
Beeve pun meninggalkan rumah cintanya bersama Andri. Dengan menaiki taksi ia menuju rumah sang mantan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Beeve tiba di rumah Cristian.
Kalau memang pada akhirnya Cristian lah jodoh ku, enggak apa-apa Tuhan, aku ikhlas, asalkan aku dan anak ku tetap bersama, batin Beeve.
Ia pun mengetuk pintu rumah sang mantan, yang kemudian Cristian membuka lebar pintu untuknya.
“Silahkan masuk.” Cristian merangkul bahu Beeve menuju ke dalam rumah.
“Duduklah, biar ku ambilkan minum.”
“Baiklah, terimakasih banyak,” ucap Beeve.
Setelah beberapa saat, Cristian kembali dengan membawa teh manis dingin dari dapur.
Cristian yang melihat Beeve kerepotan karena minum seraya menggendong bayinya pun meminta izin.
“Boleh aku menggendong anak kita?”
“Tentu saja.” dengan tersenyum tipis, Beeve menyerahkan putrinya pada Cristian.
Cristian yang pertama kali melihat wajah bayinya langsung jatuh cinta, sebab putrinya begitu mirip dengannya bak pinang di belah dua.
“Ya ampun Bee, dia benar-benar anak ku, cantik sekali, sayang ini papa, ummah.” Cristian mencium putrinya berulang kali karena gemes.
Beeve cukup senang, karena selain dirinya, ada orang lain yang menyukai anaknya dengan tulus.
Kebahagiaan mu lebih penting nak, dimana pun kita berada, mama hanya ingin tempat itu memberi mu banyak cinta, batin Beeve.
“Apa kau sudah memberinya nama?” tanya Cristian yang berniat memberi putrinya nama.
“Belum Crist,” jawab Beeve.
“Apa aku boleh memberi anak kita nama? Sejujurnya dari satu bulan yang lalu, aku suka melihat-lihat nama bayi di internet, dan aku menemukan sebuah nama yang begitu bagus, menurut ku cocok untuk putri kita,” ujar Cristian.
“Memangnya kau akan memberi nama apa untuk si dede?” tanya Beeve kembali.
“Kishi Bia, yang artinya, kebahagiaan dan panjang umur,” terang Cristian.
“Aku baru dengar ada nama seperti itu,” ucap Beeve.
“Aku juga baru tahu, Kishi berasal dari bahasa Jepang, sedangkan Bia dari Portugis, ku rasa itu nama yang sangat manis, untuk putri ku yang cantik.” Cristian kembali mengecup pipi putrinya yang selembut sutera.
Beeve yang tak memiliki persiapan nama untuk anaknya pun menerima usulan dari Cristian.
Bagaimana pun dia adalah ayahnya, meski dulu kami sempat di abaikan, setidaknya sekarang Cristian mau menerima kami, batin Beeve.
“Baiklah, aku setuju dengan nama itu.”
__ADS_1
“Terimakasih Bee.” Cristian yang senang pun mencium kening Beeve. Beeve cukup tersentak atas ciuman yang ia dapatkan.
“Tapi... kapan tante pulang?” tanya Beeve yang merasa takut pada Celine, karena firasat Beeve mengatakan, Celine takkan menerimanya.
“Katanya besok, tenang saja, biar aku yang bicara pada ibu, dia pasti menerima mu dan Bia, aku saja suka, apa lagi ibu yang menyayangi anak kecil, bagaiman pun, hubungan darah itu takkan bisa di pisah begitu saja,” terang Cristian.
Beeve cukup lega mendengar penuturan Cristian padanya saat itu.
Karena jam telah menunjukkan pukul 16:00 sore, Cristian berniat memandikan Bia, ia pun meminta izin pada Beeve, yang langsung di setujui oleh Beeve.
Meski Cristian berlaku bejat, namun ia sangat menyayangi Bia. Cristian pun membersihkan tubuh Bia dengan lembut.
Ketika ibu jari Bia terkena air, Bia pun menangis histeris, lalu Cristian mencek tangan putrinya yang ada bekas sayatan.
“Tangan Bia kenapa?” tanya Cristian.
“A-aku enggak sengaja menggoresnya dengan kuku ku,” jawab Beeve gugup.
“Kuku mu setajam itu?” Cristian mengernyitkan dahinya.
“I-iya Crist,” ucap Beeve
“Sebaiknya kau potong semua kuku mu yang panjang, nanti malah melukai anak ku lagi.” ujar Cristian yang takut Bia terluka di tempat lain.
“Iya Crist,” sahut Beeve
Setelah selesai memandikan putrinya Cristian pun ingin memakaikan baju pada Bia.
“Ehm, itu... maaf aku enggak bawa bajunya dari rumah,” jawab Beeve.
“Ya ampun Bee, sebenarnya apa sih yang terjadi pada mu? Kenapa barang-barang Bia juga kau enggak bawa?” ucap Cristian.
Karena tak ada yang bisa di pakai, akhirnya Cristian memakaikan kembali baju Bia yang telah kotor.
“Ayo kita ke mall,” ajak Cristian, setelah selesai memakaikan baju pada Bia.
“Ke mall?”
“Iya Bee, kita beli perlengkapan anak kita dan juga baju untuk mu,” ujar Cristian.
“Baiklah.” sahut Beeve dengan tersenyum. Selanjutnya mereka pun berangkat dengan menaiki mobil.
Sesampainya di mall XX, Cristian menggendong Bia, dan mereka pun mulai belanja keperluan Bia dengan lengkap, Beeve dan Cristian sama-sama merasa senang, mereka juga memilih baju-baju yang cantik untuk Bia, meski baju tersebut baru bisa di kenakan Bia saat ia berusia 1 Sampai 2 tahun.
Cristian yang kembali jatuh hati pada Beeve, menyuruh Beeve mengambil gaun sebanyak yang ia butuhkan.
Aku ingin menebus kesalahan ku yang dulu, semoga hati kecil mu dapat terobati oleh luka yang pernah ku beri, batin Cristian.
“Crist, baju-baju disini mahal banget, kita pindah ke tempat lain saja yuk.” Beeve yang tak ingin berhutang budi banyak pada Cristian pun berniat pindah ke toko yang harganya lebih murah. Sifat Beeve tersebut membuta Cristian merasa aneh.
__ADS_1
Bukankah bajunya selalu bermerek? Pada hal harga di toko ini menurut ku menengah ke bawah, batin Cristian.
“Jangan pikirkan harga, ambil saja yang menurut mu bagus, aku ingin kau selalu cantik di mata ku,” terang Cristian.
“Baiklah, terimakasih atas kebaikan mu.” ucap Beeve, meski pun ia tahu, semua yang Cristian lakukan pasti ada timbal baliknya.
Setelah selesai berbelanja banyak, Beeve berniat mendorong troli ke basement, karena Cristian sedang menggendong Bia.
“Biar aku saja, ini pasti berat, kau gendong Bia saja,” ujar Cristian.
“Enggak apa-apa, ini ringan kok.”
“Sayang, biar aku saja.” Karena Cristian bersikeras, Beeve pun setuju.
Dia benar-benar berubah, sama seperti waktu kami pacaran dulu, dia selalu mencegah ku melakukan hal-hal yang berat, batin Beeve.
Sesampainya mereka di parkiran basement, Cristian menyuruh Beeve masuk ke dalam mobil, sementara ia memindahkan barang-barang ke bagasi. Setelah itu mereka pun bergegas pulang ke rumah.
Tak seberapa lama mereka pun tiba di rumah Cristian.
“Masuklah ke dalam terlebih dahulu,” titah Cristian.
“Oke.” Beeve dan Bia pun masuk ke dalam rumah.
Selanjutnya Cristian menyusul dengan membawa seluruh barang belanjaan mereka.
Cristian yang melihat Bia tertidur lelap di pelukan Beeve tersenyum.
“Ayo ke kamar.”
“Ke kamar?” Beeve mengernyit.
“Iya, enggak mungkinkan Bia tidur di gendongan mu terus, memangnya kau enggak cape?”
“Oh iya ya.” ucap Beeve yang sempat memikirkan hal kotor.
“Ayo.” mereka pun ke kamar Cristian dengan menaiki anak tangga.
Sesampainya dalam kamar, Cristian yang bersemangat langsung membuka plastik pembungkus tempat tidur bayi milik Bia.
“Ayo, sayang papa tidur di dalam ya.” Cristian pun meminta Bia pada Beeve, yang langsung di berikan oleh Beeve.
“Kau tata baju mu dan Bia dalam lemari ku, masih banyak ruang kosong di dalamnya,” titah Cristian.
“Iya Crist, terimaksih atas kebaikan mu,” ucap Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1