Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 195 (Persidangan)


__ADS_3

Andri yang tak ingin Beeve berlama-lama bicara dengan Emir pun merangkul bahu istrinya cantiknya.


“Ayo sayang, kita kembali ke kamar.” ucap Andri dengan tersenyum nakal.


“Iya mas.” Beeve menundukkan kepala pada Emir sebelum pergi, sedangkan Andri tak memberi sepatah kata pun untuk adiknya lagi. Emir menatap lekat pasangan suami istri itu.


Aku harus ikhlas, semoga kalian berdua berbahagia, dan aku juga harus membuka hati pada Helena, semoga aku bisa, batin Emir.


Malam harinya saat di meja makan, keluarga besar itu melakukan makan bersama, Rahma yang kini sangat menyayangi Bia, tak memberi Beeve kesempatan untuk menyuap putrinya.


“Ayo Bia, buka mulutnya sayang, aa... aum! Hehehe.” Rahma tertawa girang.


“Nenek, Bia boleh minta ayamnya lebih banyak?”


“Wah! Cucu nenek ternyata suka ayam?! Oke-oke, nenek kasih ayam yang paling besar untuk mu!” Rahma begitu bersemangat, ia pun memberi 1 potong dada ayam berukuran jumbo pada cucunya.


“Terimakasih banyak nek, Bia suka makanan disini, rasanya enak semua.” Bia benar-benar nyaman berada dalam rumah Rahma.


“Oh... tentu, makanya makan sebanyak yang kau bisa nak, makanan yang ada di meja ini, semua untuk mu,” ujar Rahma.


“Bia, kakek punya hadiah untuk mu,” ucap Yudi.


“Hadiah apa kek?” tanya Bia.


“Kakek akan tunjukkan pada mu, kalau malam ini kau mau tidur dengan kakek dan nenek.” Yudi yang ternyata menyukai Bia juga, ingin tidur bersama dengan cucu sambungnya itu.


Beeve sangat bahagia, karena putrinya menerima banyak cinta dari kedua orang tua suaminya.


“Tapi kek, Bia maunya tidur sama mama papa..” Bia yang selalu ingin dekat dengan Beeve dan Andri menolak permintaan Yudi.


“Ya sudah kalau begitu, kakek enggak akan memberi mu hadiah yang kakek katakan, pada hal bagus banget loh, bisa jadi teman main mu juga.” terang Yudi, yang membuat Bia penasaran.


“Om juga punya hadiah untuk mu Bia, kalau kau mau tidur dengan om malam ini, om akan kasih Bia boneka beruang besar dan juga boneka kaktus yang bisa bicara.” terang Emir.

__ADS_1


“Enggak boleh!” ucap Andri dan kedua orang tuanya.


“Apa sih kalian?! Memangnya hanya kalian saja yang boleh dekat dengan Bia? Aku juga mau tahu, diakan keponakan ku!” pekik Emir.


“Enak saja, yang mengajak duluan kan ayah dan ibu, pokoknya malam ini, Bia tidur dengan kami, titik!” Rahma dan Emir saling memberi tatapan sinis satu sama lain, yang membuat Beeve tak enak hati.


“Sudah-sudah, jangan bertengkar mas Emir dan juga ibu, Bia sayang, malam ini mau tidur dengan om Emir atau kakek nenek?” tanya Beeve.


Bia berpikir sejenak untuk memilih siapa, sampai akhirnya ia menentukan pilihannya, ”Dengan kakek dan nenek saja ma.”


“Wah! Anak pintar, besok nenek akan mengajak Bia ke toko mainan, sebagai hadiah sudah memilih nenek, ya kan kek?” ucap Rahma.


“Iya nek.” sahut Yudi.


Kehangatan yang keluarga Andri berikan membuat Bia banyak tertawa, hatinya yang selama ini kelabu perlahan menjadi berwarna.


Setelah makan malam selesai, Yudi dan Rahma membawa Bia bermain ke kamar Andri dan Emir sewaktu mereka bayi. Sedangkan Beeve dan Andri kembali ke kamar mereka yang ada di lantai 2.


“Mas, terimakasih banyak, berkat mu Bia di temukan, karena mu Bia juga mendapat banyak cinta dan kasih sayang dari keluarga mu, aku enggak tahu harus membalas dengan apa semua kebaikan yang kau beri ini.” Beeve menangis bahagia karena rezeki baik yang ia dapatkan dari suaminya.


“Kau jangan terus meminta maaf mas, karena mas Andri sudah melakukan semua yang terbaik untuk ku dan juga anak ku.” ucap Beeve seraya membalas pelukan suaminya.


“Baiklah, mari kita saling memaafkan, lupakan masa lalu, kini kita buka lembaran baru, kita perbaiki segala kekurangan kita yang dulu, jangan ada rahasia di antara kita, agar semua berjalan lancar.”


“Iya mas, maafkan aku juga karena kemarin sudah durhaka pada mu.” Beeve sangat menyesal karena tak memenuhi kewajibannya sebagai istri.


“Kau enggak pernah durhaka sayang, aku yang salah, sudah jangan menangis lagi, aku enggak bisa kalau melihat mu begini.” Andri menyeka air mata Beeve, lalu mengecup keningnya.


Beeve yang merasa berhutang budi pada Andri berniat untuk mengajak suaminya bercinta, sebagai pengganti kesalahannya beberapa hari yang lalu.


“Mas...”


“Iya sayang?”

__ADS_1


Beeve melingkarkan kedua tangannya ke leher Andri, kemudian ia mengecup bibir manis suaminya. Andri pun tak tinggal diam, dengan cepat Bia membalas ciuman yang di berikan istrinya.


Beeve pun perlahan membuka kancing bajunya satu persatu, namun Andri menahan tangannya.


“Jangan sekarang,” ucap Andri.


“Kenapa mas? Bukannya kau ingin?”


“Iya, aku sangat ingin, tapi... enggak begini momennya.” Andri tak mau, Beeve melayaninya karena rasa hutang budi, yang ia inginkan, mereka melakukannya karena sama-sama cinta, dan Andri tahu, hati Beeve belum seperti yang dulu padanya.


“Maksudnya mas?”


“Sudahlah sayang, sebaiknya kita istirahat, besok masih ada urusan yang harus kita tangani.” Andri yang lelah memutuskan naik ke atas ranjang.


Perasaan Beeve jadi gelisah tak menentu karena penolakan yang ia dapatkan.


Jadi begini perasaan mu mas, saat aku menolak bercinta? batin Beeve.


Dengan menahan rasa malu, Beeve naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Andri, sebenarnya ia ingin memeluk suaminya, namun karena takut mendapat penolakan kedua, Beeve pun mengurungkan niatnya.


Dua hari kemudian, persidangan kasus penganiayaan yang di alami oleh Bia pun berlangsung, Bia yang sebagai korban di dampingi oleh keluarga Andri dan Beeve. Sedangkan dari pihak tersangka, yaitu Celine, Meri, Maria, Abraham dan juga Steven.


Hakim pun bertanya pada tersangka, “Bu Celine, apa alasan ibu melakukan tindak penganiayaan terhadap Kishi Bia, yang masih belia, terlebih Bia adalah cucu kandung bu Celine sendiri?!”


“Dia pantas mendapatkannya, Bia dan ibunya telah merebut 2 orang berharga dalam hidup ku, yaitu suami dan anak ku satu-satunya, yaitu Cristian, mereka berdua adalah manusia pembawa sial! Menghancurkan hidup ku dalam waktu singkat! Seharusnya aku menghabisi nyawa mereka juga, namun aku bermurah hati, hanya dengan menghukum Bia kalau dia salah, dan aku juga sangat berbaik hati, karena telah merawat dia selama ini! Sebab ibunya telah menelantarkan dia!”


Kebohongan yang di sampaikan Celine membuat pihak Beeve naik pitam.


“Keberatan yang mulia!” pengacara Hutapea pun mulai membela kliennya


“Keberatan di terima,” ucap sang hakim.


“Klien saya, bu Beeve tak pernah meninggalkan putrinya, bu Celine lah yang memisahkan bu Beeve dan Bia 4 tahun silam, karena merasa berhak terhadap cucunya, pada hal dari pihak bu Celine sendiri, yaitu ayah Bia almarhum pak Cristian tak mau menikahinya, saat itu bu Beeve tak punya kekuatan melawan bu Celine yang membayar pengacara, hingga jatuhlah hak asuh Bia pada pak Cristian atau pun bu Celine, ini dia buktinya.” pengacara Hutapea membagi kertas bukti kasus perebutan hak asuh Bia 4 tahun silam pada para hakim.

__ADS_1


“Setelah 1 tahun kemudian, Bia jatuh ke kolam berenang, tepatnya saat mereka tinggal di Paris, almarhum pak Cristian menyelamatkan putrinya, namun malangnya setelah berhasil meletakkan tubuh Bia di atas perahu karet mini, almarhum pak Cristian mengalami cedera kaki dan juga pinggang, yang menyulitkan ia untuk berenang ke tepian, hingga akhirnya ia meregang nyawa, saya rasa pak hakim, tak ada yang salah dengan orang tua, yang bersedia mengorbankan nyawanya pada sang buah hati, begitu pula anak pada orang tua, pertanyaannya sekarang, kenapa Bia bisa jatuh ke kolam berenang? Ini terjadi, karena kecerobohan siapa?”


...Bersambung......


__ADS_2