Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 96 (Saling Ancam)


__ADS_3

Andri yang saat itu memegang sendok makan di tangannya, tanpa sengaja menjatuhkannya ke lantai.


Sialan! Ngapain dia disini! pekik Andri dalam hati.


“Wah! Kebetulan ya, aku juga lapar nih.” ucap Arinda dengan tersenyum riang.


Beeve pun membalas senyum Arinda, “Iya nih, maaf aku enggak memanggil mu, karena ku pikir kau sedang tidur.” terang Beeve yang sebenarnya sengaja tak mengajak Arinda makan.


“Ya sudah enggak apa-apa.” lalu Arinda duduk di hadapan Beeve dan Andri.


“Kau mau makan kan?” ucap Beeve.


“Iya, Bee minta tolong ambilkan ya, badan ku masih sakit semua nih, lagian kan tamu adalah raja, hehehe.” Andri benar-benar marah akan sikap Arinda yang seenaknya, begitu pula dengan Beeve.


Ketika Beeve ingin bangkit dari duduknya, Andri menahan tangan istrinya.


“Kalau dia ingin makan, ambil sendiri, lagi pula kau bukan pembantunya,” ucap Andri.


“Enggak apa-apa mas, lagian dia sesekali kesini,” ujar Beeve.


“Jangan berdiri.” titah Andri yang membuat Beeve merasa canggung, karena Andri menunjukkan rasa tak sukanya pada Arinda secara langsung.


Arinda menelan salivanya, ia dengan senyum terpaksa bangkit dari duduknya untuk mengambil nasinya sendiri.


Kau benar-benar berani! batin Andri.


“Ayo sayang, kita makan.” Andri menyingkirkan duri-duri ikan mas yang ingin Beeve makan, Arinda jelas menyaksikannya. Tentu saja hatinya sakit bukan main.


Hohoho, kau mau main-main dengan ku mas? Aku bisa lebih gila dari ini, lihat saja nanti, batin Arinda.


Ia yang telah selesai mengambil nasi kembali ke tempat duduknya.


“Mas tahu enggak sih?”


“Iya sayang?”


“Arinda katanya sudah menikah loh, dan sekarang sedang mengandung.” Beeve memberi tahu suaminya kondisi Arinda sekarang.


Andri memutar mata malas dan memberi sorotan mata tajam pada Arinda.


“Oh ya? Selamat untuk mu.” ucap Andri pada Arinda.


“Dia benar-benar aneh ya mas, masa enggak undang-undang kita.” lanjut Beeve, yang membuat emosi Andri makin meningkat.


“Kan aku sudah bilang, karena itu masih siri, kalau sudah resepsi, pasti akan ku undang kau Bee, ya kan mas?” ucap Arinda dengan senyum sinis pada Andri.


Andri tak merespon perkataan Arinda, ia melanjutkan makannya, sambil sesekali menaruh lauk tambahan ke piring istri pertamanya.


Arinda yang ingin menyusahkan Andri mulai mencari gara-gara, menggoda Andri dengan melancarkan kakinya ke paha Andri.


“Sialan!” gumam Andri. Beeve yang mendengar suaminya mengumpat langsung menoleh pada Andri.


“Ada apa mas?” tanya Beeve.

__ADS_1


“Aku enggak sengaja menggigit lidah ku sayang,” jawab Andri.


“Coba ku lihat.” Beeve pun menyuruh suaminya untuk membuka mulut, sementara Arinda lanjut mengelus-elus lutut Andri dengan kakinya.


“Enggak apa-apa kok mas.” setelah selesai memeriksa, Beeve mengecup bibir suaminya yang ada sensasi rasa ikan panggang nya.


Sontak mata Arinda membulat sempurna, ia tak menyangka, kalau Beeve akan melakukan itu di hadapannya.


“Kalian mesra banget ya!” ucap Arinda dengan hati kesal.


“Itu enaknya kalau sudah suami istri, kau juga harus coba pada suami mu, hehehe.” kemudian Beeve kembali melanjutkan makannya.


Arinda benar-benar seperti tak di anggap disana sebab keduanya sibuk memberi perhatian satu sama lain.


Selesai makan malam, Arinda pamit untuk kembali ke kamar.


“Aku ke kamar duluan ya Bee, mas Andri.”


“Iya, hati-hati.” ucap Beeve, sementara Andri tak mengatakan sepatah kata pun.


Setelah Arinda pergi, Beeve menegur sikap suaminya.


“Mas, kau jangan begitu dong pada Arinda, diakan tamu kita.”


“Memangnya aku berbuat salah?”


“Sikap mu terlalu judes padanya, dia kan tamu disini.”


“Maaf sayang, entah kenapa aku enggak nyaman kalau ada dia, lain kali kalau dia datang kemari, apa lagi mau menginap, izin dulu pada ku, kalau kau belum mendapat persetujuan dari ku, jangan coba-coba mengizinkan dia menginjakkan kaki di rumah ini,” terang Andri.


“Pokoknya, turuti saja apa yang aku katakan.” terang Andri, yang membuat hati Beeve bertanya-tanya.


“Baik mas, lain kali aku akan meminta izin mu,” ucap Beeve.


“Ya sudah, ayo kita ke kamar, aku lelah sekali sayang, aku juga belum mandi,” ujar Andri.


“Iya mas.” keduanya pun bergegas menuju kamar.


Pukul 23:00, Andri terbangun dari tidurnya, ia yang tiba-tiba merasa haus bangkit dari ranjang.


Ketika ia berjalan menuju dispenser yang ada dalam kamar mereka, ternyata isinya kosong.


“Ck, malas banget ke dapur.” gumam Andri yang matanya masih sepat.


Lalu ia melihat ke arah Beeve yang tidurnya sangat nyenyak. Dan dengan keadaan masih mengantuk ia keluar dari dalam kamar.


Sesampainya Andri ke dapur, matanya membulat sempurna, sebab ia melihat Arinda mengenakan piyama seksi berwarna merah marun.


Arinda yang baru selesai meminum susu ibu hamilnya berniat kembali ke kamar.


“Eh, mas Andri.” sapa Arinda.


Andri dengan langkah kaki cepat menuju Arinda yang berdiri di sebelah meja makan.

__ADS_1


“Kau!” Andri menunjuk wajah Arinda, rasanya ia ingin sekali mematahkan kaki Arinda agar tak bisa kemana-mana.


“Ada apa mas?” Arinda mengecup telunjuk Andri.


“Menjijikkan! Apa yang kau lakukan dengan pakaian seperti itu disini?!” ucap Andri.


“Sudah jelaskan minum susu, mas sendiri ngapain kesini? Mau minum susu juga?”


“Hufff..., apa maksud mu sebenarnya, datang dan menginap di rumah ini? Kau benar-benar cari perkara ya!”


“Apa lagi alasan yang paling logis menurut mu mas, kalau bukan merindukan mu, coba saja kau pulang ke rumah, pasti aku enggak akan mengejar mu sampai kesini,” terang Arinda.


“Kau benar-benar gila Arinda! Cepat kembali ke kamar mu!” pekik Andri.


“Antar ade mas.” pinta Arinda dengan suara manja.


“Jangan minta hal yang aneh-aneh, kembali sendiri sana! Dan ingat, ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini!”


“Kalau kau pulang ke rumah dengan tepat waktu setiap hari, akan ku lakukan,” ucap Arinda.


Andri yang sudah tak bisa bersabar mendorong punggung Arinda, agar segera pergi dari hadapannya.


“Sana!”


“Mas! Aku ini sedang hamil, aku enggak layak di perlakukan begini!”


“Kau pergi sekarang atau mau ku tampar?!” Andri memberi ancaman.


“Coba saja kalau kau berani, aku akan teriak sekencang-kencangnya,” balas Arinda.


“Kau!” tangan Andri pun bersiap menampar pipi Arinda, tentu saja Arinda tak main-main.


“Akhhhh!!!!” ia berteriak keras, yang membuat Andri membekap mulutnya.


“Bangsat!” umpat Andri.


“Ummm!!! ummm!!!” Arinda meminta untuk membuka mulutnya.


Andri yang tak ingin masalahnya jadi panjang lebar melepaskan bekapan tangannya.


“Ayo, kau kembali ke kamar mu!” titah Andri.


“Antar, kalau enggak aku teriak lagi nih mas, kalau perlu aku akan masuk ke kamar kalian, dan membongkar hubungan kita,” Arinda berbalik mengancam Andri.


Andri mengepal tangannya dengan kuat, dengan menahan seluruh emosinya ia pun berkata pada Arinda.


“Oke, aku akan mengantar mu,” ujar Andri.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


__ADS_1



__ADS_2