
Sesampainya ia dalam rumah, Beeve duduk di ruang tamu dengan perasaan sungkan. Dan dari arah kamar sang abang, Julian pun datang menemui Beeve.
Ia sedikit terkejut karena perut Beeve telah rata, namun tak sekata pun ia memberi komentar.
“Ada perlu apa kemari?” tanya Julian seraya duduk di hadapan adiknya.
“Ehm, bang, apa aku boleh meminta uang?” tanya Beeve dengan perasaan canggung.
“Uang?” Julian memberi tatapan mata tajam.
“I-iya bang,” ucap Beeve.
“Berapa?”
“400 juta bang,” ucap Beeve.
“400 juta ya? Ehm...”
Untuk apa uang sebanyak itu? batin Julian.
“Aku enggak bisa memberi uang sebegitu banyak,” ucap Julian.
“Tapi bang, aku sangat butuh.” ungkap Beeve dengan wajah resah.
“Bukannya suami mu kaya? Untuk apa uang sebanyak itu?” tanya Julian.
Beeve yang tak ingin nyawa anaknya terancam bingung harus menjawab apa.
“Untuk apa Bee? Kalau kau enggak memberitahu ku, maka aku enggak akan memberikan,” ujar Julian.
“Itu... untuk, aku membayar hutang bang,” jawab Beeve.
“Hutang?” Julian mengernyitkan dahinya.
“Iya, kemarin aku sempat kabur 2 bulan lebih dari rumah, jadi aku terlilit hutang,” terang Beeve.
“Hem, baiklah akan ku berikan.” Mata Beeve langsung berbinar mendengar kemurahan hati Julian. Kemudian Julian pun mengambil handphonenya.
“Ehm bang, kalau bisa cash saja, karena atm ku hilang.”
“Baiklah, tunggu sebentar.” Julian pun bangkit dari duduknya menuju brangkas keluarganya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Julian kembali.
“Ini!” Julian memberi Beeve uang dalam sebuah tas ransel.
“Terimakasih banyak bang.” ucap Beeve dengan senyum sumringah.
“Tapi hanya 150 juta,” ucap Julian.
“Loh, aku kan minta 400 juta bang.”
“Aku hanya bersedia memberi 150 juta,” ucap Julian.
“Bang, aku butuhnya 400, kalau masih kurang aku harus cari kemana bang? Hanya kau satu-satunya harapan ku, uang segitu sebenarnya bukanlah jumlah yang banyak buat abang, tolong aku bang.” Beeve mulai menangis, karena ia bingung harus mencari kurangnya kemana, sebab untuk menginjam pada orang lain pun, ia tak punya jaminan.
“Itu bukan urusan ku.”
“Bang, aku benar-benar butuh, jangan begini pada ku bang.” Beeve benar-benar bersedih karena Julian.
“Aku masih belum bisa memaafkan mu, kalau kau mau, ambil! Kalau enggak, ya sudah, aku enggak memaksa.” Julian pun bangkit dari duduknya menuju kamarnya.
“Bang, Beeve mohon, berikan Beeve 400 juta bang, nanti Beeve akan bayar ” Beeve meminta tolong dengan menyatukan 10 jarinya.
“Seperti yang sudah ku katakan, kalau mau ambil, kalau enggak ya sudah, jangan menggangu waktu luang ku, aku cape, dan kau tak perlu membayarnya, anggap saja hadiah atas kelahiran anak mu, jangan berlama-lama disini, karena aku akan menyuruh satpam untuk menyeret mu keluar, kalau masih tetap disini,” ujar Julian.
__ADS_1
Karena tak ingin berdebat panjang yang gak ada hasilnya, Beeve pun keluar dari rumah orang tuanya dengan perasaan sedih.
Kemana aku harus cari kekurangannya? batin Beeve.
Iya yang merasa putus asa pun teringat akan Cristian.
“Apa aku minta tolong padanya saja ya? Bagaimana pun juga si dede kan anaknya juga,” gumam Beeve.
Ia yang masih ada di gerbang rumah orang tuanya meminta tolong pada sang satpam.
“Pak, apa saya boleh meminjam handphone bapak?” tanya Beeve
“Oh, boleh non,” jawab sang satpam.
Beeve yang masih ingat nomor kontak Cristian pun segera mendial sang mantan.
📲 “Halo Crist,” Beeve.
📲 “Halo, ada apa? Tumben kau menelepon,” Cristian.
📲 “Ah iya, Crist apa kita bisa bertemu?” Cristian.
📲 “Bisa,” Cristian.
📲 “ Enaknya Kita bertemu dimana ya?” Beeve.
📲 “Datang saja ke rumah ku,” Cristian.
Beeve yang takut bertemu dengan Celine pun menolak.
📲 “Di tempat lain saja bisa enggak Crist? Aku takut kalau bertemu dengan ibu mu,” Beeve.
📲 “Tenang saja, ibu ku sedang enggak di rumah, paling pulang besok,” Cristian.
📲 “Oke, ku tunggu,” Cristian.
“Alhamdulillah, semoga ini awal yang baik,” gumam Beeve.
Ia pun segera beranjak ke rumah Cristian dengan menaiki ojek online.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Beeve tiba di rumah Cristian.
Para tetangga yang melihat kehadiran Beeve memberi tatapan mata tajam, seraya berbisik-bisik. Beeve pun menundukkan kepala, lalu masuk ke rumah Cristian.
Tok tok tok!! Krieett... Cristian membuka pintu untuk Beeve.
“Masuklah.” ucap Cristian. Beeve pun masuk dan duduk di atas sofa.
“Mau minum apa?”
“Terimakasih Crist, tapi aku belum haus,” ucap Beeve.
“Oh, begitu ya, kalau begitu apa tujuan mu kemari?” tanya Cristian yang duduk di sebelah Beeve.
“Itu, Crist..., aku...” mulut Beeve terasa berat untuk mengatakan maksudnya.
“Ada apa? Katakan saja,” ucap Cristian.
“Crist, aku boleh enggak pinjam uang mu?”
“Pinjam uang?” Cristian bingung dengan Beeve yang notabennya adalah istri orang kaya.
“Iya, aku sangat butuh, dan ini mendesak,” terang Beeve.
__ADS_1
“Tapi, bukannya kau istri orang kaya? Jadi, untuk apa kau meminjam uang padaku?”
“Aku enggak bisa jelaskan itu pada mu, intinya aku sangat butuh uang,” ucap Beeve.
Cristian yang tak sengaja menoleh ke perut Beeve pun baru sadar, jika sang mantan sudah melahirkan.
“Apa itu untuk anak kita?” tanya Cristian.
“Bukan.”
“Bukan? Bee, kau sudah melahirkan bukan? Buktinya perut mu sudah langsing kembali,” ucap Cristian.
“Iya, memang sudah, tapi uang itu untuk membayar hutang ku pada rentenir, tolong aku Crist.” Beeve benar-benar berharap pada Cristian.
“Bukannya kau enggak mau uang ku?”
“Haah... maafkan aku, waktu itu aku telah sombong pada mu, tapi sekarang aku sangat butuh, dan kau adalah satu-satunya harapan ku.”
Hem, mungkin dia sudah berpisah dengan suaminya, aku akan mengerjai mu sedikit Bee, siapa suruh bersikap angkuh kemarin,” batin Cristian.
“Oke, kau butuh berapa?” tanya Cristian.
“250 juta.” jawab Beeve.
“Apa?! Kau gila?! Bagaimana bisa kau punya hutang sebanyak itu?” Cristian benar-benar tak percaya seorang Beeve terlilit hutang ratusan juta.
“Itu karena aku kabur sari rumah sewaktu kami datang kesini, jadi tolong aku Crist.”
“Itu terlalu banyak Bee.” Cristian enggan memberikan pinjaman pada Beeve.
“Crist, ku mohon tolong aku, aku enggak tahu lagi harus minta tolong pada siapa, dan uang itu harus ada paling lambat besok.” Beeve yang ingin menangis menahan air matanya.
Lalu Cristian berpikir keras sejenak, “Huh... baiklah.”
“Terimakasih Crist, kau baik sekali.” Beeve kembali berbahagia karena mendapat secercah harapan.
“Tapi enggak gratis.”
“Maksud mu?”
“Kau bisa mendapatkan uang tersebut sesuai kemampuan mu, kalau permainan mu bagus, aku bahkan akan memberikan lebih,” terang Cristian.
“Permainan? Maksud mu apa sih Crist? Aku kan hanya meminjam, nanti juga ku kembalikan,” ucap Beeve.
“No no no, tidak, aku enggak perlu uang sebagai bayarannya.” Cristian tertawa nakal.
“Lalu?”
“Kau akan ku beri uang sesuai performa mu, yaitu kau harus tidur dengan ku ” ucap Cristian dengan percaya diri.
“Apa?!” mata Beeve membelalak.
“Iya, aku sih enggak memaksa, itu juga kalau kau mau, kalau enggak, silahkan cari uang pada yang lain,” ucap Cristian.
“Crist! Aku sudah menikah, dan aku enggak mau mengulangi masa lalu!” pekik Beeve.
“Ya sudah kalau enggak mau, aku juga enggak memaksa mu!” pekik Cristian kembali.
“Dasar gila! Aku enggak mau!” Beeve yang kesal langsung bangkit dari duduknya seraya menjinjing ras ransel uangnya, selanjutnya ia pun keluar dari rumah Cristian.
...Bersambung......
Yuk mampir ke novel Save Yalisa, kalau sampai enggak senyum-senyum penasaran dengan kisahnya, kejiwaan Readers perlu di periksa ke dokter cinta.
__ADS_1