
Tiga Minggu kemudian, pernikahan antara Helena dan Emir pun di gelar di salah satu gedung megah yang ada di ibu kota.
Sehabis sholat subuh berjamaah, Emir di dampingi seluruh keluarganya untuk memakai baju pengantin di kamar tamu yang ada di lantai satu.
Emir yang telah tampan sejak lahir, tak perlu banyak polesan di wajah lagi, terlebih yang mengurus kostumnya hari itu adalah para rekan kerja dan manager yang biasa menangani endorsenya.
Dengan balutan jas dan celana berwarna putih yang melambangkan kesucian, wajah Emir nampak makin berbinar, belum lagi ketika Emir mengenakan peci dengan warns senada di lengkapi dengan bros berlian sebagai aksesoris, membuat Emir Han bak pangeran dari negeri dongeng.
“Kau tampan sekali nak dengan pakaian yang kau kenalan saat ini.” Rahma memuji putranya.
“Memang sebelum ini aku enggak tampan bu?” tanya Emir seraya.melirik sang ibu yang ada di sebelahnya.
“Tampan sayang, tapi hari ini ketampanan mu meningkat jadi 10 kali lipat, pasti Helena akan pangling melihat mu,” ucap Rahma.
“Betul Mir, tadi aku juga sampai berpikir, yang ada di hadapan ku ini, adik ku atau malaikat! Hahaha...” Andri yang berbahagia atas pernikahan adiknya pun ikut memberi pujian.
“Hum... iya deh... terserah kalian mau bilang apa.” ucap Emir.
Emir yang duduk tepat di hadapan kaca, melirik ke arah Beeve yang berdiri di sebelah Andri.
Selamat tinggal cinta pertama ku, semoga kita berdua bahagia di jalan kita masing-masing, batin Emir.
Setelah selesai dengan segala persiapan keluarga Han, mereka pun bergegas ke gedung yang telah di sewa sebagai pelaksanaan akad dan juga resepsi pernikahan antara Emir Han dan Helena Paramita.
Keluarga Han berangkat dengan membawa sanak keluarga dari dalam dan luar negeri yang telah mereka undang sebelumnya.
Mobil sedang yang mereka gunakan juga tak luput dari hiasan ala pengiring pengantin yang biasa di lihat pada umumntaya, di penuhi bunga dan balon.
__ADS_1
Untuk Helena, keluarga Han membawa hadiah dengan harga setinggi langit, selain peralatan rumah tangga, make up, baju, keluarga Han juga memberikan 1 unit mobil Koenigsegg CCXR Tervita, dan sebuah cincin berlian Winston Blue Diamond Ring dengan harga Rp 319 Miliar, tiga emas batangan yang masih utuh pun tak luput dari salah satu hitungan hadiah yang mereka bawakan untuk calon menantu yang mereka dambakan.
__________________________________________
Helena sendiri yang masih berada di rumah, di tangani oleh 3 make up artis. Wajah cantiknya yang bak Dewi setelah di rias membuat keluarganya berdecak kagum.
“Sungguh cantik putri ku ya Tuhan.” Fatimah mengusap bahu sang putri terkasih yang kini telah di balut gaun kebaya putih dari pangkal leher hingga mata hari kaki.
“Benarkah ma?” Helena melirik ibunya dengan penuh senyuman.
“Tentu saja nak, ibu do'a kan semoga kau dan nak Emir langgeng, sakinah mawadah warohmah, awet sampai tua, pandai-pandai mengambil hati mertua dan juga suami mu nak, jangan sampai ada yang salah, meski pun kau berpendidikan tinggi dan sudah bekerja, tapi kau enggak boleh sekali pun meremehkan suami dan juga mertua mu sayang, hormati mereka, seperti kau menghormati kami, kau mengertikan nak?” Fatimah memberi wejangan pada putri yang akan melepas masa gadisnya sebentar lagi.
“Iya bu, segala nasehat yang ibu berikan pada ku selama ini pasti akan ku laksanakan di keluarga baru ku nanti bu.” Helena memeluk sang ibunda yang berdiri di sebelah tempat duduknya.
Lalu Gurun yang telah selesai menyiapkan mobil masuk ke kamar rias putrinya.
“Helena memang selalu cantik kan pa, hehehe.” Helena yang selalu ceria membuat Gurun menitihkan air mata.
“Papa kok nangis?” Helena yang tak pernah melihat sang ayahanda menitihkan air mata bangkit dari duduknya.
“Ini adalah tangis bahagia nak, papa masih tak menyangka, putri kecil yang papa sayang dan banggakan kini akan pergi meninggalkan papa dan mama dengan begitu cepat, rasanya papa enggak ikhlas, hiks...” ucap Gurun dengan sesungukan.
“Papa... sudah ya, Jangan menangis, lagi pula jarak dari rumah ibu mertua kesini hanya 2 jam, kapan pun kita juga bisa saling mengunjungi.” Helena yang tak mengerti perasaan orang tua yang melepas anak gadisnya pada orang lain pun berpikir ayah dan ibunya berlebihan saat itu.
“Anak ku Helena, pandailah mengambil hati suami dan keluarga mertua mu, mana tahu sewaktu-waktu kau kena marah oleh mereka, jangan melawan nak, diam saja, dengarkan apa yang mereka katakan selagi itu nasehat baik dan tak ada main fisik, kau juga jangan bantah omongan suami dan mertua mu, yang paling penting, luangkan waktu mu untuk les memasak saat kau senggang, kita tidak tahu nanti kau akan tinggal berdua atau bagaimana dengan nak Emir, jangan sampai masakan Art memanjakan hati suami mu, ingat nak, meski kau cantik, tapi karena cita rasa dapur laki-laki pun bisa beralih!”
“Papa... papa, mikirnya jauh banget sih, mas Emir enggak gitu kok orangnya.” ucap Helena.
__ADS_1
“Helena, kau baru mengenalnya sekilas, pokoknya kau harus menjalankan apa yang kami katakan pada mu.” Gurun kembali menegaskan hal-hal yang baru saja ia dan istrinya katakan pada putri kesayangannya.
“Iya pa, tenang saja, kalau mau pakai Art, Helena akan minta yang sudah tua dan wajahnya jelek, jadi papa tak perlu khawatir, jangan nangis lagi yah, Helena enggak bisa kalau lihat papa begini.” Helena memeluk Gurun yang masih sesungukan.
“Helana...” Fatimah memegang bahu putrinya
“Iya ma?”
“Kalau kau ada masalah dengan suami mu, jangan ceritakan pada orang lain, terutama pada kami dan juga mertua mu nak.” terang Fatimah.
“Loh, kenapa ma?”
“Karena itu bisa membuat kami marah, dan juga menimbul rasa benci pada menantu kami, pada saat kami masih dalam keadaan marah, ternyata kalian masih saling menyukai. Makanya kalau hanya pertengkaran ringan jangan adukan pada orang tua, karena enggak semua keluarga bisa berpikir jernih, nanti kalau kalian sering mengadu, yang ada kami sebagai orang tua atau siapa saja tempat mu bercerita, mendorong mu untuk bercerai, kau paham kan?” Fatimah berharap putrinya menyerap apa yang ia katakan.
“Iya bu, Insya Allah.” setelah semua selesai, waktunya Helena dan seluruh keluarganya berangkat menuju gedung akad dan resepsi pernikahannya.
Helena yang di dampingi oleh kedua belah pihak keluarga dari ayah ibunya pun tak luput dari rasa bahagia, sama seperti keluarga Han, mobil yang di kendarai oleh keluarga Helena pun tak luput dari dekorasi indah dan mewah.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, pihak Helena pun sampai ke tujuan, meski jam masih menunjukkan pukul 08:00 pagi, namun para tamu undangan sudah memenuhi gedung yang memiliki lantai 5 itu.
Selain yang datang adalah para anggota keluarga dan jaringan rekan kerja, banyak juga tamu undangan online yang memadati di luar gedung.
Helena yang baru menginjakkan kakinya di karpet merah bertaburkan buang mawar merah mendongak sejenak ke arah dinding gedung yang menampilkan layar monitor berukuran raksasa, ia pun dapat melihat sang suami telah duduk di singgah sanah suci akad pernikahan bersama keluarganya.
Raut bahagia terpampang nyata di wajah Helena, ia yang biasa tak punya akal pikiran kini merasa haru, hampir saja ia meneteskan air mata saking bahagianya.
...Bersambung......
__ADS_1