Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 163 (Curhat)


__ADS_3

“Aku seminggu di Korea.” Emir memberitahu Beeve tentang waktunya di Korea.


“Ada pemotretan ya?” ucap Beeve.


“Bukan, ini bisnis trip ISF,” ujar Emir.


“Kau bekerja di perusahaan sekarang?” Beeve benar-benar tak menduga, Emir akan bergabung dengan perusahaan.


“Ya mau bagaimana lagi, gara-gara seseorang aku terpaksa bergabung,” ungkap Emir.


“Maksudnya apa Mir?”


“Hei, sekali lagi kau panggil nama ku tanpa tutur, ku lem bibir manis mu itu!” pekik Emir.


“Maaf mas.” ucap Beeve seraya memutar mata malas.


“Kau tahu, setelah Andri pulang dari Meksiko, dia jadi gila.”


“Gila? Maksudnya gimana mas?” Beeve mengernyitkan dahinya.


“Iya, kami sudah tahu apa yang Arinda lakukan pada mu, ternyata Andri si otak mesum itu, selain memasang kamera cctv di seluruh penjuru rumah, dia juga meletakkannya di kamar kalian.”


“Hah? Yang benar mas?” Beeve tak percaya Andri berbuat seperti itu.


“Iya Bee, beruntung juga sih dia melakukannya, karena dengan itu, kami tahu apa yang kau alami selama ini.” suara Emir meredup saat mengingat Beeve melahirkan seorang diri.


Beeve pun menundukkan kepalanya, karena peristiwa itu masih lekat di dalam hatinya.


“Andri yang mempunyai segudang bukti kejahatan Arinda, langsung menjatuhkan talak, serta menyeretnya ke penjara, dia juga sibuk mencari mu, sampai tak fokus akan kantor, ia yang di bebani rasa bersalah tak mau makan, dan juga merawat diri, sampai 1 satu tahun terakhir, ia mengalami penyakit jantung, liver, dan juga usus buntu, intinya komplikasi kata dokter, itu di sebabkan ia yang banyak pikiran, dan perut sering kosong, sejak itu Andri terbaring di rumah sakit, Huufff...!! Aku enggak dapat percaya, kepergian mu membuat ia benar-benar enggak waras, hahaha.” Emir tertawa dengan mata berkaca-kaca.


Beeve yang pernah menjadi bagian hidup Andri pun turut bersedih dengan kondisi orang yang pernah mengisi hari-harinya tersebut.


“Dan aku juga masih mencintai mu sampai sekarang.” sontak Beeve menoleh pada Emir.


“Di usia ku yang ke 22, aku belum pernah menjalin asmara dengan perempuan mana pun, aku enggak tahu, sebenarnya bagian mana dari dirimu yang membuat aku dan Andri tak dapat melupakan mu, naasnya semua itu enggak akan terwujud untuk ku, karena rasa cinta ku, masih kalah jauh dari Andri pada mu.” meski Emir menyukai Beeve, ia lebih bahagia jika Andri dan Beeve bersama, karena keduanya adalah orang-orang yang ia sayangi.


“Apa gunanya kau berkata begitu mas? Kau tahu, andai saja waktu itu kau membalas pesan ku di Insta*ram, aku enggak akan sejauh ini melangkah, dan Bia pasti masih bersama ku, sehari setelah aku melahirkannya, aku telah di pisahkan dengannya, aku di kurang selama 2 minggu di gudang oleh Arinda, setelah aku di bebaskan, aku masih di suruh menebus anak ku sebanyak 400 juta, dan di paksa mintai cerai pada suami ku, suami yang tak mau mendengar kata-kata ku, aku mencoba menghubungi mu berkali-kali, tapi kau enggak merespon mas.” terang Beeve seraya menahan air matanya.

__ADS_1


“Maaf Bee, aku enggak tahu kalau kau menghubungi ku,” ucap Emir.


“Dan kau tahu, aku terpaksa meminta tolong pada Cristian, itu juga dengan menjual harga diriku, dan menandatangani surat perjanjian atas Bia, hiks...”


“Kenapa kau harus melakukan hal itu?”


“Karena tak ada yang bersedia membantu ku mas! Kalau aku enggak bergegas, maka Bia akan di jual, lebih baik dia bersama Cristian kan? Setelah ku pikir semua baik-baik saja, ternyata aku di pisahkan lagi dengan darah daging ku, apa menurut mu, aku masih berkewajiban kembali pada Andri? Yang jelas-jelas penyebab diriku tersiksa? Kalau dia merasa sakit, aku juga begitu mas!” Beeve menangis mengingat penderitaan yang ia alami.


Emir yang mengerti akan yang Beeve alami pun memberi wanita rapuh itu pelukan.


“Maafkan kami semua, tapi kau harus tahu Bee, semua orang ingin bertemu dengan mu, Julian juga begitu.”


“Enggak mas, aku enggak mau lagi berhubungan dengan kalian, aku... aku enggak bisa hidup berdampingan dengan kalian semua, kalian hanya membuat ku berduka, maafkan aku mas, dan rahasiakan pertemuan kita ini,” pinta Beeve.


“Bagaimana aku bisa melakukan itu Bee? Di saat Andri masih berharap bertemu kau, kesalahan memang bukan darimu, tapi tolong kasihani suami mu yang kini tak berdaya, pikirkan Bee, semua memang tak lagi sama, aku juga enggak memaksa mu untuk bersamanya lagi, tapi please! Temui dia, sekali saja Bee, mana tahu setelah itu, dia sembuh, dan semangat hidupnya tumbuh lagi, maafkan dia yang tak bisa menjaga mu.” Emir terus membujuk Beeve, agar mau bertemu Andri.


“Maafkan aku mas, aku enggak mau.”


“Apa kau sudah punya suami baru, makanya kau menolak?” tanya Emir penuh curiga.


“Kalau benar, kau sungguh terlalu, belum resmi cerai sudah menikah lagi, itu namanya Poliandri tahu!” terang Emir dengan perasaan kesal.


“Hah! Biar saja, memangnya hanya lelaki yang bisa nikah 2 kali.” Beeve menyunggingkan bibirnya.


“Ck, benar-benar jahat kau Bee!” pekik Emir.


Aku tak punya siapapun di sisi ku mas, aku hanya takut kalau bertemu mas Andri lagi, hatiku akan luluh, aku terlalu lemah pada pendirian ku, dan jujur sampai sekarang mas Andri masih ada di hatiku, aku enggak mau jatuh cinta padanya untuk yang kedua kalinya, biarlah rasa ini ku bawa pergi, batin Beeve.


“Sudahlah mas, enggak perlu di bahas lagi.” Beeve berdiri dari duduknya.


“Kau mau kemana?” tanya Emir seraya mendongak.


“Tentu saja pulang ke penginapan,” jawab Beeve.


“Aku antar ya.” Emir yang ingin tahu Beeve tinggal dimana menawarkan diri untuk mengantarnya.


“Terimakasih mas, tapi aku bisa pulang sendiri,” Beeve menolak tawaran Emir, sebab ia tahu Emir akan selalu mengunjunginya.

__ADS_1


“Sudah larut, enggak baik perempuan jalan sendirian.” ujar Emir yang kemudian berdiri dari duduknya.


“Mas Emir...”


“Bee, aku antar, oke.” Emir pun menggenggam tangan Beeve yang sedingin es.


“Mas, enggak usah pegang tangan juga bisa kan?” ucap Beeve.


“Tidak ada yang menjamin kalau kau akan berjalan dengan benar.” terang Emir yang kemudian memasukkan tangannya dan Beeve ke saku mantelnya.


“Enggak pantas tahu, kita berdua begini mas!” Beeve merasa sungkan akan keintimannya dengan Emir.


“Aku hanya ingin menghangatkan mu, bukan yang lain-lain.” terang Emir seraya tersenyum tipis.


“Cape banget sih bicara dengan mu, enggak pernah mau kalah,” gumam Beeve.


Sesampai ke pinggir jalan, Emir dan Beeve pun menaiki taksi sebagai transportasi menuju penginapan Beeve.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang memiliki 4 lantai.


“Kau tinggal disini?” tanya Emir tak percaya, sebab penginapan yang di maksud Beeve mirip dengan kos-kosan.


“Iya mas,” jawab Beeve santai.


“Lalu kamar mu ada di lantai berapa?”


Lalu Beeve menunjuk ke arah atap, “Disana, aku sering menonton drama Korea, dan kamar yang letaknya di atap itu sangat istimewa menurut ku, dan aku ingin mencobanya,” terang Beeve.


“Kau gila ya, jadi kau datang ke Korea dengan modal pas-pasan?!” Emir geleng-geleng kepala melihat keberanian Beeve.


...Bersambung......




__ADS_1


__ADS_2