Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 131 (Akulah Pemenangnya)


__ADS_3

Bak tersambar petir, Arinda kini tak bisa mencari celah.


“Sudah begitu berani memfitnah ibu ku, mana ada ibu ku menyuruh mu datang kesana! Kau pikir aku bodoh? Aku menuruti permainan mu karena anak ku, tapi kau malah kelewatan, Beeve juga tak luput dari sasaran adu domba mu pada ibu, sungguh terlalu!” pekik Andri.


Siska yang telah kembali dengan membawa koper menyerahkannya pada Andri.


“Ini tuan,” ucap Siska.


“Terimakasih Sis,” ucap Andri. Lalu ia pun menyerahkan koper itu pada Arinda, “Nih, cepat pergi!” pekik Andri.


“Enggak mas, ampun! Mohon maafkan aku mas, aku enggak akan mengulanginya lagi, aku juga akan menjadi istri yang berbakti pada mu mas.” Arinda terus memohon dengan berderai air mata.


“Sudahlah Nda, aku tahu semua yang kau katakan itu hanya pura-pura, tak ada satu ketulusan pun yang kau berikan pada ku, sekarang, segera angkat kaki dari sini, tinggal saja dengan orang tua ku, agar kau terhindar dari kesusahan,” terang Andri.


“Aku maunya dengan mu mas, aku Enggak bisa hidup tanpa mu,” ucap Arinda.


“Kau bisa hidup tanpa ku, dimana pun kau berada, kau enggak akan mengingat ku, kecuali uang ku!” karena Arinda tak mau bangkit juga, Andri melepas paksa pelukan Arinda dari kakinya.


Kemudian, ia menggendong Arinda menuju pintu utama.


Beeve yang menyaksikan jadi senyum kegirangan, karena pada akhirnya ia dapat menyingkirkan saingannya.


Beruntungnya aku, batin Beeve.


“Mas! Turunkan aku! Aku enggak mau mas, ku mohon! Hiks...!” Arinda meronta serta menghempas-hempaskan kakinya.


Setelah mereka sampai di pintu utama, ternyata Ali sudah sedia dalam mobil.


“Ali, segera antar Arinda ke rumah ibu," titah Andri.


“Baik tuan.” Andri menurunkan tubuh Arinda, selanjutnya ia memasukkan paksa Arinda ke dalam mobil.


“Mas! Aku enggak mau!” ketika Arinda ingin turun, Andri memberi peringatan.


“Menetaplah disana, atau kau akan ku ceraikan saat ini juga!” ancam Andri.


“Apa! Kau ingin menceraikan ku mas?”


“Iya! Kalau kau menurut, maka aku akan menceraikan mu setelah kau melahirkan!” ucap Andri.


Arinda seakan mau gila mendengar penyataan Andri. Jantungnya pun berdetak dengan hebat, orang yang ia harapkan mengubah takdirnya kini akan menceraikannya.


Karena tak ingin di cerai detik itu juga, Arinda pun memilih menuruti titah Andri.


“Kejamnya kau mas, tapi baiklah, kau akan menyesal, telah menzolimi ku dan anak ku!”


“Oke,” ucap Andri.


Sebaiknya aku mengalah, masih banyak waktu sebelum aku melahirkan, aku akan menyusun rencana, agar si Andri bodoh ini enggak macam-macam pada ku! batin Arinda.


Setelah penolakan penuh drama, akhirnya Arinda berangkat ke rumah mertuanya.


Andri turut merasa lega karena istri keduanya sudah tak ada di antaranya dan Beeve lagi, kemudian ia kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


Beeve yang berada di ruang tamu menghampiri suaminya.


“Mas, kenapa kau jadi keras begitu, kasihan loh Arinda,” ucap Beeve.


Andri melirik Beeve dengan mata tajam, “Enggak usah acting, kau senang kan kalau dia pergi?”


Beeve yang ketahuan berbohong pun tersenyum nakal, “Enggak loh mas, aku serius! Kasihan dia,” ucap Beeve.


“Baikalah, ku rasa kalau dia kembali lagi kesini kau enggak akan keberatan kan?” tanya Andri.


“Jangan mas!” ucap Beeve seraya memeluk Andri dengan manja.


“Setelah dia melahirkan, aku akan menceraikannya.”


“Apa?!”


“Iya, menurut ku itu lebih baik,” ungkap Andri.


“Anak mu bagaimana mas?”


“Akan ku ambil hak asuhnya, kau mau kan jadi ibu sambung untuk anak ku?” tanya Andri.


“Tentu saja mas,” jawab Beeve.


Pada akhirnya, akulah pemenangnya, andai saja aku gegabah mengikuti perkataan ibunya mas Andri, pasti Arinda sudah di atas angin, batin Beeve.


___________________________________________


“Loh, kapan kau pulang?” tanya Rahma yang tak tahu Arinda kembali ke rumah Andri.


“Tadi pagi bu, tapi mas Andri dan Beeve mengusir ku, itu semua karena Beeve menghasut mas Andri bu, hiks...” Arinda menangis dalam pelukan mertuanya.


“Beeve lagi... Beeve lagi, apa sih maunya,” gumam Rahma.


“Bu, tolong Arinda, mas Andri mau menceraikan ku,” ucap Arinda.


“Apa! Kok bisa?” tanya Rahma.


“Itu karena hasutan Beeve bu, aku di paksa pulang kesini, kalau aku enggak mau, mas Andri akan menceraikan ku saat itu juga, dan kalau aku menurut, maka akan di cerai setelah melahirkan, ya Allah sakit banget bu, apa salah Arinda bu..., Arinda hanya korban fitnahan Beeve, hiks...” Arinda menangis histeris meratapi nasibnya.


“Ya Tuhan, makin ribet saja urusannya, sudah kau jangan menangis lagi, besok kita akan kesana, bersama ayah mu juga.” ucap Rahma menenangkan Arinda.


“Tolong ya bu, Arinda benar-benar enggak mau cerai, bagaimana dengan nasib anak kami nanti,” ucap Arinda.


“Iya, tenang saja, ayo kembali ke kamar mu.” Rahma membawa Arinda ke kamar tamu yang ada di lantai satu. Setibanya di kamar, Rahma menyuruh menantunya untuk istirahat.


“Tidurlah, jangan pikirkan apapun, nanti bayi mu kurang sehat lagi,” ucap Rahma.


“Baik bu.” sahut Arinda seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian Rahma pun menutup pintu kamar Arinda.


Setelah mertuanya pergi, Arinda yang merasa kurang percaya pada Rahma pun berniat mendial ibunya.


“Sebaiknya aku ajak saja ibu dan ayah, besok kan hari minggu, biar heboh sekalian,” gumam Arinda.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Arinda langsung menelepon ibunya.


📲 “Halo bu,” Arinda.


📲 “Halo, ada apa Nda?” Elia.


📲 “Bu, aku mau di ceraikan mas Andri,” Arinda.


📲 “Apa? Bagaimana bisa?” Elia.


📲 “Itu semua karena Beeve bu, dia menghasut mas Andri untuk menceraikan ku,” Arinda.


📲 “Hah? Kau serius?” Elia.


📲 “Aku serius lah bu, mana mungkin aku berbohong, hidup ku lagi di ujung tanduk!” Arinda.


📲 “Tega sekali dia ingin menceraikan mu, pada hal kau sedang mengandung anaknya,” Elia.


📲 “Mas Andri enggak akan melakukan itu, kalau bukan karena hasutan Beeve, aku yakin 1000% bu,” Arinda.


📲 “Kurang ajar sekali Beeve, pada hal kalian itu sahabat, sama-sama hamil, kenapa dia tega sekali pada mu?!” Elia.


📲 “Dia iri pada ku bu, karena ibu dan ayah mertua ku sangat menyayangi ku, kemarin dia di paksa cerai oleh ibunya mas Andri, mungkin itu sebabnya dia dendam pada ku,” Arinda.


📲 “Loh kenapa Nda?” Elia.


📲 “Karena dia menyakiti ku, dia suka main tangan juga pada ku bu, menyiksa ku di rumah suami ku,” Arinda.


📲 “Ya Tuhan, kau dan anak mu sehat-sehatkan nak?” Elia.


📲 “Babak belur lah bu, pada hal aku adalah istri sah mas Andri, dan juga mengandung anak biologisnya, sementara Beeve, anak yang ada di perut Beeve, bukan milik mas Andri, melainkan mantan pacarnya!” Arinda.


📲 “Astaga, bukannya dia gadis baik-baik?” Elia.


📲 “Enggak, ibu salah, dia itu wanita kotor, makanya mertua ku memaksa dia cerai dari mas Andri,” Arinda.


📲 “Ya Tuhan, berarti keluarga suami mu beruntung sekali mendapatkan mu, nak” Elia.


📲 “Sudah jelas bu, untuk itu, bantu aku bu, besok datang bersama ayah, ke rumah mas Andri, biar kita labrak wanita perusak hubungan ku dan mas Andri,” Arinda.


📲 “Oke, tenang saja, ibu dan ayah akan memberi perhitungan pada Beeve dan Andri, enak saja telah menyakiti mu,” Elia.


📲 “Makasih banyak ya bu, nanti aku kirim alamatnya,” Arinda.


📲 “Oke nak, ibu tunggu, sekalian beri tahu jam berapa kesana,” Elia.


📲 “Siap bu,” Arinda.


Setelah selesai menelepon ibunya, Arinda merasa sedikit lega.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2