
Yeni dan Ayu tak henti menertawakan Arinda, Arinda jelas tak terima ia di perlakuan seperti itu oleh kedua rekan kerjanya, namun apa daya, ia yang kalah jumlah dan masih posisi training membuatnya jadi bungkam, namun tidak dengan hatinya.
Aku bersumpah pada diriku sendiri, akan ku balas seluruh penghinaan yang kalian lontarkan pada ku! Dasar orang-orang bodoh, apa lagi si Yeni, kalau aku sudah mencapai tujuan ku, kau akan ku buat jadi terhina! itulah rencana Arinda dalam hatinya.
Ayu yang melihat sorot mata tajam Arinda semakin candu untuk mengerjainya.
“Lihat matanya, hahahaha, dia pikir kalau dia seperti itu aku akan takut.” ucap Ayu dengan tertawa sinis.
“Mana kak? Hah!” Yeni menunjuk mata Arinda. “Kau perlu kaca Nda? Kalau mata mu begitu setan pun akan takut, begitu juga dengan pak Andri, hahahaha.” Ayu yang duduk bersebelahan dengan Yeni tak hentinya melakukan perundungan pada Arinda.
“Maaf ya Nda, bukannya aku terbiasa merundung anak baru, ini baru ke mu loh, karena tujuan mu terlalu ketara, ingin menggoda pak Andri, harusnya kau sadar atau setidaknya cari info dulu mengenai pak Andri dengan cermat, biar kau tak menyesal nantinya, pak Andri itu sudah beristri, dan istrinya masih muda dan cantik, kau dan istrinya bagaikan langit dan bumi, harusnya kalau kerja ya kerja saja, fokus mencari uang, bukan mencari pasangan, kalau sudah enggak tahan, carilah yang lajang Nda, biar hidup mu tenang.” terang Ayu yang tak suka akan sikap Arinda.
“Terimakasih atas nasehatnya kakak-kakak, tapi kalian urus saja urusan kalian,” ucap Arinda.
“Ya ampun anak ini, di kasih tahu malah membangkang, Nda istri pak Andri itu sedang hamil, kau jangan merusak kebahagiaan mereka, lagian enggak mungkin pak Andri akan memilih mu,” ucap Ayu.
“Ya ampun kak, dari tadi kerjaan kalian hanya mengejek ku, pada sekarang ini adalah jam kerja, seharusnya kakak yang sebagai senior memberi contoh yang benar, dengan tidak mengambil jam kantor sebagai ajang bergosip.” Akhirnya Arinda membalas ejekan rekannya yang sedari tadi menyudutkannya.
Ayu dan Yeni pun geleng-geleng kepala melihat Arinda yang begitu berani pada semua orang.
Saat ketegangan di antara mereka telah mereda, Andri pun keluar dari dalam ruangannya.
Ceklek!!
“Arinda, ayo ikut aku bertemu klien.” titah Andri yang telah siap dengan tas jinjingnya.
“Oh, i-iya pak.” dengan cepat Arinda menyandang tasnya.
“Yu, berikan pada Arinda file dan dokumennya.” titah Andri, karena bahan meeting yang di perlukan ada pada Ayu.
“Baik pak,l.” Ayu pun memberikan sebuah flashdisk, dan map berisi print out dokumen yang akan di presentasikan di depan klien nanti.
Setelah itu, Arinda dan Andri berangkat menuju sebuah hotel sebagai tempat meeting dengan klien.
“Kak, kenapa kau kasih Arinda pergi?” tanya Yeni, karena setahunya Ayu tak menyukai Arinda.
“Biar saja, agar aku bisa fokus mengajari mu, lagi pula keputusan final ada di tangan ku, kalau aku bilang tidak, dia enggak akan di improve oleh pak Andri, aku hanya memberinya beberapa kali, besok akan jadi giliran mu.” terang Ayu.
________________________________________________
__ADS_1
Di rumah Beeve yang menyisir rambutnya di buat tak percaya, pasalnya ujung rambutnya banyak sekali yang bercabang.
“Aduh, kok bercabang gini sih?” gumam Beeve.
Beeve yang begitu mencintai rambutnya menjadi resah, karena ternyata selain bercabang, ujung rambutnya juga terlihat merah.
Ia yang baru selesai bersisir mengambil sebuah gunting dari atas meja yang ada dalam kamar, kemudian ia menuju kolam berenang, karena disana selain terang bisa juga untuk berteduh.
Sesampainya Beeve di kolam, Beeve duduk di sebuah kursi santai di bawah bunga Kamboja, dan di hadapannya juga ada sebuah meja, ia pun meletakkan kantong plastik di atas meja sebagai wadah rambut yang akan ia potong, agar rambutnya tak berserakan kemana-mana.
Ia pun mulai memotong ujung rambutnya yang bercabang.
Winda yang melihat majikannya duduk sendirian di kolam berenang pun datang menghampiri.
“Nyonya, kenapa malah potong rambut sendiri?” tanya Winda.
“Aku malas ke salon mbak, toh cuma potong yang bercabang, lagian uangnya sayang kalau keluar untuk hal semudah ini.” terang Beeve dengan terus memotong rambutnya.
Nyoya ini pelit apa sederhana sih? Untuk ke salon paling seberapa, ada juga ya orang kaya yang perhitungan, batin Winda.
“Lagi pula mbak, aku trauma ke salon, karena dulu aku pernah minta potong rambut 5 centi, tapi tukang salonnya malah potong 15 centi, katanya aku lebih cocok pakai rambut pendek, dari situ aku malas ke salon, dan aku selalu usahakan untuk potong sendiri.” terang Beeve yang membuat Winda menganggukkan kepala.
“Tapi nyah, kalau hanya memotong rambut bercabang, saya juga bisa nyah.” ucap Winda yang ingin membantu majikannya.
“Enggak usah mbak, aku bisa kok.” di tengah percakapan mereka, Emir datang menghampiri.
“Aku juga jago memotong rambut, di London banyak teman-teman sekolah ku yang meminta potong rambut pada ku,” ucap Emir.
Huuh, kenapa dia belum pulang juga sih! pekik Beeve dalam hatinya.
“Terimakasih mas, tapi aku bisa sendiri,” ujar Beeve.
“Sudahlah sini ku bantu.” Emir merebut gunting yang ada di tangan Beeve.
“Mau di potong seperti apa?” tanya Emir seraya berdiri di belakang Beeve yang sedang duduk.
“Aku enggak mau potong rambut mas, aku itu hanya memotong bagian yang bercabang,” terang Beeve.
“Ya ampun Bee, rambut sepanjang ini potong saja.” Emir menggenggam rambut Beeve yang panjangnya sepinggang.
__ADS_1
“Tapi aku suka rambut panjang ku mas,” ujar Beeve.
“Kalau rambut mu sepanjang ini, kau itu jadi mirip kuntilanak, setidaknya potong sedikit, biar kau terlihat segar.” terang Emir yang lebih menyukai Beeve berambut pendek.
“Aku enggak mau mas.” Beeve terus menolak tawaran Emir, namun Emir tetap memaksa.
“Sudah, biar ku potong sedikit saja, dan rambut mu juga perlu di kasih warna, biar kau lebih cantik,” ujar Emir.
“Mas...,”
“Bu, tolong belikan cat rambut untuk nyonya.” Emir pun memberikan uang 300.000 rb pada Winda.
“Baik tuan.” ucap Winda bergegas ke toko untuk membelinya.
“Mas, kau ini, kan aku sudah bilang...”
“Ssst..., kau mau mirip manusia apa lelembut?” ucap Emir.
“Bsiklah, tapi 5 centi saja ya mas, potong lurus,” pinta Beeve.
“Humm.” Emir mengangguk, 10 menit kemudian, Winda kembali dengan membawa 1 kotak cat rambut.
“Bee, aku rekam ya proses pemotongan rambut mu,” ucap Emir meminta izin.
“Oke mas,” jawab Beeve.
Emir pun meminta tolong Winda untuk merekam aktivitas mereka.
Dan Emir dengan segudang bakatnya, mulai menunjukkan keahliannya.
Mula-mula ia memotong rambut Beeve, sedikit demi sedikit, namun lama-lama menjadi bukit.
“Mas, kok lama banget motongnya,” ucap Beeve.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1