang menyambutnya adalah Arinda.


“Kau?”


“Halo Emir, lama enggak bertemu.” Arinda menjabat tangan Emir.


“Halo juga, Hem, Beeve mana?” tanya Emir.


“Beeve ya? Ah, pasti kau belum dapat kabar tentang dia, kalau dia telah pergi dari rumah ini 2 bulan yang lalu,” terang Arinda.


“Apa? Kok bisa?”


“Aku juga kurang tahu Mir, karena dia pergi tanpa memberi tahu mau kemana, dan dia juga sudah meminta cerai pada mas Andri, tapi sayangnya sampai detik ini mas Andri belum mengabulkannya juga.” Arinda begitu lancar menerangkannya pada Emir.


“Dan kau membiarkan dia pergi dengan keadaan hamil besar? Ku rasa kau tahu kalau dia enggak punya tujuan, sebab Julian masih menutup pintu maaf padanya, dan ku pikir dia enggak akan pergi begitu saja tanpa sebab.” Emir yang curiga Arinda dalang di balik segalanya mulai menekannya.


“Aku bisa apa kalau dia tetap ingin pergi? Enggak mungkin ku cegat,” ucap Arinda.


“Pasti penyebabnya karena kau yang menyebalkan, kalau ada yang harus angkat kaki , harusnya itu kau, bukan dia, seandainya ia cerai dari Andri, dia berhak tetap disini, karena rumah ini atas namanya, bukan Andri! Ini malah kau yang bagai nyonya besar!” hati Emir sungguh panas melihat Arinda yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Tapi, aku juga kan istrinya mas Andri, apa salahnya aku disini?”


“Jelas salah! Karena mu orang lain jadi tak nyaman, kau pikir aku enggak tahu kebusukan mu? Benar-benar racun, kalau aku jadi Andri, mau kau benar-benar bunuh diri atau hanya pura-pura, aku enggak perduli!” pekik Emir.


Dasar bangsa* kau Mir! Beraninya kau mengusik kehidupan ku yang damai, batin Arinda.


“Kau kasar sekali kalau bicara,” ucap Arinda.


“Mulut ku harimau ku, jadi terserah aku, dan aku akan mencari Beeve sampai ketemu, sempat ketahuan kau ada campur tangan dengan kepergiannya, ku patahkan kaki mu, dan ku sibak mulut mu!” Emir yang kesal meninggalkan rumah itu.


Setalah Emir luput dari pandangannya, Arinda mulai marah-marah.


“Dasar laki-laki banci! Bisanya hanya melawan perempuan, ooh... jadi si miskin Beeve dulu sering curhat padanya, huh! Pantas saja dia benci pada ku, awas kau Mir, berani mengusik ku untuk yang kedua kalinya, akan ku racuni kau! Enggak ada yang boleh menggeser posisi ku jadi menantu satu-satunya di keluarga Han, andaikan kau menikah pun, akan ku buat rumah tangga mu hancur, atau setidaknya ku buat ibu dan ayah mu yang tolol itu membenci mu.” Arinda yang selalu berhasil dengan segala rencananya selama ini menyusun hal baru untuk Emir, ia berpikir kali ini pun ia akan berhasil.


Emir yang mengkhawatirkan Beeve mulai membuat pamflet untuk di sebar ke penjuru kota, serta membuat pengumuman di internet dan akun media sosialnya.


Namun hingga 3 bulan berlalu, Emir tak kunjung mendapatkan kabar mengenai Beeve.


“Sebenarnya kau ada dimana Bee?” gumam Emir. Selama pencarian Beeve tidurnya pun tak nyenyak.


Ketika Emir berada di teras rumah untuk menghirup udara segar, tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam berhenti di hadapannya.


Siapa? batin Emir.


Saat pintu terbuka, ternyata yang baru datang adalah Andri.


“Kau sudah pulang?” ucap Emir.


“Iya,” sahut Andri.


“Kenapa enggak pulang ke rumah mu?” tanya Emir.


“Karena tempat ku untuk pulang sudah tak ada.” jawab Andri seraya menjabat tangan Emir.


“Apa kabar mu?” sapa Andri.


“Kurang baik,” sahut Emir.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2