
Wiu wiu wiu... dan suara sirene polisi pun terdengar memasuki rumah.
Emir pun menemui para polisi dan melaporkan kejadian yang ada. Andri yang memiliki segunung bukti memberikannya pada polisi.
Akhirnya Arinda dan seluruh orang-orang yang ia pekerjakan di rumah itu pun di bawa oleh yang berwajib ke kantor polisi.
Saat hanya Andri dan Emir yang ada dalam rumah, keduanya pun berpelukan.
“Ndri, kuat Ndri, kau enggak boleh lemah begini, kau laki-laki.” ucap Emir menguatkan saudaranya, walau mereka menyukai wanita yang sama, bukan berarti Emir senang dengan kerapuhan yang Andri alami.
Meski ia mencintai Beeve, namun cinta pertamanya tetaplah sang abang yaitu Andri Han.
“Mir, lagi-lagi semua karena aku Mir, aku enggak mendengarkan perkataan Beeve, dia menderita karena aku Mir, astaga ya Tuhan., aku sangat berdosa.” Andri terus meraung dalam pelukan Emir.
Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, kala mengingat derita yang Beeve alami. Emir mengelus punggung Andri untuk menenangkannya.
“Aku harus cari dia kemana Mir? Apa dia akan baik-baik saja? Anak kami Mir, anak kami juga sudah lahir.” Andri semakin meracau, membuat Emir jadi khawatir dengan kondisi abangnya.
Serapuh itu kau karena Beeve? Bahkan kau tak malu bertingkah seperti anak kecil di hadapan ku karena dia? batin Emir.
Emir dengan sabar menunggu Andri sampai berhenti menangis, bahkan Emir setia di samping Andri bergadang sampai pagi.
Karena matahari telah menyingsing di angkasa, Emir mengajak Andri untuk mandi, agar bersiap ke kantor polisi.
Andri yang bak anak kecil menurut apa kata adiknya itu.
Selama Andri mandi, Emir memberitahu kedua orang tuanya perihal yang terjadi.
Rahma dan Yudi turut menyesal atas apa yang menimpa Beeve.
Dan di kantor polisi, Rahma, Yudi dan juga Emir menyaksikan rekaman cctv yang Beeve alami.
Rahma menelan salivanya, ia merasa bersalah atas apa yang Beeve alami. Rahma juga merasa gagal menjaga Beeve sebagai satu-satunya keluarga dari keponakannya itu.
Rahma menangis tiada henti, Beeve yang masih Belia harus menghadapi banyak hal karena keegoisan dari masing-masing pihak.
Hanya karena ia melakukan satu kesalahan, seluruh kebaikan yang ia lakukan selama ini seketika hilang di telan bumi di mata orang-orang yang maha benar.
Karena bukti-bukti telah akurat, Arinda di jatuhi hukuman penjara 100 tahun, sedangkan para pengikutnya menerima hukuman yang berbeda-beda, ada yang 30 tahun, ada juga yang 5 tahun.
Arinda tentu menangis histeris begitu pula dengan kedua orang tuanya, andai mereka tanamkan sifat bersyukur pasti semua masih baik-baik saja.
Setelah dari persidangan, Keluarga Andri menuju rumah orang tua Beeve.
__ADS_1
Awalnya kehadiran mereka di tolak oleh Julian, namun karena mereka tak mau pergi, Julian mengizinkan mereka masuk. Mereka pun duduk bersama di ruang tamu.
“Ada perlu apa kalian kemari?” tanya Julian.
“Kami datang kemari, karena ingin meminta maaf, atas kesalahan yang kami lakukan selama ini,” ucap Rahma.
“Iya Jul, maaf karena aku telah menyebabkan om dan tante meninggal dunia,” ucap Andri.
“Kami berharap keluarga kita bisa utuh lagi, agar sama-sama bekerja sama mencari Beeve," terang Yudi.
“Beeve? Memangnya ada apa dengannya?” tanya Julian.
Lalu Andri menyerahkan rekaman cctv yang telah di pindahkan ke handphonenya pada Julian.
“Selama aku pergi, dia mengalami hal itu karena Arinda, dia juga minta cerai dariku.” Andri pun menjelaskan seluruh kronologi yang telah terjadi.
Baru sedikit Julian menyaksikan rekaman penderitaan Beeve, Julian langsung menitihkan air mata.
Di hatinya timbul rasa menyesal besar karena telah membuang adiknya.
Abang macam apa aku ini?! Tanpa ku tahu, dia mengalami hal yang sangat berat, batin Julian.
Karena tak ingin egois lagi, Julian pun melunakkan hati, ia juga berdamai dengan keadaan, membuka kembali jalinan tali kekeluargaan dengan keluarga Andri.
Cristian yang mengetahui kabar pencarian Beeve hanya diam, tak memberitahu kalau anak Beeve bersamanya. Itu semua ia lakukan demi menjaga sang buah hati, agar tak jatuh pada tangan orang lain.
Hingga 4 tahun pun telah berlalu. Kabar mengenai Beeve belum juga mereka dapatkan.
Andri yang mengalami masalah jantung dan liver akibat terlalu setres memikirkan Beeve pun harus di rawat di rumah sakit. Mau tak mau, posisi Andri di gantikan oleh Emir sementara waktu sampai Andri benar-benar pulih.
Malam harinya setelah mereka selesai makan, Yudi membuka obrolan pada Emir.
“Mir, apa persiapan mu sudah beres? Mengingat besok kau akan ke Korea,” ucap Yudi.
“Tentu yah, semua barang yang harus ku bawa sudah ku masukkan dalam koper.”
“Baguslah, setibanya disana, jangan lupa mengabari ayah.”
“Baik yah, aku mengerti.”
Keesokan harinya, sebelum Emir berangkat ke Korea, ia menyempatkan diri untuk menengok Andri di rumah sakit.
“Hei, apa kau sudah makan?” tanya Emir seraya mengusap kepala Andri.
__ADS_1
Andri yang tak bertenaga hanya mengedipkan matanya.
“Kau harus cepat sembuh, karena sejujurnya aku sangat kerepotan dengan pekerjaan yang bukan bidang ku ini.” ucap Emir, ia sangat berharap Andri segera pulih, melihat saudaranya satu-satunya terbaring di ranjang selama satu tahun lebih membuat hatinya hancur.
“Hari ini aku akan ke Korea, nanti aku akan membawa oleh-oleh untuk mu.” Andri tersenyum seraya mengedipkan matanya.
Kemudian Emir pun meninggalkan Andri menuju bandara.
Kau ada dimana sih Bee? Andri sangat membutuhkan mu untuk sembuh, batin Emir.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 7 jam lamanya, akhirnya Emir tiba di bandara Seoul Incheon Internasional.
Dari bandara, Emir beserta rekan kerjanya yang lain menuju salah satu hotel berbintang yang telah mereka booking untuk 1 minggu di daerah Gangnam.
Sesampainya di hotel, Emir merebahkan tubuhnya karena lelah, hingga tak sadar ia telah terlelap.
Pukul 19:00 malam waktu Seoul, pintu kamar hotel Emir ada yang mengetuk.
Tok tok tok...
Sontak Emir pun bangun, dan melihat ke arah jam yang ada di atas meja di sebelah ranjangnya.
“Siapa sih,” gumam Emir.
Dengan mata yang masih mengantuk, Emir membuka pintu.
“Pak Emir, kau masih tidur saja, ayo ke restoran bersama kami, kita sudah lapar.” Dito dan kedua rekan kerja lainnya yaitu Andre dan Eza mengajak Emir untuk makan malam bersama.
“Oke pak, turun saja duluan, nanti aku menyusul, karena aku mau mandi dulu," ucap Emir.
“Baiklah pak, kami duluan ya.” ucap Dito seraya meninggalkan Emir.
Emir pun masuk kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
10 menit kemudian, ia keluar dari kamarnya. Emir yang tak merasa lapar memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri distrik Gangnam yang terkenal dengan ke glamorannya di Korea.
Ia yang teringat banyak jajanan kaki 5 khas Korea di daerah Myeongdong segara kesana dengan menaiki taksi.
...Bersambung......
__ADS_1